BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 70


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 70...


...—---- o0o —----...


BRAK!


Aku membanting pintu dengan keras. Kemudian secepatnya mengunci rapat-rapat. Benar-benar malu dan kecewa sekali dengan perilaku dua orang tersebut; Om Bram dan Bi Mamas. 


Aku tidak peduli dengan ketukan di pintu dan suara panggilan mereka di luar sana. Pokoknya saat ini tidak ingin melihat kedua-duanya sedikitpun. Kesal dan sebal seketika menggayuti dada.


Aku bingung sekarang. Mesti menangis atau marah-marah. Diri ini jelas-jelas telah dipecundangi keluarga Om Bram. Tidak terkecuali Bi Mamas sendiri. Bodoh. Seharusnya dari awal sudah menduga, mereka semua bersekongkol untuk mempermainkanku.


"Bukde …." desahku tiba-tiba teringat pada sosok orang yang selama ini mengasihiku. "Alya pengen pulang. Alya ndak betah di sini. Orang-orangnya jahat semua sama Alya, Bukde."


Aku membenamkan diri ke atas kasur. Menangis dan mengadu sendiri akan perasaan ini yang tengah bersedih. Hancur lebur tak tersisa meninggalkan sesak nestapa.


Apakah sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini? Itu mungkin akan jauh lebih baik. Daripada terus-terusan dihantui oleh sosok-sosok pendusta itu. Tidak lagi peduli akan Della. Biarkan saja. Toh, tanpa aku pun, dia masih bisa hidup, 'kan? Buat apa bertahan, jika akhirnya akulah yang dikorbankan.


Kring!


Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi percakapan instan. Aku melirik sejenak. Sempat terpikir itu adalah dari Om Bram atau Bi Mamas sendiri.


"Andre?" gumamku begitu membaca nama pengirim pesan barusan. Lantas perlahan kubuka.


[Alya, hari ini kamu datang ke rumah sakit gak?]

__ADS_1


Ah, buat apa? Pergi ke sana juga percuma. Paling-paling akan bertemu lagi dengan Della dan Andre sendiri. Maka dari itu, aku memilih untuk tidak menjawab. Masa bodoh!


Kring!


[Hari ini Della diizinkan pulang]


[Kamu datang ya buat ngejemput Della]


[Dari pagi dia nanyain kamu, lho!]


Bullshit! Omong kosong macam apa itu? Mereka akan tampak manis begitu ada maunya. Membutuhkanku. Namun setelah itu, aku bakal dijadikan lelucon terkonyol untuk bahan hiburan orang-orang tak beradab tersebut.


Tidak! Aku tidak ingin datang. Rasa malu dan kecewa ini masih membekas awet di dalam dada. Kesal … kesal … kesaaalll! 


Kalau memang benar mau jujur, mengapa harus dengan cara seperti tadi sih, Bram? Menggunakan Bi Mamas untuk obyek pemancing agar aku mengungkapkan isi hati ini secara gratis. Sialan! Benar-benar kekanak-kanakan. 


Tapi … sebentar, kalaupun aku berniat pergi dari sini, harus bagaimana caranya? Di luar pasti bakal dihadang Om Bram. Lewat jendela dan naik merayap menggunakan genteng rumah tetangga? Haduh, aku phobia ketinggian. Jangankan harus rela-rela bergelantungan di atas atap sana, sekadar mengganti bohlam saja aku harus minta bantuan. Terus bagaimana sekarang?


Kriiinnggg! Kriiinnggg! Kriiinnggg!


"Maafin Alya, Om," kataku seraya menatap ikon di dalam layar yang terus menerus bergerak-gerak ke atas. "Alya lagi ndak pengen bicara apapun sama kamu. Alya masih ngambek, Om. Maafin, ya."


Sebentar kemudian panggilan itu pun terhenti, kembali berdering, terhenti, berbunyi, sampai akhirnya benar-benar tidak lagi menampakkan apa-apa di layar. Pasti sekarang dia mulai kesal, ya? Rasakan! Kamu harus bisa memahami kalau ….


Tok! Tok! Tok!


Hah? Siapa lagi itu yang mengetuk pintu? Bi Mamas-kah? Jangan-jangan ….


"Alya …." Satu suara besar dan sangat mempesona menggema dari arah luar. Itu adalah Om Bram. "Aku mau jemput Della di rumah sakit, nih. Alya mau ikut gak?"


Jujur saja sebenarnya ingin sekali aku menjawab, tapi hati ini bersikukuh untuk tetap bertahan dalam diam.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Alya sayang … tolong jawab, dong," pinta Om kembali mendayu-dayu. "Alya marah, ya? Maafin aku dong, Sayang! Jangan diem begitu!"


Huh, sayang … sayang! Aku tidak akan terlena lagi dengan segala bentuk rayuan dan bujuk manis laki-laki itu. Walaupun terbersit ada rasa kasihan, tapi aku tetap tidak ingin membalas apapun.


"Ya, sudah kalo begitu," ujarnya kemudian. "Aku tinggal dulu sebentar, ya? Aku mau pergi ke rumah sakit dulu. Kalo ada apa-apa, Alya kabarin aku, ya? Kita bicara nanti sepulang dari sana."


Duh, Tuhan! Ingin sekali aku membukakan pintu dan menubruk tubuh laki-laki tersebut. Menangis di dadanya yang berbulu dan berkeluh kesah tiada henti untuk mencurahkan semua isi di hati ini. Sungguh, aku jadi tidak tega.


Beberapa saat kemudian, suasana pun kembali hening. Suara ketukan di pintu tidak lagi terdengar. Aku pastikan laki-laki itu pasti sudah turun.


Nah, ini dia kesempatanku sekarang. Buru-buru aku mengambil tas ransel yang tadi. Masih tergeletak di dekat pintu dengan isinya yang tidak karuan. Masa bodoh. Pokoknya harus segera bergegas pergi detik ini juga. Meninggalkan semua yang ada di dalam rumah ini beserta orang-orangnya.


Kutunggu beberapa saat untuk memperkirakan Om Bram benar-benar sudah pergi meninggalkan rumah. Mudah-mudahan saja bersama dengan Bi Mamas sekalian. Jadi tidak perlu lagi terjadi drama tarik ulur sebagaimana biasa.


Tidak sampai memakan waktu setengah jam, semua persiapan sudah tuntas dilakukan. Perlahan-lahan aku membuka kunci kamar, menarik daun pintu, lantas berjinjit menapaki lantai perlahan-lahan. Sebentar melongok ke lantai bawah. Suasana benar-benar sepi. Tidak terdengar maupun terlihat adanya pergerakan manusia di sana. Berarti aman.


Kemudian semuanya berhasil dilalui tanpa sedikitpun menghadapi kendala. Om Bram dan Bi Mamas tidak ada di rumah. Maka dengan leluasa aku pun pergi dengan tas ransel di punggung dan bersiap-siap menunggu angkutan taksi yang lewat.


Sialan! Sudah hampir sepuluh menit, belum ada satu pun kendaraan yang lewat. Maka terpaksa aku berjalan kaki menuju arah jalan raya besar, daripada terdiam di tempat membuang-buang waktu. Khawatir Om Bram sudah keburu balik kembali dari rumah sakit. Sementara ponsel sudah diatur ke mode pesawat, biar tidak ada satu pun orang yang bisa menghubungi.


Aku sudah bertekad di dalam hati, pokoknya hari ini mesti keluar dari lingkungan keluarga Om Bram. Tidak peduli apapun yang akan terjadi. Termasuk akan bayangan Della nanti setiba di rumah, pasti akan langsung mencari-cariku. Panik, sedih, atau ….


Ah, akhirnya angkutan umum yang kutunggu-tunggu pun lewat. 


"Anterin saya ke terminal bis terdekat, Pak," kataku pada supir taksi. "Buruan, ya? Jangan lelet."


"Baik, Mbak," jawab supir taksi tersebut. 


Kemudian kami pun langsung meninggalkan area perumahan tempat kediaman keluarga Om Bram juga aku sendiri menetap selama ini. Soal perasaan, jangan ditanya. Rasa sedih sudah pasti. Namun mau bagaimana lagi? Aku terlanjur kecewa dengan semua perilaku orang-orang tersebut.

__ADS_1


Selamat tinggal semuanya. Om Bram, Della, Andre, dan juga Bi Mamas. Kebersamaan kita selama ini akan senantiasa kukenang. Namun hari ini terpaksa kita berpisah ….


...BERSAMBUNG...


__ADS_2