BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 64


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 64...


...—---- o0o —---...


"Gila! Ini benar-benar gila!"


Aku membanting diri ke atas kasur. Rasanya ingin menangis, meraung-raung sendiri sampai kejer dan bila perlu sampai tidak sadarkan diri. Itu lebih baik agar untuk sementara waktu bisa melupakan sejenak kehidupan ini dari sosok Om Bram yang kuimpi-impikan itu.


Sialan!


Bukannya tersadar usai mendengarkan penuturan dari Bi Mamas tadi, malah aku berharap bisa menjadi sosok terakhir yang mampu melengkapi kekurangan dan kekhilafan masa lalu seorang Bramanditya. Apakah ini karena aku terlalu mencintainya? Tergila-gila padanya? Ataukah cinta itu memang benar-benar buta?


Aku bingung sekarang. Maju, bertahan, atau mundur dari gapaian cita-cita yang teramat besar ini. Semuanya mengandung risiko serta konsekuensi tersendiri. Terutama masa depanku.


Benar-benar tidak menyangka, seorang Bram yang kuanggap lelaki sempurna itu, ternyata dia dulu pernah memiliki kisah kelam. Namun, pengharapan itu senantiasa ada, bukan? Itu cuma sebatas masa silam. Jika hendak mencintai seseorang, nikmati pula sejarah hidup yang lalu untuk pembelajaran. Ah, teori memang selalu mencari-cari pembenaran. Intinya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan berbagai cara. Begitu?


"Sekali lagi saya mohon, jangan beritahukan masalah ini sama siapapun ya, Non," pinta Bi Mamas sepenuh hati. "Apalagi sampe keluarga Pak Bram tahu, Non Alya tahu semuanya dari saya."


Ya, aku berterima kasih sekali atas kejujuran yang diungkapkan oleh sosok asisten rumah tangga tersebut. Kali ini aku percaya. Mungkin. Tidak sebagaimana yang pernah dia bilang dulu ….


"Bukannya Bibi pernah ngomong, kalo Bibi kerja di keluarga ini dari setengah umurnya Della?" tanyaku menyelidik. "Bibi juga bilang, ada pembantu lain sebelum Tante Widya meninggal dulu. Ini mana yang bener sih, Bi?"


Raut wajah Bi Mamas seperti menyesali diri. Dengan suara lirih dia menjawab, "Maafin saya, Non. Waktu itu saya emang sengaja ngebohong supaya Non Alya gak lagi bertanya-tanya tentang keluarga Pak Bram."


"Jadi itu alasannya?"


"Iya, Non. Maafin saya."


Aku cuma bisa mengangguk dan mendesah kesal. Jadi benar adanya, semua orang-orang yang selama ini kukenal dekat, mereka telah kompak bersekongkol untuk membohongiku.


Dari penuturan Bi Mamas pula, aku semakin sadar diri bahwa tidak selamanya yang kusembunyikan, akan senantiasa tersimpan rapi.


"Saya juga sering menduga-duga sama Non Alya," kata sosok wanita yang perawakannya mirip tokoh Ceu Èdoh di dalam sinetron Preman Pensiun itu, "kalo Non Alya suka sama Pak Bram."

__ADS_1


"Hah?!" Aku terkejut luar biasa.


"Maafin kalo saya salah, Non. Saya gak bermaksud apa-apa. Cuman kasihan aja ngelihat Non Alya selama ini," tutur Bi Mamas kembali disertai isak pelan. "Awalnya saya pikir, mungkin sikap Non Alya ini cuman perilaku biasa kayak manjanya seorang anak sama bapaknya. Itu juga karena saya pernah denger, Non Alya ini sudah dianggap sebagai anak angkatnya Pak Bram. Bener begitu ya, Non? Duh, maaf … kok, saya jadi ngelantur, ya?"


"Ndak apa-apa, Bi. Terusin aja," kataku memberi semangat dan menenangkannya. "Saya sudah janji tadi ndak bakalan marah, 'kan?"


"Beneran, Non?"


"Iya. Percaya deh sama saya," ungkapku menegaskan. "Saya malah lebih suka omongan Bibi yang sekarang ketimbang yang udah-udah."


"S-saya … s-saya …."


"Ayo, terusin, Bi. Jujur saja."


Usai menarik napas panjang, Bi Mamas lanjut berkata, "Yaaa … begitulah, Non. Tadinya saya mikirnya begitu. T-tapi … duh, maaf-maaf nih ya, Non."


"Iya, saya maafin seluas angkasa di atas sana. Terusin … terusin …."


"Saya sering merhatiin sikap Non Alya sama Pak Bram, gak kayak hubungan anak sama bapak," kata Bi Mamas seraya menunduk, tapi sesekali melirik untuk memastikan kalau aku tetap memasang muka manis. "Apalagi waktu … di rumah sakit kemaren-kemaren itu loh, Non."


"Yang mana ya, Bi?" Aku jadi ikut-ikutan mengingat.


"Ooohhh … itu? Terus?" Aku ingat kini dan semakin merasa penasaran dengan pandangan Bi Mamas terhadapku selama ini.


"Saya 'kan masuk ruang perawatan Non Della, terus ngelihat Non Alya sama Pak Bram di kursi itu," ungkap Bi Mamas kian menarik untuk diperhatikan. "Yaaa, sebagai wanita yang sudah pernah muda dan menikah, sedikitnya saya langsung paham dong apa yang lagi terjadi itu."


"Saya dan Om Bram ndak ngelakuin apa-apa, kok," kilahku membela diri.


"Iya sih, Non. Tapinya 'kan … tetep aja, bagi saya itu jadi lain artinya."


"Ooohhh, begitu menurut Bi Mamas? Hhmmm, yaaa … terserah, sih." Aku sudah tidak mengelak dari persepsi yang diungkapkan oleh BI Mamas. Lagipula, memang benar adanya. Hi-hi.


Rasa kejutku kian menjadi-jadi begitu Bi Mamas lanjut bertanya, "Non Alya suka sama Pak Bram?"


"A-apa?"


"Apa Non Alya mencintai Pak Bram?" Dia kembali menegaskan pertanyaannya.


Ah, bagaimana ini? Aku pikir Bi Mamas sudah mau jujur sejak tadi. Lantas, cukup beralasankah jika kini aku yang berbohong? Tidak. Dusta dilakukan hanya untuk menutupi kenyataan dan aku tidak ingin menyembunyikan rasa ini selama mungkin. Kalaupun seorang Bram masih belum meyakinkan menaruh perasaan yang sama padaku, setidaknya sosok wanita inilah yang harus tahu hal sebenarnya.

__ADS_1


"Biii …." Tiba-tiba saja aku memeluk Bi Mamas. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menjaga perasaanku sedihku sebagai seorang perempuan. "Saya jatuh cinta sama Om Bram, Biii. Hiks-hiks-hiks. Saya menaruh perasaan ini sejak saya mulai ketemu sama laki-laki itu."


"Ya, Allah … Non Alya," desah Bi Mamas sambil membelai rambutku dengan lembut. "Saya udah mengira ini bakal terjadi, Non."


"Saya ndak tahu, kenapa harus dia, laki-laki yang saya harapkan itu, Bi?" Aku memeluk Bi Mamas semakin erat. "Saya ndak bisa jatuh cinta selain sama Om Bram. Saya udah berusaha buat ngelupain dia, tapi ndak bisaaa … hhuuu … hhuuu."


"Ya, Allah … kasihan banget Non Alya," desis Bi Mamas terdengar lirih.


"Saya bingung harus bagaimana lagi buat ngelupain Om Bram. Saya ndak ingin Della tahu semua ini. Apalagi … hiks-hiks-hiks … Della punya penyakit yang bisa sewaktu-waktu kambuh. Saya ndak ingin nyakitin Della, Bi, tapi saya juga teramat mencintai Om Braaammm. Hhuuu … hhuuu … hhuuu."


"S-sabar, Non. Tenangkan diri dulu," ucap Bi Mamas mencoba menghiburku. "Sebentar … saya ambilin air dulu, ya?"


Begitu pelukan kami terlepas, dia bergegas mengambilkan aku segelas air dan langsung kureguk habis hingga tidak tersisa. Mudah-mudahan ini bisa menggantikan air mata yang sudah  bercucuran deras  barusan. Hhmmm, kok malah jadi seperti membahas hujan, ya?


Ah, aku tidak peduli. Ungkapan jujur ini mampu mengurangi bobot beban yang selama ini terkandung di dalam hati. Ya, sedikit. Tidak banyak. Sisanya mungkin hanya pada jawaban Om Bram seorang yang bisa melenyapkan semuanya. Kapan? Entahlah. Dia itu sosok PHP sejati. Pembual Harapan Palsu. Sikapnya seperti nafsu padaku, tapi tidak pernah tuntas mengeksekusi diri ini hingga ludes. Eh?


"Non Alya benar-benar mencintai Pak Bram, 'kan? Memang sih, hampir semua perempuan yang kenal Pak Bram … mungkin, akan merasakan hal yang sama. Secara tampilan, Pak Bram itu sempurna. Ganteng, tinggi, dan juga berbulu mirip ulat kebon." Mata Bi Mamas mendadak seperti berbinar-binar. Mungkin sedang membayangkan sosok yang dimaksud. Dih!


"Bi Mamas suka juga sama Om Bram?" Tiba-tiba saja, rasa cemburu ini menyelusup menggelitik jiwa. Harapanku sih, bukan hanya rindu, tapi yang lain juga boleh … eh?


"Maafin saya, Non," ujar Bi Mamas langsung sadar. "Walaupun sudah tua, tapi mengagumi laki-laki lain … adalah sebuah kewajaran."


"Wajar? Terus suami Bibi sendiri?" tanyaku merasa sebal dengan bayangan yang tengah dia pikirkan itu.


"Yaaa … saya juga menyukai suami saya, Non. Walaupun enggak berbulu banyak kayak Pak Bram, tapi suami saya pun punya bulu di tempat yang seharusnya tumbuh bulu."


"Iihhh," desisku seraya menyeringai sebal.


"Saya sadar, kalopun saya cantik, menarik, semok, atau apalah … saya gak bakalan mau bersuamikan Pak Bram," imbuh Bi Mamas menaikkan status penasaranku yang semula mulai menurun.


"Kenapa, Bi?"


Sosok itu menatapku tajam. Lantas berkata, "Saya gak ingin bernasib sama kayak almarhum Ibu Widya."


Wah, apa pula ini? Ada apa dengan Tante Widya semasa hidupnya? Apa yang telah dilakukan oleh Om Bram semasa dulu?


Gila! Ini harus segera kupecahkan kepala Bi Mamas ini agar semua rahasia tentang keluarga Om Bram bisa kulahap hingga habis.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2