
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 13...
...------- o0o -------...
"Della ... lalu Papah harus ngomong apalagi?" Bram menatap lekat wajah Della. Gadis itu tak mau membalas. Pandangannya masih terarah pada satu titik. Bukan pada Bram, ataupun padaku.
"Orang yang Papah anggap sebagai anak pun, mempunyai perasaan yang sama," lanjut Della berucap. "Maksudmu Lya?" Bram melirikku.
"Siapa lagi?" Della mencibir. "Entah pesona apa yang Papah miliki, hingga hampir setiap perempuan yang mendekat, selalu menaruh perasaan yang sama. Tak terkecuali Lya. Dia juga sudah lama jatuh cinta sama Papah, kan?"
Aku terperanjat. Hampir saja beringsut mendekati Della. Lagi-lagi isyarat tangan Bram yang menahan. "Della," aku hanya bisa menyebut namanya.
"Apa yang kamu omongin ini, Sayang? Papah sama sekali tak mengerti. Papah--"
"Akting kalian berdua, payah. Buruk sekali." Della kembali mencibir. "Apa dikira Della gak punya mata dan pikiran untuk membaca bahasa mata kalian masing-masing? Jelas sekali Alya sangat menyukaimu, Pah. Dia jatuh cinta sama Papah."
"Della?"
"Papah juga begitu, kan?" Kali ini Della bersedia menatap mata Bram. "Betapa egoisnya Della selama ini, Pah. Membiarkan laki-laki tampan hidup dalam kesendirian. Puluhan tahun bukan waktu yang sebentar untuk menahan hasrat yang Papah miliki. Papah butuh pendamping hidup, kan, Pah?"
"Della ... kamu--"
"Ataukah mungkin Papah sudah memilikinya di luar sana, tanpa sepengetahuan Della?"
Bram mengalihkan pandangannya. Tak ingin beradu tatap dengan Della, hingga gadis itu sanggup membaca bias tersembunyi di balik itu. Namun bagiku justru ingin sekali mendengar sendiri. Mungkinkah laki-laki itu menaruh rasa yang sama?
"Enggaklah, Sayang. Papah ini masih seperti laki-laki yang sama, sebagaimana saat mendiang Mamahmu masih hidup," jawab Bram dengan suara bergetar. "Papah hanya punya kamu. Gak ada perempuan lain selain anak Papah satu-satunya ini."
__ADS_1
Della tersenyum. Ada rasa bahagia namun sekaligus kecut yang menyertai. "Jangan bohong, Pah."
"Papah gak bohong."
"Alya bagaimana? Bukankah dia cantik, Pah?" Della melirik sejenak padaku. Ah, lekas aku menunduk. Khawatir rahasia hati yang selama ini terpendam, akan mampu terbaca secara gamblang baginya. Malu atau takutkah?
"Kamu ini ngomong apa, sih, Della? Papah hanya merasa menyesal telah menyakiti kamu, Sayang." Bram berusaha mengalihkan pembicaraan. Jemarinya mengusap lembut pipi Della yang masih merah. Lebih tepatnya memar. Bisa dibayangkan, betapa keras tamparan yang mendarat di wajah anak perempuan itu tadi. "Papah minta maaf. Papah khilaf dan berjanji ... itu tak akan pernah terulang lagi, Sayang."
"Kalau begitu, jawab dengan jujur kalo memang Papah tak akan menyakiti Della lagi."
"Pertanyaan apalagi?"
Della menoleh ke arahku. "Papah menyukai Alya, kan?"
"Del .... " kembali aku terperanjat. Tak menyangka dia akan mendesak Bram seperti itu. Namun sekaligus semakin mendekatkan rasa penasaran ini pada puncaknya. Semoga aku kuat dan tak lagi kehilangan kesadaran.
Bram ikut menoleh. Memandangku sedemikian rupa. Lalu perlahan membuka mulut. "Papah memang--"
"Sayang sekali, Pah .... " potong Della sebelum Bram menyelesaikan ucapannya.
" .... perempuan itu lebih memilih laki-laki lain ketimbang membalas rasa yang Papah miliki itu," kata Della diiringi seringai aneh. Menatapku dengan tajam.
"Maksudmu apa, Sayang?" tanya Bram penasaran.
"Del .... " Aku mencoba menyapa gadis itu.
Della tersenyum. "Laki-laki yang selama ini kuharapkan akan menjadi pengganti rasa cinta Della pada Papah," kata Della kembali. "Perempuan yang gue anggap sebagai sahabat sekaligus saudara gue sendiri, tega merebut laki-laki yang gue inginkan!"
"Maksudmu Andre, Del?" Aku terkejut. Benar dugaan selama ini. Della memang menyukai laki-laki itu.
"Siapa lagi?" Suara Della kembali meninggi. "Elu tega ngerebut dia dari gue, Lya! Dan setelah elu dapetin Andre, elu juga bermaksud ngerebut Papah dari gue, kan?"
Aku beringsut mendekat. "Itu ndak benar, Del. Aku sama sekali belum menerima dia. Karena aku tahu, kamu suka sama Andre, kan? Dia sendiri yang menginginkan aku menjadi pacarnya."
__ADS_1
"Bohong!" teriak Della memecah kesunyian. Tubuhnya sampai bergetar hebat. Bram menahan agar Della tak menyentuhku. "Elu emang suka keduanya, kan? Jawab, Lya, jawab!"
Aku seperti tersulut. Mendadak kontrol pertahanan ini jebol. Lalu merangsek ke dekat Della. "Aku hanya menyukai papahmu! Om Bram! Aku tergila-gila sama Om Bram! Aku tak ingin Om Bram menganggapku sebagai anak, tapi berambisi untuk menjadi istri Om Bram! Ibu tirimu sendiri, Del! Puas kamu sekarang? Puas, hah?!"
"Lya .... " Bram menatapku. "Kamu .... "
"Dengar sendiri, kan, pengakuan dia, Pah?" Della tersenyum picik. "Siapa sebenarnya dia? Perempuan lugu yang diperbudak cinta!"
"Aku ndak sejahat yang kamu kira, Del!" balasku tak ingin kalah. Biarlah semua rahasia hati ini pecah berantakan. Tak peduli apa pun yang terjadi setelahnya. Pergi dari kehidupan mereka berdua ataukah ....
"Kamu menyukai saya, Lya?" tanya Bram seraya melepas cekalan di bahu Della. Laki-laki itu mendekat dan menahan tubuh Della agar tak mengikuti. "Benarkah itu, Lya?"
"Om Bram ... aku ... aku .... " Mendadak lidahku kelu. Sulit berbicara apalagi bergerak menghindar. Dia semakin mendekat dan memegang tanganku.
Ya, Tuhan! Drama apalagi yang sedang Engkau berikan untukku? Mimpikah ini? Bukan. Karena cekalan jemari itu begitu kuat menahan limbungku sesaat.
"Jawab, Lya. Benarkah kamu menginginkanku?" tanya ulang Bram sambil menatapku.
"Pah!" seru Della seakan tak menghendaki papahnya mendekatiku.
"Diam kamu, Sayang," ujar Bram tegas. "Kamu tak ingin Papah menua sendirian, kan? Kamu juga ingin Papah bahagia, kan? Kamu juga harus mengerti, Papah laki-laki normal yang masih punya keinginan."
"Pah?"
"Papah juga sangat menyukai Alya," kata Bram akhirnya. Kalimat yang sanggup membuat keseimbangan tubuhku hilang. Kaki serasa tak menjejak. Melayang tinggi terbawa hembusan angin beraroma semerbak. Lalu .... "Dia gadis yang baik dan sangat cocok untuk mendampingi hidup Papah. Dia juga yang sanggup membuat Papah bertahan dari godaan dan rayuan perempuan-perempuan di luar sana."
"Om .... " Aku terpana. Seisi dada ini tiba-tiba seperti runtuh. Turun dan berserak di dalam perut. Kemudian menyentak aliran syaraf di sepanjang punggungku. Bergerak menggelitik, berkumpul pada satu titik sensitif. "Benarkah itu, Om?"
"Lya .... "
Tubuhku mengejang. Bergidik tanpa dipinta. Memaksa angan ini untuk memberi perintah pada kelopak mata agar mengatup. Terpejam bersama sensasi yang teramat sulit dilukiskan.
Tidak! Aku sudah tak sanggup lagi. Kaki melemah hingga tak mampu menopang beban tubuh. Ambruk disertai lenguhan pelan disepanjang perjalanan waktu yang mulai mengelam.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...