
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 19...
...------- o0o -------...
Aku melirik ke arah Ryan. Laki-laki kerempeng itu terdiam bingung.
Tiba-tiba aku seperti mendapat ilham dalam situasi serba darurat tersebut. Keberadaan Ryan saat ini sungguh tepat.
Diawali gerakan cepat, segera kuraih jemari Ryan. Tergenggam menyatu dan erat dalam kuasa penuh. Laki-laki itu kaget. Semula hendak melepaskan, namun kutahan sekuat tenaga seraya memelototinya dengan galak. “Ini ... ini ... Ryan. D-d-d-i-iaa ... pacarku.”
Ryan tersentak. Itu kurasakan dari gerak repleks lengannya yang kuat. Kembali aku memelototi. Memberinya kode tertentu dengan seringai bibirku yang menipis. Meminta dia untuk tetap diam dan tenang sebisa mungkin.
“Pacar?” Della menatapku heran. “Sejak kapan elu punya pacar? Kok, elu gak pernah cerita?”
Lain lagi dengan Andre. Mata laki-laki menyipit, memperhatikan dengan seksama sosok Ryan yang terlihat syok dan bingung. “Serius? Kamu gak lagi bercanda, kan?”
“Iya, gue ... eh, aduh! Kok, jadi gue? Maksudnya ... aku serius. Beneran serius. Ini memang pacarku. Namanya Andre. Eh ... salah! Ya, ampun! Maksudku ... namanya Ryan. Lengkapnya Adryan Malhotra.” Mendadak lidahku kelu tak bisa diajak kompromi. Mulut langsung terasa kering kerontang hingga tenggorokan. Sial! Rasanya saat ini aku butuh jus alvocado alias alpukat. Untuk melicinkan gerak lisan agar tak keseleo lagi.
“Sejak kapan kalian berhubungan? Selama ini aku belum pernah lihat kalian berdua jalan bareng,” ucap Andre seperti tengah menyelidiki.
Aku berusaha mengekeh sambil menoleh ke arah Ryan. Maksudnya meminta agar laki-laki itu lekas mengikuti tawa kecil hambar ini. Untunglah dia cepat paham. Kekehan kaku segera menyeruak dari bibirnya. Menyebalkan. Akting kami sangat buruk!
“Iya, m-m-me-mang. D-d-d-i-ia baru t-t-tiba dari j-j-ja-uh . Sengaja datang ke sini menemuiku. B-b-b-iasa ... melepas rindu. Ehehehe!” kembali aku tertawa kecil.
“Malhotra?” gumam Andre sambil berpikir keras.
__ADS_1
“I-i-ya. M-m-malhotra. Peranakan India. Dari papahnya. Iya, kan, Sayang?” tanyaku sambil menghentak lengan Ryan agar menjawab ‘iya’.
“Iya, betul. Papah saya India. Mamah asli ... dari Tasikmalaya. Namaste! Kumaha demang?” jawab Ryan akhirnya.
Aku menarik napas lega. Laki-laki itu cepat tanggap dan mau diajak kerjasama.
“Kumaha demang?” Andre menirukan ucapan Ryan. “Elu pikir ini jaman kompeni? Demang? Damang ngkali maksud elu!”
Sial! Si Andre salah memilih kata.
“Iya, betul. Maksud saya seperti itu. Maklum, lama tak berkunjung ke Indonesia. Ikut Papah di India. Bantu-bantu jualan kain untuk konveksi,” jawab Ryan sekenanya. Aku menghentakkan tangan laki-laki. Maksudnya memberi kode agar dia tak berlebihan berbual-bual.
“Gitu, ya?” Andre masih tampak menyelidik dengan tatapan curiga. “Kya tum jhooth nahin *** rahe ho? Aapaka ravaiya bahut sandigdh hai!”
SREK! SREK! SREK!
Ryan tiba-tiba menggaruk kepala. Kali ini agak lama dari biasanya. Aku memejamkan mata dengan mulut geram menahan kesal. Mampus! Tak menduga kalau Andre yang peranakan bule itu ternyata bisa berbahasa Hindi.
“Jawab saja sendiri!” Andre tersenyum sinis.
“Eh, aku ... aku .... “ Ryan terbata-bata.
Della yang sejak tadi memperhatikan obrolan Andre dengan Ryan ikut terheran-heran. “Elu berdua pada ngomong apaan, sih? Pake bahasa manusia ngapa!”
Andre menoleh. “Elu diem aja, Del,” katanya diiringi senyum berjuta makna. Kemudian kembali menatap Ryan dan aku bergantian. “Bas maan lo! Aapane jhooth bola, hai na?”
Ryan tak menjawab. Bukan apa-apa. Salah satu kuku jariku menekan daging telapak tangannya dengan keras. Gemas sekaligus sebal. Ini semua akibat kekonyolan si Ryan. Sandiwara tanpa sekenario yang tak direncanakan.
“Sakit, Lya,” bisik Ryan lirih.
Hih! Aku menarik tancapan ujung kuku di telapak tangannya.
__ADS_1
“Gua lihat, muka elu sama sekali gak ada aroma bumbu panipuri, Bro,” ujar Andre setelah lama memperhatikan tekstur wajah Ryan. “Elu pasti punya turunan darah Ambon, kan?”
Haduh! Aku semakin merapatkan pejaman. Dusta ini rasanya akan segera berakhir memalukan. Mengapa tak berterus terang saja dari awal, kalau si Ryan berasal dari daerah Cancar, Nusa Tenggara Timur. Bila perlu ditambahkan bualan lain, seperti tetangga dekat Betrand Peto. Kepalang tanggung dan sekarang sudah terlanjur ketahuan nuansa aslinya, omong kosong!
“Sudahlah, Ndre. Ndak usah kamu ungkit-ungkit biografi orang. Ndak ada untungnya buat kamu,” kataku memecah suasana. Andre terkekeh lepas.
“Kenapa, Lya? Takut ketahuan bohongnya, kan? Hahaha.” Andre tertawa keras. Della mungkin berpikir keras, apa yang sedang terjadi di sini. Tiba-tiba saja dia lupa mengatur napas setelah tadi lari-lari mengejarku. Itu tergambar jelas dari raut wajahnya.
“Aku ndak bohong. Ryan memang pacarku. Kami sudah lama berhubungan. Apa kamu juga ingin tahu kapan tanggal kami jadian?” Kesalku pada laki-laki itu semakin menjadi-jadi. Andre kembali tergelak hebat.
“Gue baru inget sekarang,” seru Andre tak mempedulikan ucapanku. “Hei, Bro! Elu anak fakultas teknik, kan?”
“Kalo iya, memangnya kenapa?” tanya Ryan menantang. “Ya, gak apa-apa, sih. Cuma heran aja. Kita sama-sama kuliah di satu area yang luas, tapi gak terlalu berjauhan. Agak janggal aja jika bener elu pacaran ama Alya, tapi gak pernah sama sekali gue atau Della ngelihat elu berdua jalan bareng.”
“Sudahlah, Andre. Maksudmu apa, sih, ingin tahu urusan aku?” Makin kesal rasanya melihat laki-laki itu. Sekali lagi dia tak mengindahkan kata-kataku. Malah terkekeh dan tetap menyerang Ryan dengan pernyataan konyolnya. “Emang perlu kalo orang pacaran ditunjukkin sama semua orang?”
“Ya, enggak juga, sih. Itu urusan masing-masing,“ jawab Andre semakin menyebalkan. “Gue belum lama mengenal Alya. Tapi gue dan dia udah beberapa semester satu kelas sama dia.”
“Terus?”
Andre tersenyum kecut. “Kalo beneran kalian udah lama pacaran, kenapa baru sekarang gue lihat elu berdua begini. Pada grogi lagi. Mirip sepasang pengantin hasil perjodohan paksa. Hahaha!”
“Andre!”
Dia semakin keras tertawa. Kali ini diikuti Della yang rupanya sudah mulai paham maksud obrolan laki-laki bermata kehijauan itu.
Ryan melepaskan genggaman tanganku dengan keras. “Iya! Gue dan Alya memang gak punya hubungan apa-apa. Dia memaksa gue buat bersandiwara. Tapi gue gak tahan. Dari tadi tangan gue sakit ditusuk-tusuk kuku dia! Puas? Sekarang juga mau cabut dari sini. Ada yang lebih penting bagi gue, yaitu masuk kelas mengikuti jadwal kuliah. Daripada berlama-lama dengan omongan bullshits ini. Permisi! Gue mau pergi! Terima kasih!”
“Ryan!” panggilku. Dia tak peduli. Tetap menjauh dengan langkah cepat. “Sialan!”
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1