
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 33...
...------- o0o -------...
"Fokus ke layar, Ndre. Idola kamu sedang beraksi tuh," ucapku seraya menunjuk layar.
"Aku tak suka filmnya. Aku lebih suka lihat kamu," balas Andre semakin mendekat. Napasnya menghajar wajahku seketika. "Aku benar-benar tergila-gila sama kamu, Lya. Aku ingin kamu jadi kekasihku."
Aku mendorong tubuhnya. "Aku tidak ingin berbicara masalah itu, Ndre. Ingat ... kita sedang berada di dalam ruangan gelap."
"Lalu?"
"Setahuku, jika ada manusia berlainan jenis berada dalam satu ruangan gelap, maka yang lainnya adalah siluman." Tiba-tiba aku merasa seperti tokoh rohaniawati di televisi.
"Ehem! Ehem!" Terdengar beberapa dehaman di sekeliling kami. Penonton di sebelahku menyikut. Juga yang ada di depan, serentak menoleh tak ramah.
Duh, jadi tak enak hati. "Maaf, Mas-Mbak. Maksud saya bukan Anda sekalian."
Andre ikut meminta maaf. Kemudian mencolekku seraya berkata, "Hati-hati kalo bicara, Lya."
"Iya, maaf. Aku keceplosan," balasku kembali mendorong muka Andre. "Lagian tangan kamu kelayapan terus, sih, Ndre. Kamu pikir aku cucian, pake diremes-remes begitu."
"Maaf, Lya. Biar lebih romantis saja. Aku pikir—"
"Romantis apanya? Nonton film eksen, kok, kamunya gerepean? Jangan macam-macam, deh, Ndre!" Tak sadar suaraku membahana.
Seketika terdengar nada protes di sana-sini. "Woy! Berisik!"
"Iya, sorry, Bro!" Andre memohon maaf.
Ya, Tuhan! Mengapa jadi begini? Kuharap bisa menyamarkan kondisi yang galau, kenyataannya seperti ini. Mendadak menjadi badut di tengah kegelapan.
"Aku pulang!" seruku seraya bangkit dari duduk.
"Lya." Andre menahan. "Tunggu!"
"Antar aku pulang ke rumah Om Bram, atau kamu temani aku sekarang kembali ke tempat tinggal Della!" seruku tak peduli. Beberapa pasang mata memandangiku, kesal.
"Sama saja, Lya," Andre menimpali.
"Sekarang!"
"Oke, kita pulang!"
__ADS_1
"Sekarang, Andre!"
"Iya, sekarang juga aku antar kamu."
"Tapi matamu masih fokus ke layar!"
Andre bangkit. "Ayo, pulang."
Kami pun segera jalan. Melewati deretan penonton yang terganggu dengan kelakuan aku dan Andre.
Terdengar beberapa suara mengaduh, mengumpat, dan menyumpahi, "Kalo jalan lihat-lihat ngapa, Setan!" Rupanya beberapa kali langkah kami menginjak kaki mereka. "Sorry! Abisnya gelap, Bro!" seru Andre sambil menyeruak.
Kupercepat langkah, begitu keluar dari dalam gedung bioskop. Ingin segera tiba di rumah dan bertemu Om Bram serta Della. Hari ini juga, semua harus tuntas apa yang mengganjal di hati.
"Tunggu, Alya," Andre menahan langkahku. "Kita beli martabak dulu buat Pak Bram dan Della, ya. Atau kalo kamu mau, seblak di ujung sana enak juga, lho."
Kupandang mata anak muda itu. "Ndak usah macam-macam, deh, Ndre. Antar aku pulang sekarang juga!"
"Aku hanya menawarkan—"
"Andre!"
"Oke, kita pulang sekarang."
Andre memberikan helm padaku. Membantu mengenakannya, kemudian bersiap-siap berangkat. "Pegangan, Lya," ujar anak muda itu begitu roda dua kendaraan mulai melaju.
"Sudah sampai, Lya. Turunlah," seru Andre begitu laju motor berhenti. Aku enggan turun. Kaki ini masih gemetaran disertai gemuruh perut mual. "Lya ... sudah sampai."
"Aku pusing, Ndre," keluhku masih memeluk erat punggung Andre.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya anak muda itu di atas motor. Kujawab, "Kamu bawa motornya kayak setan. Rasanya aku ... kesurupan. Hoeeekkk!"
Hampir saja tumis buncis tadi siang berhamburan kembali ke luar. Tapi masih bisa kutahan.
"Bertahan, Lya. Aku bantu kamu masuk ke dalam rumah, ya." Perlahan Andre turun, lalu membantuku menuruni step kendaraan. Berjalan memasuki rumah dipandu anak muda tersebut.
"Kamu tahu rumah Om Bram?" tanyaku heran di antara rasa pusing yang melanda. Andre menyeringai. "Tentu saja. Sebelum mengenalmu, aku sudah tahu tentang Della."
"Oohh."
Hari sudah mulai merangkak petang. Sementara rumah dalam kondisi gelap. Tak ada nyala lampu satu pun. Ke mana Om Bram dan Della?
"Pak Bram gak ada di rumah?" Andre menyelidik. "Ndak tahu, Ndre. Tapi ... rumah dalam keadaan tak terkunci," balasku begitu memutar handle pintu dan menariknya ke luar. "Ndak mungkin mereka belum pulang. Bukankah tadi siang sudah duluan?"
"Coba kamu telepon, Lya. Siapa tahu mereka masih di luaran sana."
"HP-ku lowbat, Ndre. Coba saja pake ponsel kamu."
"Gak punya pulsa, Lya."
__ADS_1
Aku mendelik. "Pake Whatsapp, kan, bisa."
"Kuotaku habis."
Ya, Tuhan! Laki-laki macam apa si Andre ini. Mengajakku makan dan nonton film bisa, tapi mengurus HP sendiri, kok, cekak.
"Ya, sudah. Antar aku ke sofa saja. Aku masih pusing." Andre membopongku ke ruang tengah, lalu membaringkan di atas kursi. "Cukup, di sini saja, Ndre. Terima kasih, ya."
"Aku temani kamu sampai Pak Bram dan Della datang, ya, Lya?" Andre melihat-lihat sekeliling ruangan yang gelap gulita. "Aku coba nyalain dulu lampunya."
"Ndre, aku takut." Kucekal pegelangan tangan Andre. Menariknya kian mendekat. "Jangan tinggalin aku."
"Lya .... " Andre tertarik hingga jatuh tepat menimpaku. Beberapa saat, kami terdiam dalam sesak. "Lya, aku ... ah!"
"Ndre!"
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba lampu di dalam ruangan menyala terang. Aku dan Andre terkesiap. Kaget. Tak jauh di sana, berdiri Om Bram dan Della, memandangi kami penuh kejut.
Segera kudorong tubuh Andre menjauh. Lalu bangkit, berdiri, dan menghambur ke arah mereka berdua. "Om Bram! Della!"
Dua sosok itu menatap tajam. Kilatan mata mereka begitu menakutkan. Marah? Aku tak tahu.
Segera kudorong Andre agar menjauh, lalu bangkit menghampiri Om Bram dan Della. "Om, Alya .... " Tak tahu harus berkata apa. Sorot mata laki-laki itu begitu tajam. "Della .... " kupanggil gadis itu.
Mereka berdua terdiam.
Andre turut menghampiri, kemudian gagap berkata, "S-saya b-bisa jelaskan, Pak. B-b-barusan tidak seperti apa yang terlihat. Kami hanya—"
"Memangnya apa yang kalian lakukan tadi?" Tatap Om Bram pada Andre. "Tak ada yang perlu dijelaskan, kok. Kami sudah melihat semuanya."
"Om," ucapku bingung. "Alya tidak—"
Tangan Om Bram tiba-tiba berayun. Telunjuknya menempel di bibirku. "Kamu bahagia hari ini, Lya?"
Bahagia? Maksudnya apa?
"Alya tidak paham, Om," jawabku di antara detak jantung yang kian menghentak. "Alya hanya—"
"Cuy," sapa Della menyambung ucapan papahnya. "Elu gak inget ini hari apa?" Aku tersentak. Berusaha mengingat, tapi tak ada yang membekas di benak ini. "Ini hari Minggu, 'kan?" jawabku akhirnya.
Om Bram tersenyum. "Ini hari spesialmu, Lya. Masih lupa?"
"Apa, ya?" Aku berpikir keras. Masih buntu.
Della menggeleng-geleng. Gadis itu pun bergegas ke dapur, lalu kembali membawa kue besar berhiaskan lilin dan pernak-pernik indah lain di atasnya. "Selamat ulang tahun, Lya. Kamu ingat, 'kan, sekarang?"
Aku terkesiap. "Ya, Tuhan! Della! Om!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1