
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 29...
...------- o0o -------...
TING!
Ponselku berbunyi. Suara pemberitahuan. Ada pesan masuk. Om Bramkah? Bukan. Ternyata dari Andre.
[Halo, Alya. Apa kabar? Siang ini ada waktu senggang gak?]
Hhmmm, laki-laki setengah bule itu masih berusaha dan berharap rupanya. Segera kubalas.
[Aku lagi di rumah. Mau nyetrika.]
Tak lama, Andre kembali mengirimkan pesan.
[Kalo ada waktu, aku pengen ngajak kamu jalan. Bisa, kan? Sekali ini saja. Please, Alya.]
Benar, kan, dugaanku? Ujungnya pasti mengajak bertemu. Dalam situasi seperti sekarang ini, rasanya aku memang butuh penyegaran otak. Masalah si Om Bram tadi benar-benar menguras energi. Tapi bagaimana caranya? Tak mungkin memberi tahu Della.
[Ndak tahu, Ndre. Di rumah ada Della. Lagipula, beneran aku mau nyetrika pakaian.]
[Biar nanti aku yang kerjain, deh. Sumpah. Aku juga udah biasa nyetrika. Bahkan masak nasi di magicom pun, aku bisa.]
[Aku ndak nanya.]
Andre membalas dengan emoticon tertawa. Dilanjut dengan pesan berikutnya.
[Aku, kan, anak kos. Kerjaan begitu, sih, kecil. Apalagi buat kamu, Alya. Apa pun akan aku lakukan. Asalkan, kamu bersedia jalan sekali ini saja denganku. Mau, kan, Lya? Please.]
Aku berpikir sebentar. Tak ada salahnya memenuhi ajakan Andre kali ini. Toh, sekarang ini memang butuh refreshing. Urusan Della, nanti dipikirkan.
[Ya, sudah. Tapi aku mau mandi dulu, Ndre.]
[Oke. Satu jam lagi aku jemput kamu, ya.]
[Jangan ke rumah. Nanti Della tahu.]
__ADS_1
[Oke. Aku tunggu kamu di gang depan dekat minimarket. Gimana?]
[Baik. Nanti aku ke sana. Beri tahu saja kalo kamu sudah ada di sana, ya.]
[Siap.]
Hhmmm, aku tak tahu harus memberi alasan apa pada Della nanti. Pergi sendiri di tengah hari, tanpa kejelasan. Berbohong? Tak mungkin. Cukuplah tindakan bodoh itu terjadi saat bertemu Andre di perpustakaan kampus lalu. Artinya, aku harus keluar tanpa sepengetahuan Della.
Satu jam berlalu tak terasa. Aku sudah bersiap dengan setelan kasual dan santai. Cukup standar untuk ukuran acara jalan-jalan biasa. Setidaknya tak akan menimbulkan kecurigaan lebih jika berpapasan dengan Della.
[Aku sudah sampai di depan gang, Lya. Kamu sudah siap, kan?]
Andre mengirim pesan. Langsung kubalas.
[Baik. Aku sudah siap. Tunggu di sana sebentar.]
[Oke.]
Perlahan kubuka pintu kamar. Lalu melangkah pelan-pelan. Mengendap-endap sebentar di balik tembok, sambil memperhatikan situasi sekitar ruangan. Tak ditemukan sosok gadis itu. Lanjut menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Hingga melewati ruangan tengah tempat Della tadi bersantai di atas sofa. Kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Aman.
Pintu depan dalam keadaan tertutup. Sosok Om Bram yang semula kupercaya ada di depan sana pun, sama-sama tak tampak. Diakhiri menutup pintu, aku pun berjalan secepat mungkin melewati pintu gerbang pagar. Kedua orang tadi tak mengetahui kepergianku.
“Maaf agak lama, Ndre. Maklum harus ekstra hati-hati keluarnya,” kataku begitu tiba di tempat tujuan.
Hhmmm, Om Bram lagi!
“Tak apa-apa, Alya. Aku malah senang, akhirnya kamu mau diajak jalan sama aku,” ujar Andre sambil memperhatikanku, bersetelan celana jin yang membungkus ketat.
“Lihat apaan, sih, Ndre?” Aku merasa risih dengan tatapan laki-laki itu. Dia tersenyum, lalu menjawab, “Kamu cantik sekali, Lya.”
“Ndak usah merayu, deh. Atau kita ndak jadi jalan?” ancamku padahal sejujurnya suka banget dengan pujian Andre. Artinya ada modal kuat memikat hati Om Bram dengan parasku.
Ya, tuhan! Bram lagi! Bram lagi!
“Eh, jangan dibatalin, dong! Ayo, kita jalan,” seru Andre memintaku segera naik motornya. “Ini, pake helm buat perlindungan area kepalamu, Lya.” Dia menyodorkan helmet mungil berwarna merah muda. “Helm itu sengaja kupilihkan untukmu, Alya.”
Aku tersenyum. Andre membantu memasangkan di kepalaku. “Terima kasih, Ndre.”
“Gimana? Pas dan nyaman, gak?” Andre ingin memastikan terlebih dahulu. “Sudah pas, kok,” jawabku singkat.
“Oke, sekarang kita jalan, ya,” ucap Andre memberi kode agar aku bersiap-siap. “Pegangan ke pinggangku.”
“Jangan ngebut, lho, Ndre.”
__ADS_1
“Tenang saja. Aku bawanya santai, kok. Yang penting kita berdua tiba di tujuan dengan selamat.”
“Memangnya kita mau ke mana?”
“Kamu punya ide yang bagus, baiknya kita ke mana?”
“Ya, terserah kamu. Kan, kamu yang ngajak.”
Andre tertawa kecil. “Bagaimana kalau kita ke pelaminan?”
“Andre, ih!” Kucubit kecil pinggangnya hingga anak muda itu meringis kesakitan. “Aduh ... sakit, Alya,” ujar Andre.
“Lagian kamu, sih,” balasku diiringi senyum.
Andre segera menyalakan motor. Kemudian perlahan kami meninggalkan tempat tersebut.
Ya, ampun! Aku baru sadar. Barusan mencubit kecil laki-laki itu. Diiringi rasa panas yang menjalar di wajah ini. Juga senyuman. Segenit itukah aku kini?
Ya, Tuhan! Jangan biarkan hati ini mendua, Tuhan. Laki-laki di depanku ini memang sudah nyata menampakkan cintanya. Tak seperti Om Bram yang masih misterius. Mungkinkah suatu saat kelak akan luluh menerima Andre sebagai calon pendamping masa depan?
Perlahan, aku memeluk laki-laki itu dari belakang. Diiringi terpaan angin di sepanjang jalan.
...------- o0o -------...
Laju kendaraan bermotor melambat, kemudian berbelok memasuki area parkir. Sebuah pusat perbelanjaan besar dan megah di tengah hiruk pikuk keramaian kota.
"Kita mau ngapain, Ndre?" tanyaku usai turun dari motor. Andre tersenyum, seraya membantu melepas pelindung kepalaku, kemudian membuka helmnya sendiri. "Kita makan dulu, yuk," ajak anak muda itu setelah mengamankan kendaraan. "Habis itu, terserah. Mau nonton atau—."
"Ya, sudah. Kita makan dulu, deh," timpalku memotong. Andre mengangkat alis, lalu balas berucap, "Oke. Kita cari tempat yang bagus, ya."
Dia terlihat semringah dan semangat. Sesekali berusaha meraih lengan ini, namun saat bersamaan kutepis takzim. Rasanya tak harus seperti itu. Kami hanya berkawan, 'kan?
"Maaf," ujar Andre begitu mendapat penolakan. Wajahnya menyala seketika. Entah malu atau marah. "Hanya spontanitas. Aku .... "
"Kita makan di sana saja. Bagaimana, Ndre?" Aku mengalihkan pembicaraan. Sekadar menghambarkan suasana yang mendadak kaku. "Oke. Di sana juga menunya bervariasi dan lumayan enak," timpal Andre tanpa menoleh ke arahku.
"Kamu sering ke sini?" selidikku hanya bermaksud menambah durasi percakapan. "Sesekali. Bersama teman-teman. Kamu sendiri, Lya?" Dia bertanya balik. Kali ini disertai lirikan sesaat. Aku menggeleng. "Kenapa? Kamu jarang keluar rumah?"
Aku tak ingin menjawab.
Jujur saja, selama tinggal bersama keluarga Om Bram, aku memang jarang hangout layaknya anak muda lain. Della sendiri termasuk gadis rumahan. Apa yang dia butuhkan, hampir semuanya tersedia. Om Bram, apalagi. Laki-laki itu lebih suka menghabiskan libur kerjanya dengan berdiam diri di rumah. Kecuali jika sedang dinas luar kota, aku kurang tahu. Hanya saja, dalam dua pekan sekali dia kerap pergi selama tiga sampai empat hari. Urusan pekerjaan, demikian kata Della.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1