BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 40


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 40...


...------- o0o -------...


Kuangkat tumitku dengan cepat. Tepat mengenai tulang kering anak muda di belakang.


DUK!


"Uh!" jerit Andre.


"Jangan macam-macam, Ndre! Mau kuhantam lebih atas lagi?" ancamku. Andre mundur beberapa langkah, seraya berseru, "Jangan! Itu sangat mengilukan jenis kaumku!"


Aku tak mau membahas lebih lanjut. Fokus menyelidik situasi dalam rumah. Mungkin berantakan, hancur, atau bagaimana. Nyatanya tidak. Semua masih tertata rapi dan bersih.


"Non Alya," kata satu suara mengejutkan. Serentak kami menoleh ke arah asal panggilan barusan datang.


"Astaga! Bi Mamas?" seruku terperanjat.


Wanita bertumbuh pendek dan gemuk itu muncul dari arah kamar Om Bram. "Iya, ini saya, Non. Hehehe."


Aku mengintip kamar Om Bram yang terbuka. "Apa yang Bi Mamas lakukan di dalam kamar Om Bram?"


"Habis beres-beres dan bersih-bersih, Non," jawab Bi Mamas. "Tadi pagi Non Della yang nyuruh."


Hhmmm, kamar itu pernah kumasuki malam-malam. Tertidur di sana bersama pemiliknya. Namun, hanya dalam mimpi. Sayang sekali. Padahal berharap sekali bisa menemani Om Bram sepanjang waktu di sana. Bukan perempuan lain yang ....


Ah, terasa perih kembali hati ini. Impianku diambang kehampaan. Laki-laki itu memang tercipta bukan untukku.


"Non Alya habis menangis?" tanya Bi Mamas sambil memperhatikan wajahku. "Ah, ndak!" Buru-buru aku mengucek-ucek mata. "Kelilipan, mungkin. Iya, 'kan, Ndre? Coba, kamu tiupin mataku, dong," pintaku pada Andre. Anak muda itu melongo.


"Ndre! Tiupin mataku!" kataku mengulang.


Serta merta Andre menurut. "Fuh! Fuh!"


Hhmmm, laki-laki bule itu kembali menyemburkan kuah mulutnya. Sialan!

__ADS_1


"Terima kasih."


Bi Mamas menyipitkan mata, begitu melihatku balik badan dan tersenyum padanya.


"Kalau Non Alya mau makan, itu sudah saya siapin di meja, Non. Soalnya, tadi Non Della juga nelepon, kalo Non Alya akan pulang lebih awal," tutur Bi Mamas. "Ada semur jengkol juga, kesukaan Non Alya."


Andre terkekeh. Mungkin teringat kejadian makan-makan kemarin. Aku mendelik. Langsung membuat anak muda itu terdiam kaku.


"Terima kasih, Bi. Padahal ndak usah repot-repot. Aku bisa masak sendiri, kok. Biasanya begitu, 'kan?"


"Gak apa-apa, Non. Sekali-sekali, nyobain masakan saya. Sama enaknya, kok. Hehehe," ujar Bi Mamas. Mata perempuan itu memandangi Andre yang berdiri di belakangku. "Mas Andre juga sudah sering makan masakan saya, lho."


Apa? Berarti Andre juga sering makan di rumah Om Bram? Sejak kapan? Selama tinggal di rumah ini, aku tak pernah melihat dia ikut berkumpul dengan keluarga Om Bram. Terkecuali, saat kejadian kemarin. Aneh!


"Kamu sering ikut makan di sini?" tanyaku pada Andre. Dia terlihat gugup. Suara tawanya pun terdengar aneh. Dipaksakan.


"Enggak, Lya. Maksud Bi Mamas ... mungkin sering ikut nyicip bekal makanan yang dibawa Della ke kampus. Itu hasil masak Bi Mamas, 'kan?" Mata Andre seperti meminta Bi Mamas untuk membenarkan ucapannya.


"Eh, iya ... betul, Non. M-makdus eh, m-maksud s-saya juga b-begi-tu. Hehe. Aduh!" Bi Mamas menepuk bibirnya sendiri. Mendadak ikut gagap seperti Andre.


Ini ada apa, sih? Kedua orang ini seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


Bi Mamas buru-buru menjawab, "Enggak, Non. Maksudnya, itu dulu. Sebelum Non Alya tinggal di sini. Non Della memang sering membawa bekal hasil masakan saya. Bukan begitu, Mas Andre?"


"Iya, Bi. Betul betul betul!" jawab Andre menirukan kebiasaan dua anak botak yang sering tayang di TV.


Ini lagi. Mengapa pula harus minta dukungan si Andre? Dia, kan, bukan bagian dari keluarga Om Bram. Sejauh itu Andre mengenal keluarga ini? Semakin aneh. PR-ku bertambah. Mungkin ada banyak hal yang tak kuketahui di sini.


"Maaf, Non. Saya mau permisi lanjutin tugas. Masih ada pekerjaan lain di ruang atas." Bi Mamas bergegas pamit, begitu melihatku berpikir.


"Sebentar, Bi. Ada yang mau aku tanyakan perihal—"


Buru-buru Andre memotong, "Sudahlah, Lya. Kita makan dulu, yuk. Kasihan Bi Mamas masih banyak kerjaan."


"Tapi, Ndre .... "


"Makan, yuk. Aku juga ingin nyoba makanan kesukaan kamu. Apa tadi namanya ... sendal jengkol, ya?" Andre menarikku ke ruang makan.


Tak lucu! Gaya humor Andre sama sekali tak menarik. Aku lebih suka menginterogasi Bi Mamas, ketimbang mengeksekusi penganan bau tapi nikmat itu.


Bau tapi nikmat? Hhmmm.

__ADS_1


Bi Mamas tampak tergesa-gesa melangkah. Menaiki anak tangga sambil sesekali melirik ke arahku.


"Yang mana yang namanya jengkol, Lya?" tanya Andre begitu tiba di depan meja makan.


"Kamu coba saja satu-satu. Kalo ada yang bau, itu namanya jengkol," jawabku terpaksa ikut duduk di samping anak muda tersebut.


"Kamu makan juga, ya, Lya. Aku lapar, nih." Andre mengekeh. "Lumayan buat menghemat biaya kos. Hari ini aku makan gratisan. Hehe."


Aku belum bernafsu untuk makan. Walaupun onggokan jengkol di atas piring itu begitu menggoda. Bahkan Andre membantu menyiapkan nasi buatku.


"Makan, ya, Lya. Yuk, ah."


Aku hanya memandangi kepulan uap nasi putih di atas piring. Lapar, sih. Namun hentakan rasa keingintahuan akan misteri keluarga Om Bram, masih membara. Apalagi dengan sosok di depan itu. Yakin sekali, dia bukan bule kere yang sering berharap makan gratis. Gaya hidupnya tak sebanding dengan kondisi yang kerap dia akui. Anak kosan?


Namun masih terlalu dini untuk menyelidiki. Andre pasti tak akan sepenuhnya jujur. Harus mencari tahu sendiri. Jika perlu, kuancam Bi Mamas dengan moncong senapan.


"Kamu masih memikirkan Pak Bram?"


Aku menoleh. Andre sedang asyik menyantap hidangan. "Eehhmmm, apa, Ndre?"


"Beneran kamu jatuh cinta sama Pak Bram?" tanya Andre mengulang. Aku mendengkus.


"Mengapa? Pertanyaan itu kamu ulang-ulang terus. Tertarik untuk mengetahui?"


Andre menghentikan makannya. "Lya, aku juga suka sama kamu. Wajar, dong, kalo aku juga ingin tahu," jawab Andre. "Setidaknya aku ingin tahu, alasan kamu tak pernah mau menerima aku sebagai pacarmu itu, apa?"


"Karena aku ndak pernah menginginkan kamu jadi pacarku, Ndre. Aku ingin kita hanya berteman," kataku sambil melirik ke arah semur jengkol.


"Itu bukan jawaban, Lya. Kamu hanya beralasan yang dibuat-buat." Andre mendengkus kesal. "Memang karena hatimu tertarik pada Pak Bram, 'kan?"


Aku tak menjawab. Bibirku bergetar. Menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak.


Bram! Mendengar nama itu, jadi ingin menangis. Perih.


"Aku memang tergila-gila padanya! Puas kamu sekarang, Ndre? Aku mencintai Om Bram sepenuh hatiku. Tak ada laki-laki lain yang sanggup menggetarkan seluruh isi tubuh ini, kecuali dia! Bramanditya!" seruku dengan napas tersengal.


BRANG! GOMBENGBRANG!


Ya, Tuhan! Suara apa itu?


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2