BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 52


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 52...


...------- o0o -------...


Om Bram menarik napas dalam-dalam. Begitu seterusnya hingga beberapa saat. Tangan kekar itu sampai mengepal keras, disertai seringai tertahan. Mirip orang yang hendak buang hajat pagi, tapi sulit keluar. "Perlu kucarikan obat tidur sekarang juga, Alya?"


Aku menggeleng. "Alya ndak insomnia, kok, Om. Mungkin karena tadi sempat tertidur, makanya sekarang jadi terjaga."


"Tapi aku minta kamu untuk segera tidur, Alya." Om Bram menggaruk kepala kesekian kalinya. "Sekarang malah aku yang merasa capek."


SREK! SREK! SREK!


"Ya, sudah. Kalau Om capek, tidur saja, Om. Apalagi besok harus kerja, 'kan?" Aku mengusap lengannya. "Biar Alya dan Bi Mamas yang jagain Della. Soal kuliah, bisa minta ijin, kok."


Om Bram mendengkus keras. Kemudian dia berkata, "... atau kita tidur sama-sama saja, Sayang?"


TUING ... TOT!


Cubitan kecilku segera mendarat di tangan berbulu itu. Menyepit kulitnya, memutar 90°, dan terakhir menarik dengan keras.


"Aw!" jerit lelaki itu tanpa ampun, sambil mengusap-usap lengan yang merah dan terkelupas kulitnya sedikit. "Sakit banget, Alya! Aduuhhh ... !!!"


"Lagian ... Om begitu, sih, ngomongnya. Kita, kan, bukan suami-istri, Om," ujarku dengan bara memanas menjalari wajah ini. "Ih, sebal!" Aku merengut manja seraya bersiap melancarkan cubit susulan.


Om Bram lekas menggeser duduk. Agak menjauh dariku sekarang, dengan ringis yang masih menghiasi rautnya.


"Maksudku bukan begitu, Alya," balas lelaki itu bersiap memasang kuda-kuda. "Kamu tidur di dalam sana sama Della dan Bi Mamas. Aku tidur di sini. Di bangku ini. Gak usah mikir macam-macam, deh, Sayang!"


"Ya, ampun, Om! Alya ndak sampai mikir begitu. Maafin Alya, Om," kataku seraya merangsek maju.


"I-iya. G-gak apa-apa. Tapi ... t-tolong jangan terlalu dekat," seru Om Bram pasang tangan sebagai tameng. "Kalau masih mau bicara ... jarak lima meter sekarang ini, cukup, 'kan? Eh!"

__ADS_1


"Jauh amat, Om. Memangnya mengapa harus jauhan?"


Om Bram menyeringai. "G-gak apa-apa, Alya. Beneran, g-gak a-da apa-apa. Eh, hehe .... " kilah lelaki itu masih terus mengusap lengannya.


Ada apa, sih, dengan laki-laki ini? Mengapa mendadak seperti melihat hantu begitu dekat denganku? Tadi tak apa-apa. Semua berjalan normal seperti biasa. Sekarang?


"Om .... " kataku akhirnya agak keras. Om Bram menoleh, sembari menyilangkan telunjuk di bibirnya. "Sssttt ... jangan terlalu keras, Sayang. Ini rumah sakit."


"Alya cuma ingin nanya." Lanjutku berucap, "Tadi ... Tante ngapain ke sini?"


Om Bram menepuk jidat.


PLAK!


"Besok saja aku ceritain, ya. Sekarang kamu tidurlah. Istirahat dengan tenang," jawabnya tak berhasrat bicara. Mungkin dia lelah.


"Alya masih ingin hidup, Om!"


"Sssttt ... jangan keras-keras, Lya," seru laki-laki itu. "Maksud Alya apa?"


Kembali aku merengut. "Tadi kata Om ... aku disuruh istirahat dengan tenang. Alya ingin panjang umur, Om."


Betul, dia memang tampak lelah. Sebaiknya pertanyaan ini kusimpan saja hingga esok. Atau mungkin, akan mencari jawabannya sendiri.


"Baiklah, Om," kataku kemudian. "Alya ke ruangan dulu, ya. Selamat malam, Om."


"Selamat malam juga, Sayang. Selamat tidur." Om Bram menaik napas lega.


Beberapa saat kemudian, aku kembali menghampiri laki-laki tersebut. "Om .... "


Om Bram terperanjat dengan bola mata memerah. "Ya, Tuhan! Ada apalagi, Sayang?"


Kuberikan tuksedo yang tadi dipakai menyelimuti di dalam ruangan. "Jas Om tertinggal di dalam."


"Hooaamm ... ghamu wakai xagah, Khayang!" jawab Om Bram sambil menguap. "Wiar aghu geghinih xagah. Hoaaaamm ... kekkk!"


"Apaa, sih, Om? Ndak jelas."

__ADS_1


Usai menguap tiga kali, dia memperjelas, "Kamu pakai saja, Sayang. Biar aku begini saja. Hhmmm."


"Oh, gitu? Ya, sudah. Selamat tidur lagi, Om."


Aku kembali ke ruangan tanpa berniat menoleh ke belakang. Rasa kantuk ini sudah mulai menyerang. Berjalan kelimpungan, sampai akhirnya terjadilah di depan pintu.


DUK!


"Aduh!"


------- o0o -------


Pagi ini pikiranku kacau. Sekian kata yang keluar dari mulut dosen, tak satu pun membekas dan tertanam dalam kepala. Begitu sulit untuk berkonsentrasi penuh. Semua daya terfokus pada Della. Khawatir dengan kondisinya yang belum kunjung membaik. Bahkan beberapa kali pertanyaan Andre terabaikan.


"Alya ... kamu pergi saja kuliah seperti biasa. Mengenai Della, kita percayakan sama dokter dan perawatnya," kata Om Bram tadi pagi sebelum meninggalkan rumah sakit. "Aku sudah minta Bi Mamas untuk menjaganya di sini."


"Tapi Alya ndak tega meninggalkan Della dalam kondisi seperti itu, Om," balasku. "Lagi pula, Alya masih merasa bersalah."


"Lho, merasa bersalah bagaimana, Sayang?" Om Bram terperangah. Aku menunduk disertai tetes bening yang mulai tergenang di pelupuk mata. Lalu menjawab, "Alya pikir, seandainya dari awal Alya paksa Della untuk berobat, mungkin kejadiannya ndak akan begini. Di samping itu, Alya juga ndak ngasih tahu Om, kalo Della ndak masuk kuliah karena sakit."


Om Bram mengangguk-angguk sebentar. Mungkin berusaha untuk memahami. "Gak apa-apa, Lya. Jangan berpikir seperti itu." Laki-laki itu mengusap pundakku. "Kita doakan saja, semoga Della lekas sembuh, ya."


Kutatap mata kecoklatan itu. "Apakah Om merasakan hal yang sama denganku?"


Om Bram tertegun. Mendadak dia seperti salah tingkah. "Sudah kubilang, aku juga mencintaimu, Alya sayang. Hanya saja, untuk saat ini aku sedang gak ingin membicarakan itu dulu. Persoalan dengan Sandra saja belum beres, 'kan?"


Aku menggeleng sembari menahan getar bibir yang hampir meledakkan tangis. "Maksud Alya bukan seperti itu, Om. Alya sangat mengkhawatirkan kondisi Della. Sekarang dia terbaring lemah bernapaskan alat bantu oksigen, sementara tangannya dipenuhi jarum-jarum infusan serta pendeteksi detak jantung. Alya takut terjadi apa-apa dengan Della," kataku masih tetap bertahan dengan tatapan tajam ke mata laki-laki tersebut. " ... dan hal itu ndak Alya lihat dalam diri Om Bram, selama Della masuk rumah sakit!"


Om Bram melempar senyumnya. Hambar. "Apa yang kamu lihat, gak seperti itu, Alya," balasnya. "Aku juga sangat mengkhawatirkan Della. Apalagi dia anakku sendiri. Papah mana yang gak tersentuh hatinya, melihat anak yang dicintai terbaring lemah seperti sekarang, Lya?"


"Tapi selama yang Alya perhatikan dari kemarin, Om terlihat tenang."


"Apakah aku harus panik? Tanggung jawabku bukan hanya Della seorang, tapi kamu juga, Sayang."


"Aku?"


"Ya, kamu. Karena kamu juga bagian dari keluargaku. Aku ingin kamu juga tetap tenang dan sabar. Apalagi Bi Mamas. Makanya aku berusaha sebisa mungkin untuk selalu tenang. Lagi pula, setiap saat aku selalu berkomunikasi dengan dokter yang menangani Della. Dia dokter Nicholas, salah satu dokter kepercayaan keluargaku."

__ADS_1


Aku bagian dari keluarganya? Sebagai anak? Tapi dia sudah terang-terangan mengakui mencintaiku. Lalu, sebagai kekasih? Ah, perlakuan macam apa yang dia berikan selama ini. Kecuali panggilan 'sayang' dan ciuman itu. Aku benar-benar merasa seperti seorang kekasih yang tak pernah dianggap. Hubungan tanpa status. Apalagi dengan rencana pernikahannya, akan jadi apakah aku kelak bagi Om Bram? Kasihan sekali gue!


...BERSAMBUNG...


__ADS_2