BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 74


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 74...


...------- o0o -------...


"Yaaa ... bagiku sama-sama penting sih, Lya," jawab Andre seraya celingukan ke arah belakang ruangan. Mungkin menunggu seduhan kopi yang sedang dibuat oleh Mbak Darmi tadi. "Soalnya, kamu pergi kok gak bilang-bilang."


Bibirku menyon-menyon memberikan reaksi atas ucapan Andre tersebut.


"Namanya juga kabur. Mana ada pake izin sama permisi dulu," kataku jutek. Lantas menoleh padanya dengan cepat. "Heh, kamu jangan sembarangan ngaku-ngaku, ya?"


"Ngaku-ngaku apa?" tanya Andre bingung sendiri.


Balasku kembali sengit dengan suara agak dipelankan, "Tadi apaan? Kamu ngaku-ngaku pacaran sama aku. Sembarangan aja jadi orang!"


"Ya, faktanya kita emang pernah deket 'kan, Lya?" ujar Andre terdengar tidak mau kalah.


"Iya, deket. Tapi ndak pake banget dan itu sama sekali ndak aku anggap sebagai pacaran. Kamu harus ingat itu, Ndre!" kataku menegaskan.


Laki-laki muda dan ganteng itu malah cengengesan seperti orang yang merasa tidak mempunyai salah apa pun.


"Terserah sih, kalo kamu ngaggepnya begitu, tapi bagiku asumsinya 'kan jadi laen, Lya. He-he-he."


"Ndak usah kepedean, apalagi kecakepan!" ujarku sewot. "Kamu pikir hanya dengan modal cakep doang, aku bakalan suka sama kamu? Ndak banget, Ndre!"


"Iyalah," balas Andre sengit. "Lagian selera kamu itu 'kan duda beranak gede, kayak Om Bram. Hi-hi-hi."


Aku mendelik panas. Ucapan Andre kali ini benar-benar memantik bara api yang sudah lama mengepul di dalam hati.


"Om? Om Bram? Kamu menyebutnya Om Bram?" tanyaku mencecarnya.


"Iya, Om Bram. Emang siapa lagi? Harusnya aku manggil apa, dong?" timpal Andre semakin menyebalkan.


Ini benar-benar sudah kurang ajar. Laki-laki itu masih juga betah dengan sandiwaranya. Dikiranya aku masih polos dan tidak tahu menahu tentang rahasia serta silsilah keluarga dia dengan Om Bramanditya. Keterlaluan!

__ADS_1


"Heh, kamu pikir selama ini ndak tahu apa, tentang kamu dan Om Bram?" kataku mulai menantang.


Kali ini reaksi Andre agak sedikit berubah. Dia melongo. Menatapku lekat sepersekian detik. Lantas bertanya, "Lah, emangnya aku punya hubungan apa dengan Om Bram? Aku dan dia bukan homreng loh, Lya. Kami sama-sama cowok straight."


"Bukan itu maksudku!" sentakku sebal.


"Lalu?" Dia masih betah dengan kepura-puraannya. Huh, sialan!


"Kamu ini ndak tahu atau emang pura-pura ndak tahu sih, Ndre?" Aku semakin merasa kesal dibuatnya. "Aku tahu, kalo kamu dan Om Bram itu sebenarnya---"


Tiba-tiba Mbak Darmi datang dari arah dapur sambil membawakan segelas kopi hitam di atas nampan. "Eehhh ... maaf ya, kopinya kelamaan. Tadi saya masak airnya dulu. Hi-hi-hi."


Ah, sialan! Lagi-lagi kehadiran Mbak Darmi ini mengganggu. Sekali-sekali beri aku ruang bebas kek, untuk berungkap hal sepenting sekarang ini.


"Eh, iya ... gak apa-apa, Mbak," balas Andre terlihat girang sekali dilayani oleh Mbak Darmi. "Pasti kopi bikinan Mbak ini enak. Soalnya yang buatnya aja cantik banget," imbuh laki-laki bule tersebut mulai angot penyakit menggombalnya.


'Preettt!' cibirku di dalam hati.


Sebentar lagi, wajah Mbak Darmi pasti akan berubah seperti bunglon.


"Ah, Mas ini iso wae," ujar Mbak Darmi terlihat tersipu malu dan ... benar adanya, rona memerah di pipi itu mulai menjalar mematangkan sekujur kulit pipi.


Duh, Mbak Darmi! Genit amat, sih.


"Teman sekampus Alya?" tanya Mbak Darmi seraya ikut duduk bersama kami. "Kok, Alya ndak pernah cerita ya, karo saya, Mas."


Ah, lagipula buat apa cerita-cerita yang tidak jelas. Aku dan Andre 'kan, bukan siapa-siapa, terkecuali teman belaka.


Jawab Andre membalas pertanyaan Mbak Darmi yang bernada basa-basi tadi, "Iya, Mbak. Temen kampus, sekaligus ... temen spesial juga. He-he."


Spesial? Huh, dikiranya aku ini varian martabak? Sialan!


"Oohhh ... begindang?" timpal Mbak Darmi seraya tersenyum-senyum sendiri dan melirik padaku penuh arti. "Cakep juga ya, temen kamu ini, Alya. Mirip bintang sinetron itu loh, uummhhh ... Ganteng-ganteng Semangka!"


"He-he-he, Mbak ini bisa saja," ujar Andre disusul gelaknya dengan nikmat. "Kopinya saya minum ya, Mbak."


"O, iya ... silakan," balas Mbak Darmi semakin bertambah genitnya. Ya, Tuhan!


Kuharap, setelah selesai minum kopi, sosok laki-laki itu bakalan langsung pergi atau setidaknya Mbak Darmi turut angkat kaki di antara kami. Namun menunggu hingga menjelang tanda-tanda Andre akan pulang, keadaan tersebut masih saja berlanjut. Apa? Ya, itu tadi. Keduanya masih betah saling melempar canda-tawa. Menyebalkan!

__ADS_1


"Hari ini kamu kuliah 'kan, Lya?" tanya Andre di pengujung obrolan. "Bareng aku, ya? Soalnya kamu 'kan biasa sama Della yang---"


"I-iya, Ndre. I-iya. Kita bareng saja!" tukasku buru-buru memotong ucapan Andre, agar jangan sampai dia mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Mbak Darmi curiga.


"Nah, begitu dong," timpal Mbak Darmi ikut bersuara. "Kalian itu harus rukun selalu. Akur sama temen sendiri. Kalo berdua terus, syukur-syukur bisa lanjutin sendiri sampai ke jenjang yang lebih serius. Hi-hi."


"Dih, Mbak ini," kataku sebal. "Apaan, sih?"


Andre tersenyum-senyum sendiri. Pasti ge-er dia. Dih, pagi hari yang cukup memuakkan menghadapi dua orang ini.


"Ya, udah. Kalo 'gitu, aku balik dulu ya, Lya," kata Andre kembali seraya bersiap-siap, bangkit dari duduk setelah menghabiskan seduhan kopi buatan Mbak Darmi tadi. "Nanti, aku balik lagi ke sini buat ngejemput kamu."


"Iya. Cepetan sana balik, gih. Entar, gue kesiangan lu!" balasku jutek.


"Hus, wedok kok bicaranya begitu sih, Lya? Sing sopan, ayu, dan lemah lembut. Apalagi kita ini wong jowo, loh," kata Mbak Darmi mengingatkan.


"Tuh, denger apa kata Mbak-mu ini, Lya," timpal Andre memanas-manasi suasana. "Kalo bicara yang sopan sama aku."


"Aahhh, udah ... udah! Sana cepetan pergi, gih! Banyak omong amat sih, jadi laki!" kataku seraya menarik lengan Andre dan menyeretnya keluar.


Sebentar kemudian, sosok lelaki itu sudah menghilang bersama motor gedenya dari pekarangan kontrakan.


"Mbak ...." panggilku ketika Andre sudah pergi dan Mbak Darmi masih berdiri melongo ke arah luar. "Mbak? Masuk, Mbak!"


"Eh, i-iya, Lya!" sahut Mbak Darmi terkejut.


"Mbak lihat apa, sih?" tanyaku penasaran.


Perempuan itu malah tersenyum-senyum sendiri. Dia menggaet lengan ini memasuki ruangan, lantas disusul berkata perlahan, "Sepertinya ... anak muda tadi menyukai kamu, Lya."


"Ih, apaan sih Mbak ini? Pagi-pagi kok udah bicara ngaco!" kataku ketus.


"Yaaa ... menurut pengalaman Mbak yang sudah lama menjanda ini, antara laki-laki yang suka atau ndak sama kita, itu bisa dibedakan sikapnya, Ndok," ujar Mbak Darmi sok tahu. "Pertama, dia sering natap muka kita. Kedua, bicarane lemah lembut. Ketiga ...."


"Wis ah, Mbak. Lya mau siap-siap mandi dulu," kataku tidak ingin mendengarkan kelanjutan ucapan beliau.


"Anak zaman sekarang ...." kata Mbak Darmi mulai menggerutu di belakangku. "Dikasih tahu kok, malah ngeyel."


Hhmmm, belum tahu saja dia. Bagaimana sosok laki-laki yang sebenarnya kuidam-idamkan selama ini. Om Bram. Pasti Mbak Darmi pun akan ikut tergila-gila.

__ADS_1


Namun ... ah, tidak. Aku sedang tidak ingin mengingat-ingat tentang Om Bram. Aku masih kecewa! Tidak hanya pada dia seorang.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2