BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 36


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 36...


...------- o0o -------...


Ditunggu sekian lama, dia tak segera masuk kamar juga. Dasar, laki-laki bedebah! Hhhmmm, aku doakan, semoga Om Bram tak jadi berjodoh dengan si Tante Cassandra.


Cassandra? Itu nama orang atau judul telenovela, sih? Jangan-jangan nama jalan raya, Casablanca. Jadi mendadak benci dengan nama tersebut! Pret!


“Enggak ada apa-apa, Pak,” jawab Andre mulai angkat kaki. “Saya mau pamit pulang.”


“Terima kasih, ya, udah mau ngajak Alya jalan-jalan, Andre,” ucap Om Bram ramah. Sedikit tergoda, aku mencoba melirik, mencuri pandang sosok Om Bram. Hhmmm, masih merasa muak, tapi tetap bikin kangen. “Hati-hati di jalan, ya.”


“Iya, Pak,” jawab Andre langsung menghilang di balik pintu.


“Eumm, Della .... “ panggil Om Bram pada anaknya. Buru-buru kubuang lagi muka ini. Menghindari adu tatap dengan pemilik mata kecoklatan tersebut. “Besok kamu kuliah, kan, Sayang?”


“Iya, Pah,” jawab Della disertai anggukan. “Ada apa emangnya, Pah?”


“Besok, selepas kuliah, kamu mampir ke kantor Papah, ya?”


Aku masih enggan memandang Om Bram, walaupun hati ini tergelitik untuk menoleh dan melihat ekspresi dia saat berbicara dengan Della. Ah, tidak! Harus kuat. Tak boleh tergoda, apalagi sampai membuatku kembali jatuh pingsan. Panas sekali rasa hati ini, laki-laki itu akan menjadi milik wanita lain. Sebentar lagi. Tinggal menghitung hari.


“Mau ngapain, Pah?” tanya Della kemudian.


Om Bram terdiam sejenak. Mungkin sedang berpikir. Bisa jadi juga tengah memperhatikanku yang masih asyik merajut bibir keriting.


“Antar Tante Cassandra untuk fitting gaun pengantin. Soalnya Papah besok ada meeting dengan staff kantor. Bisa, kan?”


Dih, buat apa bicara seperti itu di depanku? Mau bikin aku lebih tersiksa, Bram? Kamu jahat! Tak bisa merasakan, apa? Walaupun asli tanpa campuran silikon, Isi dadaku hampir meledak, tahu? Dasar laki-laki. Di mana-mana tetap saja sama. Perasaan mereka tak peka. Egois!


“Oh, itu. Tentu bisa, dong, Pah,” jawab Della. “Sama Alya juga, kan, Pah?”


Hah, aku? Oh, tidak! Jangan! Tak akan sudi melihat wujud pesaingku itu berlenggak-lenggok mengenakan gaun pengantin di depan mata ini. Hanya akan menambah luka mendalam dan membekas selamanya di sini. Jangan ajak aku, Del! Please!


“Alya?”


Hhmmm, si Bram mulai merayuku. Pasti akan meminta menemani Della dan si Tante telenovela itu mencoba gaun pengantinnya.

__ADS_1


“Alya?”


Aku tak akan menoleh. Sebal rasanya melihat wajah laki-laki yang bernama si Bramanditya itu.


“Alya!”


“Eh, iya, Om. Ada apa?” terpaksa kujawab seraya memutar cepat kepala ini, ke arah laki-laki itu.


“Iya, Om ... iya, Om .... “ Suara Della memprotes. “Gue yang panggil elu, Lya!”


“Oh, kamu yang manggil?” aku meralat. “Iya, ada apa, Del?”


“Elu kenapa, sih? Ngelamun?”


“Kepalaku masih sakit. Berat rasanya,” jawabku seraya memijit-mijit kening. Tentu saja disertai ringisan yang meyakinkan.


“Kamu perlu berobat, Alya?” tanya Om Bram. Suara langkah kakinya terdengar mendekatiku.


Uh, buat apa, sih, mendekatiku, Bram? Mencium aroma parfummu saja bisa membuat otak ini kram, tahu? Aku masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa kamu akan menjadi milik orang lain.


“Jangan, Om!” pintaku setengah berteriak.


“Kenapa? Kelihatannya kamu sakit,” kata Om Bram mengulur tangan, mencoba meraba keningku.


“Tidak, Om! Alya sehat!” kataku sambil beringsut menjauh.


Della memperhatikanku. Heran. Mungkin.


“Ya, sudah. Kalau begitu, minum paracetamol. Di kotak P3K masih ada stok,” kata Om Bram kembali. “Del, ambilin obatnya, ya, Sayang.”


“Tidak usah, Del. Biar aku sendiri yang ngambil,” ujarku buru-buru turun dari atas kasur. Sebenarnya bukan hendak mengambil obat, hanya ingin menjauh dari sosok Om Bram. Entah mengapa, aku merasa sebal saja berdekatan dengan laki-laki berbulu dada lebat itu.


“Beneran elu bisa ngambil sendiri, Cuy?” tanya Della seakan belum percaya. “Iya, aku bisa. Kamu sama Om, terusin saja obrolannya.”


Sambil terus memijit-mijit kepala, kupercepat langkah meninggalkan kamar. Setiba di luar, diam-diam berusaha mendengarkan sisa pembicaraan mereka. Penasaran juga, perbincangan seperti apa selanjutnya. Konsentrasi penuh memasang daun telinga. Sampai akhirnya ....


DUK!


“Aduh!” jeritku spontan.


“Alya!” panggil Della dari dalam kamar. Kudengar langkah kaki mendatangi. “Kamu jatuh pingsan lagi?”


Sambil meringis kesakitan, kujawab, “Endak, Del? Duh, pusing! Kepalaku kepentok tembok.”

__ADS_1


Sialan! Saking fokus ingin mendengar obrolan mereka, aku tak menyadari keadaan di depan. Alhasil, batok kepala ini bertabrakan dengan dinding ruangan. Malangnya, setelah tadi pura-pura, kini rasa pusing itu benar-benar nyata.


“Makanya, gue bilang juga elu tunggu di kamar. Biar gue yang ngambil obatnya. Dasar ‘pig head’, sih, lu!” gerutu Della sembari membantuku masuk kembali ke kamar.


“Aduh, aku gak kuat jalan, Del. Kepalaku serasa berputar-putar,” desisku lirih.


“Pah, Della gak kuat, nih, nahan badan Alya. Berat.”


“Biar Papah saja yang membopong Alya, Del. Sini,” kata Om Bram sigap mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya.


Duh, Tuhan!


Gila benar!


Aku merasa seperti tengah dibawa terbang malaikat rupawan menuju surga idaman. Tolong jangan bikin hamba-Mu kali ini pingsan. Biarkan menikmati kesempatan yang mungkin tak ‘kan lagi didapatkan. Sedikit hiburan bagi pemburu cinta dalam sentuhan kemanjaan. Melalui dekapan hangat, lengan kekar laki-laki pujaan.


Tuhan, mengapa tak Engkau takdirkan dia bersanding denganku? Tak cukupkah doa-doa yang selama ini sering dipanjatkan pada-Mu? Lihatlah, sampai kapan terus bergulat dalam kecamuk kalbu. Berharap tulangku dan rusuknya menyatu dalam padu.


Tuhan, tolong perlambat lagi waktu yang sedang berputar saat ini. Buatlah langkah laki-laki ini tak pernah berhenti. Maka akan semakin panjang keindahan ini kunikmati. Hingga ....


“Lya!”


“Hhmmm.”


“Elu kenapa nyengir terus?”


“Siapa?”


“Elu?”


Oh, rupanya aku sudah kembali tergolek di atas tempat tidur. Sejak kapan, ya? Kok, tak merasa?


“Masa, sih?”


Della mengernyit. “Heran gue, baru kali ini ada orang yang segitu bahagianya abis kejedot tembok.”


“Siapa?”


“Elu!” Della kesal. “Dan yang lebih bikin gue heran, lama-lama elu makin telmi, ya?”


“Telmi? Apa itu?”


“Telat mikir, Lya!” geram Della tambah jemu. Jemari gadis itu sampai mengeras hendak mencengkeram, seakan ingin mencakar-cakar wajahku sedemikian rupa. “Haduh, kalo elu bolu, udah gue gares dari tadi, Lya! Kesal banget gue!”

__ADS_1


Ah, kamu tak paham, sih. Aku jadi begini, kan, karena papahmu, Del. Pesona Om Bram telah meracuni setiap sel darah yang mengalir di dalam tubuh ini. Kamu tak mengerti, bagaimana rasanya jatuh cinta dan tak pernah terbalas. Sakit, Del. Teramat sakit.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2