
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 53...
...------- o0o -------...
Aku bagian dari keluarganya? Sebagai anak? Tapi dia sudah terang-terangan mengakui mencintaiku. Lalu, sebagai kekasih? Ah, perlakuan macam apa yang dia berikan selama ini. Kecuali panggilan 'sayang' dan ciuman itu. Aku benar-benar merasa seperti seorang kekasih yang tak pernah dianggap. Hubungan tanpa status. Apalagi dengan rencana pernikahannya, akan jadi apakah aku kelak bagi Om Bram? Kasihan sekali gue!
"Dokter Nicholas? Bukannya hanya dokter Syarif dan dokter Boyke?" tanyaku sambil mengingat-ingat nama-nama tersebut.
Om Bram mendadak gelagapan. "Yaaa ... maksudku ... d-dokter i-itu," katanya berusaha menghindari tatapanku. "Intinya ... siapa pun itu, aku punya banyak kenalan tenaga ahli medis yang hebat-hebat dan terkenal? B-begitu, Lya. Eh, hehehe."
"Nicholas mantannya Dian Sastro?" Aku mencoba menguji kejujuran laki-laki itu.
Om Bram mengerutkan kening. "Kamu kenal dia juga?"
"Siapa?"
"Dokter Nicholas."
"Endak."
"Kok, tahu kalo dia mantannya ... uummhh, siapa itu tadi? Dian ... Dian ... Sosro! Ya, itu dia. Dian Sosro!" ujar Om Bram menebak-nebak.
"Dian Sastro, Om."
"Ya, maksudku ... dia!" Om Bram meralat. "Kamu kenal dia?"
"Siapa?"
"Yang tadi kamu sebut, Lya. Nicholas."
"Kenal."
"K-kenal d-dimana?" Om Bram terkejut.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanpa menatap mata kecoklatan itu, kujawab santai, "Dia main film AC-DC bareng sama Dian Sastro."
Hening. Tak ada suara apa pun. Terkecuali dengkus napas Om Bram memecah kesunyian. Entah, bagaimana reaksi wajah lelaki itu. Yang pasti, sampai kami berpisah di rumah sakit pada pagi itu, sikap dia tampak menyebalkan. Apa salahku, coba? Tak biasanya berangkat kerja tanpa kecup sayang di kening ini. Benar-benar manusia aneh! Misterius! Namun sanggup membuatku masih tergila-gila.
"Hei!" sapa satu suara membuyarkan lamunan. Kutoleh, ternyata anak muda blasteran Eropa itu. Andre. Malas meladeninya. Hal apalagi yang akan dia lakukan, kalau bukan hendak memperdayaku dengan pencitraan cintanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sih, Lya?" tanyanya seraya mendekati tempat dudukku. "Dari awal datang tadi, kulihat kamu murung terus?"
Aku tak ingin menjawab. Sebal saja rasanya dengan dia. Sebelumnya pernah janji bakal membantuku mendapatkan Om Bram, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda melakukannya. Terbukti, Om Bram dan Tante Cassandra masih tetap akan melangsungkan pernikahan.
"Lya," panggil Andre kembali. "Ngomong, dong. Kamu kenapa?"
Aku meliriknya dingin. Serta merta mengambil secarik kertas kosong dan sebuah pulpen. Lalu menulis nama BRAM di sana. Andre membacanya.
"Kamu lagi mikirin Pak Bram? Ada masalah dengan dia?" tanya Andre kembali. Aku tetap diam. Tak ingin menjawab. Namun kembali menuliskan sebuah kata BUKAN. "Gak lagi mikirin Pak Bram? Lalu mikirin apa, dong?" Kutulis nama DELLA di kertas itu. "Della? Kamu lagi mikirin Della?"
Kutatap anak muda tersebut. "Terus aku harus memikirkan kamu?" Andre terkesiap. "Della sedang sakit, Ndre! Dirawat di rumah sakit."
Andre mengangguk pelan, kemudian berkata, "Sabar, ya, Lya. Semoga cepet sembuh. Della emang begitu."
"Maksudmu?"
Dia tercekat. Bingung harus bicara apa, mungkin. "Ini yang pertama buat kamu, Lya."
"Maksudnya bagaimana, sih?"
Andre menggaruk kepala. "Eemmhhh, maksudku ... bukan yang pertama kali Della membuat kita khawatir."
Aku semakin tertarik dengan ucapan anak muda ini. Penasaran. "Kita? Termasuk kamu juga, maksudmu?"
Andre mengangguk perlahan. "I-iyaa ... lah! Eh, begitulah."
"Eh, enggaklah, Lya. A-aku ... b-biasa sa-ja."
"Endak! Aku pikir kamu mengetahui banyak tentang keluarga Om Bram. Kamu sedang bersandiwara, 'kan?" desakku makin penasaran. Apalagi Andre terlihat gagap saat menjawab tadi.
"Beneran, aku gak tahu apa-apa, Lya. Hanya selintas saja kenal Pak Bram."
Aku menggeleng tak percaya. "Dan itu paling ndak kupercaya," kataku dengan nada tinggi. "Masih ingat dengan kata-kata Bi Mamas waktu kamu mengantar aku beberapa hari lalu?"
"Kata-kata yang mana?" Andre terlihat bingung.
"Kata yang mana." Aku menirukan ucapan anak muda itu barusan dengan bibir memble. "Ndak usah pura-pura lupa, deh!"
"Ooohh, tentang makanan itu?"
"Ooohh, tentang makanan itu." Kembali kulakukan hal yang sama. Bermaksud meledak Andre.
Dia menyeringai. "Kan, sudah kubilang, aku ikut nyicip makanan yang dibawa Della. Itu pun aku gak tahu kalo makanan itu hasil masakan Bi Mamas."
"Lalu dari mana Bi Mamas tahu masakannya sering diicip kamu? Terus Bi Mamas sampai kenal sama kamu?" desakku makin menjadi.
__ADS_1
"Ya, aku gak tahu. Mungkin saja Della pernah cerita sama Bi Mamas," kilah Andre semakin terpojok. Berulang kali anak muda itu menggaruk kepala. Hanya ada tiga makna terkait gerakan tersebut, yang bersangkutan dilanda bingung, kesal, atau sedang berbohong. Aku tahu sekali. Soalnya pernah membaca buku di perpustakaan perihal tanda-tanda orang tak jujur. Salah satunya seperti yang dilakukan anak bule itu. Eh, juga Om Bram, lho! Hhmmm.
"Hanya dari modal cerita, terus Bi Mamas kenal sama kamu sampai ke wujud aslinya begini? O, bullshit, Ndre! Kamu pembohong payah!" sentakku kesal. "Asal kamu tahu saja, ya, Ndre. Aku ini perempuan. Kamu tahu apa itu artinya?"
"Ya, aku tahu. Lawannya laki-laki, 'kan?"
"Bukan itu!" seruku meninggi.
"Dih, Lya. Jangan galak-galak, dong."
"Aslinya aku memang galak! Terus kamu mau apa?"
Bibir Andre bergetar dengan mata berkaca-kaca. "Y-yaa ... g-gak a-pa-apa. Ih, kamu ... L-lya."
Kutatap tajam mata anak muda itu. Wajahnya berubah pucat pasi. "Aku dari kaum perempuan yang terlahir dengan anugerah firasat yang kuat! Feeling, Ndre! Do you now?"
"I-iya, a-aku d-engar!" Andre mulai terisak.
"Kamu! Kalian dari kaum laki-laki diberi akal panjang, tapi sering digunakan untuk berbohong dan bersiasat. Kami tahu itu, karena kami berpikir dibantu dengan hati!" Aku menggebrak meja hingga Andre beringsut mundur. "Dari gelagatmu itu aku tahu, kalo kamu sedang berbohong, 'kan?"
"Mamaaaa!"
"Jawab!"
"Iya!"
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku perihal Om Bram, 'kan?"
"Lya, aku—"
"Jawab!"
"Iya! Iya! Iya!"
"Iya apa?" Kembali kugebrak meja.
"Astaga! Mamaaaa!"
"Jawab, Andre!"
"Iya, aku bohong, Lya! Tolong jangan bentak aku! Seumur-umur aku gak pernah digituin sama bokap-nyokap!" kata Andre lirih.
"Tapi jawab dulu pertanyaanku! Apa yang kamu sembunyikan?! Jawab!" Kupukul meja hingga tanganku memerah sakit. Itu tak peduli. Hanya ingin segera tahu dan mengorek informasi dari anak muda —cengeng— itu.
Baru tahu sekarang, ternyata karakter Andre tak segahar tampangnya. Pantas saja, selama ini terlihat agak manja. Anak Mama rupanya. Hhmmm! Namun ini justru jadi kesempatan untuk menguak rahasia keluarga Om Bram.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...