
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 18...
...------- o0o -------...
Aku melirik sejenak ke arah Andre. Laki-laki itu masih tetap berada di tempatnya semula. Mematung sambil memperhatikan kami.
“Ndak, kok. Ndak ada omongan apa pun. Kami .... “
“Elu berduaan lama di ruang ini. Saling berhadapan begitu tanpa ngapa-ngapain?” Della tertawa kering. Lucu ataukah sengaja ingin mentertawakanku? Entahlah. “What’s going on here, Alya? Just tell me now.”
Aku menunduk. Tak kuasa untuk beradu pandang dengannya. Tubuh rasanya bergetar. Keringat dingin mulai terasa membasahi sekujur badan.
“Jawab aja, Alya. Why? Are you lying to me?” desak Della seraya menepiskan pegangan tanganku di bahunya. “Kalo gak ada sesuatu yang disembunyiin, elu gak bakal berat begini buat ngomong, kan? Kenapa?”
Bibirku terasa berat untuk berucap. Gemetar menahan rasa takut. Khawatir Della akan marah dan tak lagi mau bersahabat. Itu artinya ....
“Aku dan Alya resmi pacaran, Del,” tiba-tiba terdengar suara Andre berbicara. Laki-laki itu berjalan perlahan menghampiri kami.
“Andre!” Aku terkejut. Tak menyangka dia akan berucap seperti itu. “Apaan, sih, kamu?”
Mulut Della ternganga. Menatap Andre dan aku secara bergantian. “Apa?”
“Ya, sudah lama gue menaruh hati sama Alya, Del.” Andre semakin mendekat. “Hari ini aku menagih janjinya untuk memberikan jawaban. Alya menerimanya.”
“Andre!” seruku tak percaya. “Ndak! Aku ndak nerima kamu, Ndre. Kamu salah paham!”
Andre mengerutkan kening. “Salah paham gimana maksud kamu, Alya? Sudah jelas, kan, tadi kamu--“
“Ndak! Aku ndak pernah bilang iya, kok. Aku belum menjawab apa pun. Kamu jangan bohong, Andre!” Tiba-tiba aku merasa sebal melihat laki-laki berparas blasteran Erofa itu. “Del, kamu jangan percaya omongan Andre. Aku dan dia gak ada hubungan apa-apa, kok.”
“Serius?” tanya Della masih belum percaya.
“Alya! Kamu tadi mengangguk saat kutanya. Apakah itu—“
Buru-buru aku memotong ucapannya, “Itu bukan berarti aku bersedia, Ndre. Aku hanya tengah berpikir. Ndak ada arti lain.”
“Alya?” Andre tersenyum getir tak percaya. Mungkin tak menyangka aku akan berkata seperti itu. “Aku pikir kamu .... “
__ADS_1
“Ndak! Kamunya saja yang salah paham,” ujarku tak ingin membiarkan laki-laki itu meneruskan ucapannya.
Sementara Della hanya bengong. Beberapa kali dia berusaha menatap lekat mataku. Di saat yang sama, buru-buru aku menunduk. “Gue bingung, siapa di antara elu berdua yang lagi ngebokis? Kenapa, sih, gak pada mau jujur?”
Andre mendekatiku. “Alya, mataku gak bisa dibohongi. Tadi aku benar-benar berpikir kalo kamu menerima permohonanku, kan?”
“Maaf, Ndre. Berulang kali aku katakan, aku belum berniat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Termasuk kamu. Maafkan aku.” Aku bergegas meninggalkan mereka berdua. Melangkah dengan cepat tanpa mau menoleh sejenak pun. Rasanya perutku mulai memual mendengar celotehan Andre. Tak tahu malu!
“Alya! Tunggu!” panggil Andre hendak mengikutiku. Namun suara langkahnya terhenti. Aku pikir mungkin ditahan Della atau bagaimana. Tak peduli. Aku hanya ingin menjauh dan tak lagi dipertemukan dengan laki-laki tersebut.
Masuk kelas? Ke kantin? Ataukah duduk sendirian di taman kampus? Ah, aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Semua tempat di area itu mendadak tak nyaman. Setiap sudut seperti ada sepasang bola mata kehijauan yang tengah memperhatikan. Sungguh menyebalkan.
BRUK!
Ah, sial! Tiba-tiba seseorang menubrukku. Sesaat meringis ngilu di bagian bahu. Lalu berbalik arah mencari sosok yang bertabrakan tadi. Seorang laki-laki muda dengan perawakan ceking namun bertinggi badan tinggi. Hal yang bersamaan, kami saling menatap satu dengan lainnya.
“Kamu .... “
“Alya, kan?” tanya laki-laki tersebut.
“Iya, aku Alya. Kamu Ryan, kan?” tanyaku sambil menudingkan telunjuk ke arahnya. Dia senyum-senyum sendiri.
Benar! Laki-laki itu memang Ryan. Sosok yang dulu pernah akan merenggut kesucianku yang cara tak sejati. Hhmmm ... lama tak jumpa. Ke mana saja selama ini?
“Aku ndak sengaja ke sini. Aku .... “ Melihat-lihat sekeliling. Khawatir Andre dan Della datang menyusul. “Aku .... “
“Kamu kenapa, Alya?” Ryan bingung memperhatikan sikapku.
“Duh, Ryan. Tolongin aku, dong,” kataku tiba-tiba memohon. “Tolongin apa? Kamu kayak lagi ketakutan gitu. Ada apa, sih?” tanya Ryan kembali.
“Bawa aku ke mana saja. Aku butuh tempat sementara untuk .... “ Kusapu lagi area sekitar. Cemas.
“Bawa ke mana? Maksudmu pergi?”
“Terserah kamu, deh, Ryan. Pokoknya asal jangan di sini.”
“Ke mana?”
“Ke luar kampuslah, Ryan,” seruku tak sadar. “ ... atau kalo bisa, ke tempat kos kamu.”
“Gila!”
“Mengapa memangnya?”
__ADS_1
Laki-laki itu menggaruk kepala. “Mau ngapain? Mau ngajak—“
“Jangan gila, deh, kamu. Aku ndak bermaksud mengajakmu macam-macam, Ryan,” tukasku jengah. “Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi sebentar.”
“Ngumpet? Kenapa emangnya?” Ryan masih tak paham. “Ada orang yang mengancam kamu, Alya?”
Aku menggeleng. “Bukan. Tapi .... “
“Kalo siang begini, aku gak bisa bawa cewek, Lya. Bu Bariah pasti akan marah,” jawab Ryan.
“Bu Bariah? Siapa dia?”
“Yang punya rumah kosan. Siapa lagi?”
“Ah, pokoknya aku ndak peduli. Kamu tolong bawa aku ke mana saja, deh, hari ini,” desakku kembali.
Laki-laki itu kembali menggaruk kepalanya. “Ya, gak bisalah, Lya. Aku ada kelas hari ini.”
“Please, Ryan. Aku mohon.”
Ryan tampak bingung. Berulang kali seringai getir menyeruak di bibir hitamnya. “Gimana, ya? Haduh, bingung.”
Di saat seperti itu tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil. “Alya!”
Gawat! Itu suara Andre.
Benar saja saat menoleh ke arah asal suara, laki-laki itu tengah berlari kecil sambil memanggil-manggil namaku. Di ikuti Della dari belakang.
Aku seperti mati langkah. Menghindar untuk yang kedua kali, rasanya tak mungkin. Mereka pasti akan terus mengejarku.
“Kenapa kamu kabur, Lya?” tanya Andre setelah mendekat. Napasnya terengah-engah. Hal yang sama terjadi pada Della.
“Elu gua telpon kagak diangkat. Kenapa, sih, lu?” Della turut bertanya dengan susah payah di antara helaan napas lelahnya.
Aku bingung harus jawab apa. Kali ini tak boleh lari. Aku harus menghadapi sekaligus kedua manusia itu. “Aku .... “
“Siapa dia?” tanya Andre setelah beberapa lamanya memperhatikan sosok Ryan yang berdiri persis di belakangku.
Aku melirik ke arah Ryan. Laki-laki kerempeng itu terdiam bingung.
Tiba-tiba aku seperti mendapat ilham dalam situasi serba darurat tersebut. Keberadaan Ryan saat ini sungguh tepat.
Diawali gerakan cepat, segera kuraih jemari Ryan. Tergenggam menyatu dan erat dalam kuasa penuh. Laki-laki itu kaget. Semula hendak melepaskan, namun kutahan sekuat tenaga seraya memelototinya dengan galak. “Ini ... ini ... Ryan. D-d-d-i-iaa ... pacarku.”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...