BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 6


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 6...


...------- o0o -------...


"Maksudnya?"


Della bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiriku. "Alya ... papah gue pengen menganggap elu sebagai anak kandung sendiri. Sama kayak gue."


Ya, Tuhan! Rasanya ini seperti mimpi. Benarkah itu? Aku menjadi anak angkat Om Bram. Walaupun bahagia, tapi sejujurnya aku berharap ....


Della melanjutkan ucapannya. "Sekarang hidup elu, menjadi tanggung jawab bokap gue. Bukannya elu pernah cerita kalo elu udah gak punya orangtua?"


Ya, beberapa waktu lalu, memang pernah bercerita tentang kehidupanku pada Della. Bapak meninggal dunia saat aku berusia sepuluh tahun, di saat sedang haus akan kasih sayang dan belaian sosok yang dicinta. Tinggal sebatang kara dengan Mbok yang hanya sebagai petani biasa. Kemudian beliau pun menyusul ke alam baka, beberapa hari menjelang pengumuman kelulusan sekolah tingkat akhirku.


Sempat bingung dan frustasi hidup tanpa sandaran dari orang-orang sedarahku. Apalagi sebagai anak semata wayang dalam keluarga. Hanya ada Mbak Darmi, anak Pak Le Sunyoto, yang menjadi tempat pengaduan getir ini. Kepada perempuan itu pula, aku mempercayakan seluruh harta waris yang diterima dikelola olehnya.


"Ya, sudah. Kalo kamu bersikukuh melanjutkan pendidikanmu ke kota, Mbak hanya bisa mendukung dan turut mendoakanmu, Alya," ucap Mbak Darmi suatu ketika. "Mengenai tanah warisan yang mau kamu jual itu, biar Mbak yang ngurus. Kamu tenang saja dan fokus belajar di kota. Nanti tiap bulan Mbak kirimi kamu uang buat kebutuhanmu."


Aku percaya pada Mbak Darmi. Tak ada lagi orang yang bisa kuandalkan, selain dia. Maka berbekal uang hasil penjualan tanah warisan itulah, tekad ini sudah bulat untuk pergi melanjutkan jenjang pendidikan. Tak semuanya dibawa, karena separuh dari uang tersebut digunakan Mbak Darmi berniaga. Itu berjalan hingga sekarang, namun belum mengetahui keadaanku yang kini sudah berpindah ke rumah keluarga Om Bram. Gratis.


"Alya .... "


"Eh, Del." Lamunanku kembali tersentak. "Iya, ada apa?"


"Elu ngehalu lagi?" tanya gadis itu seraya memperhatikan kedua mataku.

__ADS_1


Aku menunduk. Menghindari tatapan Della, tentunya. "Aku hanya ... tiba-tiba teringat Mbak Darmi."


Della mengangguk-angguk. "Kenapa?"


"Aku belum kasih kabar perihal kepindahanku ke sini, Del."


"Menurut gue, sih, gak usah," timpal Della.


"Lho, kenapa?" Aku heran.


Della berpikir sejenak. "Biarin aja dia menganggap elu masih tinggal di kontrakan. Biar dia ngirim duit buat elu tiap bulan. Nah, duit itu elu tabung di bank buat persiapan elu masa depan. Sederhana, kan?"


Aku menggeleng perlahan. "Tapi aku tak biasa berbohong, Del."


Tak biasa berbohong? Lalu tentang rasaku pada papah Della selama ini? Eh, rasa apa, ya?


"Cuy, jadi orang jangan terlalu polos. Berpikirlah. Gunain otak elu. Ini sebagai antisipasi buat hidup elu sendiri," jawab Della serius.


Della menggeleng-geleng. "Entar aja, deh, gue ceritain. Sekarang elu mandi, gih. Hari ini bagian gue masak. Biar Bi Mamas nyuci aja. Oke?"


"Del .... "


"Apalagi?"


Aku terdiam sejenak. "Betulkah Om Bram berkata seperti itu?"


"Yang mana?"


Aku menepuk lengan gadis itu perlahan. "Menganggap aku sebagai anak Om Bram."


Bibir Della perlahan terbuka, lalu gelaknya segera membahana. "Terus ... mau elu dianggap apaan?"

__ADS_1


"Dih, ditanya malah nanya." Kembali tepukanku mendarat dibahunya.


Della tak menjawab. Dia bergegas ke ruang bawah setelah memberiku senyuman manis. Hhmmm ... baru kali ini bukan tawa keras. Tapi senyuman. Apakah itu berarti Della berkata jujur?


Aku diangkat sebagai anak Om Bram. Laki-laki paruh baya penuh pesona itu.


Ya, Tuhan!


...------- o0o -------...


Alunan tembang Another Day in Paradise milik Phill Collins menggema memenuhi ruang interior kendaraan. Bram mengikuti lirik demi lirik lagu tersebut dengan fasih, di belakang kemudi. Di sebelahnya ada Della, terpejam dengan lubang telinga tertutup rapat earpieces. Tertidurkah atau memang sengaja menutup mata sambil menikmati dendang lain? Sementara aku lebih banyak terdiam, duduk di deretan kursi belakang. Mempermainkan jemari di atas layar ponsel. Sesekali mata ini menatap lurus mirror tengah, memperhatikan wajah Bram yang ceria.


"Della, Sayang," panggil Bram seraya melirik putri semata wayangnya. Gadis itu tak merespon. Mungkin benar tertidur, bisa jadi suara laki-laki itu kalah keras dengan volume headsetnya. "Del .... " Bram mengulangi sekali lagi. Della tetap tak bergeming.


Seketika mata Bram beralih mengintipku melalui pantulan cermin kendaraan. Bersamaan dengan buangan arah mata ini ke tempat lain. Sialan, ketahuan juga aku tengah mencuri pandang.


"Alya .... " panggil Bram kemudian. "Eh, iya, Om," jawabku gugup tersipu. Semoga wajah ini tak berubah mirip udang rebus. Sorot mata tajam itu masih menatap memperhatikanku.


"Kamu lapar? Kita mampir dulu, ya, di restoran depan sana," ucap Bram diiringi senyumnya. Hhmmm ... aku tak kuasa menjawab. Menikmati seringai menawan di depanku itu saja, rasanya cukup membuat sirna rasa perih perut ini. Ya, Tuhan. Entah mengapa tiap kali berada di sekitar laki-laki itu, gemuruh di dadaku tak pernah berhenti membuncah.


"Kok, diam? Kamu gak lagi sariawan, kan, Alya?" goda Bram kembali mengintipku dengan seksama. "Oh, iya, Om." Hanya kalimat itu yang sanggup terucap disertai getaran jemari mengusap-usap badan ponsel. Hampir saja terlepas dari genggaman, jika tak segera kuayunkan ke atas pangkuan.


Ah, benar-benar sulit kumengerti. Entah sihir apa yang dimiliki sosok berbrewok tipis di depan itu. Alam sadar serta kontrol hati ini seringkali tak berfungsi, begitu pesonanya menghujam titik rasaku. Gemetar, gugup, sulit berbicara, bahkan panas-dingin yang menyiksa kerap datang melanda. Seumur hidup tak pernah merasakan hal demikian, terhadap laki-laki mana pun. Namun aura Om Bram? Ya, Tuhan. Semoga aku mampu mengontrol serta menahan diri.


Mungkin aku tipe perempuan yang sulit sekali jatuh hati. Semenjak mengenal dunia baligh dan mengenal lawan jenis, sama sekali belum pernah merasakan hentakan sedahsyat ini. Maksudnya seperti saat melihat Om Bram. Bramanditya Satriadireja, nama lengkap dia. Laki-laki berusia dua kali lipat lebih dari umurku, berambut ikal tipis, postur tinggi dengan berat badan ideal, serta hiasan bulu-bulu di beberapa bagian tubuhnya itulah yang sering membuatku seolah meleleh begitu saja.


Jujur, banyak dari teman-teman lelakiku memiliki ciri-ciri yang hampir mirip dengan Om Bram, namun tak ada yang sanggup menggetarkan hati ini. Bahkan seorang Andre sekali pun yang memiliki kontaminasi darah bule, bagiku biasa terasa saja. Padahal dengan modal wajah tampan serta kulit putih kemerahan layaknya turis Erofa, aku harus berjejer dalam antrian panjang jika ingin mendapatkan perhatiannya.


Entahlah, aku lebih menyukai pria matang, jauh lebih tua namun berpenampilan modis, kharismatik, bersuara berat, postur semampai, dan 'berumput' hitam. Kriteria itu benar-benar nyata ada dalam tubuh Bram, papahnya Della. Laki-laki yang katanya memilih jomlo hampir sepuluh tahunan semenjak ditinggal mati sang istri. Ah, agak sangsi sekali, jika dalam kurun waktu selama itu, dia sanggup menahan diri dari gemerlap wanita-wanita dunia yang penuh pesona. Di luar sana mungkin dia mempunyai simpanan. Meragukan bila ada dari kaumku yang tak ikut luluh melihat kesempurnaan fisik seorang Bram. Perempuan itu salah satunya aku.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2