
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 59...
...------- o0o -------...
Astaga!
Baru sadar juga. Entah sudah berapa kali aku mengulang-ulang mencuci tangan. Padahal, niat sebelumnya mau buang air kecil.
"Ya, ampun! Sampai lupa, Mbak. Maaf," ujarku langsung menutup aliran air.
Kali ini tawa Siska pecah tak tertahankan. "Haha. Elu itu lucu juga, Alya. Hahaha," katanya seraya hendak berlalu. "Thanks, ya. Gue seneng kenal sama elu. Benar-benar menghibur. Hahaha."
Aku tersenyum malu. "Hehe. Ndak apa-apa, Mbak. Aku juga senang bisa berkenalan dengan Mbak Siska."
"Ya, udah. Gue cabut dulu, ya," kata Siska berpamitan. "Awas, jangan boros air. Hahaha."
Siska melangkah ke luar toilet. Namun, sebentar kemudian dia kembali.
"Ada apalagi, Mbak?" tanyaku heran. "Keran airnya sudah aku tutup. Gak boros air, 'kan?"
Siska mengibaskan tangan. "Ih, bukan itu. Gue cuma mau ngasih tahu, cowok setengah bule itu masih setia nungguin elu."
"Andre?"
"Iyalah. Siapa lagi?"
"Biarin saja, deh, Mbak. Aku masih belum beres."
"O, gitu. Ya, udah." Siska menutup pintu toilet. Kemudian tak lama, terdengar suaranya di luar sana. "Heh! Cewek elu masih lama di dalem. Dia lagi sembelit. Elu diminta nyari obat sana. Cepetan."
"Serius?" Terdengar suara Andre bertanya.
"Iyalah. Cepetan sana!"
Kemudian hening.
Pasti keduanya sudah pergi. Aman. Kini aku bisa keluar dengan leluasa. Lalu langsung kabur dengan taksi yang kebetulan sedang nongkrong di depan gerbang kampus.
__ADS_1
"Ke mana, Mbak?" tanya sopir, begitu aku sudah berada di dalam kendaraan.
"Pusat perbelanjaan terdekat, Pak. Cepetan, ya," jawabku seraya memperhatikan area sekitar. Khawatir Andre keburu memergokiku.
"Siap, Mbak."
Untunglah hingga taksi ini menjauh, sosok lelaki itu tak tampak. Kini aku bisa sedikit tenang. Pergi sendiri tanpa dibuntuti siapa pun.
Tak sampai memakan waktu lama, laju kendaraan pun berhenti tepat di depan pintu parkir sebuah bangunan besar dan megah.
"Di sini, Mbak?" tanya sopir.
"Iya, Pak. Di sini saja," jawabku langsung memberikan selembar uang padanya. "Ambil saja kembaliannya, Pak."
"Wah, terima kasih, Mbak."
Aku tersenyum seraya menarik panel pintu. Lalu keluar dan melangkah cepat ke dalam bangunan. Mata ini langsung berputar-putar mencari toko tertentu. Harus buru-buru usai dan menjenguk Della di rumah sakit.
'Nah, itu dia!' gumamku begitu menemukan tempat yang dicari. Tak usah berlama-lama di sana. Kalau sudah mendapatkan barangnya, segera pergi lagi.
"Mbak Alya …. " Satu suara lembut mengejutkanku dari arah samping. Kutengok. Tampak seorang wanita cantik berdiri mematung di sana. Dia adalah ….
"Tante … eh, Bu Cassandra?"
Benar, dia memang Cassandra. Sekretaris kantor Om Bram. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini diselimuti rasa cemburu begitu melihatnya.
Eh, aku tak ingin menjawab dulu pertanyaannya. Tatapku tajam tertuju pada dua sosok mungil di samping Cassandra, serta seorang laki-laki bertubuh tegap mengapit erat.
"I-iya, Bu," jawabku perlahan.
"Sendiri?" Cassandra kembali bertanya.
"I-iya, Bu." Mata ini enggan berkedip memperhatikan ketiga sosok yang bersama Cassandra tersebut.
Seorang anak laki-laki berkulit agak gelap, tampak bergelayut manja sambil memegangi lengan Cassandra. Sementara, satu lagi anak perempuan manis, sebaya dengan anak di samping wanita cantik itu. Namun memiliki wajah yang mirip dengan laki-laki di sebelahnya.
"O, iya. Kenalkan, ini anak saya. Namanya Gabriel. Yang perempuan itu, Alisha. Lalu, ini … suami saya. Abraham." Cassandra memperkenalkan satu per satu sosok-sosok yang kuperhatikan tadi.
"Bram?" Kusebut nama itu. Sesuai dengan sebutan Cassandra akan calon suaminya waktu bertemu di kantor beberapa waktu lalu. "Eh, maaf. Maksudku … Pak Bram?"
Cassandra tersenyum. "Betul, Mbak. Ini sosok Pak Bram yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Masih ingat, 'kan?"
"Hallo, Alya. How do you do?" sapa laki-laki bernama Abraham tersebut seraya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Bram itu orang Rusia. Belum begitu paham bahasa Indonesia. Kami baru saja menikah beberapa minggu yang lalu," tutur Cassandra.
"Apa?" Aku terkejut mendengar cerita Cassandra barusan. "Eh, sorry. I'm fine, Mr. Bram. Thanks."
"Nice to see you, Alya," imbuh Abraham.
"Yes, so do I, Sir."
Kepalaku tiba-tiba pusing menyaksikan semua ini. Terlebih pada pasangan itu. Mengapa semua terjadi di luar dugaan sebelumnya.
"Ini anak Bu Cassandra itu, 'kan?" Aku berjongkok memandangi anak laki-laki yang dimaksud.
"Iya, betul. Gabriel memang anak saya, Mbak. Ayahnya berasal dari Nigeria," jawab Cassandra. "Hi, Gabriel. Say hello to Aunty Alya. Don't worry, she's a good person."
"Hi, Aunty!" Gabriel menuruti perintah Cassandra.
Aku tersenyum. Anak laki-laki itu begitu manis. Dengan rambut keriting dan kulit legam sebagaimana umumnya orang Nigeria sana.
"Hi, Gabriel. I'm so glad to meet you. And you too. Are you Alisha, right?" Kusapa juga gadis kecil di samping Abraham. "You're so beautiful."
"Thank you," balas Alisha diiringi tawanya yang menggemaskan.
Lalu aku berdiri menatap wajah Cassandra. "Jadi, yang Bu Cassandra maksud Pak Bram itu … Abraham?"
"Tentu. Siapa lagi, Mbak?" jawab wanita cantik itu sembari melempar senyum pada suaminya.
"Aku pikir … Bram … Bram …. "
"Pak Bram atasan saya?" Cassandra tertawa perlahan. "Surely not. Saya tak pernah berpikir tentang beliau, Mbak."
"Iyakah?" Kepala ini semakin 'cenat-cenut' dibuatnya. "Sedikit pun?"
Cassandra kembali tertawa. "He's only my work team. Nothin' at all. Even though … saya sudah resign dari kantor beberapa hari yang lalu. Karena, saya akan ikut menetap di Rusia bersama keluarga baru. Mengikuti Abraham, tentunya."
"O, ya?"
"Ya, begitulah."
Entahlah, niatku untuk berbelanja akhirnya jadi tak semangat. Seharusnya setelah mengetahui kebohongan Om Bram tentang pernikahannya dengan Cassandra, itu akan membuat peluangku lebih terbuka guna mendekati sosok laki-laki itu. Nyatanya, sekarang tidak. Sandiwara mereka terkuak jelas. Della juga turut berperan besar menciptakan skenario murahan ini. Bi Mamas? Entah dengan wanita tua mirip tokoh Ceu Edoh tersebut. Namun dari gelagatnya selama ini, jelas sekali dia juga banyak menyimpan rahasia besar tentang keluarga Om Bram.
Teringat kembali kata-kata Andre dulu, bahwa Om Bram hanya ingin memanfaatkan kehadiranku demi Della. Benarkah itu? Kini, tugasku makin bertambah. Berusaha memecahkan sendiri semua teka-teki yang ada.
Lalu tentang Andre. Apakah hal ini yang akan dia utarakan hari ini? Begitu ngototnya lelaki itu mengajakku untuk berbicara. Bodohnya, aku lebih fokus mengejar cinta buta ini pada laki-laki yang selalu berpura-pura mencintaiku dengan seuntai harapan palsu.
__ADS_1
Hhmmm, genderang perang telah ditabuh. Kini saatnya aku muncul di tengah mereka dengan sosok baru. Tunggu saja!
...BERSAMBUNG...