
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 8...
...------- o0o -------...
Ah, semakin tak menentu rasanya dalam kondisi seperti ini. Bingung harus berkata apa, namun berharap agar Della tak secepatnya kembali bergabung di antara kami. Lho?
Pramusaji datang mencatat pesanan. Tak lama kemudian bergegas meninggalkan kami. Seketika hening pun menyelimuti. Sampai Bram berucap, "Andre itu beneran bukan siapa-siapa kamu, Lya?"
Aku mengangkat wajah. "Iya, Om?"
"Andre."
"Kenapa dengan Andre, Om?" Aku masih belum paham. Tadi fokus menjawab beberapa pesan instan di ponsel. "Laki-laki itu, beneran hanya teman biasa kamu?"
Aku tersentak. Tak menduga kalau Bram akan bertanya tentang Andre lagi.
Sedikit gugup, aku berusaha menjawab, "Bukan, Om. Hanya teman kuliah Alya saja."
"Ooohh .... "
Della tiba-tiba muncul. Dia menatap kami berdua. Terutama aku. "Ada apa, nih? Kok, diem-dieman?" tanyanya dengan gaya cuek. "Muka elu juga, Cuy. Kayak kepiting rebus gitu."
Aku mengusap wajah. Masih terasa panas. "Gerah, Del. Duh .... " Aku mengipas-ngipaskan jemari.
"Gila! Ruangan segini dingin, masa masih panas? Sakit lu, ya?" Della beralih menatap wajah papanya yang pura-pura sibuk mengusap-usap layar ponsel. "Beneran gak ada apa-apa waktu Della gak di sini, Pah?"
Bram mengangkat wajah. "Eeumm? Gak tahu. Papah dari tadi sibuk buka e-mail, Sayang."
Della cemberut. Kemudian ikut menundukkan kepala, membuka layar ponsel di atas pangkuannya. Aku melirik sejenak. Mengintip Della, juga Om Bram. Kebetulan laki-laki itu pun tengah melakukan hal yang sama. Saat tatapan kami beradu, Bram mengedipkan mata kirinya.
PRAK!
"Aduh!"
"Kenapa, Cuy?"
__ADS_1
"HP-ku jatuh!" Aku merunduk ke bawah meja, memungut ponsel yang tergeletak tak jauh dari kakiku. Juga kaki Bram. Sesaat sebelum bangkit berdiri, Tuhan ... ampunilah, ujung mata ini menyempatkan melirik ke arah pangkal paha Om Bram. Seketika darahku berdesir kencang menuju kepala dan ....
DUK!
Aku terantuk bagian bawah meja. "Aduh!"
"Alya!" Om Bram dan Della serentak ikut melongok ke bawah.
Aku terkekeh sambil mengusap-usap kepala. Lumayan, pening!
...------- o0o -------...
Pukul setengah dua belas malam, aku masih terjaga. Dari tadi berusaha memejamkan mata, berharap kantuk segera datang melanda. Sulit. Yang ada, kelopak malah terasa perih. Berguling ke segala penjuru kasur, mencari-cari posisi nyaman, tetap saja yang kuharapkan tak juga kunjung tiba. Ah, entah rasa apa ini? Imajinasi liar bergerilya menghantui seisi kepala. Menarik jejak pandang mata akan kejadian di dalam restoran tadi. Laki-laki itu, Om Bram, kerap menatapku penuh pesona. Netra kecoklatan berbulu lentik disertai seringai nakal menggoda, sanggup membekukan saraf di tubuh ini. Sirna kuasaku mengontrol setiap gerak, hingga getar lemah meruntuhkan raga.
PRANG!
Duh, ini kali kedua aku menjatuhkan sendok makan. Yang pertama tentu masih cukup banyak alasan jika ditanya. Kali ini? Entah jawaban macam apakah keluar dari lisanku?
Seketika Della menoleh heran. "Elu kenapa, sih, Lya? Parkinson lu?" tanya gadis itu sembari mengunyah makanan.
"Hus!" Bram menimpali. Mata laki-laki itu mendelik ke arah putri kesayangannya. Della menyeringai.
"Pake yang baru, nih, Cuy. Jangan yang itu. Kotor." Della menyodorkan tempat sendok dan garpu dari tengah meja.
"Terima kasih, Del."
Aku tak berani melihat ke arah Om Bram. Ngeri. Khawatir mata laki-laki flamboyan itu kembali 'kelilipan'. Bisa-bisa mendadak pingsan jiwa raga ini. Bahaya!
Tiba-tiba punggung telapak tangan Della mendarat di dahiku. Begitu cepat dan tak terduga. Seketika aku terkejut serta bertanya, "Ada apa, sih, Del?" seraya menepis lengannya. Dia mengerutkan dahi beberapa saat. "Kok, anget? Elu demam?" tanyanya kemudian.
"Apaan, sih?" Aku merengut. Penasaran turut meraba-raba area wajah. Benar! Agak hangat. Bukan karena sakit, tapi akibat ...
"Beneran elu gak sakit, Cuy?" Della masih tak percaya. "Endaaakkk!" jawabku tanpa berani coba-coba melirik Om Bram. Bahaya!
"Kok, muka elu merah?" tanya Della kembali.
Dih, belum puas juga dia menginterogasi. "Aku makan sama sambel, Della. Kamu ndak lihat ini?" Tanpa pikir panjang kuambil wadah sambal, lalu menuang sesendok demi sesendok ke atas nasi. "Nih! Nih! Nih! Ini juga! Ini! Ini .... "
"Stop Alya! Apa-apaan ini?" Spontan Om Bram bangkit dari duduk, lalu menahan tanganku dengan jemarinya yang kuat. "Sudah! Sudah! Kenapa jadi begini?"
Darahku terasa berhenti mengalir. Membekukan gerak tubuh ini. Diam terpana dengan mulut menganga. Cengkeraman jemari itu ... seperti sengatan listrik dahsyat, hingga tersetrumlah aku jadinya. Lebay!
__ADS_1
"Lya .... " panggil Della kaget melihat kondisiku yang terlihat mengejang. "Lya!"
Aku hanya bisa menggerakan ekor mata dan bertanya dengan mulut masih terbuka, "Apa?"
"Elu punya penyakit ayan?" Della meringis ngeri.
"Sialan! Kurang ajar lu!" kataku langsung tersadar tiba-tiba, lalu meninju bahu Della berkali-kali.
"Aduh, ampun! Sakit gue, Cuy!" teriak gadis itu seraya menggeser menjauhiku. "Gue, kan, cuma bercanda aja. Hahaha."
Om Bram hanya menggeleng-geleng melihat tingkah kami. Sementara piring nasi yang penuh dengan sambal tadi, sudah dia jauhkan dari hadapanku. "Sudah! Sudah! Kalian berdua ini kayak anak kecil aja," seru Om Bram menyadarkanku.
"Maaf, Om. Habisnya aku kesel." Aku mencari-cari piring nasi yang sudah menghilang. "Nasiku mana, ya?"
Della masih cekikikan. Belum puas rupanya dia menggodaku.
Om Bram menyodorkan piring baru. "Ganti saja. Bahaya kalo kamu makan nasi tadi. Penuh sambal begitu," ujar Bram sambil memperhatikan sikapku yang mulai gugup. "Nanti cantikmu akan pudar, Lya."
Mendadak aku kehilangan kesadaran. Begitu cepat terjadi. Penglihatan ini tiba-tiba menghitam, pekat. Selanjutnya tak tahu apa yang terjadi. Kecuali sempat mendengar teriakan Della, "Alya .... !!!"
TUIIINNGGG ... GEDEBUK!
Dunia oleng.
Seberapa lama tak sadarkan diri, aku tak tahu. Sampai kemudian perlahan gendang telinga ini mendengar suara-suara halus serta aroma obat-obatan kimia. "Nah, dia sudah siuman, Pak."
"Alya .... " Suara besar dan berat.
"Cuy .... " Yang ini suara cempreng. Hafal sekali, siapa pemiliknya.
Kucoba membuka mata. Perlahan. Masih bias. Lalu wajah-wajah itu, menatap tajam penuh tanda tanya.
"Kamu sudah merasa agak baikan sekarang, Alya?" tanya Bram seraya membantuku bangkit.
"Aku di mana, Om?" Kusapu seluruh sudut ruangan, dan juga sosok berbaju serba putih di belakang meja sana. Dokter? Mantri suntik? Ataukah profesor? Jidatnya itu, lho, mirip etalase konter penjual pulsa. Mengilap silau!
"Kamu lagi ada di klinik," jawab Bram pelan. Dekat sekali dengan daun telingaku.
"Kenapa aku ada di sini?" Aku masih bingung.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1