BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 63


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 63...


...------- o0o -------...


Sialan! Aku cari-cari sosok yang satu itu sejak tadi, belum juga ditemukan. Om Bram seperti mendadak menghilang dari rumah. Di dapur, di depan, di belakang, bahkan sampai ruangan tengah, tidak juga tampak orang tersebut.


“Nyari apa, Non?” tanya Bi Mamas begitu berjumpa lagi untuk yang kesekian kali di tempat pencucian pakaian. “Dari tadi Bibi perhatiin, kok muter-muter terus kayak baling-baling kipas angin? Non Alya kehilangan sesuatu?”


Ya, bener. Aku kehilangan kewarasanku, Bi. Gara-garanya laki-laki penuh bulu itu.


“Om Bram ke mana, Bi?” tanyaku akhirnya menyerah dan lebih memilih untuk mengetahui keberadaan papanya Della itu pada Bi Mamas.


“Saya lihat sih, tadi kayaknya keluar, deh,” jawab Bi Mamas sambil mengaduk-aduk cucian di dalam bak mesin. “Baru aja masuk, eh … langsung keluar basah, Non.”


“Hah? Keluar basah?” Seketika otak ini seperti diajak berpikir yang aneh-aneh oleh asisten rumah tangga tersebut. “Maksud Bibi apa, sih?”


Bi Mamas melirik dan langsung tersenyum-senyum begitu aku memasang muka bingung. “Hi-hi.” Dia malah cekikikan.


“Dih, malah ketawa,” kataku menggerutu.


Jawab Bi Mamas kembali usai menghentikan tawanya, “Iya … tadi saya sempet lihat, Pak Bram masuk kamar, terus … gak lama keluar kamar. Begitu, Non.”


“Terus, yang bagian basahnya apa, coba?”


Aku berharap, wanita ini jangan sampai bercerita tentang sesuatu yang aneh-aneh tentang Om Bram. Entahlah, di saat kondisi super sensitif begini, fungsi otakku seakan-akan sulit untuk diajak waras.


“Rambutnya, Non,” jawab Bi Mamas.


“Rambut yang mana?”


“Kok, rambut yang mana sih, Non?” Bi Mamas tampak bingung dan terperangah. “Kalo rambut ya pastinya di kepala, dong. Masa di tangan? Itu sih namanya bulu, Non. Hi-hi.”


“Ih!” Aku mendesah kesal.


“Lah, iyalah. Coba aja Non pikirin. Masa ada rambut tangan, rambut kaki. Ada juga bulu tangan ama bulu kaki. Iya, ‘kan? Kalo bulu di dagu namanya jenggot. Di pipi itu cambang. Antara dagu dan pipi disebut brewok. Hi-hi.”


“Iiihh, Bibi. Aku ndak lagi mau mikirin perbuluan,” kataku semakin kesal.

__ADS_1


Berbicara masalah bulu, aku jadi langsung teringat pada om Bram. Itu dulu, sewaktu pertama kali melihat laki-laki itu bertelanjang dada di belakangku. Dia hanya berbalutkan handuk sebatas perut hingga lutut. Berdiri mematung tanpa kusadari dan memuji-muji racikan kopi buatanku sepenuh hati. Hi-hi.


Ah, indah sekali. Rasanya baru kemarin jantung ini sering-sering diajak olahraga oleh pandangan lelaki pujaan itu, dan sekarang malah serasa sudah menjadi atlit panahan. Berusaha menancapkan busur cinta ini pada hati seorang Bramanditya. Namun sejauh itu pula, belum satupun mengenai target. Karena apa? Dia sering mengelak dan berbohong. Sebal! Kesal! Akan tetapi aku tetap suka. Hi-hi.


“Non … Non Alya?”


“Oh, eh … iya, Bi?” Aku terperanjat.


“Non Alya kenapa?”


“Kok, malah nanya kenapa sih, Bi?” Aku menyeru seru. “Tadi ‘kan sudah saya bilang, saya ndak lagi mikirin bebuluannya Om Bram! Paham, Bi?”


“Loh, yang ngomong bulunya Pak Bram siapa, Non?” Bi Mamas melongo.


“Bibi.”


“Enggak, kok. Orang saya bilangnya rambut Pak Bram.”


“Hah? Apa iya, ya?”


“Iyalah. Tadi saya bilang … rambut Pak Bram basah alias klimis ‘gitulah, Non. Mungkin pake minyak rambut atau apalah. Maksud saya begitu,” pungkas Bi Mamas menjelaskan.


‘Duh, kenapa juga aku harus ngobrol beginian sepagi ini? Ya, Tuhan … lama-lama aku semakin error berada terus-terusan di rumah ini. Selama berada satu atap dengan Om Bram, mungkin akan seperti inilah kondisiku? Iihhh … aku ingin pergi, tapi … kuat ndak ya, ninggalin Della?’


“Non ….”


“Bukan, Non.”


“Terus?”


Mata Bi Mamas memandangiku dari ujung kaki hingga kepala. Kemudian perlahan dia menjawab, “Gak salah Non Alya berpakean kayak ‘gini nyari-nyari Pak Bram?”


Sejenak aku melihat-lihat diri sendiri.


“Memangnya kenapa?”


Bi Mamas tidak langsung menjawab, tapi dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Kemudian berkata dengan nada seperti tengah berhati-hati, “Gak kenapa-kenapa, sih. Tapi ….”


“Tapi apa, Bi?” Mendadak aku mencium aroma ketidaknyamanan percakapan di jelang bagian terakhir ini.


“Duh, saya kagok ngomongnya, Non,” ucap bi Mamas tanpa mau menatapku sedikitpun kali ini. “Takutnya Non Alya kesinggung.”


Duh, mau bicara apa ya Bi Mamas? Apa jangan-jangan dia sudah bisa menebak rencanaku semula?

__ADS_1


“Kesinggung apa, Bi? Ngomong saja. Toh, kita ini sudah seperti keluarga sendiri, kok,” kataku menegaskan.


“Tapi Non Alya jangan marah, ya?” pinta Bi Mamas memelas.


“Endaaakkk!”


“Janji?”


“Iyaaa!”


Bi Mamas melirik sejenak untuk melihat-lihat raut mukaku. “Serius, nih?” tanyanya seperti ingin memastikan terlebih dahulu.


“Iya. Saya janji, Bi. Ayo, mau ngomong apa?”


Dengan suara sedikit bergetar, wanita itu berbicara perlahan-lahan di antara deru mesin cuci yang berputar-putar. Tuturnya, “Mohon maaf nih ya, Non. Walopun … Non Alya udah dianggap seperti keluarga sendiri sama Pak Bram dan Non Della, tapi ….”


“Tapi apa, Bi? Ngomong saja. Ndak usah ragu. Saya ndak bakal marah, kok,” tukasku agak sedikit kesal menungguinys bicara dari tadi.


“Maksud saya … apalagi cuman ada Pak Bram di rumah ini, tapi … sebaiknya … Non Alya jangan pake pakean kayak begitu, Non. Duh, maafin saya ya kalo lancang, Non. Ampuunnn deh, Non! Beneran saya minta maaf.”


“Maksudnya tampil seksi seperti ini?” Aku memutar-mutar badan di depan Bi Mamas.


“I-Iya, Non. Maaf, ya.”


“Memangnya kenapa, Bi?” Aku berpura-pura belum memahami ucapan Bi Mamas. Siapa tahu kejujuran yang diharap-harapkan sejak lalu itu, bisa kudapatkan dari sosok ini.


Mudah-mudahan ….


“Duh, maafin saya ya, Non,” Bi Mamas kembali memohon maaf berulang-ulang kali. “Walo bagaimanapun juga, antara Non Alya sama Pak Bram itu ‘kan … gak ada hubungan darah. Jadi … menurut saya … apa gak sebaiknya Non Alya enggak berpakean kayak begitu di depan Pak Bram?”


Aku berpikir sejenak. Dulu Della juga pernah melarangku mengenakan pakaian terbuka atau ketat saat Om Bram berada di rumah. Entahlah alasannya apa. Sekarang Bi Mamas pun mengutarakan hal yang sama. Sebenarnya ada persepsi apakah di antara kedua orang tersebut?


Aku juga memang tidak berniat seperti ini, kok. Tadinya hanya bermaksud ….


“Seenggaknya … jangan sampe kejadian dulu itu terulang lagi, Non. Saya kasihan aja sama Non Della,” ungkap Bi Mamas akhirnya dan sontak membuatku langsung tersentak kaget.


“Kejadian dulu? Kejadian apa? Terjadi sama siapa, Bi?” cecarku tiba-tiba seperti merasa dehidrasi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar keluarga ini.


Secepat kilat Bi Mamas menggenggam jemariku dan dengan wajah memelas dia kembali berkata, “Berjanjilah sama saya, Non Alya. Berjanjilah kalo Non Alya gak bakalan ngebocorin rahasian ini sama siapapun! Apalagi kalo sampe keluarga Pak Bram tahu, sayalah yang telah memberitahu Non Alya.”


Aku semakin penasaran. Ini jelas bukan sedang syuting konten prank-prank-an seperti yang ada di berbagai media sosial maupun tayangan televisi. Tampak sekali Bi Mamas ingin mengungkap sesuatu yang telah lama dia pendam dan terkhusus untuk mewanti-wanti diriku sendiri.


“Baiklah, saya berjanji, Bi! Atas nama Tuhan, saya ndak akan membocorkan apapun yang bakal Bibi ceritakan pada saya! Saya jamin, nama Bibi ndak akan saya bawa-bawa kalo terjadi sesuatu nanti!” kataku akhirnya demi mendapatkan apa yang selama ini sangat ingin kuketahui.

__ADS_1


“Begini, Non … Pak Bram itu sebenarnya ….”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2