
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 14...
...------- o0o -------...
Tubuhku mengejang. Bergidik tanpa dipinta. Memaksa angan ini memberi perintah pada kelopak agar mengatup. Terpejam bersama sensasi yang teramat sulit dilukiskan. Tidak! Aku sudah tak sanggup lagi. Kaki melemah hingga tak mampu menopang beban tubuh. Ambruk disertai lenguhan pelan di sepanjang perjalanan waktu yang mulai mengelam.
"Lya!" Panggilan itu terus menggema. Menarik sadarku antara dua dimensi. Nyata dan maya. Entah mana yang harus dituju. Sementara gelap masih membutakan netra.
"Alya!" Kudongakan wajah mencari asal suara. Fokus meniti langkah dalam gulita, berpijak pada raba serta rasa. "Alya .... "
"Della?" Samar kukenali pemilik suara itu. Seperti gaung sahabat yang selama ini paling dekat. Mungkinkah dia atau hanya sekedar tipuan halusinasi belaka?
"Bangun, Alya!"
BUK!
Ah, sebuah tepukan mengenai mukaku. Keras namun terasa empuk. Dari aroma yang sempat tercium, itu wangi pelembut kain. Itu pasti ....
BUK!
"Woy, bangun!"
Suara gelak tawa segera mengiringi, setelahnya. Hhmmm, perlahan sukmaku pun meraga. "Della ... kamu itu, ih!" sungutku masih memicing. Menatap sosok itu tengah duduk bersandar di tepian tempat tidur, menggenggam ponsel. Sesekali melayangkan pandang ke arahku. "Udah pagi! Mau sampe jam berapa elu tidur?" tanya gadis itu sambil mengusap-usap layar.
"Memangnya sekarang jam berapa?" Aku malah bertanya balik. Mengucek-ngucek mata sesaat. Pandangan masih terasa mengabur, terhalang kotoran yang menempel ketat di sudut kelopak. Cahaya dari luar jendela menerobos masuk membutakan, dari tirai yang tersingkap lebar. "Astaga! Sudah siang, ya, Del?"
Della menyeringai. "Iya, makanya elu gue bangunin juga," sahutnya. Gadis itu sudah kelihatan segar. Mengenakan celana pendek dan kaos santai, membungkus kulit putih. "Masih ada waktu buat mandi ama sarapan, sebelum kita berangkat kuliah."
"Kuliah?" Aku malah lupa kalau hari ini bukan libur akhir pekan. "Ya, Tuhan!"
"Apa?" Della melirik kaget.
__ADS_1
"Aku ... ndak sempat buat sarapan buat Om Bram. Papahmu, Del." Buru-buru aku turun dari tempat tidur.
"Mau ke mana, Cuy?" tanya Della sebelum sempat kehilangan sosokku di balik pintu kamar. "Masaklah. Apalagi?" jawabku perlahan.
"Papah udah lama berangkat, Cuy. Ngapain elu masak?" Gelak suara Della kembali terdengar. "Tadi gue udah masakin. Jatah elu ada di atas meja tuh."
Aku memutar badan. Menatap Della yang masih menyisakan cengengesnya. "Kamu masak, Del?"
"Iya. Emang kenapa? Gak boleh?" Dia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu balas memandangku sedikit aneh. "Kalo cuma bikin nasi goreng, sih, gue udah mahir. Tenang aja. Hihihi."
Bukan! Bukan itu maksudku. Tapi ... ah, sial! Pagi ini momen melihat sosok laki-laki itu terlilit handuk, terlewat sudah. Padahal mimpi semalam itu ....
"Om Bram ndak nanyain aku, kan?" Tiba-tiba aku merasa tak enak hati. Sudah numpang hidup, malah keenakan tidur sampai kesiangan begini.
Della merengut. "Emangnya siapa elu, Cuy? Ngapain Papah gue nanyain elu?"
"Maksudnya bukan begitu, Del. Tapi .... "
Seringai Della menyeruak di ujung garis bibirnya. "Iya. Papah tadi nanyain elu, 'Kenapa belum bangun' katanya. Ya, gue jawab aja, 'Si Alya lagi males ketemu Papah'. Hihihi."
"Ih, jahat kamu, Del," semprotku dilanjut cemberut.
Ah, sialan! Della memang paling susah diajak bicara serius. 'Yang bener bisa ndak, sih, Del? Apalagi kalau sedang ngomongin Om Bram. Aku tuh paling ndak mau digituin, tahu!'
"Kenapa malah bengong di situ? Mandi!" seru Della melihatku masih mematung di ambang pintu kamar. " ... atau kita telat ngampus, nih?"
Aku tak menjawab. Segera bergegas dari sana. Mandi lalu dilanjut sarapan nasi goreng ala Chef Della.
"Gimana rasa nasi goreng buatan gue tadi?" tanya gadis itu begitu kami melaju di dalam kendaraan yang dikemudikannya. "Enak, kan?"
Aku berpikir sejenak. "Lumayan."
"Lumayan?" Della menoleh. "Cuma itu?"
"Memangnya aku harus jawab apa?"
"Berarti masakan gue gak enak, dong?"
__ADS_1
Aku sedikit menyeringai. "Lumayan enak maksudku, Del. Hanya sedikit kurang garam saja. Over all, it's nice."
"Bohong!" jawab Della diiringi gelaknya seperti biasa. "Lagian itu bukan gue yang masak, kok. Bi Mamas tadi yang bikin. Gue sengaja minta dia datang buat bikin sarapan. Hahaha."
Aku mendecak. "Mengapa kamu ndak bangunin aku saja, sih, Del? Aku, kan, jadi ndak enak sama Om Bram." Rasa itu kembali menggelayut dalam hati. "Aku juga ingin berbakti sama keluarga kamu, Del. Minimal bisa bantu-bantu sedikit melayani kamu dan Om Bram. Ya, kayak Tante dulu saat masih ada .... "
Eh, cepat-cepat aku menutup mulut. Kalimat terakhir tadi rasanya tak ada dalam rencana. Mengapa meluncur begitu saja tanpa disadari? Itu juga berefek pada sosok di sebelah. Tiba-tiba dia menginjak pedal rem. Menghentikan laju kendaraan secara mendadak.
"Del .... " Perlahan aku memanggil gadis itu. "Aku ... aku ... aku tak bermaksud .... "
Della memejamkan mata tanpa menoleh sedikit pun padaku. Dia menarik napas sesaat. Meratakan posisi punggung dengan sandaran jok kendaraan.
"Del .... " panggilku kembali. Menatap gadis itu yang masih terdiam. Menakutkan. "Kamu marah sama aku, Del? Maafkan aku, ya. Tadi ndak bermaksud--"
"Ngapain gue harus marah sama elu, Cuy?" Tiba-tiba Della menyahut.
"Tapi ... tadi kamu ngerem mendadak begitu ... maksudnya apa?" Aku penasaran. "Karena omonganku tadi, kan?"
Della menoleh. Perlahan seringai di bibirnya menyeruak lebar. "Omongan apaan, sih? Tadi elu gak lihat apa, gue hampir aja nabrak kucing, Lya!"
"Kucing? Mana?" Aku melihat-lihat ke arah depan kendaraan. "Sebentar ... aku turun dulu. Mau lihat-lihat."
"Gak usah! Kucingnya selamat dan kabur ke arah sana!" seru Della memekakkan telinga. Gendang teligaku sampai berdenging. "Lagian elu ngobrol mulu, sih! Gak lihat apa gue lagi bawa mobil, Cuy!"
Aku menjauh sedikit. Suara cempreng gadis itu benar-benar membuat sakit gendang telinga. "Oh, begitu, ya? Maaf."
Della tertawa keras. Aku sampai menutup kuping rapat-rapat dengan jemari. Benar-benar tak bisa mengontrol volume, nih, anak. Apa tidak bisa bicara lemah lembut, atau setidaknya bersikaplah sebagaimana umumnya perempuan biasa. Pantas saja selama ini tak ada yang bertahan lama dekat dengan dia. Bahkan termasuk Andre sekalipun.
"Yakin bukan karena omonganku tadi, kan, Del?" Aku masih penasaran. "Kagaklah! Emang tadi elu ngomong apaan, sih?" tanya Della kemudian.
"Ya, ampun ... Della. Jadi kamu ndak dengerin aku ngomong apa dari tadi?"
Gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Ditanya malah ketawa lagi kamu, ah." Aku merengut. "Ya, udah. Kenapa masih belum jalan juga? Kita bakal kesiangan, Della."
Della menoleh. Menatapku aneh. "Jalan? Jalan ke mana?"
__ADS_1
"Ke kampuslah, Del. Emang ke mana lagi?"
...BERSAMBUNG ...