BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 17


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 17...


...------- o0o -------...


Kami segera menyudahi obrolan. Tak ada yang bisa disimpulkan. Terkecuali menyisakan beberapa pertanyaan; Della sedang curhat ataukah berusaha menyelamiku. Jangan-jangan dia curiga kalau selama ini aku menyukai papahnya? Bahaya! Ini hal yang perlu dihindari.


Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Untunglah suaranya sudah di-silent. Della tak memperhatikan saat kubuka balon pemberitahuan tersebut. Dari Andre.


[Alya, kamu punya waktu sebentar gak? Aku ingin bicara langsung dengan kamu. Please, jawab ya.]


Della masih berjalan perlahan di depan. Lalu kubalas pesan itu secepat mungkin.


[Emangnya ada perlu apa sih, Dre? Aku lagi sama Della nih.]


[Sebentar saja, Lya. Please.]


Aku berpikir sesaat sebelum memutuskan untuk kembali membalas.


[Oke. Di mana?]


[Ruang perpus sekarang.]


[Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya? Takut Della curiga.]


[Oke. Aku tunggu sekarang, Lya.]


[Iya.]


Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, kucolek lengan Della. “Del, kamu duluan, ya.”


“Mau ke mana lu?” tanya Della heran.


“Ke toilet. Nanti aku nyusul ke kelas, deh.”

__ADS_1


“Ya, udah sana.”


“Oke, Del.”


Sial! Kembali aku harus membohongi sahabatku itu. Lagi-lagi karena alasan terpaksa.


Andre sudah ada di ruang perpustakaan begitu kumasuk. Laki-laki itu tersenyum senang. “Terima kasih, ya, kamu udah nyempetin buat datang,” ujar Andre begitu kami berhadapan.


“Tapi jangan lama-lama, ya, Ndre. Soalnya ada kelas, nih. Asdosnya sudah datang,” timpalku seraya duduk di kursi. “Ada apa, sih?”


“Tenang aja. Asdosnya belum datang, kok.” Andre menyeringai.


“Maksudmu?”


“Tadi aku nyuruh temenku mengirim pesan buat Della, kalo asdosnya sudah datang.”


“Tega amat, sih, kamu, Ndre!” Aku jadi khawatir Della akan mencari. Lalu menemukan kami sedang duduk berdua di dalam ruang perpustakaan. “Cepetan, deh. Ada perlu apa, sih?”


“Oke, sebentar .... “ Andre menarik napas. “Kamu ingat, kan, percakapan kita beberapa pekan lalu di taman kampus itu. Waktu kamu lagi nungguin Della yang katanya sedang menghadap dosen?” Aku mengangguk. Sudah mulai bisa menebak, obrolan apalagi yang akan hadir sesaat lagi. “Maaf aku, Lya. Aku hanya ingin memastikan jawaban kamu. Aku sudah berusaha bertahan dan sabar. Sampai akhirnya hari ini, aku harus bisa segera mendapatkan kepastian dari kamu. Bagaimana, Lya?”


Mendadak lidahku kelu. Rasanya sulit sekali digerakan. Entah harus bicara apa. Beberapa lamanya hanya mampu terdiam seraya mengatur tarikan napas yang sedikit sesak.


Aku mengangkat wajah. Memperhatikan bola mata laki-laki itu yang berwarna kehijauan. Kulit muka putih layaknya orang-orang Erofa sana. Klimis tanpa menyisakan bulu-bulu tipis sebagaimana halnya ... Om Bram.


Ya, Tuhan! Di saat seperti ini, mengapa justru laki-laki flamboyan itu yang hadir. Aku harus tetap fokus dan mengontrol indera. Bagaimanapun juga sosok yang sedang ada di depan itu bukan Om Bram. Dia Andre. Pemuda pecicilan yang tengah menantikan jawaban.


“Kamu serius ingin dekat denganku, Ndre?” tanyaku akhirnya dengan sekuat tenaga keluar dari mulut. “Tentu saja, Lya. Aku gak lagi bercanda. Ini masalah hati. Bukan untuk dipermainkan,” jawab Andre meyakinkan.


“Kamu siap dengan segala kemungkinan yang ada, jika menemukan sesuatu yang ndak kamu harapkan kelak dalam diriku?” Terus terang aku agak ragu berkata. “Tentu saja aku siap, Lya. Aku memang menyukai kamu,” tukas Andre kembali.


Aku menunduk. Rasanya tak kuasa memandang gerak mata laki-laki itu begitu tajam menusuk. Besar sekali harapan dia agar aku berkenan memenuhi asanya. “Aku bukan orang yang tepat kau jadikan seseorang untuk mempersiapkan masa depanmu nanti, Ndre. Banyak kekurangan yang kumiliki.”


“Aku tak peduli itu, Lya. Aku mencintai kamu dan aku siap untuk menerima semua yang ada padamu. Bahkan, seandainya kamu tak memiliki rasa yang sama sekalipun.”


“Maksudmu?”


“Kamu tak perlu mencintaiku, Lya. Cukup aku saja yang akan mencintaimu! Bagiku itu sudah cukup.”


Gila! Benar-benar ‘bucin’ laki-laki ini. Bahkan dia rela menghambakan diri padaku demi sebuah ambisi pribadinya. Sama seperti yang kurasakan pada lelaki lain. Om Bram. Dia lagi!

__ADS_1


“Selama ini aku benar-benar tak bisa melupakan kamu, Lya. Aku tersiksa sebelum mengetahui jawaban kamu,” ujar Andre menekankan. “ ... atau kamu takut Della tahu tentang kita?”


Aku menggeleng. Bukan hanya itu saja.


“Kalau kamu mau, kita bisa pindah kuliah dari sini. Ke negara asal keluarga besarku di Inggris. Biar kamu tak bisa didominasi oleh temanmu itu. Kita menikah dan kuliah di sana, Lya. Bagaimana?”


Sungguh gila sekali pemikiran laki-laki ini. Dia pikir aku akan tergiur dengan semua tawarannya? Ah, Andre. Sesempit itukah caramu menilai kaum perempuan? Cara berpikir kami tidak sesederhana itu. Semua harus terencana dengan matang dan jelas. Itu pun tidak bisa dijadikan acuan untuk mengambil kesimpulan. Dalam beberapa waktu kemudian, semua bisa berubah dalam sekejap. Karena jalan kami berpikir seringkali berdasar suasana hati.


Mengingat kembali obrolanku dengan Della beberapa saat yang lalu, rasanya untuk menggenapi mimpi agar bisa bersama dengan Om Bram, sangat beresiko. Tak ingin melukai gadis itu, dengan konsekuensi kehilangan kesempatan lain yang diidamkan. Dilematis.


Sekarang di depanku ada seseorang yang menawarkan romansa sejenis. Tentu saja akan berbeda cita rasa. Itu karena hatiku tertuju pada sosok lain ....


Aku mengangguk perlahan.


“Kamu menerima aku, Lya?” tanya Andre tak percaya. Hentakan suaranya begitu kentara. Antara bahagia dan gamang. “Ya, Tuhan! Benarkah ini, Tuhan?” seru Andre berulangkali. Dia menatapku diiringi senyum sumringah. “Kamu mau .... “


“Cuy!”


Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Tak jauh dari tempat kami berada saat ini. Serempak aku dan Andre menoleh ke arah asal suara tadi datang.


“Della?”


Gadis itu berdiri mematung dengan tangan terlipat di dada. Menatap kami dengan sorot tajam.


...------- o0o -------...


Aku buru-buru bangkit dari duduk. Lalu memburu sosok Della yang menatap tajam. “Maafin aku, Del. Ini ndak seperti yang kamu lihat. Aku .... “


“Jelasin apa?” tanya Della dingin. “Gak sengaja ketemu Andre di toilet, terus dia maksa elu buat ngobrol ngumpet-ngumpet dari gue di sini. Begitu?”


Kusentuh bahu gadis itu. “Aku cuma bicara sebentar saja, kok, Del. Aku penasaran dan mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Itu saja.”


“Lalu? Dia ngomong apa sama elu?” Della tersenyum hambar di antara tatapan yang seakan hendak mengulitiku.


Aku melirik sejenak ke arah Andre. Laki-laki itu masih tetap berada di tempatnya semula. Mematung sambil memperhatikan kami.


“Ndak, kok. Ndak ada omongan apa pun. Kami .... “


“Elu berduaan lama di ruang ini. Saling berhadapan begitu tanpa ngapa-ngapain?” Della tertawa kering. Lucu ataukah sengaja ingin mentertawakanku? Entahlah. “What’s going on here, Alya? Just tell me now.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2