
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 76...
...------- o0o -------...
Laki-laki itu menarik napas panjang. Tatapannya tertuju ke depan. Ke arah tempat kosong, berupa hamparan lantai keramik putih mengilap diterpa cahaya dari deretan jendela aula.
Imbuh Andre berkisah, "Mamaku itu cinta pertama Om Bram, Lya."
"O, iya?" Tiba-tiba aku seperti merasa cemburu sekali kini.
"Ya, benar. Mamaku adalah perempuan pertama yang Om Bram cintai. Tapi, Mama justru membuat sebuah kesalahan besar. Mama meninggalkan Om Bram dan memilih untuk jatuh ke dalam pelukan lelaki lain, Papaku. Dia orang Perancis keturunan Spanyol."
Oh, jadi karena itu rupa dan bentuk fisik Andre sekarang? Pantas saja. Dia memiliki darah impor, ternyata.
"Kemudian, Om Bram berusaha mengobati luka hatinya dengan menikahi Tante Widya," ujar Andre kembali. "Tapi takdir berkata lain. Di saat Mamaku dan Tante Widya sama-sama mengandung kami, aku dan Della, Papaku mengalami kecelakaan pesawat saat hendak berkunjung ke negara asal keluarganya. Papa meninggal dan Mama mengalami depresi berat. Berkali-kali aku terancam gak bisa lahir ke dunia ini. Mama menjadi gila. Sampai kemudian, saat aku mulai hadir, Mama menyusul Papa menemui Tuhan."
"Astaga ...." desahku tiba-tiba terenyuh. Sesak sekali rasanya mendengar kisah laki-laki ini.
"Kamu tahu, Om Bram juga yang merawat aku sejak bayi. Beliau menyayangi aku sepenuhnya dan memperlakukanku dengan baik," ungkap Andre. "Namun, di mata Tante Widya, kehadiranku bersama Della pada saat itu, bermakna lain. Tante Widya berpikir bahwa Om Bram belum bisa sepenuhnya melupakan cintanya pada Mama. Sehingga mau merelakan diri untuk merawat dan membesarkanku."
__ADS_1
Aku memberikan selembar tisu lembut begitu melihat kelopak mata lelaki tersebut mulai berkaca-kaca. Andre tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Gak tahu kenapa, mungkin karena selalu didera rasa cemburu padaku atau juga Mamaku, Tante Widya ... kemudian jatuh sakit. Belakangan, beliau divonis menderita kanker. Lalu, demi menjaga kesehatan Tante Widya juga, aku dititipkan oleh Om Bram di sebuah panti asuhan. Di saat itulah, aku mulai kehilangan sosok-sosok orang yang memberikan kasih sayang. Aku merasa kesepian, sendiri, dan rasanya tiada berguna."
Andre mengelap terlebih dahulu air matanya sebelum lanjut bertutur cerita.
"Tepat usiaku sepuluh tahun, Tante Widya meninggal dunia. Aku sempat dijemput oleh Om Bram dari panti asuhan tadi, diajak berkumpul kembali dengan beliau bersama Della. Tapi ... anak perempuan itu selalu menolak dan menganggap bahwa akulah penyebab dari kematian Mamanya."
Kemudian masih menurut Andre, karena tidak ingin mengganggu psikis Della, akhirnya dia pun dikembalikan ke panti asuhan. Namun untuk kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, masih tetap ditanggung oleh Om Bram.
Hal lain yang menyebabkan Om Bram untuk memisahkan Andre dan Della adalah karena sejak usia belia, anak perempuan Om Bram tersebut ---ternyata-- didiagnosis menderita gangguan jantung. Berkali-kali berobat atau dirawat di rumah sakit, bukan merupakan sebuah hal yang aneh baginya. Sejak itulah, Bi Mamas mulai hadir untuk membantu mengurusi Della.
Walaupun tidak tinggal serumah dengan keluarga Om Bram, Andre tetap dipersilakan untuk datang berkunjung ke rumah laki-laki berstatus duda keren tersebut. Seiring waktu berjalan dan Della tumbuh remaja, sikap anak perempuan itu perlahan-lahan melunak terhadap Andre. Namun begitulah, tidak serta merta menjadi akrab hingga keduanya dewasa di kemudian waktu.
Om Bram tetap bertahan untuk tidak menikah kembali setelah ditinggal mati oleh Tante Widya. Hal tersebut dimaksudkan agar dia bisa tetap fokus mengurus Della dan khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika sampai hadir seseorang yang baru bagi anak gadis tersebut.
Sekarang justru akulah yang seharusnya berpikir. Perasaan cinta yang menggebu-gebu terhadap laki-laki tersebut begitu membutakan. Justru akulah yang mendadak berubah egois setelah kebaikan demi kebaikan dari Om Bram dan Della dicurahkan.
"Alya ... kamu nangis?" tanya Andre tiba-tiba di pengujung penuturan kisah hidupnya. "Kenapa, Lya? Kamu jangan ngerasa sedih atas apa yang aku alami dulu. Aku bisa terima, kok. Malah aku bahagia, bisa menjadi bagian dari keluarga Om Bram walaupun gak sepenuhnya."
Yee, dasar ge-er. Aku itu merasa sedih bukan hanya karena mendengar kisah dia, melainkan atas sikapku selama ini pada Om Bram serta Della.
Kupikir, selama ini mereka membohongiku. Namun ternyata ada kesalahan persepsi akibat hanya mendengarkan sebuah cerita dari satu pihak semata. Siapa lagi kalau bukan Bi Mama's.
Aku terpancing dan ikut mengutuk Om Bram serta Della yang sudah begitu baik selama ini. Tiba-tiba aku membenci mereka berdua. Bahkan enggan ikut menjemput saat Della pulang dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Andreee ...." kataku sedih seraya menghambur peluk tubuh lelaki tersebut. "Aku sedih, Ndre."
"Iya, gak apa-apa. Aku paham, kok. Hidupku emang udah ditakdirkan begini. Mau 'gimana lagi." balas Andre lirih.
"Bukan tentang kamu!" kataku sebal seraya melepaskan pelukan. "Aku sedih karena sudah bersikap jahat sama keluarga Om Bram, tahu!"
"O-oohh itu? Aku pikir kamu ...."
"Aku juga prihatin kok sama kamu, Ndre," kataku sambil mendekatkan wajah.
Laki-laki tampak canggung dan berusaha menahan diri agar tidak turut berbuat hal sama seperti yang kulakukan.
Sampai kemudian, sesuatu yang tidak dapat dihindari itu pun terjadi. Secara tidak sadar, aku telah mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir lelaki tersebut.
"A-alya ...." desah lelaki tersebut dengan suara gemetar. "A-apa yang kamu lakukan ini? K-kamu ... k-kamu menciumku?"
Lantas aku pun segera menjauhkan wajah ini, merenggangkan pelukan, dan akhirnya berlari meninggalkan sosok lelaki berparas bule tersebut di ruangan aula kampus.
"Alya! Tunggu!" seru Andre terdengar memanggil. Namun aku tidak peduli. Aku tidak ingin menoleh atau kembali menemuinya.
Gila saja! Mendadak ---tadi--- aku seperti melihat bayangan Om Bram pada sosok Andre tadi. Bagaimana bisa aku berhalusinasi di pagi bolong seperti ini? Aku malu sekaligus bingung, bagaimana nanti persepsi dia tentangku.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku dan Andre jangan sampai terjalin sebuah hubungan apa pun. Kami tetaplah berteman. Karena hati ini yang sudah terlanjur jatuh hati pada Om Bram, harus segera menemui pria berbulu dada lebat itu kelak. Sekaligus meminta maaf pada Della.
Sekarang juga? Tentu saja tidak. Aku harus tetap masuk kelas, belajar, dan mempersiapkan masa depan kelak. Siapa tahu berjodoh dengan Om Bram. Eh?
__ADS_1
...BERSAMBUNG...