
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 38...
...------- o0o -------...
Aku mendengkus kesal. "Ya, sudah! Terserah kamu saja. Mau panggil ambulans juga, aku terima!"
"Yang ini mobil jenazah, Lya!"
"Ndak sekalian keranda mayat?"
Sialan! Obrolan macam apa ini?
Della tertawa keras.
"Mengapa sekarang tertawa? Tadi kamu nangis," ujarku merasa heran. "Lucu aja, Lya. Hahaha," balas Della masih disertai gelak khasnya.
"Hhmmm."
"Udah. Terima aja, deh. Elu gak bakalan menang debat ama gue," seru gadis itu. "Orang yang ditunggu udah dateng tuh."
"Siapa?"
"Andre. Si Londo jomlo!"
Aku membalik badan. Mencari sosok yang dituju pandang oleh Della. Benar saja, Andre sedang berjalan mengarah ke tempat kami.
"Andre?"
Anak muda itu melambai dari kejauhan.
"Kapan kamu manggil dia, Del?" tanyaku heran. Della gelagapan. "Eh, tadi. Ya, tadi ... waktu kita jalan dari kelas."
"Kamu ... ngirim pesan ke dia?"
Della salah tingkah. "Ya, apa salahnya?"
Keningku berkerut. "Jadi selama ini kamu menyimpan nomor kontak dia juga?"
"Dia, kan, temen sekelas kampus kita. Salah gitu kalo gue nge-save nomor ponsel dia? Termasuk nomor si Alex. Aneh bagi elu?" kilah Della tak mau kalah.
Tidak! Bukan masalah itunya, tapi aku pikir selama ini Della dan Andre juga sering berkomunikasi. Lho, bukannya Della membenci anak muda itu? Ada apa ini? Misteri bertambah.
"Hai," sapa Andre begitu tiba di dekat kami. "Ada apa ini?"
Aku mendelik. "Kamu pikir, ada apa?"
"Gak tahu. Ada apa, sih?" Andre menggaruk kepalanya.
"Anterin Alya pulang," titah Della.
"Sekarang?" tanya anak muda paruh bule itu kembali.
"Kapan lagi?" sentak Della mulai galak.
"Kenapa gak bareng? Biasanya sama elu, Del."
"Gue ada keperluan laen."
"Nah, itu juga. Biasanya apa-apa selalu kalian berdua lakuin bareng-bareng," tukas Andre. "Ada apa, sih? Kalian marahan, ya?"
Della melotot galak. "Udah, gak usah banyak tanya. Elu mau nganterin Alya pulang gak?"
__ADS_1
"Jangan, ah, Del. Aku trauma naik motor ama dia. Kemaren saja aku sakit, gara-gara dia," seruku merasa keberatan.
Della membalas, "Elu berdua naek angkutan umum online, Lya."
"Astaga!"
"Kenapa lagi, sih?"
Aku menoleh keluar area parkiran kampus. "Orderanku nunggu dari tadi."
"Makanya elu berdua buruan sana, pulang!" seru Della memekakkan telinga. Sifat aslinya keluar. "Mau, 'kan, Ndre?"
Andre tersenyum. "With my pleasure."
"Del," panggilku.
"Udah, sana jalan!"
Percuma protes. Tak akan menang. Gadis itu keras kepala.
Terpaksa kuturuti, walau hati dilanda gusar. Disertai ancaman pada Andre, bergegas meninggalkan sosok Della, "Awas, ya, kalo kejadian waktu kemaren terulang."
"Kejadian apa, Lya? Yang waktu ke toilet itu?" tanya Andre.
"Bukaaaannnn!"
"Terus?"
"Au, ah!"
Aku segera mendekati sebuah kendaraan yang terparkir di depan gerbang kampus. " ... dengan Mbak Alya, ya?" tanya sopir.
"Betul. Maaf, Pak. Lama nunggu?" Aku masuk ke dalam kendaraan di kursi belakang, diikuti Andre. "Enggak juga, Mbak," jawab sopir seraya tersenyum ramah. "Sesuai alamat tujuan, 'kan, Mbak?"
"Iya, Pak."
"Baik, kita berangkat, ya."
"Lya .... "
Kutoleh Andre yang duduk di sebelah. "Apa?"
Anak muda itu terdiam sejenak. Kemudian lanjut berkata, "Maafkan aku soal yang kemarin."
"Yang mana?" tanyaku menatap ke depan. Enggan rasanya beradu pandang dengan mata biru Andre. "Semuanya," jawab Andre.
"Hhmmm."
"Aku dan Della memang sudah merencanakannya. Pertemuan kita dengan Pak Bram di pusat perbelanjaan kemarin itu, bukan kebetulan," tutur Andre.
"Kamu dan Della sering berkomunikasi, 'kan?" selidikku. Andre tak menjawab. "Aku pikir, selama ini Della benar-benar ndak mau deket sama kamu."
"Baru kemarin dia menghubungiku. Itu pun terkait rencana bikin surprise kamu, Lya."
"Begitu?" Aku belum percaya.
"Iya."
Aku menarik napas panjang. "Aku mencium ada aroma lain di antara kalian."
"Maksudmu, Lya?" Andre seperti terkejut.
"Kalian punya hubungan khusus?"
"Enggak. Kami hanya teman. Ya, sebatas berkawan saja."
"Hhmmm."
__ADS_1
Andre menggeser duduk, mendekatiku. "Kamu punya perasaan lain sama Pak Bram, Lya?"
Kulirik anak muda itu sejenak, diiringi senyum kecut. "Cuma anak dan orang tua. Om Bram sudah menganggapku layaknya anak sendiri. Begitu pula denganku."
Andre menggeleng. "Enggak. Ada hal lain yang kamu sembunyikan, Lya."
"Hal lain apa?" Aku tertawa sendiri. Padahal dadaku mulai bergemuruh. Makanya masih enggan beradu mata dengannya.
Setelah agak lama terdiam, Andre menjawab, "Kamu naksir Pak Bram."
"Hahaha." Aku tertawa garing dengan bibir kaku. Lama tergelak hingga mata sopir sesekali mengintipku melalui front mirror.
"Masih mau lanjut ketawanya?" tanya Andre setelah sekian lama menunggu gelakku reda. "Aktingmu payah, Lya. Suara tawamu gak menggambarkan kelucuan. Justru seperti sedang menutupi kegundahan."
"Sok tahu kamu!" sahutku buru-buru menanggapi ucapan Andre tadi.
"Terserah kamu mau jawab apa, tapi aku merasa ... kamu memang menyukai Pak Bram, 'kan?" Andre mulai menyerangku.
Aduh, mendadak panas. Gerah. "Pak, AC-nya bisa lebih dingin ndak?" pintaku pada sopir.
"Ini sudah level terdingin, Mbak," jawab sopir.
"Tapi masih panas begini, ya? Mungkin freonnya bermasalah?" Aku mengipas-ngipas tangan di depan wajah.
"Ini mobil baru, Mbak." Sopir tersenyum di balik kemudinya. Sesekali dia menatapku melalui cermin depan.
"Oh, begitu? Tapi .... "
"Masih mau terus berpura-pura dan mengalihkan pembicaraan ini, Alya?" potong Andre tak lepas memperhatikan sikapku dari tadi.
Kulirik dia sesaat. "Dih, kamu ngomong apa, sih, Ndre? Gajebo, ah."
"Bukan AC-nya yang bermasalah, Lya. Tapi wajahmu itu yang mendadak merah padam," Andre terus mencecarku. Sopir terkekeh di balik kemudi. "Jujur saja, deh. Benar, 'kan, kamu mencintai papahnya Della?"
"Aku ndak mau membahas soal ini. Maaf," jawabku sambil menundukkan kepala. Gara-gara Andre, perih itu kini melanda kembali.
Andre mengangguk-angguk. "Sekarang aku mulai paham tentangmu, Lya. Aku paham."
"Ndak ada, Ndre. Ndak ada yang kamu ketahui tentang aku. Kamu ndak paham itu. Kamu hanya menebak-nebak, 'kan?" Aku menggeleng kembali. Berusaha menyangkal apa pun yang mulai diselami oleh Andre.
"Hhmmm," anak muda itu mendeham.
Laju kendaraan berhenti, tepat di depan pintu pagar tinggi sebuah rumah besar.
"Terima kasih, ya, Pak," ucapku seraya memberikan sejumlah uang pada sopir. "Wah, Mbak. Banyak banget. Ini kelebihan," ujar laki-laki di belakang kemudi tersebut.
Aku tersenyum. "Ndak apa-apa, Pak. Ambil saja semua."
"Terima kasih, Mbak," ujar sopir tersebut semringah. Sebelum pergi, dia berseru di balik kemudi. "Semoga apa yang Mbak cita-citakan, terwujud, Mbak."
Aku tersenyum. Haru.
'Aamiin.'
Andre berdiri di sampingku, melirik-lirik. "Lya, aku pergi lagi, ya."
"Mau ke mana, Ndre?"
"Ke kampus. Motorku, kan, masih di sana."
"Ndak nemenin aku dulu?"
Andre memperhatikan sekeliling rumah. "Pak Bram dan Della sedang gak ada di rumah, 'kan?" Aku mengangguk. "Aku takut ada siluman di antara kita."
Kutepuk lengan anak muda itu. Dia mengutip obrolan kami waktu di dalam bioskop kemarin. "Bisa saja kamu, Ndre."
"Kan, kamu yang ngajarin."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecut.
...BERSAMBUNG...