BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 45


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 45...


...------- o0o -------...


Seperti biasa, pagi-pagi aku sudah bangun. Mandi, rapi-rapi kamar, menyiapkan sarapan, serta tak lupa membuatkan secangkir kopi untuk Om Bram. Awal yang indah dengan semangat menggebu-gebu. Ini mungkin efek kemarin. Apalagi, kalau bukan urusan cinta.


"Terima kasih, Sayang," ucap Om Bram begitu kusuguhkan kopi panas ke hadapannya. Kujawab dengan senyum."Della mana? Tumben pagi ini belum turun?"


"Ada, Om, di kamarnya." Kududuk berhadapan dengan laki-laki itu. Wajah klimis dengan brewok yang dibabat habis. Tak nampak usia sebenarnya. Masih terlihat muda dan gagah. Tentunya cocok sekali jika bersanding denganku.


"Ada apa?" tanya Om Bram begitu mendapatiku tengah asyik memandangnya. Seketika aku tersipu. "Ndak ada apa-apa, Om. Suka saja melihat-lihat Om," jawabku kembali, seraya mencomot roti panggang di piring. Tak lupa mengoleskan sedikit selai rasa stroberi.


Sesekali mata ini balik mencuri-curi pandang. Menikmati sosok yang tengah asyik mengunyah makanan.


"Pagi ini, aku berangkat lebih awal. Ada pekerjaan yang harus segera dituntaskan. Siangnya, meeting dengan beberapa kepala bidang," tutur Om Bram. Usai menyeruput kopi, lanjut berkata, "Kalo Della keluar kamar nanti, sampein, mungkin aku akan pulang agak malam. Skedul hari ini, benar-benar padat."


'Hhmmm, pulang malam? Jadwal padat? Apa bukan karena hendak kencan dengan si Cassandra?' pikirku curiga. 'Apalagi hari pernikahan mereka sudah di ambang pintu. Pasti sudah indehoy (bersenang-senang) terlebih dahulu.'


Terus terang saja, aku belum sepenuhnya percaya dengan omongan laki-laki ini. Dia pernah berumah tangga, dan setidaknya pasti gape (pandai) berbual. Jenis manusia seperti ini memang panjang akal untuk menutupi rahasia, dengan berbagai alasan logis, tapi dusta.


"Hari ini, kalian kuliah, 'kan?" sambung tanya Om Bram seraya bangkit dan merapikan kemejanya. Ingin sekali kubantu, tapi khawatir tiba-tiba Della muncul. Urusan bisa kembali runyam. Apalagi gadis itu tampaknya sudah mencium gelagat tak beres pada sikap kami. Aku dan Om Bram.


Aku mengangguk, menjawab pertanyaan laki-laki itu tadi.


"Kopinya ndak dihabiskan, Om?" Aku melihat sisa setengah, isi gelas bekas Om Bram minum kopi. Dia tersenyum, lalu menjawab, "Sengaja kusisakan untukmu, Sayang. Agar bibirku dan bibirmu bertemu di tepian gelas kopi kita."


Aih, pagi-pagi sudah menggombal. Dasar Om Bram! Akibatnya sudah bisa ditebak. Rona merah segera menjalar menghinggapi seluruh kulit wajah ini.


"Alya pikir, Om sudah bosan minum kopi buatan Alya," kataku dengan debar jantung mulai menggedor seisi dada. "Semoga Om ndak pernah disuguhi kopi campur sitrun, ya."


Om Bram mengekeh geli. "Bisa saja kamu, Cantik," sahutnya. Kali ini disertai ciuman di keningku. "Aku berangkat dulu, ya, Sayang."


"Hati-hati di jalan, Om."


Baru beberapa langkah, dia berhenti. Berbalik badan, lalu berkata, "Satu hal .... " Melihat-lihat sekeliling, terutama lantai atas. " ... kalau sedang berdua seperti ini, jangan panggil aku 'Om', ya. Aku dan kamu saja, biar lebih enak. Atau ... kamu panggil namaku juga, gak masalah."


"Alya malah ingin manggil Om 'Kakanda'," balasku bergurau.


"Jangan! Nanti cerita ini dikira bertema kerajaan, Sayang." Om Bram terkekeh lucu. "Terakhir, ada salam buat kamu."

__ADS_1


Om Bram mengerling. "Dari Mbak Aryanti. Beliau gemas dan ingin menggetok kamu, katanya."


Aku tertawa renyah. "Bisa saja Om ini."


"Ya, sudah. Aku berangkat dulu, ya."


Aku mengikutinya hingga depan rumah. Melambaikan tangan begitu Om Bram mulai meninggalkan pekarangan rumah.


Hhmmm, begini mungkin rasanya berumah tangga? Pagi-pagi melayani suami, mengantarnya pergi kerja, kemudian menanti kepulangan kembali. Lalu malamnya ... ah, itu kalau rumah tangga yang normal. Seandainya kepergian dia untuk berbagi dengan istri lain, bagaimana? Cassandra, misalkan. Tentu bukan bahagia yang akan dirasakan, tapi cemburu dan berharap suami tak pernah datang lagi ke rumah maduku.


Ya, ampun! Mengapa sampai sejauh itu berpikir? Belum tentu juga Om Bram mau menikahiku. Bukankah masih ada Della yang menjadi kendala?


Della?


Ya, Tuhan! Aku harus segera membangunkan gadis itu. Setengah berlari menuju kamarnya. lalu mengetuk pintu.


TOK! TOK! TOK!


"Del .... " panggilku.


Hening.


"Del, bangun. Udah pagi, nih."


Kuputar knop pintu kamar, mendorong, lalu perlahan masuk. Della masih terbaring di tempat tidur. "Del, bangun. Hari ini ada kuliah, lho."


Della bergerak sebentar. Menarik selimut yang melorot, menutupi sekujur tubuhnya.


"Del, kamu sudah bangun, 'kan?"


"Hhmmm."


"Del?"


"Apaan, sih?"


"Bangun."


Dia tak menjawab. Kutarik selimutnya.


"Apaan, sih, lu?" tanyanya lirih.


"Bangun! Sudah aku bikinin sarapan tuh."


Della menggeliat sebentar. "Gue gak kuliah dulu, deh, Cuy."

__ADS_1


"Lho, mengapa?" Aku heran. Tak seperti biasanya.


Della membalikkan tubuh. "Gue gak enak badan."


"Kamu sakit?"


"Cuma gak enak badan saja. Gue pengen tiduran."


Kuraba dahinya. Hangat. "Kamu demam? Kita berobat, yuk. Biarin, deh, aku hari ini ndak kuliah juga."


Della menggeleng. "Jangan. Elu pergi aja sana. Biarin gue istirahat dulu." Wajahnya agak pucat. Benar, dia memang sakit.


"Minum obat, ya. Aku ambilin dulu. Sekalian bawain sarapan."


Della mengangguk.


Kasihan sekali. Calon anak tiriku itu ... eh, anak tiri? Ah, kesampingkan dulu pikiran itu. Aku harus segera membawakannya obat dan sarapan.


Tak berapa lama, aku kembali menghampirinya. "Makan dulu. Habis itu minum obat."


"Gue gak nafsu makan, Cuy," ujarnya menolak roti bakar yang kusodorkan.


"Makan dulu sebelum minum obat. Biarin cuma segigit juga," pintaku memaksa. Akhirnya dia mau menuruti, walaupun hanya satu kali suapan. "Sekarang, minum obatnya, ya."


Della bangkit. Duduk berselonjor di atas tempat tidur. Lalu meminum obat yang kuberikan.


"Mungkin kamu kecapekan, Del. Beberapa hari ini sibuk melulu, sih," omelku. Della tersenyum hambar. "Makasih, ya, Cuy," sahutnya kemudian. "Elu kalo mau berangkat, pergi saja. Gue gak kuliah dulu hari ini."


"Mendingan kamu berobat, Del. Aku antar, ya."


"Gak usah. Gue cuma pengen istirahat. Entar juga abis minum obat, sembuh sendiri."


"Beneran, nih, aku tinggal, ndak apa-apa?"


"Pergi aja sana," jawab Della sambil kembali berbaring. "Papah udah bangun?"


"Om Bram sudah berangkat barusan. Cuma titip pesan buat kamu, pulangnya agak malam. Ada urusan pekerjaan," kataku menirukan ucapan Om Bram tadi. "Nanti aku panggilkan Bi Mamas, ya, buat nemenin kamu."


Della tak menjawab. Dia kembali memejamkan mata. Tidur.


'Kamu kecapekan ngurusin pernikahan Om Bram, Del. Mengapa ndak minta bantuanku saja, sih? Walaupun ndak rela, aku juga ingin turut menyambut calon maduku itu, lho, Del,' kataku dalam hati.


Setelah menyelimuti sekujur tubuh Della, aku bergegas keluar kamar. Tak lupa mengirimkan pesan singkat pada Bi Mamas untuk segera datang ke rumah.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2