BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 46


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 46...


...------- o0o -------...


Della tak menjawab. Dia kembali memejamkan mata. Tidur.


'Kamu kecapekan ngurusin pernikahan Om Bram, Del. Mengapa ndak minta bantuanku saja, sih? Walaupun ndak rela, aku juga ingin turut menyambut calon maduku itu, lho, Del,' kataku dalam hati.


Setelah menyelimuti sekujur tubuh Della, aku bergegas keluar kamar. Tak lupa mengirimkan pesan singkat pada Bi Mamas untuk segera datang ke rumah.


Hari ini aku pergi kuliah sendiri. Menaiki angkutan umum online. Karena tak bisa mengendarai mobil yang biasa dibawa Della.


Hhmmm, sekian lama bersama, baru kali ini kulihat gadis itu sakit. Seperti ada sesuatu yang hilang saat sendiri seperti demikian. Padahal jauh sebelum itu, aku sudah terbiasa hidup mandiri. Tinggal di kontrakan sempit dan apa-apa harus dikerjakan sendiri.


"Ke mana Della?" tanya Andre begitu bertemu di kampus. "Dia istirahat di rumah. Kecapekan," jawabku singkat.


Kali ini aku tak mau dekat-dekat dengan anak muda itu. Buat apa? Toh, aku sudah mendapatkan Om Bram.


"Kenapa? Sakit?" tanya Andre kembali sambil berjalan mepet di sampingku.


"Kamu ini apaan, sih, Ndre? Jangan deket-deket begitu, ah!" Aku menghindar.


"Lah, biasanya juga gak apa-apa, 'kan, Lya?" Andre memegang lenganku. Spontan ditepis secepatnya. "Jangan sentuh aku!" seruku galak.


"Kamu ini kenapa, sih, Lya?" Andre melongo heran.


"Pokoknya aku ndak mau deket-deket sama kamu!" jawabku semakin galak. Hanya Om Bram yang boleh menyentuhku. Bukan Andre, atau lelaki mana pun.


"Lya .... "


"Huh!" Aku melengos dan mempercepat jalan.


Aku tak peduli. Mulai detik ini, kuhapus semua memori tentang Andre. Dia bukan tipe laki-laki pencari cinta sejati. Hanya sekadar ingin bersenang-senang tanpa bayaran. Buktinya, di bioskop dia berani menggerepe. Huh, memangnya aku perempuan murah dijual lima ratusan, digoreng dadakan, dimakan bulat-bulat, hangat-hangat ... 'enyoy', begitu?


Bahkan sesaat hendak pulang pun, Andre masih menguntit. "Lya! Ada apa, sih? Dari pagi tadi, kamu terlihat beda, Lya!"


"Berbeda, ya? Tentu, dong. Karena aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan, Ndre," jawabku sengit. "Mulai saat ini, aku harus jaga jarak sama kamu. Distancing sosial! Jangan ajak-ajak aku ke luar lagi. Ingat itu, Ndre!"

__ADS_1


"Kamu jadian sama Pak Bram?" Andre membelalak. Kubalas dengan senyuman genit. "Tapi ... Pak Bram, 'kan, sebentar lagi menikah dengan Bu Cassandra."


Hhmmm, jadi teringat lagi, deh, pada sosok perempuan itu. Sialan! Tapi ada baiknya juga, aku menemui Cassandra. Mengetahui lebih jauh tentangnya. Tak ada jalan lain, harus mendatanginya di kantor Om Bram. Hari juga!


"Lya! Kamu mau ke mana? Aku belum beres ngomong!" seru Andre begitu orderan angkutan online-ku datang. "Bukan urusanmu, Ndre. Maaf," jawabku langsung masuk ke dalam kendaraan.


"Mbak Melly, ya?" tanya sopir begitu kududuk di kursi belakang. Aku melongo. "Bukan. Saya Alya," jawabku heran. "Kok, Bapak seenaknya mengganti nama saya dengan Melly. Orang tua saya memberi nama Alya itu, ndak sembarangan, lho, Pak. Ada ritual khusus, serta tumpeng nasi kuning lengkap dengan kepala kerbau."


Sopir tertegun sejenak. "Maksud saya, ini orderan atas nama Melly. Begitu, Mbak!"


"Oh, bukan buat saya, ya?" tanyaku sedikit malu.


"Kalo Mbak ini bukan Melly, berarti bukan, dong."


Ya, Tuhan! Tanpa berkata apa pun, aku segera keluar lagi.


"Gak jadi pulang?" tanya Andre begitu melihatku. "Au, ah!" jawabku ketus.


"Lalu?"


"Diam, Ndre!"


"Aku antar, deh. Yuk, pulang."


"Ndak!"


Aku tak menjawab, karena sebuah kendaraan berhenti tak jauh dari tempat kami. Segera kudekati. "Bu Lya, ya?" tanya sopir sambil menurunkan kaca jendela.


Aku segera masuk ke dalam. "Saya masih perawan, Mas. Masa dipanggil 'Bu', sih?"


"Oh, maaf. Setidaknya suatu saat, Mbak ini akan menjadi calon—"


"Bu Alya Bramanditya! Atau ... bisa juga Nyonya Bram! Ya, itu cocok! Aamiin. Terima kasih, Mas. Langsung jalan, ya."


Sopir melongo heran dengan mulut menganga.


"Jalan, Mas. Kok, malah bengong?" kataku mengulang.


"Oh, iya. Aamiin aja, deh," jawab sopir, "sesuai tujuan, 'kan?"


"Ya."


Kendaraan pun melaju meninggalkan area kampus. Disaksikan Andre yang hanya bisa diam terpaku.

__ADS_1


...------- o0o -------...


Tak makan banyak waktu, perjalanan menuju kantor Om Bram. Kurang dari satu jam, jejak kaki ini telah sampai di pelataran parkir.


"Selamat sore, Mbak," sapa petugas keamanan begitu melewati pos. Kubalas dengan ramah disertai senyum, "Selamat sore. Pak Bram-nya ada?"


Petugas keamanan itu menatapku sejenak. Tertera nama Budi di badge seragamnya. Orang ini pasti Budi yang lain. Bukan saudaranya Wati dan Andi. "Mbak ini siapa dan dari mana, ya?" tanyanya.


Hhmmm, dia belum tahu siapa aku. Sebentar lagi juga akan menyandang sebutan 'Nyonya' yang ditambahkan nama Bramanditya. Nyonya Bram. Namun aku baru sadar, baru sekali datang ke kantor Om Bram. Tentunya wajah ini masih belum familiar.


"Saya keluarganya Pak Bram," jawabku sambil melihat-lihat suasana depan kantor. Siapa tahu, laki-laki brewok itu melintas di sana.


"Keluarga dari mana, ya, Mbak? Keponakan, anak, adik, atau .... " Dia tak meneruskan ucapannya, karena dari belakang terdengar suara panggilan. "Bud!" seru seorang petugas keamanan lain. Laki-laki, masih muda, dengan kumis yang tumbuh jarang-jarang. Dia segera menghampiri kami.


"Mbak Lya, ya?" tanyanya sambil membungkukkan badan. Namanya Arya. Jelas tertera di dada seragam yang dikenakan.


"Iya, saya Alya," jawabku heran. "Ini Mas Abu, 'kan?"


"Lho, kok ... Abu? Nama saya Arya," ralatnya sambil menunjuk tulisan di dada.


"Maaf, saya pikir Mas ini ... Arya Permadani. Jadi, spontan saya panggil 'Mas Abu'. Hehe. Maaf, ya," ujarku malu.


"Gak apa-apa, Mbak. Ngomong-ngomong, Mbak mau ketemu Pak Bram?"


"Iya. Eh, tidak. Tapi ... ah, antara iya dan tidak, sih." Aku bingung. Maksud datang ke sini memang bukan hendak menemui Om Bram, tapi si Cassandra.


Arya dan Budi serempak mengerutkan kening.


"Bu Cassandra-nya ada juga, 'kan?" Sekalian kutanya perempuan kompetitor percintaan itu.


"Tadi pagi, sih, ada. Masuk sebentar, terus keluar lagi. Gak tahu ke mana. Mungkin ke tempat EO (Event Organizer). Biasanya, sih, begitu. Akhir-akhir ini sibuk. Maklum ... bentar lagi jadi pengantin baru," tutur Arya diiringi kekehannya.


"EO? Maksudnya WO mungkin? Wedding Organizer."


"Ya, semacam itulah. Kami tahunya begitu."


"Yang bener? Sama siapa?" tanyaku kepo.


"Benerlah, Mbak. Tadi keluarnya sama .... " Arya menoleh pada Budi. " ... sama siapa, ya, Bud?"


Budi menjawab sambil berpikir, "Tadi, sih, saya lihat ... pake mobil Pak Bram. Ya, mungkin saja sama Pak Bram sendiri."


DUG!

__ADS_1


Jantungku seperti terpukul. Jadi benar, mereka memang akan menikah.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2