
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 77...
...------- o0o -------...
Hhmmm, sedari awal mengikuti aktivitas kampus, sulit sekali otak ini diajak kerjasama. Aku tidak bisa konsentrasi penuh. Selalu saja teringat pada percakapan dengan Andre tadi pagi. Ungkapan kisahnya senantiasa terngiang-ngiang di ruang dengar ini. Nyatakah itu? Apa benar yang laki-laki itu sampaikan? Bukan sebuah kebohongan kembali? Kok, berbeda sekali dengan yang pernah aku dengar dari BI Mamas sebelumnya.
Kutoleh bangku kosong yang biasa diduduki oleh Della. Gadis itu masih harus beristirahat di rumah. Entah sampai kapan. Mungkin butuh hingga berhari-hari kedepan. Lantas dengan pelarianku ini, apakah justru akan menambah beban pikiran dia? Mengganggu kesehatannya?
Aku mendecak beberapa kali. Sampai-sampai sosok Andre yang duduk tidak seberapa jauh dariku itu, melirik-lirik. Aku tahu, karena kelakuan laki-laki berparas campuran bula tersebut tertangkap mata sedang mencuri-curi pandang.
Dia tersenyum sembari mengusap-usap bibir sendiri.
'Dih ....' Aku menyeringai kecut. 'Apaan, sih?'
Namun tiba-tiba saja teringat pada apa yang telah kulakukan pada lelaki itu tadi pagi di ruang aula kampus. Sebuah kebodohan atau kekonyolan yang ---seharusnya--- tidak bisa kutoleransi. Kok, sampai bisa dengan mudah mencium Andre, sih? Sumpah, waktu itu aku mendadak teringat Om Bram. Merasa berdosa karena telah menduga hal yang tidak-tidak. Nyatanya menurut cerita Andre, justru Om Bram itu sangat baik. Mungkinkah dia perwujudan dari sosok malaikat yang tengah menyamar ke bumi?
"Lya ...." Sebuah panggilan menyapaku dari samping. Kutengok, ternyata Andre.
"Apa?" tanyaku lesu seraya kembali memandang ke depan kelas, di antara riuh para siswa-siswi yang berhamburan hendak keluar ruangan ini.
Andre menarik sebuah kursi dan mendekatkannya persis di depanku. "Sekarang, mau pulang ke kontrakan lagi atau ke rumah Om Bram?" tanya dengan mimik serius.
Duh, bagaimana, ya? Aku sama sekali belum berencana untuk kembali ke rumah Om Bram. Walaupun memang ingin, tapi hati ini sudah terlanjur malu. Pergi tidak diantar, pulang tidak dijemput. Sepintas aku jadi mirip sosok bernama jelangkung.
"Ndak tahu, Ndre. Aku sendiri bingung," jawabku ambigu.
"Bingung kenapa?" tanya kembali lelaki bule tersebut. "Della mengharapkan kamu kembali loh, Lya."
__ADS_1
Aku meliriknya sesaat. Aku tahu dan itu sudah pasti.
"Om Bram juga?" tanyaku ingin mengetahui bagaimana sikap laki-laki berbulu dada itu atas pelarianku.
Raut wajah Andre langsung berubah. Dingin dan datar. Sepertinya tidak menginginkan aku menyebut-nyebut namanya. Cemburu? Buat apa? Toh, aku dan Andre tidak memiliki hubungan apa pun.
"Ya. Om Bram juga," jawab Andre akhirnya. Tetap dengan bias wajah yang sama seperti sebelumnya. "Ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku sampein sama kamu, Lya," imbuh laki-laki tersebut kembali berkata.
"Tentang apa?" Aku sedikit menebak-nebak. Jangan-jangan tentang kejadian tadi pagi? Ah, sialan! Semoga saja sih, tidak. "Ada pesan yang dititip Della dan Om Bram buatku, Ndre?"
Andre menggeleng, lantas menjawab, "Gak ada. Mereka cuma nanyain, ke mana kamu pergi dan kenapa? Hanya itu."
"Ooohhh, terus?" Aku makin penasaran.
"Ini tentang Della, Lya," ujar Andre terdengar lirih.
"Tentang Della?" Aku mengulang ucapan lelaki tersebut. "Ada apa dengan Della? Dia sudah sembuh, 'kan?"
Andre mendengkus. Gusar? Entahlah. Namun sepertinya tengah memendam sebuah perasaan atau pikiran berat. Tentang Della juga?
Ah, aku semakin merasa malu sekarang. Seharusnya kepergian ini kutunda sampai Della benar-benar sehat. Bukan malah kabur di saat-saat dia hendak pulang dari rumah sakit.
"Kalopun ini yang terakhir buatnya, itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri buat Della, Lya."
Terakhir? Maksudnya apa, sih? Kok, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ucapan Della tersebut.
"Mau ya, Lya? Kamu mau ya nemuin Della, please," ujar Andre mengiba. "Mereka belum tahu, kalo kamu belum benar-benar pergi dari Jakarta, Lya. Della dan Om Bram mengira, kamu sudah pulang ke Jawa. Tapi ... syukurnya, aku masih bisa menemukanmu di kontrakan lamamu itu."
Hhmmm, kupikir tidak ada salahnya jika aku memenuhi keinginan Della. Namun, jangan sampai untuk yang terakhir kalinya, dong. Aku yakin, gadis itu sudah pulih sebagaimana sediakala. Buktinya, terakhir kali mengunjungi Della di rumah sakit bersama Om Bram, dia sudah terlihat bugar, kok.
"Tapi aku belum bilang apa-apa sama Mbak Darmi, Ndre," kataku hanya beralasan. Sebenarnya agak setengah hati jika harus kembali datang ke rumah Om Bram. Malu. Rasa itulah yang kini menekan.
"Ya, sudah .... kalo 'gitu, sekarang kita ke kontrakanmu dulu. Terus, langsung ke rumah Om Bram, ya?" rayu Andre. "Atau ... kalo kamu mau, Mbak-mu itu ajak aja sekalian ke sana. Bagaimana, Lya? Mau, ya?"
__ADS_1
Akhirnya, karena terus-terusan didesak, aku pun mengangguk pelan.
"Aahhh ... puji Tuhan! Akhirnya kamu mau juga," ujar Andre terlihat senang.
Namun yang lebih membuatku senang adalah lelaki tersebut tidak membahas kejadian tadi pagi itu. Apakah dia pun menganggap bahwa apa yang telah kulakukan itu, hanya sebatas reaksi spontan belaka? Mudah-mudahan sih, iya.
Kemudian kami pun segera meninggalkan ruang kelas, bergegas menuju area parkiran kendaraan yang berada di samping gedung kampus.
Keadaan di sana sudah mulai tampak lengang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang tengah duduk-duduk atau sekadar mengobrol dengan sekumpulan teman-temannya.
Andre membantuku mengenakan helmet sebelum kami pergi menaiki kendaraan bermotor milik lelaki tersebut. Lantas tidak berapa lama, segera melaju meninggalkan pelataran parkir.
Cuaca ekstrim di kota Jakarta siang itu benar-benar tengah membara. Ditambah dengan kemacetan yang ada, serasa memanggang tubuh kami di tengah-tengah perjalanan. Aku tidak peduli dan tidak ingin menambah beban pikiran ini. Hanya satu yang kuharap, tidak ada lagi bucin-bucinan terhadap lelaki berwajah berewok itu mulai sekarang. Aku harus menahan diri dan memegang teguh prinsip hati, lupakan Om Bram dan fokus dengan meminta maaf kepada mereka berdua. Untuk selanjutnya, mungkin akan tetap kembali tinggal di rumah kontrakan hingga usai kuliah nanti. Pokoknya, aku tidak boleh bersama-sama keluarga itu. Titik!
Eh, tapi ... kalau situasi nanti berubah, bagaimana? Misalnya ... duh, kok aku jadi mikir yang tidak-tidak, ya?
Sialan! Ini pasti gara-gara lelaki berbulu itu!
Ternyata suka atau tidak suka, aku masih belum bisa melupakan sepenuhnya sosok Om Bram. Aku masih mencintai dia dan berharap ....
"Lya," panggil Andre mengejutkan.
Aku terperanjat dan langsung tersadar bahwa perjalanan kami telah tiba. Namun yang sangat mengagetkan adalah posisi tanganku saat membonceng di belakang Andre.
Gila! Aku langsung melepaskan pelukan erat ini dari punggungnya.
"Eh, maaf," kataku jadi serba salah kini, disambut senyuman lelaki berparas bule tersebut.
"Kita sudah sampai, Lya," katanya berimbuh.
"Gue tahu!" balasku ketus dan langsung turun dari badan kendaraan bermotor tanpa bernafsu untuk menoleh sedikitpun pada sosok Andre.
Huh!
__ADS_1
...BERSAMBUNG...