
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 39...
...------- o0o -------...
Andre memperhatikan sekeliling rumah. "Pak Bram dan Della sedang gak ada di rumah, 'kan?" Aku mengangguk. "Aku takut ada siluman di antara kita."
Kutepuk lengan anak muda itu. Dia mengutip obrolan kami waktu di dalam bioskop kemarin. "Bisa saja kamu, Ndre."
"Kan, kamu yang ngajarin."
Aku hanya tersenyum kecut.
"Ya, sudah. Aku pergi, ya, Lya," kata Andre sambil melangkah pergi. Kuperhatikan sosok yang mulai menjauh itu.
"Ndre!"
Andre berhenti. Membalik badan, lalu memandangku.
Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin menangis. Tak tahan lagi. Dari tadi begitu meledak-ledak rasanya.
"Alya .... " Andre berlari menghampiri. "Ada apa denganmu?"
"Ndre!" jeritku sambil memeluk anak muda tersebut.
"Alya ... kamu menangis? Ya, Tuhan!" Andre balas memelukku. "Ada apa ini?"
Aku tak mau menjawab. Dadanya terasa makin sempit dan sesak. "Jangan memelukku terlalu rapat, Ndre."
"Kenapa?"
"Aku susah napas. Sesak, tahu!"
"Oohh," ujar Andre seraya melonggarkan rengkuhannya. "Maaf."
Syukurlah, sekarang sudah agak lega. "Bawalah aku ke mana pun kausuka, Ndre. Aku ndak ingin tinggal di rumah ini lagi."
Andre tertegun. "Kenapa, Lya?"
Aku menggeleng. "Rasanya sudah ndak sanggup. Aku ingin pergi jauh."
"Lya .... "
"Ndre."
"Hhhmmmffft, A-aly-a, uh!"
"Kamu kenapa juga?"
Napas Andre megap-megap. "Dadaku ... ini."
__ADS_1
Kulepas pelukan. Memperhatikan wajah anak muda itu. Memerah laksana kepiting rebus. "Kamu bengek?"
Andre menggeleng. "Bukan. Dadamu menyesakkan dadaku."
"Ih ... !!!"
Andre mendekatkan wajah, dengan bibir bergetar. Semakin mendekat dan terus mendekat.
"Andre?"
Aku diam terpaku.
Andre mendekatkan wajah, dengan bibir bergetar. Semakin mendekat dan terus mendekat.
"Andre?" Aku mundur menjauh. Namun anak muda itu terus memburu, lalu bisiknya, "Kamu ... mencintai Pak Bram, 'kan, Lya?"
Aku diam terpaku. Dada ini kembali menyesak. Perih sekali rasanya. Hanya tangis yang bisa menjawab.
"Ya, ampun ... Alya! Kamu benar jatuh cinta sama laki-laki itu." Andre mendekapku, mengusap punggung, serta berusaha menenangkan. "Kamu tak perlu menjawab, Lya. Dari tangisanmu, aku sudah memahami semua. Kamu memang mencintai dia."
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingin menangis semakin keras. Bahkan bila perlu, menggelosoh di tanah, berguling-guling sedemikian rupa, untuk menggambarkan betapa sangat menderitanya aku sekarang.
"Andre!" seruku menumpahkan ganjalan yang selama ini di tahan, dalam pelukan anak muda tersebut. "Aku ndak bisa melupakannya, Ndre. Aku kecewa dia lebih memilih perempuan lain ketimbang aku. Padahal, semua saran Om Bram sudah kulakukan semua." Tangisku semakin menjadi.
"Saran?" Andre bertanya heran, "saran apaan?" Dia melepaskan pelukan. Menatapku tajam dan penasaran.
"Aku ndak boleh makan makanan berlemak, goreng-gorengan, sea food, dan lain-lain. Kata Om Bram, aku harus bisa menjaga tubuh ideal," tuturku di antara tangis. Andre tersenyum kecut dengan bola mata memutar ke atas. "Aku pikir, Om Bram menyukaiku. Bahkan .... "
"Apalagi?" Andre kembali menatapku tajam. Kepo, pastinya. "Bahkan apalagi, Lya?"
"Pernah apaan, sih, Lya?" Andre makin penasaran.
Tak langsung menjawab, kusapu pandang keadaan sekeliling. Khawatir ada mata dan telinga lain, tengah mengintai. Terutama anak di bawah umur.
"Lihat apaan, sih, kamu?" Andre turut memperhatikan situasi sekitar. "Tadi kamu ngomong apa? Om Bram pernah ngapain sama kamu, Lya?"
Aku menggeleng. "Ndak, Ndre. Aku ... aku .... "
Mata Andre membesar dengan mulut menganga. "Kamu dan Pak Bram pernah .... " Anak muda itu mengangkat kedua lengan, menelungkupkan telapak tangan secara berhadapan, lalu mengangkat-turunkan beberapa kali.
"Apa itu? Maksudmu apa, Ndre?" Aku tak paham. Anak muda itu mendecak kesal.
"Begini!" ujar Andre sambil memperlihatkan jepitan jempol, di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Begitu itu ... maksudnya apa, ya?" Aku berusaha menerjemahkan kode yang diperagakan Andre. Masih diselingi isak tangis.
"O, ****! What the hell am I doing?" Dia merutuk sendiri.
"Ndre, I don't understand what you mean! Would you mind telling me the truth, please?" Kesal juga melihat kelakuan anak muda itu.
Andre mendekatkan muka. Spontan kuhindari. Kurang ajar! Di saat bersedih begini, masih sempat-sempatnya dia mengambil keuntungan untuk menciumku.
"Pak Bram ... pernah menidurimu, Lya?" bisik Andre akhirnya. Nyaris mendaratkan hidungnya yang panjang di pipiku. Untungnya tidak. Namun efek lain, beberapa cipratan kuah mulut anak muda mengenai wajahku.
"Ih ... !!!" Kuusap dengan punggung tangan, tanpa berminat untuk membauinya. "Kamu pikir aku ini perempuan apa? Aku ini manusia, Ndre. Bukan kasur!" ujarku lalu kembali kejer.
__ADS_1
Andre mengulum senyum. Kedua pipinya sampai menggelembung mirip leher kodok tepian sungai. Mungkin sedang menahan tawa atau bagaimana. Hanya satu kata bagiku, 'Bodo amat!'
"Maaf, kupikir kayak begitu, Lya." Andre mengusap lenganku. "Lalu, apa yang pernah Pak Bram lakukan sama kamu?"
Aku tak menjawab. Tangisku masih tetap bertahan.
"Maaf, kalau memang kamu gak mau menjawab, gak usah dijawab. Aku paham, kok, kamu—"
"Kamu ndak punya perasaan, Andre!"
"Aku? Oh, maafkan aku, Lya. Maaf .... "
"Aku lagi bersedih! Setidaknya suara kamu jangan membentak-bentak begitu! Aku, kan, makin sedih, tahu?"
Andre menggigit bibir sendiri, disertai dengkus napas panjang. Lubang hidungnya sampai kembang kempis. Kesal? Mungkin. Entah karena sikapku atau pertanyaannya tak kunjung dijawab.
"Ya, sudah. Aku sudah minta maaf," kata Andre seraya menarikku ke dalam rumah. "Sekarang, kita ngobrol di dalam. Itu lebih baik, daripada di luar dilihat tetangga. Setidaknya di kulkas ada air dingin, 'kan?"
"Kamu haus?"
Andre tersenyum tawar. "Ehehehe ... ada es batu juga, 'kan? Ehehehe ... mendadak aku ngidam. Pengen ngunyah es balok juga, Lya."
"Manusia aneh! Es, kok, dimakan?" kataku sambil terisak.
"Ehehe ... syukurlah. Masih normal rupanya." Kembali Andre mengekeh.
"Kamu?"
"Iya, pastinya aku, dong. Bukan kamu, Lya. Ehehehe." Anak muda itu mengusap wajah beberapa kali, kemudian lanjut melempar senyum kambing padaku.
Aku mencari kunci rumah sebentar di dalam tas. Begitu memutar knob, daun pintu langsung terbuka. "Lho ... kok, gak dikunci?"
"Yang bener?" tanya Andre sambil mengintip ke dalam rumah. "Wah, jangan-jangan .... "
"Jangan-jangan, apa, Ndre?" aku ikut bertanya. "Kamu periksa, deh. Aku takut."
"Sama. Aku juga," balas Andre bergidik.
"Ih, jadi laki-laki, kok, penakut?"
"Aku takut hantu, Lya."
"Kamu ini. Bule, kok, takut begituan."
Andre mengekeh. "Aku memang blasteran Eropa, Lya. Tapi jiwaku gen lokal."
"Hish!"
Masih sedikit menyisakan isak, kuberanikan masuk perlahan ke dalam rumah. Diikuti oleh Andre. Menguntitku dari belakang. "Bokongmu bagus juga, Lya. Semok abis!"
DUK!
Kuangkat tumitku dengan cepat. Tepat mengenai tulang kering anak muda di belakang.
"Uh!" jerit Andre.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...