BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 80 (Tamat)


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 80...


...------- o0o -------...


Kami berdua, aku dan Della, lama saling terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Duduk-duduk di atas tempat tidur di kamar gadis itu usai berbicara panjang lebar tentang apa yang menjadi pertanyaanku selama ini.


"Apa yang Andre ceritain sama elu itu, hampir semuanya benar, Cuy," ungkap Della di pengujung penuturan. "Sejak Mama gue meninggal, Papa belum pernah mau lagi berumah tangga. Papa kepengen fokus ngurusin gue yang penyakitan ini."


"Del," kataku buru-buru memeluk Della. "Kamu ini sehat, Del. Kamu ndak sakit. Kamu akan baik-baik saja. Percaya, deh."


Kami berpelukan untuk beberapa waktu. Seakan ingin melepas kerinduan yang selama ini membekap dada. Walaupun belum setengah bulan aku menghilang dari keluarga ini.


"Elu balik lagi ke rumah ini ya, Lya," pinta Della terdengar lirih. "Elu tinggal lagi sama gue dan juga Papa. Jangan pernah kabur-kaburan lagi kayak sekarang ya, Cuy? Gue pengen ... elu selamanya tinggal sama ... Papa gue."


Tinggal bersama Om Bram? Maksud Della apa?


Aku segera melepaskan pelukan dan memandangi wajah pucat gadis tersebut.


"Maksud kamu ...." Belum usai aku berkata, Della langsung memotong.


Tukasnya dengan suara lirih, "Temenin Papa gue, Lya."


Aku menggeleng. "Aku belum paham maksud kamu, Del. Memangnya kamu mau ke mana?"


Della tersenyum lirih. Dia mengusap-usap wajahku dengan lembut. Sampai kemudian gadis itu bertanya cukup mengejutkan. "Elu suka sama Papa gue, 'kan?" tanyanya.


Tidak! Ini tidak benar! Della pasti sedang mencandaiku.


Aku berusaha sadar dan mengontrol kesadaran. Sampai-sampai tega mencubit lengan sendiri hingga kesakitan.


"Aawwhhh!" jeritku perih.


Ujar Della kembali diiringi senyuman tipisnya, "Elu gak lagi mimpi, Cuy. Kita lagi ada di dunia nyata." Ternyata dia langsung memahami apa yang kuperbuat baru saja. "Elu pikir, selama ini gue gak tahu, ya? Gue sering merhatiin elu kalo lagi ngomong sama Papa gue. Gue pikir, elu emang menyukai Papa gue."

__ADS_1


"Del, a-aku ... a-aku ndak---"


"Jangan bohong, Lya! Elu emang sudah lama menyukai Papa gue," tukas Della kembali. Seakan tidak ingin memberikan kesempatan buatku untuk menampik atau mengelak akan perkiraannya tadi. "Dan ... gue juga ngerasa, kalo Papa gue suka sama elu."


"Ndak, Del. Bisa ndak, kita ngomongin yang lain. Jangan masalah ini. Aku kepengen ngelihat kamu sehat dan kita sama-sama pergi kuliah bareng. Ini tinggal beberapa bulan lagi, Del. Kita akan---"


"Gue pengen elu nikah sama Papa gue, Alya!" pungkas Della akhirnya berterus terang.


Astaga! Aku sampai tersurut mundur. Menggeser duduk ini agak menjauh dari posisi Della.


"Ndak, Del. Ini ndak mungkin!" kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu pasti lagi ndak sadar. Lebih baik, kamu istirahat saja, ya. Aku temenin, deh."


Della menolak. Dia menepiskan selimut yang kusodorkan sembari menatapku lekat.


"Kenapa? Karena elu udah jadian sama si Andre?" tanya Della bersikukuh. "Tadi gue lihat elu berpelukan sama dia, tapi mata elu gak pernah nunjukkin kalo elu suka sama dia. Hati elu emang buat Papa gue, 'kan?"


Ah, harus berkata apalagi sekarang? Aku masih belum sepenuhnya bisa mempercayai ucapan Della, setelah melewati berbagai drama yang pernah aku alami sebelumya.


Tutur Della setelah kami sama-sama terdiam, "Awalnya, gue gak berniat apa-apa sama elu, Lya. Gue cuma seneng saja bertemen sama elu. Tapi ... lama-lama gue mikir akan kondisi gue dan juga Papa gue. Sebagai anak, gue gak mau egois. Sekarang gue udah gede dan Papa ... kelihatannya ngebutuhin sosok pendamping."


Della menggenggam tanganku.


Menurut penuturan Della, mereka memang sengaja membuat drama-drama kecil untuk mengujiku. Pernikahan fiktif dengan Tante Cassandra dulu, hingga cerita dari BI Mamas yang menyudutkan Om Bram.


Della juga tahu dari Andre, bahwa salah satu sebab yang menyebabkan aku untuk memilih pergi, bisa jadi karena gadis itu sendiri.


"Andre sudah cerita semuanya, Lya," kata Della di pengujung penuturannya. "Gue sama Papa juga tahu, elu belum kemana-mana. Masih di Jakarta. Tapi gue nahan Papa supaya jangan dulu nyamperin elu ke sana. Gue pengen, elu datang sendiri ke sini, sampai gue sendiri yakin ... elu kembali karena gue dan Papa."


Aku menggeleng. "Ndak, Del. Kamu salah. Aku datang buat kamu, bukan Om Bram," kataku jujur. "A-aku emang ... suka sama Om Bram, Del. Tapi ... aku gak yakin, kalo Papamu itu ...."


Tiba-tiba pintu kamar Della terbuka dan muncul satu sosok lelaki yang selama ini teramat kucintai. "Saya juga suka sama kamu, Alya," katanya tanpa basa-basi.


"Om Bram?" Aku terperanjat.


Lelaki berbulu itu tersenyum. Sangat manis sekali dan lebih menarik dari sebelumnya.


"Will you marry me, Alya?" tanyanya seperti sebuah kebahagiaan tersendiri buatku selama ini.


Aku tidak tahu, apakah ini nyata ataukah tengah bermimpi. Namun yang pasti, sebelum semuanya berubah menjadi gelap, spontan aku pun bangkit dan berlari memburu peluk laki-laki tersebut. Tidak peduli lagi akan semuanya. Aku benar-benar ingin merasakan pelukan sosok yang masih kucintai itu.

__ADS_1


"I do, Om Bram! I do!" sahutku dengan senang hati dan setelah itu, aku tidak lagi tahu apa yang terjadi.


Semuanya mendadak hilang begitu saja. Berganti dengan sebuah warna hitam, hitam, dan hitam. Lantas perlahan-lahan lenyap entah kemana aku melayang.


Singkat cerita, beberapa bulan setelah lulus dan diwisuda, aku pun melangsungkan pernikahan dengan Om Bram. Disaksikan Della dan Andre, keduanya turut hadir untuk menyaksikan momen-momen kebahagiaan kami, mengucap janji setia atas nama Tuhan.


"Selamat ya, Cuy," ucap Della dengan wajah kian memucat, terbaring di atas ranjang pesakitan, didampingi oleh Andre dan Mbak Darmi. "Gue bahagia banget bisa ngelihat elu bersanding sama Papa gue."


"Makasih, Del," jawabku lirih melihat kondisi Della kini. "Kita akan selalu bertemen 'kan, Del?"


"Tentu dong, Cuy," balas Della dengan suara serak. "Tolong jangan kecewain Papa gue, ya. Gue yakin, elu bisa ngejaga ... P-papa gue ... d-dengan b-baik."


Aku segera memeluk gadis itu dan menangis miris. "Tolong bertahanlah lebih lama, Del. Seenggaknya ... sampai aku bisa ngasih kamu adik baru, Del."


Della tersenyum-senyum dan mengangguk.


"Makasih ya, Sayang," ucap Om Bram turut memeluk anak terkasihnya. "Kamu sudah membantu Papa memilihkan sosok yang paling tepat buat pengganti Mamamu."


"Della juga ... s-sangat b-bahagia, P-papa ...." balas Della dengan napas mulai tersengal-sengal. "I love you, Papa."


"We love you too, my baby," jawab Om Bram tidak kuasa menahan tangisnya.


Kami tidak bisa berbuat banyak, terkecuali berdoa dan berharap Tuhan akan memberikan keajaiban teruntuk gadis tersebut. Hingga detik-detik itu pun tiba ....


Aku tahu, Della memang sudah menyadari bahwa kesempatannya untuk membuat Om Bram bahagia, teramat singkat. Untuk itulah, dia pun mendesak kami untuk segera menikah usai menyelesaikan pendidikan kuliah. Bukan di dalam tempat ibadah maupun di sebuah hotel mewah, cukup berkumpul bersama di ruangan serba putih dan terbatas. Di sana, dibantu oleh seorang pelayan Tuhan, aku dan Om Bram pun meresmikan hubungan.


Kini, setelah tiga bulan kepergian Della untuk selama-lamanya, aku pun mengandung. Hasil benih kasih cintaku bersama Om Bram.


"Berangkat sekarang, Bu?"


Aku melirik ke arah depan, sosok lelaki yang kerap menemaniku di waktu-waktu tertentu.


Jawabku, "Iya. Tolong antar saya ke rumah sakit, ya. Saya mau memeriksa kandungan."


"Baik, Bu."


"Jalannya jangan terlalu cepat, ya. Saya lagi hamil anggur, loh," kataku kembali mengingatkan.


Sosok lelaki muda berparas bule itu tersenyum sambil menengok mengedipkan mata ke arahku di belakangnya.

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2