BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 20


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 20...


...------- o0o -------...


“Alya .... “ panggil Andre seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. “Kok, malah melamun?”


Aku tersentak kaget. “Eh, iya. Maaf, Ndre. Aku .... ”


“Kamu kenapa, sih?” tanya Andre heran.


Aku menarik napas panjang. “Aku ... aku hanya sedang berpikir, Ndre. Maafkan aku.”


Laki-laki itu menggeleng-geleng. “Terus, gimana jawaban kamu?” tanyanya kemudian. Aku menatap Andre sejenak. “Tentang apa, ya?” Masih bingung harus menjawab apa. Bayangan akan kejadian tadi masih membekas kuat dibenakku.


“Ya, Tuhan ... Alya! Jadi dari tadi kamu gak nyimak omonganku?” Andre terlihat kesal. “Hubungan kita, Lya. Kamu mau menerimaku, kan?”


Oh, iya. Baru ingat. Andre menagih janji jawaban atas permohonannya tempo hari. Sial! Anganku masih dipenuhi bayang-bayang semu yang sangat dikhawatirkan kelak jika ....


“Maaf, Ndre. Aku ndak bisa,” jawabku akhirnya setelah beberapa saat terdiam.


“Kenapa, Lya? Kamu meragukanku? Aku--“


“Bukan masalah itu, Ndre. Maaf,” potongku sebelum Andre menuntaskan ucapannya. “Aku percaya ketulusanmu itu, tapi aku benar-benar ndak bisa. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan mengenai itu.”


“Pertimbangan apalagi, Lya?” tanya Andre mendesak. “ ... atau kamu takut hubungan kita nanti diketahui Della? Kenapa?”


Kutatap bola mata kehijauan itu. Ada kejujuran yang terpancar di sana. Yakin sekali laki-laki itu tidak sedang bercanda maupun menggombal. Bias yang sama seperti yang kurasakan pada sosok Om Bram selama ini.


Aku menggeleng perlahan. Belum sanggup untuk memberikan jawaban sebenarnya. “Maafkan aku, Ndre. Aku ndak bisa memberikan alasan apa pun. Maaf.”


“Kenapa?”


Mendadak mulutku serasa kering kerontang untuk menjawab. Sedikit terpaksa berucap dengan lidah kelu. “Mungkin ... aku ndak pantas untukmu.”


“Maksudmu apa, Lya? Gak pantas bagaimana?” Andre ngotot. “Aku mencintai kamu, Lya. Sungguh!”


“Tidak, Ndre. Aku pikir ... mungkin ada seseorang yang lebih tepat untuk kaucintai. Tapi itu bukanlah aku.”

__ADS_1


“Siapa?” Andre berpikir sejenak. “Della maksudmu?”


“Cari tahu saja sendiri, Ndre. Maaf, aku harus segera masuk kelas. Della memanggilku.” Aku beranjak dari tempat duduk. Meninggalkan sosok Andre yang terpaku sambil memanggil-manggil.


“Lya, tunggu. Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lya!” seru Andre namun tak berusaha mengejarku. “Lya! Tunggu aku!”


Aku tak peduli. Terus melangkah ke luar ruangan perpustakaan dengan berat hati. Masih terdengar teriakannya membahana memenuhi sudut ruangan. “Lya, aku akan tunggu kamu sampai kapan pun! Ingat itu!”


‘Ndak, Ndre. Maafkan aku. Aku benar-benar ndak bisa menerima kehadiranmu,’ ucapku dalam ayunan langkah menuju kelas. ‘Yang kuinginkan hanya .... ‘


Della menatapku tajam, begitu masuk ke dalam kelas. Liar bola mata gadis itu memperhatikan hingga kududuk di sebelahnya.


“Elu dari mana, sih? Kok, lama amat?” tanya Della menyelidik. “Dari toilet, Del. Kan, sudah aku bilang tadi,” jawabku berbohong.


“Ngapain aja di sana? Elu sembelit?”


Kutepuk lengan Della. “Kamu ini. Ada-ada saja, deh, ah.”


“ ... atau malah ketemuan sama si Andre, Cuy?”


Aku menoleh kaget. “Apaan, sih, Del? Ya, ndaklah. Buat apa juga ketemuan sama cowok itu?” elakku mendadak gugup.


“Hhmmm,” gumam Della kemudian.


“Ya, udah. Kalo enggak, ya ... enggak aja, Cuy. Gak usah salah tingkah gitu juga, ngkali,” sungut Della sambil mencibir.


Aku menunduk. Merasa bersalah karena sudah membohongi sahabat yang paling dekat itu.


Tak berapa lama muncul Andre, masuk kelas. Berjalan ke arah tempat biasa dia duduk. Pandangannya tak lepas ke arahku. Buru-buru aku berpura-pura membuka tas. Tak ingin balas menatap laki-laki itu.


Di saat seperti itu, aku juga tahu kalau Della ikut memperhatikan kami berdua.


“Ehem!” deham Della agak keras.


Aku tak peduli dan terus mengubek-ubek seisi tas. Walau sebenarnya tak tahu apa yang sedang dicari. Mendadak udara di dalam kelas menjadi panas membara. Gerah terasa memanggang sekujur tubuh. Hembusan penyejuk udara yang terpasang di dua penjuru ruangan pun, seperti tengah menggelitik geli. Ah, sial! Apa yang harus kulakukan? Hari ini benar-benar menyebalkan!


Materi pelajaran yang disampaikan asisten dosen di depan kelas, tak satu pun mampu menembus otak. Kepalaku seperti membeku. Sampai kemudian ....


“Cuy!” Della menepuk lenganku.


Aku mendongakkan kepala. Gadis itu tengah berdiri persis di samping. “Ada apa?” tanyaku bingung. “Pulang!” ujar Della sudah bersiap-siap lengkap dengan tas tersoren di pundak.


“Hah?”

__ADS_1


“Hah apaan?”


“Kok, pulang?”


Della tergelak. “Elu mau diem terus di sini? Pulanglah. Yuk, ah.”


Sialan! Jadi selama pelajaran tadi aku tak fokus? “Oke, Del.” Kubereskan semua buku yang berserakkan di atas meja. Tak satu pun yang dibaca sejak dikeluarkan tadi. “Yuk, berangkat!”


Della menggandeng tanganku. Tak juga dilepaskan hingga kami sampai di pelataran parkir. Sepanjang langkah, aku memperhatikan area sekitar. Berharap sosok Andre tak ada di sana.


“Elu kenapa, sih, Cuy?” tanya Della begitu sudah berada di dalam kendaraan. “Kenapa apanya, Del? Aku ndak apa-apa, kok,” jawabku sekenanya. Mata ini menyapu suasana parkiran. Bersyukur sekali, karena tak menemukan Andre sejak keluar kelas tadi.


“Elu kebanyakan bengong. Kayak ada yang lagi dipikirin?” selidik Della. “Ndak ada. Aku baik-baik saja, kok, Del. Tenang aja,” kataku. Lagi-lagi berbohong.


“Serius ... gak ada apa-apa?”


Aku tersenyum hambar. “Iya. Bawel amat, sih, kamu!”


Della menyalakan mesin kendaraan, lalu perlahan melaju meninggalkan area kampus.


“Kita ke kantor Papah dulu, ya, Cuy,” ujar Della di tengah perjalanan.


“Hah? Ngapain?” Aku terkejut. Della sampai mengernyit heran. “Ngapain? Terserah gue, dong!” timpal gadis itu tak kalah mengejutkan. “Gue, kan, anaknya. Sekali-kali boleh, dong, maen-maen ke tempat kerjaan Papah gue!”


O, iya. Benar juga, sih. Sekalian mengobati rasa rindu, karena tadi pagi aku belum sempat melihat sosok laki-laki itu. Eh, mengapa pikiran itu yang muncul, ya?


“Bukan begitu, Del. Maksudku, ndak biasanya habis kuliah kamu ke kantor Om Bram,” ucapku menambahkan.


Della terkekeh. “Ya, sekalian ... elu juga harus tahu kantor Papah gue. Gak ada salahnya, kan?”


Aku mengangguk. Memang selama tinggal bersama keluarga Della, belum pernah sekalipun aku mengetahui tempat bekerja Om Bram. Entah mengapa, tiba-tiba saja hati ini serasa berbunga-bunga kalau sudah mendengar nama tersebut.


Om Bram ... Om Bram ... Om Bram ...


Berkali-kali nama itu kusebut di dalam hati.


“Hei, ngapain elu senyum-senyum gitu, Cuy?”


Ya, ampun! Gadis itu rupanya memperhatikan tingkahku. “Ndak ada!”


Mata Della menyipit. “Elu lagi ngebayangin si Andre, ya?”


Lho, kok ... jadi Andre? Aku sedang membayangkan Om Bram, Del! Mengapa harus laki-laki setengah bule itu?

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2