
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 25...
...------- o0o -------...
“Aku bilang juga masih kenyang, Del. Nanti saja makan di rumah, deh,” jawabku setengah malas menjawab. Della dan Bram melongo.
“Beneran, ya. Elu kayaknya butuh istirahat panjang, deh.” Della menggeleng-geleng.
“Memangnya kenapa?” Aku bersiap-siap mengambil tas di atas kursi.
“Sudahlah. Lupakan. Kita pulang sekarang!”
Della memeluk Bram. Mencium pipi kanan-kiri berpamitan. “Kita pulang dulu, ya, Om,” akupun ikut pamit.
“Eh, gak kasih peluk dulu buat Papah, Alya?” Bram mengembangkan kedua lengan. Aku ragu. Menolak ataukah menerima tawaran tersebut.
Menolak, berarti akan kehilangan kesempatan untuk merasakan dekapan yang sangat dirindukan tersebut. Namun jika menerima, khawatir akan lepas kontrol seperti awal tadi bertemu di ruangan ini. Akhirnya ....
“Jangan sungkan untuk menganggapku sebagai papahmu sendiri, Alya,” kata Bram begitu kami berpelukan erat. “Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang.”
‘Apa?’ Ingin sekali kutampar muka berbrewok tipis itu. Sebenarnya mau dia apa, sih? Cinta sejenis apa yang dimiliki untukku, Bram? Tapi enggan ditanyakan. Karena kehangatan itu jauh lebih menyejukkan ketimbang harus melepas diri secepatnya.
“Ehem!” deham Della mengejutkan. Serempak kami melepas diri. Tersipu dalam bentuk pura-pura batuk kecil.
“Kami pulang dulu, Om ... aeh, Pah,” kembali aku pamit pergi. Laki-laki itu mengangguk.
__ADS_1
“Sudah, Pah!” sahut Della seraya menggandeng tanganku keluar dari ruangan.
“Sudah, Sayang!” balas Bram.
Kutatap Bram sebelum benar-benar hilang di balik daun pintu. Laki-laki itu masih berdiri di tempatnya. Tersenyum manis sambil melambaikan tangan.
Ah, Om Bram. Dia belum begitu tua jika dilihat dari usia sebenarnya. Badan tinggi dan terawat, rasanya masih cocok bersanding denganku. Hanya saja postur tubuh yang tak sebanding. Tapi dalam kondisi lain, kami pasti berimbang. Eh, pikiran macam apa pula itu?
Terus terang, saat ini pikiranku masih belum bisa diajak sebagaimana mestinya. Disebut normal, justru semakin gila. Mengapa tidak? Perjalanan kepura-puraan ini akan terus berjalan tanpa tahu kapan akan berakhir.
Untuk sementara, mungkin saja bisa bertahan. Menerima keputusan Bram menganggapku sebagai anak. Entah, lain waktu. Mungkinkah vonis ini masih bisa berubah. Kuncinya tentu saja ada pada Della. Selama ada gadis itu, hubunganku dengan Bram akan tetap demikian. Bapak-anak? Menyebalkan!
Di sisi lain, aku harus tetap menghormati keluarga ini. Mereka sudah banyak menanamkan jasa. Kebaikan yang tak mungkin dibalas sekejap mata. Apalagi Della. Dari dialah, aku menemukan cinta sejatiku.
Andre, sosok lain yang tepat kujadikan sebagai pelarian. Melabuhkan cinta semu ini untuk sementara waktu, sampai tiba saat-saat di mana harus jujur mengungkapkan rasa. Ah, tapi apakah ini juga tak akan turut menyakiti Della. Di balik keganjilan dia menghadapi si cowok setengah bule itu, ada rahasia tersendiri yang masih mengandung misteri. Ragu kalau Della benar-benar tak menyukai Andre. Lalu maksud dia menghindar dari Andre selama ini apa? Perlu ditelusuri lebih jauh.
Laki-laki itu masih kerap mengajakku. Makan malam, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong di cafe menikmati wifi gratisan.
[Ya, sudah, kalo begitu, aku datang aja ke situ, gimana?]
[Jangan, dong. Lagian mau apa, sih? Udah, kamu di rumah saja. Diam. Kalo maksa keluar, nanti kamu kena Corona, lho!]
Lama percakapan tak dia balas. Begitu menjawab, malah hanya berupa emoticon tertawa. Laki-laki aneh! Padahal aku sudah berusaha mengingatkannya.
Percakapan kami terhenti, karena di depan rumah kudengar suara deru mesin kendaraan memasuki garasi. Itu pasti Om Bram. Dia baru pulang. Kulihat jam di dinding, sudah hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Della pasti sudah tertidur lelap. Tak mungkin bangun memburu pintu depan.
Terpaksa aku sendiri yang turun. Mengendap-endap dalam temaram cahaya ruang tengah. Lalu ...
KLIK!
“Alya? Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Bram begitu mendapatiku membukakan pintu. Aku tersenyum tawar. “Belum, Om. Kebetulan saja denger suara mobil Om, jadi langsung ke sini,” jawabku mulai merasakan detak jantung tak beraturan.
__ADS_1
“Padahal gak usah nungguin saya, Lya. Toh, saya juga bawa kunci sendiri, kok.” Bram menutup pintu rapat-rapat. Aku sendiri bermaksud kembali ke kamar, namun tertahan cekalan tangan kekar milik laki-laki itu. “Sebentar, Lya.”
“Ada apa, Om?” Aku berhenti tanpa berani membalik badan. Berhadapan dengan Bram berjarak beberapa sentimeter saja. Uh, tidak!
“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu,” ujar Bram. Napas laki-lakinya hangat menerpa leherku. Ada aroma bau alkohol yang terendus. “Della sudah tidur, kan?”
“Sudah, Om.” Aku tak berani membuka mata. Helaan napas serta suaranya semakin mendekat. Yakin sekali, kami nyaris menempel satu dengan lainnya. “M-m-e-m-ang ... k-e-n-apa, O-o-m?”
Dia tak segera menjawab. Namun jemarinya mendarat lembut di pundak. Kemudian menarik putar. Aku terpaksa menurut. Membalik posisi badan dan kini berhadapan langsung dengan tubuh laki-laki tersebut.
“Om Bram mabuk?” tanyaku memberanikan diri begitu aroma alkohol makin jelas menyertai setiap dengkusan napasnya. Laki-laki itu menggeleng. “Tidak. Tadi hanya sedikit ikut minum untuk menghargai klien. Saya tak pernah mabuk, kok,” jawab Bram sambil memegang kedua bahuku.
“Syukurlah,” gumamku perlahan. “A-pa ya-ng ma-u Om bic-ara-kan?”
Bram tersenyum. Dia menarik daguku hingga naik dan beradu pandang denganku. “Mengenai tadi siang itu, Alya. Jujur saja, saya tak bermaksud benar-benar seperti tadi. Aku berharap ucapan kamu itu tidaklah seperti yang kamu maksud itu, Lya.”
“Maksud Om ucapanku yang mana, ya, Om?” Aku benar-benar tak tahan diperlakukan seperti ini. Mata laki-laki itu semakin tajam menghujam. Entah sampai kapan akan berlangsung.
“Kamu benar-benar mencintai saya, kan, Alya?”
Ya, Tuhan! Tak kusangka dia akan mempertanyakan hal itu. Sekarang jawaban manalagi yang harus terucap. Tak cukupkah aku bersandiwara seharian tadi?
Aku bingung menjawabnya. Tapi kembali berpikir, sepertinya ini salah satu saat yang tepat untuk mengungkapkan kejujuran.
Tanpa pikir panjang segera kuhambur tubuhnya dengan erat. Kupeluk sedemikian rupa sambil berucap, “Ya, aku memang mencintaimu, Om. Bukan sebagai anak terhadap orangtuanya. Tapi ... aku cinta sama Om karena aku berharap ingin mengabdikan hidupku ini padamu, Om.”
Tangisku meledak di dalam dekapannya. Jemari Bram mengusap-usap punggungku. “Sudah kuduga, Lya. Aku sudah memperkirakannya sejak lama.”
“Maksud Om apa?” Aku mendongakkan kepala sambil tetap mempertahankan pelukan. Laki-laki itu tersenyum. Dia tak menjawab, namun perlahan membungkukkan wajah serta mendekat.
“Om .... “ Tiba-tiba aku ingin mengangkat tubuh ini dengan menaikkan pijakan kaki. Lalu ....
__ADS_1
...BERSAMBUNG...