BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 27


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 27...


...------- o0o -------...


Benar saja. Benakku masih dipenuhi angan-angan semu tentang laki-laki itu. Dia hadir dengan semua pesonanya. Memanjakan sedemikian rupa, hingga jejak kaki pun terasa melayang mengitari angkasa. Bram ... Bram ... Bram ... hanya nama itu yang ada. Datang tak sekedar mendaratkan ciumnya, namun juga memenuhi setiap rongga yang terbuka. Membelitku dengan peluk hangat, sampai tak mampu berkata-kata. Karena lisanku terkunci lidahnya ....


“Alya .... “


Dia menyebut namaku berulangkali. Disertai hentakkan menjejak bumi.


“Om Bram.”


Aku menjerit lirih disertai peregangan sendi dan juga gelitik nadi yang terbakar membara.


“Alya.”


“Mmmffhh!” Aku tak mampu balas menyebut nama, karena terkatup rapat bibirnya.


“Alya!”


“Mmmffhhh!”


“ALYA! Bangun!”


Hah? Itu ....


“Cuy!”


Kubuka mata.


“Della?”


Gadis itu berdiri tepat di pinggir tempat tidur. “Kebluk amat, sih, tidur elu?”


“Della?” Aku bangkit dari golekku, seraya menjauhkan guling yang tadi dipeluk erat. “Sejak kapan kamu ada di kamarku?”


Ah, aku merasa ada lelehan dingin menghiasi ujung bibir. Juga bercak basah yang menghiasi sarung guling.


“Ih, jorok banget lu!” seru Della dengan suara khasnya. Melengking memekakkan telinga. Dia bergidik begitu memperhatikan lelehan basah di dekat daguku.


“Apaan, sih?” tanyaku malu, lalu melap ujung bibir dengan punggung tangan. “Ternyata, di samping telmi, elu juga jorok, ya?” kata Della kembali bergidik jijik. “Gue langsung cucilah!” jawabku cepat-cepat melepas sarung guling tidur.


Della tertawa terbahak-bahak. “Gue?” Dia mengerutkan kening usai tawanya berhenti.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Elu nyebut diri elu ... gue? Udah berubah lu?”


“Kapan?”


“Barusan!”


“Endak, ah.”


“Tadi bilang begitu, Cuy!” Della menegaskan.


“Masa, sih? Salah denger mungkin kamu,” kilahku.


“Kuping gue masih sehat dan normal.”


“Endak, ah. Aku ndak merasa bil—“


“Terserah elu deh,” kata Della akhirnya. “Hari ini mau masak atau gue panggilin Bi Mamas?”


“Siapa masak?” Sukmaku belum sepenuhnya menyatu dengan raga akibat terkejut dibangunkan tadi. Makanya agak sulit mencerna ucapan Della yang cepat seperti penyanyi rap. “Elu, Cuy!” jawab Della keras.


Aku terkekeh. “Oh, iya. Baru ingat, Del. Masak sarapan, ya?”


Della menepuk jidatnya.


“Om Bram sudah bangun, kan?” Tiba-tiba teringat kembali laki-laki itu. “Udah. Papah lagi ngopi tuh di depan rumah,” balas Della cepat.


“Ya, Tuhan!”


Buru-buru aku turun dari tempat tidur. Bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga, menuju dapur. Diikuti Della seperti tengah bertanya-tanya.


“Beneran Om Bram sudah ngopi?” Aku melirik ruangan depan. “Enggak tahu. Tadi gue lihat cuma duduk-duduk doang di depan,” tandas Della cuek. “Emang kenapa, sih?”


Aku tak menjawab. Entah mengapa, pagi ini begitu semangat ingin membuatkan kopi juga sarapan untuk laki-laki itu. Efek semalam? Mungkin. Tak sabar rasanya ingin segera melihat sosok itu. Semoga saja ....


“Eh, mau ke mana lu?” Della menatapku hendak mengantar secangkir kopi ke depan rumah. “Nganter kopi buat papahmu,” jawabku tanpa menoleh.


Benar saja, Bram memang sedang duduk di beranda rumah. Menikmati udara pagi sendiri di sana.


“Om .... “ panggilku begitu mendekat dari belakang. Bram menoleh. “Eh, Alya. Sudah bangun rupanya,” ujar laki-laki tersebut.


“Ini kopinya, Om,” kataku agak gemetar melirik-lirik Bram sesaat.


“Terima kasih, Alya. Tapi saya sudah buat sendiri tadi. Nih, masih tersisa.” Bram menunjuk cangkir kopi di sampingnya. Masih tersisa setengahnya.


Hhmmm, aku ketinggalan momen. Seharusnya tadi bangun lebih awal. Agar ada waktu lebih untuk melayani laki-laki pujaan tersebut. Sekarang sudah terlambat.


Bram menatapku. “Ya, sudah. Saya minum juga, deh, sini.” Dia sedang berusaha menghibur. Aku tahu itu.


“Jangan, Om,” sergahku. “Kenapa?” Bram heran.


Aku tersenyum. “Nanti Om kelewat manis. Hihihi.”

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum kecut. Malah cenderung dingin. Hhmmm, garingkah leluconku tadi? Ah, sejak dulu memang tak berbakat melawak.


“Om .... “


“Ya, ada apa, Alya?” Bram menoleh.


“Kopinya. Bagaimana?” Aku bingung.


“Sini. Nanti saya minum, deh,” jawab Bram datar. “Terima kasih, ya, Alya.” Dia menerima sodoran cangkir kopi yang kubuat. Tak ada ekspresi lain.


Hanya itu? Terima kasih saja? Tak ada hal lain selain itu? Tersenyum manis atau mencolek ujung hidungku seperti semalam, misalkan?


“Alya kembali ke dapur, ya, Om,” pamitku sekedar basa-basi. Sengaja membalik badan sepelan mungkin. Berharap Bram memberi respons mengejutkan atau apalah. Mirip saat bersikeras menawar harga, lalu pergi dengan langkah perlahan. Berharap tukang dagangnya luluh dan mau menjual dengan harga yang diinginkan.


“Oh, iya. Silakan, Lya,” kata Bram pelan tanpa menoleh sedikit pun.


Aneh, tak seperti biasanya. Ada apa ini? Mungkin dia sedang ‘gabut’.


“Om mau dimasakin apa pagi ini?” Kucoba bertanya lagi sebelum benar-benar meninggalkan sosok laki-laki tersebut. “Terserah Alya saja. Kamu, kan, pandai masak. Apa pun yang kamu masak, pasti enak dan saya lahap,” katanya kembali. Lagi-lagi tanpa menoleh seperti tadi. Pandangannya lurus ke depan. Tak ada apa-apa di sana, kecuali taman hijau menghiasi pekarangan rumah.


“Baiklah. Kalau begitu, Alya pamit kembali ke dapur, ya, Om.”


“Iya, silakan, Alya.”


Dih, ada apa dengan dia? Kok, jadi cuek begitu? Semalam begitu ‘hot’.


“Iya, Om. Permisi, ya, Om.” Aku masih belum juga beranjak dari tadi. Berharap dia menjawab dengan senyuman manisnya.


“Iya, Alya.” Tak menoleh.


“Om .... “


Kali ini Bram menengok. “Ada apalagi?”


“Alya mau masak,” jawabku tiba-tiba merasa tak enak hati. Dia memang tersenyum kali ini. Hanya sesaat dan dingin, lalu berkata, “Kan, dari tadi juga saya bilang ... silakan, Alya. Oke?”


Dih, menyebalkan! Ada apa, sih? Cowok aneh! Bahkan saat yang sama pun terjadi saat makan bersama dalam satu meja. Dia asyik sendiri menikmati sarapan sambil sesekali mempermainkan ponselnya. Tak banyak bicara ataupun memuji-muji hasil olahanku. Hanya celoteh Della saja yang berkicau sejak berada di dapur tadi.


“Del, Om Bram kenapa, sih?” tanyaku pada Della usai laki-laki itu menghabiskan sarapan, kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.


“Kenapa apanya? Papah gue, kan, sehari-hari juga begitu. Gak ada yang aneh, Cuy,” jawab Della.


“Lagi bete atau bagaimana, ya?” Aku masih penasaran. “Biasa aja tuh,” balas Della.


“Ah, tapi aku merasa ada yang aneh. Ndak seperti biasanya Om Bram cuek begitu, Del,” desakku pada Della. “Jangan-jangan masakanku ndak enak, ya?”


Gadis itu menatapku heran. “Elu aja kali yang baperan. Papah gue dari dulu emang begitu. Kenapa, sih, lu tanya-tanya?”


Dih, jadi malas menjawab. Aku bergegas membereskan bekas sarapan. Mencuci peralatan masak kotor. Berlanjut merendam sarung guling yang tadi pagi ‘ternoda’ menjijikan. Menyebalkan!


Om Bram, ada apakah dengan dirimu, Om?

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2