BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 32


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 32...


...------- o0o -------...


"Maafkan, Del. Aku khilaf," ujarku lirih. Ingin mendekat dan memeluk, tapi tak bisa. Kaki ini seperti beku menyatu dengan lantai. Sementara Andre memilih diam.


"Sudahlah. Gak ada yang mesti dipermasalahkan. Toh, Alya jalan sama orang yang kita kenal." Om Bram menatap tajam Andre. "Saya percaya, Alya bisa jaga diri. Bukan begitu, Lya?"


Serba salah aku harus menjawab. Tadinya berpikir, hanya mencari sedikit refreshing. Gara-gara laki-laki berbrewok tipis itu bersikap aneh.


"Ya, sudah. Alya ikut Om Bram dan Della saja," kataku akhirnya. "Kita gak jadi nonton, deh, Ndre."


"Eh, Lya. Kok, kamu gitu, sih? Kenapa?" protes Andre. Aku menggeleng bingung.


"Jangan, Lya. Lanjutin aja acara kamu sama Andre," timpal Om Bram, seraya mencolek lengan Della secara sembunyi-sembunyi, begitu anak gadisnya itu hendak bereaksi. "Kita gak apa-apa, kok, Lya. Bukannya begitu, Della Sayang?"


Yang diberi kode malah tambah cemberut.


"Endak, Om. Alya ikut pulang sama Om saja." Makin tak nyaman kulihat respons Della, kalau bertahan bersama Andre.


"Lya," seru anak muda di sampingku.


"Maaf, Ndre. Aku ndak bisa."


"Tapi .... "


"Aku mau pulang saja, Ndre. Maaf, ya."


"Enggak! Enggak!" Om Bram menengahi. "Alya dan Andre, lanjutkan acara kalian berdua. Silakan. Saya dan Della, pamit pulang."


"Pah .... " Della memandang papahnya. Seperti hendak protes, namun tiba-tiba terdiam setelah Om Bram mengedipkan mata.


Kode apa itu?


"Om Bram dan Della kenapa? Alya lihat—"


"Enggak!" buru-buru Om Bram memotong. "Kita gak apa-apa, kok. Hehehe. Iya, kan, Del?"


"I-iya, b-b-begitulah!" Della gagap.

__ADS_1


Ada apa, sih, di antara mereka? Seperti menyembunyikan sesuatu. Apalagi, sejak tadi berdempetan begitu. Seakan-akan tengah ....


"Silakan. Kalian mau nonton, 'kan?" Om Bram melirik ke area bioskop. Tak jauh dari tempat mereka berada. "Saya dan Della, pulang duluan."


"Om .... " panggilku. Agak terasa janggal. Namun belum paham apa yang ada dalam benak mereka. Om Bram dan Della.


"Jadi, kami berdua gak apa-apa, nih, jalan berdua, Pak?" Andre merasa sedikit lega. Om Bram mengangguk. "Silakan. Jalanlah."


"Pah," Della merengek. Om Bram menoleh sesaat. Laki-laki itu mengejap sebelah mata. Akhirnya anak perawannya itu pun hanya bisa cemberut.


"Hanya saja, pulangnya jangan terlalu malam. Saya harap, Alya sudah kembali ke rumah sebelum petang nanti. Kamu paham, kan, Anak Muda?" Tatap Om Bram pada Andre. "Tentu, Pak. Saya paham sekali," jawabnya antusias.


"Oke, Alya. Om dan Della, pulang dulu, ya?" Om Bram pamit. "Saya percaya, Alya bisa jaga diri, 'kan?" Mata kiri laki-laki itu mengedip, diiringi senyumnya. Misterius.


Oh, Tuhan! Kode apa itu? Ini nyata. Aku yakin itu bukan halusinasi.


"Del .... " panggilku ketika mereka berdua mulai beranjak pergi. Della menoleh sesaat, kemudian berjalan mengikuti langkah papahnya. Tak ada ekspresi apa pun. Terkecuali, raut wajah muram menatap kami. Marahkah dia?


Aku hanya bisa memandang mereka. Berjalan beriringan sambil menenteng bungkus belanjaan yang lumayan banyak. Entah apa isinya.


"Yuk, Lya. Kita masuk," ajak Andre begitu Om Bram dan Della sudah menghilang di antara hilir mudik pengunjung.


"Kamu duluan, deh, Ndre," kataku masih enggan melangkah. "Lho, kenapa? Kita jadi nonton, 'kan? Film India. David Khan. Seru, Lya," sahut Andre.


"Mau ke mana?"


Sedikit ragu untuk mengatakan, khawatir Andre akan mentertawakan. "Kamu beli tiket saja dulu sana. Aku mau ke mini market."


"Beli camilan? Itu di sana ada penjual popcorn dan soft drink," tunjuk Andre ke satu tempat.


Bingung, harus bicara apa, ya? Kulirik ke bawah. Tepat pada tas yang sedari tadi digunakan untuk menutupi area bawah perut. Andre mengikuti arah pandangku.


"Kamu ... lagi dapet?" tanya anak muda tersebut. Aku menggeleng. "Bukan. Bukan begitu. Tapi ... aku butuh yang baru," jawabku ragu.


Ketakutanku akan Om Bram dan Della tadi, sempat membuatku tak kuat menahan berkemih. Untung selalu menggunakan pelindung tambahan. Jadi tak akan merembes ke luar.


"Yang baru apaan, sih, Lya? Aku bingung," desak Andre. "Kamu gak bermaksud menyusul Pak Bram dan Della, 'kan?"


Aku mendengkus kesal. "Ya, endaklah, Ndre. Ini perihal keperluan perempuan."


Andre mengangguk-angguk. Entah paham atau bersikap mengalah. "Ya, sudah. Aku tunggu atau nganter kamu?"


"Tunggu saja di sini. Nanti bakal kembali, kok."


"Oke. Tapi ... kamu ... beneran mau ke sana sendiri?" Andre memaksa. "Keperluan apa, sih?"

__ADS_1


'Beli pembalut, Andre! Kenapa, sih, kamu kepo amat ama urusan perempuan? Atau sekalian berminat bantu aku memasangkannya? Astaga!' geramku dalam hati. "Sialan! Bisa-bisa urusan akan lebih repot nanti."


"Sudahlah. Tak perlu banyak tanya. Aku bilang juga, ini urusan perempuan," kataku kesal.


"Okelah, kalau begitu," ujar Andre akhirnya. "Aku tunggu di sini, ya?"


Aku bergegas meninggalkan sosok anak muda itu. Berkeliling sebentar mencari-cari tempat yang dimaksud. Setelah mendapatkan, kemudian masuk ke dalam toilet.


Akhirnya, tuntas sudah kini. Keluar dari sana. Lalu ....


"Udah beres?"


Ya, Tuhan!


"Andre?" Aku terkejut. Andre berdiri tepat di samping pintu toilet. "Kamu ngapain di sini?"


"Nungguin kamu, Lya," jawab anak muda tersebut, diiringi tawa kecilnya.


"Kenapa nyusul? Kamu ngikutin aku dari tadi?"


Kembali Andre tertawa. "Hanya ingin memastikan, kalau kamu tak akan pergi dariku, Lya."


"Kamu gila, Andre!"


"Maaf," ujarnya senyum-senyum. "Aku khawatir, Lya. Serius."


Akhirnya, kami pun bergegas masuk ke dalam bioskop. Andre memilih tempat duduk jauh di belakang. Berdua, ditemani camilan dan minuman dingin segar.


Entahlah, sepanjang pemutaran film, aku tak bisa menikmati. Mungkin karena tak suka film kegemaran Andre, juga bayangan Om Bram dan Della, terus menghantui. Pikiran ini selalu tertuju ke rumah.


Satu hal yang kuperhatikan sejak Om Bram melihat kehadiran Andre, laki-laki setengah baya perlente itu, seperti tak suka. Entah belum mengenal dekat, bisa juga Om Bram ... cemburu.


Cemburu? Ya, Tuhan! Indah sekali kata itu. Si Brewok Tipis cemburu padaku. Maknanya ada celah untuk maju beberapa langkah agar impian ini tercapai. Bersanding dengan ....


"Eh, Ndre," desahku kaget. Jemari Andre tiba-tiba menyentuh lengan ini.


Anak muda itu tersenyum di antara keremangan. "Lya .... " panggilnya perlahan. Hampir menyerupai bisikan, disertai usapan yang menyusuri lenganku ke bawah.


"Ada apa?" Aku mengibaskan tangan Andre. Anak muda itu tak mau menyerah. Dia mendekatkan wajah, lalu berkata, "Aku mencintaimu, Lya."


"Fokus ke layar, Ndre. Idola kamu sedang beraksi tuh," ucapku seraya menunjuk layar.


"Aku tak suka filmnya. Aku lebih suka lihat kamu," balas Andre semakin mendekat. Napasnya menghajar wajahku seketika. "Aku benar-benar tergila-gila sama kamu, Lya. Aku ingin kamu jadi kekasihku."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2