BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 66


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 66...


...—---- o0o —----...


"Om!" pekikku terkejut luar biasa. Seluruh nadi darah rasanya seperti tersedot habis memenuhi ruang kepala. "Ngapain kamu … eh, Om Bram di sini lagi?" Napas ini spontan terpacu Senin-Kamis.


Laki-laki itu tidak lantas menjawab. Yang paling menyebalkan justru menatapku sekian lama, seakan-akan tengah memamerkan keindahan warna retina itu yang berhiaskan bulu mata lentik nan menawan.


Hhmmm, dia pikir aku akan tergoda sekarang? Huh, memang iya!


"Kamu berniat pergi dari sini, Alya?" tanya Om Bram dengan suara datar dan besar.


Huh! Suara laki-laki paling seksi yang pernah kudengar seumur-umur. Tidak terbayangkan jika itu berupa lenguhan. Eh?


Sialan!


Seketika otak ini jadi sulit difungsikan dengan wajar. Itu karena dia! Sekarang malah terasa semua makna sama saja. Jatuh cinta, tergila-gila, terobsesi, dan nafsu.


"Ah, Om Bram ini bicara apa, sih?" Tiba-tiba aku seperti melemah tidak berdaya. Luapan emosi yang tadi hendak meledak, mendadak luluh lantak dan nyaris tidak tersisa. "Yang mau pergi itu siapa, Om? Bi Mamas? Ya, sudah. Suruh aja Bi Mamas pergi dulu sebentar dan kita—"


"Ada apa denganmu, Alya?" tukas Om Bram seperti apatis terhadap kegilaan sikapku ini. "Kamu mau pergi di saat Della membutuhkan kehadiranmu, begitu?"


"A-aku … a-aku … ndak berniat begitu, Om?" Bahkan untuk bicara bohong saja, aku gagap. "Om saja 'ngkali yang neting?"


"Neting?"


Alis Om Bray yang bagai ulat bulu melingkar, nyaris bersatu membentuk satu gadis di bawah kerut keningnya yang tidak memahami ucapanku barusan.


"Iya. Maksud aku … eh, Alya … negative thinking, Om," kataku buru-buru meralat kebiasaan ber-aku-kamu saat berduaan dengan si Ulat Bulu tersebut. "Kalo Om ndak percoyo, ya … takon bae karo Bi Mamas. Iya 'kan, Bi?' tanyaku seraya membalik badan dan memilih menghadap ke arah asisten rumah tangga tersebut. Daripada terus-terusan beradu mata dengan si Bram.


"A-apa, Non? Saya gak denger. Suara mesin cucinya kekencengan, nih!" seru Bi Mamas menyebalkan. Aku tebak, dia pasti sedang berpura-pura dan memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan majikannya.


"Masa, sih?" tanyaku gemas ingin mencubiti Bi Mamas.


"Apa, Non? Gak denger saya!" seru wanita tua tersebut tanpa mau mengangkat kepala sedikitpun untuk menatap kami. Dia lebih betah menonton cucian yang berputar-putar laksana baling-baling bambu milik Doraemon.


"Ih, si Bibi!" rutukku kesal.


"Alya …." panggil Om Bram. Namun aku tidak mau menoleh.


"Apa?"


"Gak sopan diajak bicara malah membelakangi," ujar Om Bram terdengar sok beradab. Dia sendiri juga sering berbohong.


"Alya lebih nyaman ngadep Bi Mamas, Om," kataku asal menjawab. Daripada diam, nanti dikira somseu.


Mendengar ucapanku barusan, Bi Mamas pun segera mengubah posisi. Tadinya menghadapku, sekarang ikut membelakangiku. Sialan!

__ADS_1


"Alya … lihat mata saya, Lya," pinta Om Bram. Nada suaranya agak meninggi dibandingkan sebelumnya.


Aku tetap tidak ingin menurut.


"Alya … kamu denger aku, 'kan?"


Ya, Tuhan! Kuatkan hatiku agar tidak mendadak memutar kembali badan ini!


Jleb!


Aku merasa tanganku dicekal dari belakang. Itu pasti Om Bram. Soalnya bebuluan tangannya sempat menyentuh pori-pori kulit lenganku.


Uuuhhh, mendadak aku jadi merinding kedinginan!


Tidak hanya sampai di situ, ternyata aku ditarik paksa pergi dari sana. Spontan tubuh ini terhuyung mengikuti langkah Om Bram menuju ruang lain. Sialnya masih tidak jauh dari tempat tadi. Harapan hati sih, diseret ke kamarnya Om Bram. Hi-hi.


"Om? Ada apa ini?" tanyaku heran seraya sedikit menengadah untuk melihat tatap bola mata menawan itu.


Giliran laki-laki itu kini yang terdiam. Dia berdiri persis di depanku. Mengembuskan napasnya hingga menyapu helai rambut ini.


"A-alya … ndak tahu, apa maksud Om ini?"


Aku mundur selangkah untuk memperlebar jarak. Namun Om Bram malah maju. Mundur lagi, dia maju kembali. Mundur-maju, mundur-maju, dan cantik ... cantik … sekali. Eh? Surut langkah ini tidak bisa lagi ditambah, terbentur dinding di belakang. Apalagi sekarang? Tidak ada. Terkecuali diam dan pasrah memunggungi tembok dengan rapat.


"Aku masih sempit, Om. Eh, maksudnya ... tempatku sudah sempit," desisku lirih begitu merapat ke dinding.


"Biarin ... aku memang suka yang sempit-sempit," balas Om Bram tak mau kalah menyerang psikologisku.


Astaga! Khawatirnya, dikala menyempit, nanti aku tak sadar menyemprot. Eh, maksudnya ... emosi jiwaku meluap! Haduh!


Jleb!


Tangan Om Bram mengentak dinding, memagariku agar tidak berniat untuk bergeser ke samping.


"O-om B-bram i-ini k-kenapa, s-sih?" Aku semakin gagap bicara. Kerongkongan ini mendadak terasa sempit, padahal tidak sekalipun sedang dicekik.


Laki-laki itu menurunkan kepala, condong ke muka, dan sengaja beradu tatap hingga sepersekian sentimeter.


"J-jangan, O-om …." desisku salah tingkah. Namun yang jelas, kinerja jantung dirasa kian berat menggedor-gedor seisi dada. "J-jangan, O-omm …." pintaku lirih. Padahal maksudnya 'Jangan di sini, Om!'. Napas pun mulai terangah-engah. "A-ada B-bi M-mamasshhh … uh, d-di ruang sebelah, O-om," imbuhku nyaris sebuah bisikan tak berarti.


"Kenapa, Alya? Kenapa?" tanya Om Bram pelan dan aroma panas mulut laki-laki itu langsung terhirup nikmat memenuhi rongga paru-paru. Laksana pasokan oksigen di tengah kemarau pengap. Dia semakin mendekatkan wajah.


"N-nanti B-bi M-mamasshhh … ngelihat kita lagi begini, Oommhh," jawabku tersengal-sengal. "Baiknya, kita pindah—"


"Maksudku, kenapa kamu berniat pergi dari sini, Alya?" tanya Om Bram memperjelas kalimat pertanyaannya.


Ya, Tuhan! Aku pikir, dia bertanya mengapa kami harus menghindar atas perbuatan apapun dari pandangan Bi Mamas.


Sialan! Bertambah panjang daftar rasa malu ini! Itu pun dari dia sebagai biang penyebabnya. Belum yang lain.


"Ooohhh …." Aku mendesah malu, seraya menurunkan pandangan. Namun kini malah dihadapkan pada rimbunan bulu-bulu dada.


Aarrggghhh!

__ADS_1


Terpaksa kututup rapat-rapat mata ini sambil menggigit bibir. Memohon diri agar kuat tidak segera mencabik-cabik dada lelaki menyebalkan itu.


"Kenapa, Alya? Gak mungkin kamu gak punya alasan, Hhmmm?" bisik Om Bram kembali, kini malah sengaja memperdengarkan pertanyaan monoton itu langsung di depan telinga. Menyerang salah satu titik terlemah seorang perempuan untuk melenyapkan fokus kewarasan.


Sseerrrr!


Aku semakin menggigil gila.


"A-aku … a-aku …."


"Hoaseemmm!"


Tiba-tiba terdengar suara Bi Mamas bersin sekeras sepiker TOA. Disambut decak dari mulut Om Bram. Mungkin karena kesal.


"Katakan, Alya. Katakan dengan jujur," pinta laki-laki itu semakin menggoda. "Aku tahu, seperti inilah salah satu cara agar kamu gak bisa berbohong padaku, Lya."


Ah, benar. Dia pintar. Aku memang sulit berdusta jika kondisi kewarasanku hampir menyentuh titik gila. Seperti sekarang ini misalnya.


"A-aku sudah ndak tahan lagi, Bram," ucapku akhirnya usai menguatkan diri agar mata ini tidak seinci pun terbuka. "Aku lebih memilih menjauh dari kamu."


"Hhmmm, kenapa?"


"Aku ndak ingin menyakiti Della, Om."


"Bukan itu satu-satunya alasanmu, Alya," bisik Om Bram seraya meniupkan napasnya menghangatkan tengkuk ini yang mulai terasa membeku. "Aku tahu banyak tentangmu . Kamu pikir aku bodoh, Hhmmm?"


Balasku tidak mau kalah, "Kalo Om tahu, buat apa nanya?" Ingin marah, tapi sisa tenaga ini rasanya tinggal sekian persen. Jika dipaksakan, hasilnya pun tidak akan maksimal. Kecuali membenamkan wajah ke depan area sana untuk menjalani proses 'charging' dengan aman dan nyaman. Hairy charger. Eh?


"Aku nanya bukan berarti gak tahu, tapi aku hanya ingin mendengar langsung dari bibirmu yang teramat menawan itu, Alya."


Ya, Tuhaaannn!


Aku hampir menggelosoh jatuh. Namun keburu ditahan tangan kekar Om Bram. Dengan sigap, dia tetap memaksaku berdiri menyender dan tersiksa oleh penampakan menawan di depan mata.


"A-aku sudah ndak kuat, Om," desahku lirih. "A-aku ndak sanggup lagi."


"Tahan sebentar, aku juga belum selesai, Alya."


"Tapinya aku ndak kuat, Bram."


"Sebentar saja. Sampai aku selesai denganmu, Alya sayang."


"Aahhh …."


"Tahan, Alya!"


"Aku ndak tahan lagi, Braammm!"


"Sebentar saja. Tolonglah!"


"Aahhh!"


Brang! Breng! Brong!

__ADS_1


Terdengar suara gaduh dari arah ruangan belakang. Sepertinya Bi Mamas penyebabnya. Aku tak tahu apa yang dia lakukan di sana, karena aku sendiri kini menggelosoh menuruni dinding dan berakhir jongkok dengan napas terengah-engah.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2