
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 48...
...------- o0o -------...
"Bram memang bukan laki-laki pertama yang kukenal," ujarnya setelah menarik napas panjang. Bram? Dia menyebut nama itu. Jadi memang benar adanya, dia dan Om Bram memang menjalin hubungan. "Dulu aku pernah menikah, tapi gagal. Sekian tahun berusaha mengobati kekecewaan. Bahkan tak terhitung, berapa kali kutolak permintaan Bram untuk menikahiku. Namun, aku masih belum percaya laki-laki mana pun. Termasuk Bram, pada saat itu .... "
Cassandra berhenti bercerita sejenak. Pintu ruangan diketuk. Lalu seorang petugas pantri, laki-laki muda, masuk membawakan pesanan kami. Segelas air putih dan kopi hitam.
"Terima kasih, ya, Pak," ujar Cassandra begitu orang tadi hendak meninggalkan ruangan.
Hhmmm, cukup mengesankan. Ber-attitude juga perempuan itu. Bertambah daftar keunggulannya; Cantik, bersih, segar, terawat, awet muda, janda, dan beradab. Poin-poin yang harus kulibas habis, demi menyalip kompetisi percintaan ini. Hanya saja, dia tak akan bisa mengungguliku dalam status. Dia janda, sedangkan aku perawan.
"Terus bagaimana kelanjutannya, Bu?" Tak sabar kudengar kisah perempuan itu.
Cassandra meminum air putih terlebih dahulu, kemudian lanjut bercerita, "Kesungguhan Bram mencintaiku, lambat laun meluluhkan kekerasan hati ini. Dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Mungkin karena sama-sama pernah menikah, akhirnya ... kami sepakat untuk meresmikan hubungan. Aku berharap banyak sekali pada Mas Bram. Semoga dia bisa menjadi pendampingku selamanya."
Ya, Tuhan! Ternyata berat juga perjuangan Om Bram mendapatkan cinta Tante Cassandra. Sama halnya sepertiku. Kini, di samping cemburu, terselip rasa kasihan yang menyelimuti hati, melihat keteguhan perempuan ini. Haruskah aku tega memisahkan mereka, demi ambisi pribadi? Cassandra lebih dulu hadir dalam kehidupan Om Bram. Tak ada yang salah dengan mereka. Aku saja yang tergila-gila dibutakan cinta. Masih terlalu belia dan gampang terombang-ambing kemilau asmara muda.
"Tak masalah walaupun calon pendamping Ibu itu sudah memiliki anak?" tanyaku lebih dalam. Cassandra mengangkat bahu diiringi senyumannya. "Why not? Itu bukan alasan untuk tak mencintai seseorang, 'kan? Aku mencintai Mas Bram, sekaligus anaknya. Walaupun itu bukan anak kandungku sendiri."
"Begitu?" Seperti halnya aku menyayangi Della. Hanya saja, gadis itu tak akan mau beribu tirikan aku!
"Tentu saja, Mbak," jawab Cassandra, "lagipula, aku dan anak Mas Bram sudah lama akrab. Dia baik dan sudah menganggapku sebagai ibunya sendiri. Bahkan berteman baik dengan anakku sendiri."
"Apa? Ibu juga sudah punya anak?" Aku terperanjat. Cassandra tersenyum geli. "Dari pernikahan pertamaku dulu. Agak beda memang, dari kebanyakan anak-anak lain. Karena dia spesial."
"Spesial? Maksudnya?" Aku penasaran.
"Suamiku yang pertama dulu, orang luar negeri. Kami menikah lintas bangsa, Mbak. Ah, sudahlah. Aku tak ingin membicarakan masa lalu. Karena, masa depan itu lebih penting. Terutama pernikahanku dengan Mas Bram," tutur Cassandra sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. "Mbak Alya sendiri sudah punya calon pendamping?"
Aku tertegun sejenak. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu. "Eh, a-aku? A-da, sih. Eh, be-lum. Duh!"
"Kenapa, Mbak?" Cassandra memperhatikanku.
__ADS_1
"A-ku ... a-kuu ... haus!" Langsung kuteguk minuman yang terhidang di atas meja. Cassandra tersenyum lucu.
"Nah, begitu, Mbak. Konsumsi air putih. Jangan minum air berwarna dan berasa. Baik untuk kesehatan. Hanya saja .... " Suara Cassandra mendadak hilang dari gendang telingaku.
Air putih? Rasanya aku tak pernah minta air putih. Bukankah itu ... punya Tante Cassandra? Ya, Tuhan! Aku salah minum!
"Duh, maafkan aku, Bu. Aku salah minum," seruku sambil meletakan gelas yang telah kosong, kemudian mengambil secangkir kopi. Kuseruput hingga tetes terakhir. Untungnya sudah hangat kuku.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terkuak. Sesosok laki-laki berpostur tinggi 175 sentimeter, muncul di sana. Itu Om Bram.
"Alya?" Dia menatapku heran. "Kok, kamu ada di sini? Della gak bersamamu?"
"Eh, Om. Hehehe," kujawab dengan kekehan kecil. Kikuk dan bingung harus bicara apa.
Om Bram mengangkat kedua alisnya. Sementara Tante Cassandra hampir tertawa melihatku, kemudian bantu menjawab, "Mbak Alya datang sendiri, Pak. Maaf, kami menggunakan ruangan ini tanpa izin."
"Iya, maafkan kami, Om. Eh, hehehe." Kembali kumengekeh malu.
Cassandra menahan tawa dengan menutupi mulutnya. Diikuti seringai geli Om Bram. "Gak apa-apa. Pakai saja. Apalagi yang datang itu Alya. Bukan begitu, Lya?"
"Iya, Om. Hehehe."
Cassandra mengusap lenganku. "Mbak Alya."
"Iya, Bu. Ada apa?" tanyaku salah tingkah.
"Mari, ikut saya ke toilet," pinta perempuan sainganku itu.
"Buat apa? Aku tak sedang datang bulan dan perlu ganti pemba—"
"Bukan begitu maksud saya, Mbak. Yuk, ikut saya sebentar ke toilet," ajak Cassandra dengan suara lembut.
"Mau apa, sih? Saya mau pulang saja," kataku mulai merasakan ada aroma tak nyaman di ruangan ini.
"Iya, boleh. Tapi .... "
"Apalagi?"
Cassandra menunjuk mulutku.
__ADS_1
"Ada apa dengan bibirku?" tanyaku masih bingung.
Perempuan itu membuka mulut, menyeringai, lalu menunjuk gigi.
"Gigiku?"
Dia mengangguk. Sementara Om Bram pura-pura acuh. Dia berjalan ke arah meja kerjanya, sambil sesekali melirik ke arahku.
"Ada apa dengan gigiku? Ada lipstiknya, ya?" tanyaku berusaha memecahkan kode yang diberikan Cassandra.
Perempuan itu menggeleng. Dia mendekat dan berbisik, "Gigi Mbak Alya ada ampas kopinya. Kumur-kumur saja dulu di toilet, Mbak."
"Apa?!" Tak sadar aku berteriak kaget. Cassandra sampai harus mundur menjauhkan telinga sambil terpejam. "Mengapa ndak ngasih tahu dari tadi, sih?!"
"Sudah dari tadi, Mbak," ujar Cassandra masih tetap memejamkan mata dan tambah mundur menjauh. Sebentar kemudian, dia mengorek-ngorek lubang telinganya sambil meringis. "Ada toilet di ruangan Pak Bram," katanya sambil menunjuk ruang toilet menggunakan jempol tangan kanan.
"Pake saja, Alya. Gak apa-apa, kok," ujar Om Bram menambahkan.
Duh, aku malu. Pantas saja kedua orang itu tertawa-tawa di tahan tiap kali kumenyeringai. Ini penyebabnya? Ampas kopi sialan itu yang membuatku seperti badut bodoh di depan mereka.
Rencana interogasi yang salah dan gagal total! Tak tahu apa langkah selanjutnya, terkecuali segera angkat kaki dari mereka.
"Permisi! Aku pulang dulu sekarang! Maaf!"
Segera berbalik badan, setengah berlari meninggal ruangan tersebut.
DUK!
"Aw!" Aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap kening.
"Awas, Mbak!"
"Hati-hati, Lya!"
Pintu sialan! Mengapa harus terantuk segala, sih? Tak cukupkah penderitaanku hari ini, Tuhan? Aku tak ingin berlama-lama di ruangan itu.
Masih diiringi kepak kunang-kunang mengitari kepala, aku lanjut lari dan terus berlari meninggalkan kantor Om Bram.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1