
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 11...
...------- o0o -------...
Hari-hariku dilewati dengan resah dan tak bersemangat. Itulah makanya, lebih betah berdiam di dalam perpustakaan ketimbang berbaur dengan teman-teman kuliah lain. Di samping karena alasan efisiensi ekonomi, juga karena ingin kembali ke niat awal untuk sungguh-sungguh belajar demi masa depan. Di tempat itu pula aku bertemu Della. Gadis cantik berkulit putih, anak orang kaya, namun menutup diri dari pergaulan. Tak ada teman dekat maupun sosok kekasih yang pernah terlihat. Aneh ....
Dari kedekatanku dengan Della inilah, seorang laki-laki lain mulai mendekat. Dia adalah Andre. Hubungan pertemanan yang cukup ganjil. Di mana sikap Andre terlihat biasa, tak begitu dengan Della. Aku pikir, gadis itu seperti menyimpan rasa dan harapan lain terhadap laki-laki itu. Di balik sifat 'jaim' dan kerap menunjukkan permusuhan, ada bibit-bibit cinta yang bersemayam di hatinya. Bias mata itu sulit berdusta, walau lisan berkata tidak. Sayang sekali, sinyal-sinyal itu tak mampu diterjemahkan Andre. Dia malah berusaha menjamah kebekuanku.
Sekarang kunci permasalahan ada dalam genggamanku. Menerima kehadiran Andre dengan resiko melukai Della, ataukah bertahan dalam kesendirian namun tersiksa menyembunyikan rasa ini pada Bram. Kedua pilihan tersebut jelas akan membuat gadis itu murka. Dia tak akan membiarkan setiap perempuan mendekati papahnya. Juga melihat orang yang disuka jatuh pada pelukan sahabat sendiri. Sementara Bram, aku pikir, memiliki perasaan sama. Halusinasi? Ah, perlakuan laki-laki berbulu dada lebat itu tak layak jika disebut sebagai hubungan antara ayah dengan anak angkat. Anak? Ya, seperti yang pernah Della ungkapkan beberapa waktu lalu. Kedipan mata menggoda itulah sebagai salah satu respon penolakan akan ketulusan Bram 'mengadopsi' aku. Ingin bertanya langsung padanya, tapi tak berani. Untuk apa?
Sial! Semua jadi kacau begini. Salah satu jalannya aku harus pergi dari kehidupan mereka berdua, Bram dan Della. Kembali ke tempat kosan dan menjalani hidup dalam kesendirian.
"Lya .... " Satu suara membuyarkan lamunanku.
"Om .... " Kusebut nama itu begitu membalik badan. Menemukan sosok laki-laki yang selalu membuat dada ini bergemuruh. Dia berdiri persis di belakangku.
"Kamu lagi ngapain malam-malam begini di teras rumah?" Bram melihat-lihat sekeliling. Mungkin tengah memastikan kalau aku sedang sendiri di sana.
Aku tersenyum. Menundukkan wajah. Tak ingin Bram memperhatikan raut wajahku yang muram. "Ndak apa-apa, Om. Hanya ingin sendiri saja. Ndak bisa tidur," jawabku sekenanya.
__ADS_1
Dia berdiri persis di sampingku. Hanya mampu melewati pundaknya saat berjajar seperti ini. Benar-benar tinggi dan harus mendongakkan kepala jika hendak beradu tatap. Apalagi lebih dari itu.
Ya, Tuhan! Pikiran macam apa pula yang ada dalam kepala malam-malam begini. Ah, mengapa hanya itu dan itu selalu? Tak adakah hal lainnya?
"Tiba-tiba aku terbangun, keluar kamar, dan melihat pintu depan rumah terbuka. Aku pikir ada maling atau perampok. Ternyata pencurinya kamu, Lya," kata Bram pelan.
Aku? Tak seperti biasanya Bram menggunakan kata itu. 'Saya' atau 'Om' yang suka dia pakai saat berbicara denganku. Kini? Mengapa demikian?
"Maksud, Om?" tanyaku penasaran dengan kata 'pencuri' yang diucapkan Bram untukku barusan.
Laki-laki itu tersenyum. Itu yang kulihat saat memberanikan diri menoleh. Hanya sesaat. Tapi hasilnya .... seluruh aliran darah di dalam tubuh ini seketika memanas.
"Kamu pencuri penghuni rumah ini, Lya," jawab Bram masih belum kupahami.
"Alya ndak mengerti maksud Om."
"Della ... putriku," kata Bram akhirnya. Sedikit membuatku kecewa mendengar jawaban itu. "Kehadiranmu di rumah ini, aku lihat telah membuatnya bahagia."
"Seperti itu, ya, Om?" Aku menelan ludah. Pahit.
Jemari Bram bergerak-gerak meremas daging pundakku. Semoga saja tidak sampai membuat pertahanan kaki ini ambruk. Desiran darah mulai bergerak naik ke atas kepala.
"Dia anak perempuanku satu-satunya. Sudah lama ditinggal pergi almarhumah istriku. Sejak saat itu, Della jarang ingin bermain dan bergaul dengan teman-teman sebaya dia. Hanya akulah satu-satunya yang dia anggap teman, di samping sebagai seorang papah. Itu berjalan hingga dia beranjak dewasa seperti sekarang ini," tutur Bram semakin merapatkan tubuhnya padaku. Uh, tetaplah bertahan dan eling, Alya! "Tapi semenjak ada kamu, perhatiannya padaku agak berkurang. Di sisi lain aku merasa sangat senang, Lya. Tapi aku juga ... cemburu."
Tiba-tiba aku ingin menoleh. Mendongak. Menatap wajah laki-laki itu mumpung dekat. "Maksud, Om?" Lagi-lagi aku tak paham dengan kata Bram terakhir barusan.
__ADS_1
"Ya, aku cemburu karena kamu berhasil mencuri hati Della. Dia sangat sayang sekali sama kamu, Lya." Hembusan napas Bram sempat menerpa wajahku. Hangat dan membangkitkan selera. Ya, Tuhan! Itu lagikah? "Itu tak pernah terjadi sebelumnya pada Della. Dia sangat protektif terhadap semua perempuan yang ada di sekelilingku. Dia tak ingin ada wanita lain yang bisa mengambil alih aku dari sisinya. Bahkan terhadap Bi Mamas sendiri. Kamu kenal, kan, siapa Bi Mamas?"
Aku mengangguk. Tak ingin tatapan mata ini lepas dari bola matanya. Kesempatan. Selagi ada dan dekat. Jarang-jarang, kan? Atau malah tak akan terulang lagi?
"Della sangat menyukaimu. Dia ingin kamu selalu berada di sini bersama kami. Sampai kapanpun, Lya," lanjut Bram berucap.
"Terima kasih atas kebaikan Om dan Della selama ini. Alya sangat beruntung bisa dekat dengan orang sebaik Om dan Della," jawabku terbata-bata. Gerakan jemari Bram di pundak berganti menjadi sentuhan halus. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan.
Bram tersenyum. Tiba-tiba jemari tangannya yang lain berayun menyentuh daguku. "Kamu cantik, Lya. Pintar, rajin, baik hati dan .... "
Jantungku berdetak kencang. Berharap tak sampai ambrol memecah tulang rusuk serta memporak-porandakan isi dada. Ini benar-benar di luar dugaan. Sentuhan itu .... seketika membuat wajah memanas. Menyengat hingga mendidihkan titik keringat yang mulai menyusup bagian ketiakku. Untunglah tak menggunakan bedak. Khawatir nanti akan menjadi olahan BURKET.
" ... dan apa, Om?" tanyaku tiba-tiba ingin memejamkan mata. Berharap napas laki-laki itu mendekat dan semakin mendekat.
Agak lama Bram memperhatikan bola mataku. "Tidak apa-apa, Lya. Aku hanya .... "
"Hanya apa, Om?" desakku penasaran. Ingin segera menuntaskan obrolan ini hingga berlanjut pada episode lainnya.
"Tidak. Tidak apa-apa."
Bohong! Mata itu berkata ada hal lain yang dia sembunyikan. Juga jakunnya yang turun-naik saat memandangku. Bram tak jujur.
"Om .... " panggilku perlahan.
"Hhmmm."
__ADS_1
Tiba-tiba aku ingin sekali bertanya. Keberanian yang muncul begitu saja di ambang pertahanan tubuh yang kian melemah. "Benarkah Alya ini dianggap anak kandung sendiri bagi Om Bram?"
...BERSAMBUNG ...