BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 56


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 56...


...------- o0o -------...


Aku duduk menyamping. Tak ingin berhadapan dengannya. Apalagi beradu mata. Namun tiba-tiba, rambut ini terasa seperti dipermainkan. Dibelai lembut dari belakang.


"Aku tahu, kamu masih marah, 'kan?" Suara Om Bram kembali menggema. "Tapi jangan seperti anak kecil, dong, Sayang. Bicaralah .... "


Anak kecil? Dia yang berkelakuan bocah! Disaat-saat seperti sekarang ini, masih saja berpura-pura. Namun jujurnya, dekapan dan belaian tadi ... aku suka. Seakan-akan tengah merasakan buaian sake yang melumpuhkan ingatan. Lagi, dong, Om!


"Alya .... "


"Huh!" Kupertahankan cemberutku.


"Bicaralah, Sayang. Jangan kamu siksa aku dengan diammu."


'Kaupikir selama ini aku ndak tersiksa, Bram? Aku menderita, tahu!' jeritku. Ingin kejer rasanya. Tapi lagi-lagi dia membelaiku dari belakang. Duh, jadi tak fokus mau bertahan mengambek.


"Tahu gak kamu, Sayang? Sebenarnya ... aku ingin sekali berada dalam momen seperti ini bersamamu? Kaupikir aku gak berharap? Apalagi dengan gadis secantikmu," ujar Bram mengusap-usap bahuku sedemikian lembut. Hingga tak sadar, aku pun terpejam. "Karena aku juga ... mencintaimu, Alya!"


"Bohong!" jeritku tiba-tiba sambil membalikkan badan. "Kamu laki-laki pembohong terbesar yang pernah kutemui, Bram!"


Om Bram terkejut. Dia menatapku tajam. Tanyanya, "Alya, apa maksudmu?"


"Masih mau meneruskan dramamu, Bram? Aktingmu payah!" kataku sambil mengacungkan jempol terbalik.


"Maksudmu apa, Sayang? Drama apa?"


"Kaupikir aku ndak tahu kelakuanmu selama ini? Jujur saja, Bram! Kalau kamu ndak pernah mencintaiku, jangan beri aku harapan! Sudahi saja permainanmu itu. Aku benci sama kamu, Bram!" seruku sudah tak kuasa menahan emosi. Kupukul dadanya berulang, tapi lelaki itu diam. Membiarkanku meluapkan amarah hingga puas. "Aku benci kamu, Braaammm .... "


Tangisku seketika meledak. Menjatuhkan pelukku pada dekapnya yang hangat. "Aku benci kamu, Bram. Aku benci .... "


Bram mengusap-usap punggungku.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang, Sayang," katanya seraya merekatkan peluknya. "Atau kalau mau ... pukul lagi aku. Tampar! Cakar! Gigit!"


"Endak, Bram! Aku ndak mau. Aku hanya benci sama kamuuu ... Huuu huuu."


"Ya, sudah. Tenangkan dulu dirimu, ya."

__ADS_1


Benar. Aku memang butuh ketenangan. Di dalam pelukannyalah, aku merasakan kedamaian.


Setelah tangisku reda, Om Bram pun bertanya, "Ada apa sebenarnya? Katakan."


Sesekali terisak, kupaksa untuk menjawab, "Kamulah yang seharus bicara jujur, Bram. Kamu ndak pernah mencintaiku, 'kan?"


"Siapa bilang? Aku sangat mencintaimu, Sayang. Sungguh. Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" Bram mengangkat wajahku. Memandang dengan penuh kasih.


Aku menggeleng. "Endak, Bram. Kamu memang sedang berpura-pura mencintaiku, demi sebuah alasan, 'kan?"


"Alasan apa, Sayang? Siapa bilang aku berpura-pura?"


Kupalingkan wajah, memandang sosok Della di atas ranjang pasien. "Anakmu, Bram. Della. Itu, 'kan, alasanmu berharap kuselalu ada dalam keluargamu?"


"Ya, Tuhan ... Alya. Entah pikiran apa yang sedang merasukimu. Aku mencintaimu tanpa sebuah alasan, Sayang. Cinta itu bukan sebuah kompromi. Tawar-menawar layaknya berniaga. Rasa ini asli terlahir begitu saja, saat mulai mengenalmu, Sayang .... " Bram berusaha meyakinkanku.


Aku tersenyum kecut. Menatap mata kecoklatan itu dan ingin memastikan, masih tersisakah kejujuran itu di sana?


"Terlalu naif kamu bicara tentang cinta padaku, Bram. Sementara di luar sana, ada sesosok perempuan yang sudah siap menjadi pendampingmu. Masih mau bermanis-manis kata di depanku? Hhmmm, aku bukan perempuan bodoh, Bram," kataku merasa di atas angin sekarang.


"Cassandra maksudmu?"


"Siapa lagi?"


"Pernikahan kami dibatalkan."


BRUK!


Ada suara sesuatu mengenai daun pintu ruangan.


"Bi Mamas?" panggil Om Bram.


Tak ada sahutan. Kecuali layar pendeteksi jantung Della yang terus menjerit.


...------- o0o -------...


"Pernikahanmu gagal, Bram?" Kupandang laki-laki perlente itu dengan saksama. "Maksudku, ndak jadi nikah dengan Tante Cassandra?"


Bram terdiam. Matanya lekat menatap sosok Della yang terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen. "Aku memikirkan anakku, Lya," jawabnya, "kaupikir, orang tua mana yang tega melihat anaknya terbujur sakit seperti itu? Haruskah aku terus melangsungkan pernikahan di saat kondisi Della sakit?"


Aku mengangguk-angguk. Ada benarnya juga. Sekaligus memberi kesempatan untuk terus mendekati laki-laki itu. "Sampai kapan?" tanyaku kembali. Berharap Bi Mamas tak datang dulu hingga percakapan ini usai.


Terdengar dengkus Om Bram. Gusar? Mungkin. Namun bagiku, justru ini berita membahagiakan. "Entahlah. Aku sendiri belum bisa berpikir ke arah itu," jawab Om Bram pasrah.


'Memang lebih baik begitu, Om. Fokus saja sama aku. Buat apa menguras energi untuk janda beranak satu itu. Di depanmu ada yang lebih penting, lho,' kataku dalam hati. ' ... perawan ting-ting dan menarik.'

__ADS_1


Tadinya sempat berpikir untuk mundur dari kancah persaingan ini. Lebih memilih dekat dengan Della, atau pergi menjauh dari kehidupan mereka. Namun pintu kesempatan kembali terbuka lebar. Siapa tahu takdir berkata lain, 'kan?


"Belum berpikir atau memang ada rencana lain, Bram?"


"Maksud Alya?" Laki-laki itu menoleh.


Aku tersenyum kecut. 'Segitu aja masa ndak ngerti sih, Bram? Laki-laki dewasa macam apa kamu ini? Peka dikit, kenapa? Ada cewek lagi berharap nih, Bram!'


"Pikir sendiri sajalah," kataku seraya membelakanginya. Sekali lagi, berharap ada jemari kekar membelai rambut ini. Lalu perlahan menarik pundak, lanjut ....


Terdengar napas perlahan. Kutunggu sambil memejamkan mata. Bersiap-siap untuk merajuk manja begitu serangan laki-laki itu mulai menyentuh.


"Kkkrrrr!"


Apa itu? Zombikah?


Segera kubalik badan. Tampak Bram duduk menyandar dengan mata terpejam dan mulut menganga.


"Dih!"


Dia malah tertidur. Namun jadi ada kesempatan banyak untuk memandanginya dengan bebas. Mumpung ada di depan mata.


Seraya senyum-senyum sendiri, kutatap wajahnya. 'Mungkin dia kelelahan,' gumam dalam hati. 'Hhmmm, kasihan sekali kamu, Bram. Lelaki mapan rupawan tanpa pasangan. Bertahun-tahun hidup dalam kesendirian. Kini hadir seorang perawan, malah kaukebingungan. Cuciaannn …. !!!'


Tiba-tiba, aku juga jadi mengantuk. Rasanya jika berbantalkan dada Om Bram, akan semakin lelap. Apalagi di ruangan ini tak ada kursi lain. Namun ... ah, tidak. Tak boleh semurah itu. Harus tetap mengedepankan harga diri sebagai sosok perempuan muda dan mandiri. Cinta tak harus memperdaya serta merawak rambang.


Ya, tak harus dan tak boleh. Seiring dengan perlahan tubuh ini condong, hendak tumbang ke dalam dekapan Om Bram. Kemudian ....


TOK!


Pintu terkuak tiba-tiba. Disertai munculnya seraut wajah bulat milik Bi Mamas. "Eh, maaf!" seru wanita setengah tua itu beringsut hendak ke luar lagi.


"Bi!" panggilku sembari bangkit mengejar. 


"Maaf, Non. Saya pikir Non Alya dan Pak Bram .... " Wajah Bi Mamas memerah dan kikuk, begitu menjawab di luar ruangan.


"Kenapa dengan kami, Bi?" tanyaku mulai kepo. Bi Mamas menunduk, lalu menggeleng. "Kenapa sih, Bi?"


"Non Alya dan Pak Bram lagi ... ngobrol, 'kan?" Bi Mamas ketar-ketir.


"Iya. Lalu?"


"Gak apa-apa, Non."


"Kalau ndak ada apa-apa, kenapa Bi Mamas tadi keluar lagi?"

__ADS_1


Dia tak menjawab. Hanya menunduk dengan bibir bergerak-gerak. Kuperhatikan dengan saksama, lalu bertanya, "Bi Mamas baca mantra?"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2