
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 62...
...------- o0o ------...
Aku menapaki anak tangga satu per satu secara perlahan sambil mengusap-usap kening. Rasa pusing yang masih terasa di kepala ini, sejenak ingin kuabaikan terlebih dahulu. Soalnya ada sesuatu lain yang kuharap, yaitu sosok Om Bram mengikuti dari belakang dan …..
“Non Alya kenapa?”
Haduh, yang tiba-tiba muncul malah Bi Mamas. Sepertinya dia baru saja selesai membeberkan pakaian di teras atas sana.
“Kenapa apanya, Bi?” tanyaku agak sedikit kecewa. Apalagi saat menengok ke belakang, sosok yang diharapkan tadi ternyata tidak membuntuti. Asem!
“Itu pegang-pegang jidat, Non,” ujar Bi Mamas seraya menunjuk jidatku. “Sakit kepala? Bibi punya obat, tuh.”
“Obat apa?” tanyaku sambil memanyun-manyunkan bibir, kesal.
“Obat dateng bulan, Non. Saya suka minum itu kalo lagi pusing.”
“Sembuh?”
“Ya, enggaklah. Namanya juga obat dateng bulan, bukan obat dateng masalah. Hi-hi-hi,” kata Bi Mamas lengkap dengan tawanya yang khas dan menyebalkan.
“Iiihhh … Bi Mamas lucuuu! Jadi pengen nyubit deh sampe kebetot ginjalnya!” seruku kesal. Sengaja bersuara kencang, biar terdengar oleh Om Bram, dan dia segera mendekat. Wuih!
__ADS_1
Sayang sekali, ditunggu sepersekian detik, dia tidak kunjung muncul juga. Kenapa, sih? Nongol dong, Om!
Ke mana sih dia? Masa cuma minum kopi saja lamanya kayak lagi nunggu antre sembako? Padahal jarak antara dapur dan tempatku sekarang hanya seperpuluh langkah. Belum suara teriakan tadi. Minimal panik sedikit kek, ‘gitu.
“Non Alya nyari-nyari siapa?” tanya Bi Mamas seraya melongok ke lantai bawah. “Den Andre? Bukannya lagi nemenin Non Della di rumah sakit?”
“Dih, kepo aja urusan orang Bibi ini,” gerutuku makin bertambah kesal. “Orang saya lagi olahraga leher sama pinggang. Nih, tuh … lihat!” Aku memutar-mutar kepala dan pinggang layaknya artis Tiktok yang sedang syuting konten video. “Hup … satu … dua … satu … dua!”
Bi Mamas terlihat manggut-manggut. Ujarnya kemudian, “Ooohh … itu namanya sumilangeun, Non. Biasanya kalo lagi dateng bulan hari pertama, emang suka begitu kerasa. Terutama daerah pinggang dan rasa pusing juga.”
Sok tahu! Tamu bulanan lagi yang dibahas.
“Tau, ah!” kataku akhirnya sambil bergegas melanjutkan langkah menuju kamar. Meninggalkan Bi Mamas yang tampak hanya melongo saat kutengok kembali.
Kuhempaskan tubuh ini di atas tempat tidur. Menelungkup dengan setengah kaki menjuntai di pinggir ranjang. Lalu berbalik kembali menghadap langit-langit. Berpikir dan membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan saat itu. Apa sebabnya? Tiada berguna.
Namun pertanyaan demi pertanyaan yang kerap hadir akhir-akhir ini, begitu menggoda dan ingin segera mencari titik tahu yang sebenarnya. Masalah apalagi kalau bukan seputar sikap Om Bram dan Della. Andre? Itu urusan nanti.
Aku percaya, Tante Cassandra pasti jujur. Dia memang menikah dengan Bram, tapi bukan Om Bram papanya Della. Apakah ini celah terlemah yang tidak sempat mereka duga sebelumnya, kalau suatu waktu aku —pasti— akan mengetahui konspirasi tersebut.
Baiklah, sekarang tinggal akunya sendiri. Masih akan terus melanjutkan penyelidikan ini dan berpura-pura tetap buta soal kabar pernikahan fiktif itu? Pilihan kedua adalah membongkar semuanya dengan konsekuensi akan mendapat tanggapan beragam dari Om Bram dan Della. Yang terakhir ini tentunya sangat beresiko sekali; pergi atau diusir.
Aku paham. Mereka tidak akan melakukannya secara langsung dan kasar, mungkin. Namun lama-lama dan secara perlahan-lahan —bisa jadi— aku akan dibuat merasa tidak nyaman bersama keluarga Om Bram. Lantas memilih untuk pergi sendiri. Itu sudah pasti demikian. Masalahnya adalah mengapa mereka harus membuat drama persekongkolan itu? Membikin skema cacat berlogika. Untuk apa? Mengapa sasarannya harus aku? Jangan-jangan … Della sudah lama mencium gelagat bahwa aku menyukai papanya? Lantas mengapa pula Om Bram seakan-akan selalu memberikan celah harapan untukku? Dia sebenarnya normal atau tidak, sih?
Normal? Tidak normal?
Mengapa pertanyaan ini sampai memilih kata seperti itu? Secara logika, bagaimana mungkin seorang duda kesepian seperti Om Bram terlihat dingin sewaktu ada celah untuk mengintimiku, misalnya? Kami memang pernah bersentuhan bibir, tapi waktu itu pun dalam kondisi Om Bram mabuk berat. Secara fisik, tidak begitu sulit bagi lelaki tersebut mendapatkan kesenangan dengan wanita manapun. Aku saja sampai kini masih tergila-gila. Benarkah hal itu dia lakukan demi menjaga perasaan Della?
Aku menggulingkan tubuh, berganti posisi merebah diri ke arah kanan.
__ADS_1
Terus masalah Andre, dia pun bagai sebuah misteri tersendiri selama ini. Seperti tidak begitu asing bagi keluarga Om Bram. Bahkan di mata Bi Mamas pun begitu. Aneh. Benang merah dari semua hubungan ini apa, sih?
Apa mungkin Andre itu anaknya Om Bram juga? Tidak mungkin. Kalau begitu, antara Andre dan Om Bram pernah terjalin hubungan khusus yang tidak lazim, mungkin? Sehingga membuat Della begitu membenci sosok anak muda tersebut. Ah, pikiran macam apa ini? Tidak mungkin si Brewok itu suka ‘terong-terongan’. Hi-hi.
Terus apa, dong? Please, deh! Mengapa aku harus berada di dalam circle orang-orang yang penuh dengan keanehan, sih? Namun yang jelas dan tidak ingin dipungkiri, sampai detik ini aku masih berharap cinta dari seorang Bram. Tidak peduli seburuk apapun yang pernah dia lakukan. Tidak sekarang, mungkin nanti, kami berdua bisa sama-sama mewujudkan impian itu. Iya kalau iya, jika tidak?
BUK!
Aku menggebuk kasur, saking merasa kesal dan penasaran.
Apakah demi obsesiku ini aku harus mengorbankan persahabatan dengan Della? Tidak peduli lagi dengan dia. Terpenting adalah aku bisa mendapatkan Om Bram.
Huft!
Aku bangkit dari rebahan ini. Duduk sejenak di tepian kasur dan mulai mengambil ancang-ancang.
“Bram … apakah dirimu senormal yang aku kira?” gumamku bertekad bulat.
Kemudian berdiri, melangkah mendekati cermin besar yang terpajang di dinding kamar. Melihati diriku di dalam balutan kaos kasual dan celana pendek sebatas lutut. Lantas kucubit balutan kain di bagian pinggang agar sisi sensualku tertampak ketat. Hhmmm, tidak begitu buruk. Lebih unggul dibandingkan punya Della, terkecuali dari warna kulit. Hi-hi.
Baiklah ….
Aku ganti dengan T-shirt yang lebih pas dan celana pendek, biar terlihat seksi. Lantas akan kudatangi Om Bram hari ini juga untuk membuktikan, apakah dia pria normal?
Baiklah ….
Aku pun berganti kostum tidak kurang dari dua menit. Mematut diri di depan cermin yang sama untuk beberapa saat, lalu melangkah ke luar kamar seanggun mungkin. Mirip-mirip cara berjalan kaum peragawati di atas cat walk-lah.
Tunggu kamu, Bram. Mumpung hari ini Della masih di rumah sakit. Akan kurayu dia hingga tidak kuasa lagi menyembunyikan kepura-puraan hasratnya!
__ADS_1
Aku sudah gila? Mungkin. Desakan rasa cinta ini pada Om Bram semakin membuatku merasa kurang waras. Aku tidak peduli itu. Biarlah semuanya terjadi mulai sekarang … hari ini … di rumah Om Bram sendiri.
...BERSAMBUNG...