BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 22


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 22...


...------- o0o -------...


Tubuh ini tiba-tiba serasa bergetar hebat. Langkah kaki panjang itu kian mendekat. Ketuk sepatunya beradu dengan lantai seakan mewakili degup jantungku yang semakin menguat. Dia mengayunkan kedua lengan. Bersiap melahap setiap inci tubuh ini jatuh ke dalam pelukan hangat. Sampai kemudian ....


“Selamat datang di kantor saya, Lya,” kata Om Bram sambil mendekapku sepersekian detik. Kecupnya pun turut mendarat dengan lembut menyentuh kening ini. Suara bibirnya membahana beradu dengan indah di permukaan kulitku.


Aku tak bisa bergerak. Diam mematung dengan tubuh kaku. Aliran darah dalam tubuh ini tiba-tiba terasa membeku.


Ya, Tuhan! Aku ingin keadaan ini berlangsung lebih lama lagi. Berilah secercah keindahan walaupun hanya sekali ini saja terjadi. Dari dia. Laki-laki itu. Dalam dekapannya.


“Lya .... “ panggil Om Bram lembut.


“Hah?” Aku terpana mendapati wajahnya cuma beberapa senti meter dariku. Tentu saja harus mendongak lebih agar bisa beradu tatap dengan mata indah kecoklatan itu.


“Ayo, duduk dulu,” kata Om Bram kemudian.


“Hah?”


“Duduk dulu, Lya.” Om Bram mengulangi.


Aku tak sanggup bergerak. Kaki ini seperti terpaku menyatu dengan lantai ruangan. Bahkan hampir saja jatuh sempoyongan jika tak segera direngkuh oleh tangan kekar berbulu halus itu.


“Kamu kenapa, Lya?” tanya Om Bram heran.

__ADS_1


“Rasanya ... aku sedang sekarat, Om,” jawabku setelah menelan sisa liur yang tiba-tiba mengering.


Della ikut menghampiri. “Elu kenapa, sih, Lya? Tadi sehat-sehat aja? Elu sakit?” tanya gadis itu membantu memapah berjalan, lalu mendudukkanku di kursi. Tangannya berayun hendak memeriksa kening, tapi cepat-cepat kutolak, “Jangan!”


“Kenapa?” Della makin heran. “Ndak apa-apa. Aku ndak apa-apa, kok. Sehat dan baik-baik saja,” jawabku berusaha kuat dan terlihat segar. Padahal maksudnya agar kening bekas ciuman Om Bram tadi jangan sampai tersentuh tangan lain. Bila perlu hari ini tak perlu mandi.


Gila! Tak sewaras itukah aku? Tapi sungguh. Jujur saja. Aku sedang menikmati sensasi aroma bibir laki-laki itu mendarat sempurna di kulit wajah ini.


Om Bram hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng melihat sikapku. “Kalian mau minum apa? Atau ... belum makan siang?” Dia menawari kami.


“Makasih, Om. Alya sudah kenyang,” jawabku dengan mata terpejam. Membayangkan kembali adegan tak disangka tadi. Ingin sekali rasanya mengulang dan terus mengulang sampai akhirnya aku yakin, kali ini bukanlah lamunan maupun impian.


“Kenyang apaan, sih, Cuy? Dari kampus tadi kita belum makan apa-apa, kok,” protes Della heran.


‘Maksudku, pelukan papahmu tadi itu sudah cukup membuatku kenyang, Della. Haduh, masa segitu saja ndak paham, sih, Non?’ gumamku dalam hati dengan mata masih terpejam. Reka adegan tadi masih rajin ku-replay dalam memori kepala. Sampai tak sadar tersenyum sendiri dengan indah.


“Ya, sudah kalo begitu. Papah pesan makanan dulu, ya.” Om Bram berjalan menuju meja kerjanya. Lalu menghubungi seseorang melalui pesawat telepon kantor.


“Cuy!” seru Della setengah berbisik di dekat telingaku. “Apa?” Aku membuka mata. Mendapati gadis itu tengah memperhatikan dengan sorot tajam matanya. “Elu kenapa, sih?” tanya dia kemudian. “Kenapa apanya? Aku ndak apa-apa, kok, Del,” jawabku bingung.


“Ya, ampun, Del. Aku sehat, kok. Memangnya ada yang aneh, ya, sama aku?” Hampir saja kuraba wajah ini, namun urung dilakukan. Ada bekas spesial yang tak akan diganggu gugat di sana. Uh, mudah-mudahan tak akan lupa.


“Ya, anehlah. Elu cengangas-cengenges sendirian. Itu maksudnya apaan coba?”


“Kapan?”


“Au, ah!” Della cemberut.


“Maksudnya barusan atau kapan, sih?” Benar-benar bingung dengan sikap Della ini. Padahal aku tak pernah merasa melakukan hal apa pun seperti yang dia sangkakan. “Kamu kalo ngomong yang bener, dong, Del. Yang jelas gitu. Jadi aku bisa jawab bener dan jelas juga.”


Mata Della makin membelalak dan galak. “Elu kalo gue siram pake saos cabe kayaknya enak, deh, Cuy. Krispy gimana gitu. Gemes gue pengen ngunyah-ngunyah elu.”

__ADS_1


PLAK!


Bahu Della menjadi sasaran empuk tepukanku. “Kamu itu kalau ngomong, kok, sembarangan saja. Memangnya aku lobster?”


“Sakit, Lya!” ringis Della sambil mengusap-usap lengannya. “Ups, sorry, Del. Kelepasan. Hihihi,” jawabku tak bisa menahan tawa melihat reaksi gadis itu.


Om Bram kembali dari meja kerja. Duduk berhadapan memandang kami satu per satu. “Ada apa? Kalian dari dari ketawa-ketawa terus? Ada yang lucu di sini?” tanya laki-laki itu dengan senyum khasnya.


Seketika tawaku langsung berhenti. Sesaat memandang wajah Om Bram dan langsung menunduk. Khawatir saling beradu tatap. Tapi sempat memperhatikan bulu-bulu halus di wajah itu. Tadi sempat menggelitik dan hampir membuatku jatuh pingsan.


“Biasa, Pah. Si Alya tuh,” jawab Della merengut manja. “Kok, jadi aku, sih?” Kusikut lengan gadis itu. “Ya, jelaslah kamu, Cuy. Tiap kali deket sama Papah, pasti, deh, kelakuan kamu aneh,” timpal Della. Kembali kusikut lengannya. Kali ini dia berhasil menghindar.


Om Bram terkekeh. “Papah senang kalian terlihat akrab dan rukun. Semoga hubungan persaudaraan kalian berdua tetap terikat dengan kuat selamanya, ya, Sayang-sayang Papah.”


Hubungan persaudaraan? Aku dan Della? Jadi selama ini benar adanya kalau Om Bram menganggapku sebagai anak angkat? Kok, begitu? Jangan sebagai anak, dong, Om! Please. Angkat aku sebagai selain dari itu atau apalah.


“O, iya, Lya .... “ sahut Om Bram beberapa saat kemudian. “Saya minta maaf telah mengambil foto kamu buat di simpan di ruangan kerja saya. Karena saya pikir, toh, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Makanya saya berinisiatif untuk memajangnya. Tak apa, kan, Lya?”


Ya, Tuhan! Kerongkonganku serasa tercekat. Aku sudah dianggap sebagai keluarga Om Bram. Menjadi anak angkatnya. Apakah tak ada kesempatan lain untuk menjadi lebih daripada sekedar seorang anak, Om?


“Lya .... “ panggil Om Bram.


“Eh, iya, Om. Ndak apa-apa, kok,” jawabku akhirnya. “Aku malah seneng punya keluarga baru di sini.”


“Beneran elu seneng, Cuy?” tanya Della menyela. “Iyalah, aku seneng banget. Memang seharusnya bagaimana?” Aku menoleh menatap gadis itu.


“Gak berharap menjadi yang lain, mungkin?”


“Maksud kamu?” Aku tertegun. Jangan-jangan dia tahu kalau aku berharap ....


“Elu jadi kakak gue, misalkan. Secara, kan, umur elu lebih tua ketimbang gue. Cuma beda beberapa bulan,” ujar Della diiringi gelaknya seperti biasa.

__ADS_1


Sialan! Dia paling bisa, deh, membuatku jantungan. Khawatir sekali Della akan berkata yang bukan-bukan. Hafal banget, mulut dia itu ‘ngember’.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2