
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 69...
...—---- o0o —----...
Akhirnya Om Bram memilih untuk menghindar. Dia memintaku untuk tenang dan/atau menenangkan diri untuk sementara waktu. "Obrolan kita belum selesai, Alya," katanya sebelum pergi. "Tapi aku janji, lain waktu kita akan lanjutkan kembali. Tidak untuk sekarang ini."
Kemudian setelah itu, dia pun beranjak ke bawah. Menuruni anak tangga secara perlahan-lahan. Padahal bisa dilakukan dalam durasi yang singkat. Namun entahlah, mungkin berharap aku akan menahannya, lalu kembali memanggil, dan … ah, tidak. Hidup ini tidaklah sedrama itu, Om. Modusmu sudah kukenali banyak.
Setelah memastikan sosok laki-laki berbulu dada itu pergi, diam-diam aku pun kembali menutup pintu kamar. Lantas ….
"Iihhhh … sebel! Sebel! Sebeeelll!"
Duk! Duk! Duk!
Kupukul-pukul dinding kamar sepelan mungkin, agar tidak terasa sakit di tangan ini.
Kesal!
Seharusnya aku tidak bersikap seperti tadi itu pada Om Bram. Setelah sekian lama menunggu saat-saat yang tepat untuk meminta pembuktian cintanya, mengapa justru aku membuang sia-sia kesempatan emas itu? Apalagi dia sempat bertanya; 'Terus supaya kamu percaya sama aku, 'gimana mau kamu sekarang, Alya?'
Seharusnya tadi kupaksa dia menyatakan perasaan yang sesungguhnya. Bukankah itu keinginan terbesarku selama ini? Lantas mengapa justru aku pura-pura tegar dan jual mahal?
Aahhh, kesal!
Bagaimana kalau akhirnya nanti Om Bram meragukan perasaanku? Terus dia mencari perempuan lain. Akan begitu sajakah perjuanganku selama ini? Terpatahkan hanya gara-gara gengsi. Lantas berlanjut menjadi seorang pecundang seumur-umur.
Tidak! Om Bram harus tetap menjadi milikku. Apapun cara dan jalannya. Tidak peduli walau harus bergerilya di belakang Della maupun Andre kelak. Jika perlu, jadi seorang munafik sekalipun.
Munafik?
Ah, bukankah sekarang pun aku begitu? Tidak ada bedanya dengan Om Bram sendiri. Berpura-pura tangguh, padahal sebenarnya aku gampang rapuh.
Duk! Duk! Duk!
Kembali aku memukul-mukul dinding kamar. Rasanya ingin menangis, tapi malu diri.
"Om Braammm … aku mencintaimu, Oommm," desahku seraya menggelosoh ke bawah. Terduduk sambil menatap hamparan dinding kamar yang diam membeku. "Aku mencintai dia, Tuhan! Aku menginginkan dia!"
Tidak terasa, aku terisak-isak sendiri. Bersandar pada dinding kamar. Menangisi jalinan kisah yang terasa berat kulalui. Mencintai seseorang, tapi harus mengorbankan orang lain. Mengapa perjalanan kasih ini senantiasa berliku? Kapankah jalan lurus dan mulus itu akan segera dihadapkan?
"Non …."
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Ah, suara Bi Mamas lagi. Mau apa sih, dia? Jangan-jangan cuma modus seperti tadi. Ada Om Bram di belakangnya.
"Non Alya, ini saya, Non," ucap Bi Mamas mengulang panggilan.
"Ada apa, Bi?" tanyaku seraya menyeka air mata.
"Tolong bukain dulu pintunya, Non."
Aku bangkit perlahan-lahan, lantas membuka pintu kamar. "Ada apa?" tanyaku tanpa melebarkan celah.
"Ya, Allah … Non Alya abis nangis?"
"Endak," jawabku berbohong.
"Kita lapor polisi saja ya, Non?"
"Buat apa?"
"Melaporkan kasus penodaan."
"Penodaan siapa?"
"Non Alya."
"Saya ndak merasa dinodain, Bi."
Aku mengernyit heran. "Maksudnya apa, sih? Yang jelas dong, Bi."
Raut wajah Bi Mamas terlihat pilu. "Yang sabar ya, Non. Memang laki-laki itu kebanyakannya begitu. Mereka datang di saat ada maunya saja sama kita. Setelah semuanya didapat, langsung minggat lagi. Gak punya perasaan banget. Apalagi Non Alya masih muda dan masa depan masih panjang. Kok, tega-teganya Pak Bram menodai Non Alya, ya?"
"Saya ndak diapa-apain, Bi. Memangnya Bibi pikir, Om Bram habis ngapain 'gitu sama saya?" Aku mulai menduga-duga apa yang dipikirkan oleh sosok asisten rumah tangga tersebut.
"Bukannya tadi … Pak Bram … uummhhh … beginian sama Non Alya?" Dia memperagakan sesuatu. Satu jari telunjuk tangan kanan dimasukan ke dalam bulatan jemari jempol dan telunjuk tangan kiri. Lalu ditarik-ulur beberapa kali.
"Dih, si Bibi ngereeesss!" kataku seraya menepuk peragaan tidak senonoh pada tangan Bi Mamas. Namun tidak bisa menahan ulas senyum ini menggurat di pipi.
"Haahhh? Enggak ya, Non?"
"Ya, endaklah! Memangnya aku perempuan apaan! Dih, si Bibi ada-ada saja!"
"Ooohhh, maaf kalo begitu, Non. Saya salah duga," ujar Bi Mamas tersipu-sipu. "Habisnya … saya tadi denger di bawah, Non Alya bilangnya … jangan sentuh … jangan sentuh, begitulah. Saya mau ngintip, tapi gak berani, Non. Takut diapa-apain juga sama Pak Bram. He-he-he."
"Ya, ora koyok ngono jugalah," elakku merasa geli juga mendengar penuturan Bi Mamas ini. "Kami cuman ngobrol sebentar. Itu pun di sini. Di pintu ini. Ndak sampai masuk kamar."
Bi Mamas tampak menatapku dalam-dalam, lantas bertanya kembali, "Terus, Non Alya nangis itu … kenapa?"
Aku tersenyum getir.
"Ndak apa-apa, Bi. Ndak ada apa-apa, kok. Saya baik-baik saja."
__ADS_1
Jawabanku tidak serta-merta membuat sosok wanita tua bertubuh tambun itu puas. Dia tetap memandangi untuk beberapa saat, sampai-sampai aku sendiri merasa tidak nyaman jadinya.
"Non Alya bener-bener menyukai Pak Bram?" tanya Bi Mamas tiba-tiba mengejutkanku. "Non Alya mencintai Pak Bram, 'kan?"
"Dih, apaan sih, Bi? Tadi 'kan udah diobrolin di bawah. Ngapain ditanya-tanya lagi, sih?"
"Tapi bagi saya, Non Alya memang benar-benar berharap besar sama Pak Bram," kata Bi Mamas kembali. "Lisan bisa saja berkata enggak, tapi gerak-gerik mata Non Alya enggak bisa berbohong, kalo Non Alya memang menyukai Pak Bram."
Aku mengalihkan pandangan dari tatapan mata Bi Mamas. Perempuan tua itu sudah seperti Pesulap Merah yang memiliki kemampuan untuk membongkar trik hati ini. Ih! Bagaimana mungkin bisa menebak seseorang hanya dari gestur? Namun kuakui, kali ini dia benar.
"Orang tua dulu sering bilang …." imbuh Bi Mamas melanjutkan tutur, "kalo seorang gadis diam saja saat ditanya, maka jawabannya sudah dipastikan 'iya'."
Haahhh? Aturan dari mana itu?
"Dih, Bi Mamas sok tahu!" elakku berusaha menyembunyikan desakan hati untuk berterus terang.
"Sebagai sesama perempuan, saya juga bisa ngerasain apa yang Non Alya rasa sekarang, Non."
"Apaan, sih?"
"Non Alya memang mencintai Pak Bram dan itu wajar serta normal banget kok, Non. Satunya laki, satunya perempuan. Klop dan sah. Yang salah itu, dua-duanya sesama jeruk."
"Hi-hi-hi." Aku sudah tidak kuat lagi untuk tertawa. Padahal beberapa saat yang lalu baru saja termehek-mehek.
"Apa yang saya lihat selama ini pun sama, Non," ujar Bi Mamas melanjutkan lawak eh, kata-katanya. "Pak Bram juga sering banget saya perhatikan nyuri-nyuri pandang sama Non Alya—"
"Hah! Beneran? Serius, Bi?" Tiba-tiba aku jadi bersemangat lagi untuk mendengarkan penuturan Bi Mamas. "Terus bagaimana, Bi? Terus … terus …."
"Iya, Non. Kayaknya Pak Bram itu … sama-sama suka ama Non Alya."
Aahhh, masa sih? Duh, kok jantung ini jadi mendadak pargoy, ya? Jejak kaki pun tidak terasa, laksana melayang-layang di atas tanah. Padahal jelas sekali, aku bukan sebangsa kuntilanak. Hi-hi-hi.
"Sejak kapan, Bi?" tanyaku penasaran.
Jawab Bi Mamas, "Sejak Non Alya datang ke rumah ini."
Oh, berarti apa yang diucapkan oleh Om Bram tadi benar adanya. Dia jujur mengakui bahwa rasa suka dia padaku, muncul sejak aku memutuskan untuk menerima ajakan Della tinggal bersama keluarga ini. "Uummhhh, saya pun memang jatuh cinta sama Om Bram, Bi. Saya ndak peduli lagi sekarang diketahui sama Bibi. Asalkan jangan sampai Della tahu."
"Oohhh … jadi bener Non Alya menyukai Pak Bram?"
"Ya, Bi. Saya sendiri ndak tahu, bagaimana caranya supaya saya bisa ngelupain Om Bram, kalo seandainya saya lebih memilih buat ndak nyakitin Della."
"Itu gak akan terjadi, selama kita berdua menyembunyikannya dari Della, Alya."
Haahhh? Mengapa sosok Om Bram tiba-tiba muncul. Saat kulirik Bi Mamas, dia pun cuma tersenyum-senyum.
"Ada apa ini? Kalian berdua menjebakku?" tanyaku pada Om Bram dan Bi Mamas. Bingung.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1