BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 31


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 31...


...------- o0o -------...


"Kamu, kok, gak makan, Lya?" Suara Andre mengejutkanku. "Eh, iya. Aku harus berdoa dulu sebelum makan. Maaf," sahutku lekas menikmati sajian di atas meja.


"Selama itu?" Andre merasa heran. "Iyalah. Perempuan memang lebih lama, ketimbang laki-laki. Makanya harus rajin jaga stamina," jawabku asal.


Kening Andre berkerut. Alisnya pun naik sebelah. "Apa hubungannya doa dengan stamina?"


"Haaahh?" Kaget aku. "Memangnya tadi kamu nanya apa, Ndre?"


"O, my God, Lya!" Andre menepuk kening sendiri. "Kamu ini kenapa, sih? Aku tanya, kamu belum makan makananmu!"


Oh, itu. Gelagapan aku menjawab, "Baiklah. Sekarang, mari kita makan."


"Aku sudah habis sepertiganya, Lya. Sesuap pun, kamu belum."


"B-baiklah. A-aku makan sekarang," kataku disertai seringai malu. Andre menggeleng-geleng.


"Kamu masih memikirkan Della, 'kan?" selidik anak muda berkulit putih tersebut. "Khawatir dia akan marah, karena diam-diam kamu jalan denganku. Begitu, 'kan?"


"Jangan dibahas dulu, Ndre. Aku sibuk," jawabku sambil mengunyah fried chickpea. "Sibuk apaan? Kamu lagi makan, kok," protes Andre agak kesal.


"Justru itu. Aku mau membandingkan antara makanan ini ... euumm ... tumis buncis metropolitan dengan olahan buncis ala isi besek seperti di kampungku."


Andre tertawa.


"Ada yang lucu?" tanyaku heran mendengar gelegar gelaknya.


Andre lekas menghentikan tawanya. "Maaf, aku lepas kontrol. Suka-suka kamu, deh, Lya. Hehehe. Lanjutkan makannya."


Sesaat kemudian, kami pun terdiam. Fokus mengisi perut, menikmati makanan hingga habis tak tersisa.


"Gimana? Enak, 'kan?" Andre tersenyum memandangiku. "Lumayan. Hanya sedikit. Kurang mecin," jawabku jujur.

__ADS_1


"Lain kali aku akan ajak kamu keliling kota, sekalian berburu jajanan lokal. Lebih enak dan mengasyikan, pastinya," janji Andre setelah mereguk minuman dingin.


"Sekarang kita ke mana?" Aku bersiap-siap beranjak. "Bagaimana kalo nonton film, yuk. Setahuku, hari ini ada jadwal penayangan film baru," ujar Andre.


"Film Bollywood. India. Judulnya TARA MERE BHARI HARESE SARE. Aktornya keren punya, lho," tutur Andre. Anak muda ini memang penggemar berat film-film Hindustani.


"Siapa?"


"David Khan. Keren, 'kan?"


"Oohh, terserah kamu, deh."


Kami pun bergegas meninggalkan tempat makan. Berjalan beriringan dengan langkah perlahan. Entah mengapa, kali ini aku tak berusaha mengelak ketika Andre memegang lengan. Menuntunku menuju sebuah tempat yang berada di lantai paling atas.


Ah, biarkan saja dia menyentuhku. Mungkin bermaksud hendak melindungi, dari desak pengunjung yang berjalan dari arah berlawanan. Sesekali memang harus berjalan miring, agar bahu ini tak bertabrakan dengan tubuh mereka.


Tiba-tiba, langkahku terhenti. Memandang lekat pada satu titik arah, dengan mata dan mulut terbuka lebar. Jantung pun berdebar kencang, diikuti aliran darah yang terpompa deras di dalam kepala.


"Ayo, jalan, Lya. Kenapa berhenti?" sahut Andre berusaha menarik tanganku.


Aku tetap diam, tak bisa bergerak. Seperti terpaku kuat ke lantai. Ingin menjawab, namun bibir ini seperti membeku keras.


"Ayo, Lya," ajak Andre kembali. "Kamu kenapa, sih?"


"Della dan Pak Bram .... " gumam Andre begitu mengenali dua orang tersebut.


Ya, itu memang mereka. Om Bram dan Della. Mengapa ada di sini? Sedang apa? Aku tak tahu. Bingung. Tak mampu berkata-kata. Kecuali getar tubuh ini kian terasa. Disertai cucuran keringat dingin mengalir deras membanjiri raga.


Aku ... aku ... tiba-tiba merasa takut.


Om Bram dan Della menghampiri kami. Sementara aku masih berdiri mematung, tak mampu bergerak. Gemetar berpeluh dingin.


"Om .... " sapaku perlahan begitu laki-laki itu mendekat. "Della .... "


Bram menatapku tajam. Seringai kecil menyeruak seketika di bibirnya. "Alya," ujar sosok flamboyan itu dingin. "Kamu lagi ngapain di sini?"


Ah, rasanya tubuhku semakin bergetar hebat. Guncangan melanda di bagian pangkal lengan kanan. Berulang-ulang. "Alya," sahut Andre sambil menepuk bahu beberapa kali. Aku menoleh. Seketika baru sadar, tepukan itu rupanya yang menyebabkan getar-getar tersebut.


"Apa, Ndre?" tanyaku dalam kejut. "Pak Bram nanya kamu," jawab anak muda itu. Aku melongo heran, lalu kembali bertanya, "Nanya apa?"


Andre menggeleng-geleng, lanjut menepuk kening sendiri. Tanpa dipinta, terpaksa dia sendiri yang menjawab pertanyaan Om Bram tadi, "Maaf, Pak. Aku ngajak Alya jalan, tanpa ijin dari Bapak."

__ADS_1


"Saya gak nanya kamu, Anak Muda," balas Om Bram dingin.


Andre terkesiap. "Oh, iya juga, ya? Sekali lagi ... maaf kalo begitu." Bram mendengkus keras.


"Elu yang ngajak Alya?" Kali ini Della yang bertanya.


"Yang ini boleh aku jawab, 'kan?" Andre ragu. Della mendelik, langsung menyemprot galak, "Lah, iyalah. Yang gue tanya itu, elu! Bukan si Alya!"


Andre tersurut. Kaget. "Iya, gue yang ngajak. Cuma ngajak makan ama nonton. Gak apa-apa, kan, Del?"


Della gantian memandangiku dan Andre, dengan bibir mengeriting.


"Del ... Om ... maafin Alya. Ini benar-benar ndak direncanain, kok. Beneran. Sumpah!" ujarku ikut menimpali. "Tadinya Alya hanya .... "


"Ini yang namanya Andre itu, 'kan, Lya?" Om Bram memotong ucapan. Aku mengangguk perlahan.


Mata coklat berbulu lentik itu memandangi Andre dari bawah hingga ujung rambut.


"O, iya. Sampai lupa, Pak." Andre mengulurkan telapak tangan pada Om Bram. "Perkenalkan, saya Andre. Teman kuliah Alya."


"Saya tahu."


"Tahu dari mana, Pak? Kita belum pernah bertemu, 'kan?"


"Saya hanya tahu namamu saja, Anak Muda. Alya pernah cerita," jawab Om Bram datar. Andre melongo. "O, ya?" Dia melirik padaku sejenak. "Kok, Alya gak pernah cerita kalo saya pernah diceritain sama Bapak?"


"Apa untungnya Alya cerita tentang elu ke bokap gue?" sela Della galak. "Jangan caper, deh, lu!"


Andre menggaruk kepala. "Eh, iya juga, ya?"


"Geer lu!"


"Del, maafkan aku." Kutatap Della penuh penyesalan. "Ini benar-benar di luar rencana kami. Tadinya, kupikir ... kamu dan Om ndak ada di rumah. Tiba-tiba, Andre mengajakku ke luar. Aku tak punya pilihan lain, sekadar jalan-jalan dan mencari hiburan. Ndak salah, 'kan?"


Om Bram dan Della saling pandang. "Kamu udah dewasa, Lya. Bebas ke mana pun kausuka," ujar Om Bram bijak. Disusul Della berkata, "Tapi setidaknya elu bisa ngasih tahu gue, kalo elu mau ke mana-mana, Lya. Apalagi sama dia!" tunjuk gadis itu pada Andre.


"Del," Om Bram mengingatkan. Dia mengusap bahu anak gadisnya tersebut. Della berontak, "Enggak, Pah. Della sudah pernah bilang sama Alya, kalo Della gak suka Alya deket-deket sama si Andre."


"Della, Sayang." Om Bram mencolek. Gadis itu mendengkus kesal.


"Maafkan, Del. Aku khilaf," ujarku lirih. Ingin mendekat dan memeluk, tapi tak bisa. Kaki ini seperti beku menyatu dengan lantai.

__ADS_1


Sementara Andre memilih diam.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2