
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 67...
...------- o0o -------...
Bram baru mau melepaskanku begitu suara gaduh di ruang belakang mengaburkan konsentrasi kami. Diawali suara decak, laki-laki berwajah brewok itu bergegas menuju tempat dimana Bi Mamas tengah berada.
Kesempatan itu langsung aku pergunakan untuk segera kabur dari sana. Berlari ke lantas atas secepat kilat dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Mengunci rapat-rapat agar tidak ada seorang pun yang bisa menyusul. Lantas mengantarkan tubuh ini ke atas kasur dengan gaya melompat.
Bruk!
Aku menutupi muka ini dengan bantal. Menutupi kedua telinga dan diharapkan tidak mendengar ada suara panggilan maupun ketukan di pintu kamar. Tidak. Aku tidak inginkan itu dan jangan harap akan sudi membukakannya.
“Sial!” rutukku kesal karena rencana kepergian ini gagal dilaksanakan. “Kenapa sih, dia harus nongol terus? Kenapa gak lama perginya supaya aku bisa kabur dengan nyaman dan aman? Kenapa pula ….”
Ah, berkali-kali aku tidak sanggup melepaskan diri dari pengaruh lelaki yang satu itu. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Tidakkah mampu sekali saja untuk berkelit, mengindahkan, menolak, atau bahkan melawan sekuat tenaga. Aku benar-benar belum mampu, Bram! Terlalu besar rasa cinta ini mengujam hati. Begitu kuat dia menguncinya, hingga tidak sekalipun mampu meloloskan diri.
Aku harus bagaimana sekarang? mencoba kabur lagi? Menghubungi seseorang untuk dipintai pertolongan? Hampir separuh dari baju-bajuku ada di dalam tas ransel, berikut handphone terbungkus di sana. Kalau sampai keluar kamar, khawatir sekali Om Bram akan kembali datang menyekap, terus membekap. Eh?
Tok! Tok! Tok!
Tuh, benar ‘kan dugaanku? Si Brewok itu pasti kembali menguntit. Maunya apa sih dia? Tidak bisakah memberikan ruang khusus agar aku bisa bernapas lega dari himpitan sesak pesonamu, Bram?
“Non!”
Itu suara Bi Mamas. Mengapa harus dia yang datang. Harusnya Om Bram, dong!
“Non Alya, ini saya, Non! Bi Mamas!” ujar sosok tambun itu berseru di luar kamar.
Sia-sia saja kepala dan kuping ini ditutup. Nyatanya suara ketukan dan panggilan itu masih juga terdengar.
“Mau ngapain, Bi? Saya lagi kesel!” sahutku merasa malas untuk bangkit dan membukakan pintu.
“Ini tas Non Alya!”
Ah, ternyata Bi Mamas mau berbaik hati mengantarkan tas ransel itu sampai ke kamarku. Jadi aku tidak perlu capek-capek turun dan mengambilnya ke bawah sana, terus bertemu kembali dengan si Bram.
“Sebentar, Bi!”
Aku beringsut menuruni tempat tidur, berjalan lunglai menuju pintu dan membukakannya.
__ADS_1
“I-ni tas Non Alya ….” kata Bi Mamas tergagap disertai gerakan bola mata seperti menunjuk-nunjuk sisi samping tembok bagian luar.
“Matanya kenapa, Bi? Kedutan? Kelilipan?” tanyaku merasa agak aneh memerhatikan sikap wanita kembaran Ceu Edoh ini.
Bi Mamas tidak menjawab. Namun gerakan matanya kian gencar menunjuk-nunjuk ke arah samping.
“Apaan, sih? Bibi ini aneh-aneh aj―”
“Kita harus bicara sekarang juga, Alya,” ucap Om Bram tiba-tiba muncul dari samping tembok bagian luar. Tempat dimana Bi Mamas tadi menunjuk-nunjuk.
“Astaga!”
Aku terperanjat dan refleks hendak mendorong kembali daun pintu kamar. Namun sebuah tangan kekar berbulu langsung terjulur menahan kuat-kuat.
“Jangan, Bram. Biarkan aku sendiri dulu,” pintaku memelas. “Tolong, jangan kamu biarkan aku terus begini, Bram.”
Bi Mamas undur pamit begitu Om Bram memberinya kode. Kemudian laki-laki itu mulai mendekatiku, mengusap-usap wajah ini dengan lembut, hingga aku pun melepas dorongan daun pintu tersebut secara perlahan-lahan dengan kelopak mata mengatup rapat-rapat. Terserah, sekarang maunya dia apa. Tenagaku mendadak sirna kini.
“Sekarang kamu pasti sudah tahu. Bi Mamas sudah menceritakan semuanya tentangku ‘kan, Alya?” tanyanya semakin lembut. “Apa boleh buat, sekarang aku sudah gak bisa lagi berpura-pura atau bersembunyi dari drama konyol ini.”
Aku membuka mata. Memandangi bulatan coklat yang penuh pesona itu. “Kamu mau berterus terang?”
Om Bram mengangguk diiringi seulas senyum manis yang begitu indah. “Itu ‘kan yang kamu inginkan selama ini, Alya?” tanyanya seraya menyentuh dagu ini, mengangkat ke atas hingga kepalaku bergerak lebih naik. Dia mendekatkan wajah. Perlahan-lahan hingga dengkus napasnya menerpa hangat kedua kelopak mata ini. Redup, aku pun spontan meredupkan pandangan. Tidak ingin melihat detik-detik bagaimana bibir laki-laki itu mulai terbuka dengan posisi kepala memiring.
“Aku mencintaimu, Alya,” bisik Om Bram begitu syahdu di dekat telinga ini.
Seketika aku pun kembali membuka mata ini dan melihat wajahnya sudah menjauh ke atas sana. Kecewa sekali.
“Kamu sadar apa yang kamu ucapkan itu, Bram?” tanyaku setengah yakin. “Kamu ndak lagi dalam pengaruh alkohol, ‘kan?”
“Aku gak minum!”
“Tapi kamu ndak mabuk?”
“Bagaimana mungkin aku mabuk akibat minum kopi buatanmu, Alya?” ucapnya terasa garing dan tidak mampu menggelitik syaraf tawa ini. “Terkecuali … aku mulai mabuk karena diam-diam mencintaimu.”
Seerrr!
Darahku seketika membludak memenuhi kepala.
“Gombal!”
“Aku gak lagi ngerayumu.”
“Tapi aku sudah pernah denger dialog omong kosong kayak ‘gini, Bram. Hasilnya? Aku tertipu berkali-kali oleh kepura-puraan kamu, Bram.”
__ADS_1
“Aku gak lagi pura-pura.”
“Dan aku sadar, ini cuma trik dari kamu supaya aku ndak jadi pergi, ‘kan?”
Om Bram melepaskan usapannya atas wajahku. Dia mundur, tapi tetap menatapku dengan sendu.
“Kalo memang kamu mau pergi, silakan,” ujarnya terdengar menyebalkan. “Aku gak bisa melarang atau menyuruhmu pergi kemanapun ingin kamu pergi, Alya. Aku sadar, secara logika … aku memang bukan siapa-siapa kamu, ‘kan? Aku cuman seorang laki-laki tua yang pernah menikah dan memiliki seorang anak dan terpaksa merelakan kebahagiaanku sendiri untuk Della.”
“Kamu bohong lagi, Bram,” tudingku seraya menyipitkan mata. “Kamu pikir aku ndak tahu? Kamu pikir aku buta tentangmu sekarang? Endaakkk! Aku tahu siapa kamu yang dulu, Bram.”
“Maksudmu apa, Sayang?”
“Ndak usah panggil aku ‘Sayang’, Bram!”
“Oke, aku ulang. Maksudmu apa, Alya?”
“Jangan panggil namaku secara langsung, Bram!”
“Terus maumu apa, dong?”
“Kombinasikan keduanya, Bram!”
“Oh, oke. Sekarang … apa saja yang kamu ketahui tentang aku, Alya sayang?”
Nah, begitu ‘kan lebih dramatis dan romantic, Bram.
“Della memang anakmu, ‘kan? Tapi disamping dia, masih ada seorang lagi yang menunggu pengakuan darimu sebagai papanya.”
Tiba-tiba raut wajah laki-laki itu berubah. Tampak terkesiap dan sedikit memucat. Mungkin tidak menyangka jika aku akan berkata seperti ini.
Dengan suara terbata-bata, Om Bram berkata, “Apa Bi Mamas sudah nyeritain semua?”
Aku tersenyum tipis. Detik-detik kemenangan sepertinya akan segera merapat kearahku. Kartu mati dia sudah kugenggam dengan kuat.
“Ndak usah tanya ‘gimana caranya aku mengetahui tentang kamu,” ujarku berlagak sok juara. “Bahkan, soal pernikahan kamu dengan Tante Cassandra aja, aku udah tahu. Kalian semua bersekongkol membodohi aku!”
“Kalian? Maksudmu … kami―”
“Kamu, Della, Andre, dan juga Bi Mamas sendiri. Ndak usah pura-pura kaget deh, Bram! Pokoknya aku sudah tahu semuanya!”
“Alya ….”
“Jangan panggil namaku!”
“Alya Sayang ….”
__ADS_1
“Huh!” Aku melengos judes.
...BERSAMBUNG...