
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 54...
...------- o0o -------...
Baru tahu sekarang, ternyata karakter Andre tak segahar tampangnya. Pantas saja, selama ini terlihat agak manja. Anak Mama rupanya. Hhmmm! Namun ini justru jadi kesempatan untuk menguak rahasia keluarga Om Bram.
"Dari semenjak Mamah Della meninggal, Della memang sering sakit-sakitan, Lya," tutur Andre mengawali cerita. "Della mempunyai kelainan jantung. Dia sering dirawat di rumah sakit."
Berarti, sejak Della berusia sepuluh tahun? Sama dengan artinya Della dan Andre sudah saling mengenal sejak kecil?
"Bagaimana kamu tahu kalo Della sakit-sakitan dari sejak kecil?" Suaraku agak melunak. Toh, si bule ini sudah mau terbuka sekarang.
"Aku minta tisu dulu," ujar Andre sambil menahan isak.
Kuturuti. Mengambil tisu dari tas, lalu ditaruh di atas meja dengan entakan keras.
BRAK!
Andre terkejut. Dia mengambil lembar tisu dengan tangan gemetar. "Duh, Lya. Jangan kasar-kasar, dong. Aku orangnya kagetan, tahu?!"
"Aku tak peduli!" sentakku menyurutkan Andre agak menjauh. "Aku paling ndak suka dibohongi! Karena perempuan itu hakikatnya diberi KEPASTIAN." Nah, kalimat terakhir itu sebetulnya dikutip dari sebuah buku. Bukan asli khazanah perbendaharaan kata-kataku. Hihihi. Lumayan, untuk menaikkan harkat dan martabat diri, dari sekumpulan orang-orang bermodus seperti si Andre ini.
"Iya, maaf," balas Andre usai mengelap genangan air matanya.
"Lanjutkan!"
"Apa?"
"Cerita kamu tadi, Andre!"
Anak muda itu menarik napas panjang sesaat. Kemudian sambung berkata, "Eh, kamu nanya apa tadi?"
Aku melotot galak. "Della sakit dari kecil. Bagamana kamu tahu semua itu, Andre."
Andre mengangguk. "Pak Bram sendiri yang cerita. Dulu, waktu aku menemukan Della pingsan di sekolah SMA."
"Kamu satu sekolahan juga sama Della? Bukan dari kecil temenan?"
"Bukan," jawab Andre sembari mengelap sisa genangan air mata. "Aku mengenal Della sejak sekolah SMA. Jadi, aku dan Della sebenarnya sudah lama saling kenal. Bahkan, aku sering main ke rumah dia."
"Kok, sekarang-sekarang endak?"
Andre menatapku. "Karena sudah ada kamu, Lya," jawabnya lirih. "Semenjak kamu tinggal di sana, aku gak pernah datang lagi. Terkecuali kemarin-kemarin itu."
"Mengapa?"
"Della sudah mempunyai teman sendiri. Yaitu kamu," kata Andre kembali. "Di samping itu, diam-diam ternyata Della .... "
__ADS_1
"Ada apa dengan Della?" Aku semakin penasaran dibuatnya.
Sambil menunduk, Andre menjawab, "Della naksir aku, Lya."
Aku mengangguk-angguk. Pantas saja, selama ini merasa bahwa Della memang menyukai Andre. "Terus kamu terima?"
Andre menggeleng.
"Mengapa?"
Dia mengangkat wajah, tapi tak berani menatapku. "Aku gak punya rasa apa-apa sama dia. Hanya sekadar kasihan saja. Soalnya, Della gak pernah mempunyai teman dekat. Di samping itu juga, Della penyakitan."
Hhmmm, rasanya ingin kutinju mukanya. Namun, berusaha untuk tetap tenang. Sedikit demi sedikit, rahasia keluarga Om Bram mulai terkuak. Aku butuh anak muda ini.
"Itulah makanya Pak Bram menahan diri untuk gak menikah lagi. Dia takut Della gak bisa menerima pengganti mamahnya dulu. Dan yang lebih dikhawatirkan, Pak Bram takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada Della. Makanya, begitu tahu Della menyukai kamu, Pak Bram berusaha menahan kamu agar jangan pergi dari rumahnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa menjaga Della," kata Andre meneruskan cerita.
"Tapi Om Bram juga menyukaiku juga, 'kan, Ndre?" Tiba-tiba dadaku terasa menyesak. Ada sesuatu hal yang membuat jiwaku ingin memberontak.
Andre tersenyum kecut. "Kalo masalah itu, aku gak tahu. Tapi aku yakin, dia hanya berpura-pura menyukaimu, agar kamu gak akan meninggalkan anaknya. Della."
Tuhan! Tenggorokanku mendadak sakit. Sepertinya, ada ribuan jarum kecil yang menghujam ulu hati. Sakit namun tak berdarah.
Selama ini aku begitu memuja kesempurnaan laki-laki itu. Fisik serta kelembutannya. Tak ada satu cacat pun yang kutemukan pada sosok seorang Bram. Wajar, jika hati ini begitu tergila-gila.
Kini, semua berbalik rasa. Perlahan aku merasa muak dengan semua ini. Sandiwara picisan ini. Bagaimana mungkin waktuku dihabiskan untuk sebuah omong kosong. Pantas saja selama ini Om Bram begitu baik. Akan tetapi selalu memberikan jawaban bias saat berbicara tentang cinta kami.
Akankah kulanjut pemburuan impian ini? Sementara ada sosok lain yang justru tengah berharap sambutan tanganku untuk tetap bertahan hidup.
Della. Dia membutuhkanku.
...------- o0o -------...
"S-seettt ... dah!"
"Ada apa, Non?" tanya Bi Mamas masih mengenakan pakaian sembahyangnya. Aku menggeleng seraya buru-buru menghindar. "E-endak a-ada a-pa-apa, Bi," gumamku mengelus dada. Lekas mengambil tempat di sisi ranjang Della. "Ya, Tuhan .... "
"Non Alya sakit?" Bi Mamas ikut berdiri di samping.
"Ya, ampun! Kalau sembahyangnya sudah selesai, kainnya dibuka kenapa, Bi!" kataku begitu menoleh.
"Memangnya kenapa, Non?" Bi Mamas melongo. Kuberdecak. "Ya, ndak kenapa-kenapa. Buka saja apa susahnya, sih?" Enggan memperhatikan wajah Bi Mamas.
"Baiklah, Non," jawab wanita itu menurut. Tak berapa lama kembali bertanya, "Non Alya sakit?"
"Endak! Kenapa, sih, tanya-tanya itu lagi?"
"Muka Non Alya pucat." Tunjuk Bi Mamas ke arah wajahku.
'Lah, iyalah, Bi. Bagaimana ndak pucat? Orang, aku kaget setengah mati lihat Bi Mamas tadi!' rutukku dalam hati.
Aku tak ingin menjawab. Lebih ingin memperhatikan Della yang terpejam dengan selang oksigen di lubang hidung. "Bi Mamas sudah makan?"
"Belum, Non."
__ADS_1
"Lho, kenapa? Pegang duit, 'kan?"
"Ada. Yang kemarin saja masih nyisa banyak," jawab Bi Mamas santai.
"Terus, kenapa belum makan?"
"Belum lapar, Non. Sebelum salat tadi, sempat ngemil risol dan lemper," jawab kembali Bi Mamas dengan polos. Aku mendelik. "Pak Bram belum datang, Non?"
Sekali lagi, aku tak ingin menjawab. Apalagi tentang laki-laki itu. Kata-kata Andre kemarin, masih terngiang dalam ingatan. Tentang si Bram berengsek itu! Ternyata selama ini dia cuma memperalat. Mengambil kesempatan di saat kukesemutan dalam cinta. Sementara, enggan membahas perihal itu. Della yang harus menjadi fokus utama.
"Non."
"Apa, sih, Bi?"
"Tumben Pak Bram belum datang."
Kutarik napas dalam-dalam. "Memang biasanya suka datang jam berapa?"
"Jelang petang, Non."
"Sekarang waktu apa?"
"Sore."
"Jadi?"
"Kemungkinan Pak Bram datang nanti petang."
"Nah, itu Bibi tahu."
"Tapi kenapa sekarang belum datang, ya, Non?"
PLAK!
Kutepuk jidat, kesal, hingga keras. "Aduh!"
Hening sesaat. Kami terdiam. Tak tahu topik apa yang akan dibicarakan. Sampai kemudian, "Bi .... "
"Ya, Non. Ada apa?"
Kulirik wanita itu. Wajah bulat dengan tampilan alami tanpa riasan make up. Mirip tokoh Ceu Èdoh di sinetron Preman Pensiun. "Bibi sudah lama, 'kan, mengenal keluarga Om Bram?"
Bi Mamas berpikir hingga lima menit. Lalu menjawab, "Iya."
"Sejak kapan?" tanyaku kembali. Dia berpikir lagi. Tiga menit kemudian, "Setengah dari usia Non Della."
"Ooohh .... " Bibirku membulat mirip 'empot' ayam. "Memang sebelumnya ndak kerja di keluarga Om Bram?"
"Enggak, Non. Kan, mulainya dari setengahnya usia Non Della," jawab Bi Mamas usai mengingat ucapannya tadi selama kurang lebih dua menit.
"Iya, aku tahu," sungutku agak kesal menunggu lama. "Maksudku, sebelumnya apakah ada ... maaf ... pembantu di keluarga Om Bram?"
"Seingat saya, sejak almarhumah Bu Widya masih bersama Pak Bram, sudah ada pembantu, Non." Kali ini responsnya tak banyak makan waktu. Mungkin otak wanita ini sudah mulai lancar. Syukurlah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...