
...BUCIN ...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 49...
...------- o0o -------...
Perlahan kurasa seseorang menyelimuti tubuhku. Lalu suara-suara itu hadir memenuhi ruang kepala. Tak pernah berhenti, sejak awal tadi duduk tertidur di pinggir ranjang.
Kubuka mata ini, mengangkat kepala, lalu menoleh ke samping. Samar seraut wajah tampak tengah menatap dengan raut sedih. Bi Mamas. Perempuan setengah tua yang sering datang membantu mengerjakan tugas rumah.
"Oh, Bibi," kataku lirih menahan dera kantuk. "Bi Mamas belum tidur?" Rupanya dia yang tadi menyelimuti.
"Belum, Non. Saya gak bisa tidur," jawabnya sambil menguap.
Aku tersenyum tawar. Lesu. "Bibi tidurlah dulu di sana," kataku sembari menunjuk kursi panjang di pojok ruangan. "Biar Alya yang jagain Della."
Bi Mamas menurut. Dia segera beranjak dari tempat berdirinya, duduk di kursi, tapi tak langsung tidur. Bias matanya sedih menatap sosok Della yang terbaring di atas ranjang pasien.
"Tidurlah, Bi," kataku mengulang.
"Iya, Non," jawab perempuan itu. Kemudian merebahkan badan, dan mengatupkan kelopak mata.
Sebentar kemudian Bi Mamas tertidur. Lengkap dengan suara dengkur keras, mengalahkan mesin pendeteksi detak jantung di pinggir ranjang pesakitan.
Kualihkan pandangan, menatap Della. Gadis itu terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di lubang hidung dan jarum infus menancap di lengan.
"Maafkan aku, Del," bisikku lirih memperhatikan wajah Della yang pucat. "Seharusnya sejak pagi tadi, kamu kubawa ke rumah sakit."
Masih teringat, sore tadi saat perjalanan pulang dari kantor Om Bram, Bi Mamas menelepon.
"Non Alya, cepetan pulang," kata perempuan itu terdengar panik.
"Ada apa, Bi?" tanyaku mulai tak enak hati. Langsung teringat Della yang tadi pagi mengeluh sakit.
"Non Della ... " Terbata-bata Bi Mamas berkata di ujung telepon. "Non Della, Non."
"Iya. Ada apa dengan Della, Bi. Buruan ngomong!" Aku ikut panik.
Terdengar isak di sana. Bi Mamas menangis. "Non Della pingsan, Non."
"Ya, Tuhan!" Aku tersentak. "Pingsan kenapa?"
"Gak tahu, Non. Tadi abis saya antar ke toilet. Di kamar langsung pingsan!"
"Baik, Bibi tetap di sana. Jaga Della. Aku hubungi dokter dulu. Eh, .... " Aku berpikir.
__ADS_1
"Apa, Non?"
"Om Bram punya dokter langganan, 'kan?"
Hening sejenak. Mungkin Bi Mamas tengah mengingat. "Ada. Dokter Syarif, Non."
"Dokter yang mana, ya?"
Sambil terisak, Bi Mamas menjawab, "Itu, lho ... dokter klinik yang sudah agak tua, pikun, botak, kepalanya—"
"Kepalanya glowing kayak etalase konter HP dan punya masalah dengan kupingnya?" Aku menebak. Itu seperti ciri-ciri dokter menyebalkan yang dulu pernah memeriksaku.
"Iya, itu. Kok, Non Alya tahu?" tanya Bi Mamas campur suara meweknya.
"Ah, ndak penting dibahas," kataku berusaha melupakan sosok dokter yang satu itu. "Ada nomor dokter yang lain?"
Hening kembali, sampai kemudian terdengar suara Bi Mamas menjawab, "Dokter Boyke. Iya, dia. Dokter yang sering memeriksa kondisi Della sejak dulu."
Sejak dulu? Maksudnya Della sering berobat pada dokter itu? Eh, tapi ....
"Kok, dokter kandungan, Bi? Della hamil?" Memori otakku langsung teringat, pada sosok dokter berkacamata bulat dan sering membahas masalah ranjang, beserta pernak-perniknya itu.
"Yang bilang Della hamil itu, siapa?" Bi Mamas terdengar kesal. "Itu salah satu dokter langganan keluarga Pak Bram juga, Non."
"Bukannya dokter Syarif?"
"Lho, kata Non Alya tadi gak usah bahas dokter yang itu?"
"Saya gak punya pulsa, Non. Paling bisa juga kirim SMS," kata Bi Mamas memotong.
"Ini Bibi nelepon, bisa?"
Campur isak, Bi Mamas mengekeh. "Ini gratisan, Non. Sesama nomor. Kalo dokter Boyke, kan, beda operator. Hiks hiks."
Ya, ampun!
"Ya, sudah. Kirim sekarang nomornya. Biar aku yang menelepon," kataku akhirnya.
"Dokter Syarif atau dokter Boyke, Non?" Bi Mamas agak ragu rupanya.
PLAK!
Kembali kutepuk jidat. "Dokter Boyke, Biii ... !!!"
Bi Mamas terdengar gugup. "B-baik, s-seben-tar, N-non .... " Sayup-sayup terdengar suara perempuan itu mengomel melalui sambungan telepon yang belum sempat dimatikan, "Sialan! Kuping gue ampe pengang begini! Kalo ngomong, gak usah pake tiga oktaf ngapa, yak?!"
Tak berapa lama, kiriman nomor ponsel pun tiba.
Seraya berdecak kesal karena Bi Mamas, kuhubungi dokter Boyke. Syukurlah, tersambung dan langsung diangkat.
__ADS_1
"Halo, dengan dokter Boyke di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara ramah dari ujung telepon sana.
Sedikit panik, aku langsung menjawab, "Halo, dok. Ini Alya. Teman sa—"
"Alya mana, ya? Alya Rohali yang artis terkenal itu?"
"Bukan, dok!" seruku dengan keras. Sampai laju kendaraan yang kutumpangi berhenti sejenak. "Ada apa, Mas?" tanyaku pada sopir. Heran.
Sambil mengusap dada, sopir menjawab, "Maaf, Mbak. Gak sengaja nginjek pedal rem. Saya kaget barusan." Kemudian kendaraan lanjut berjalan.
Kutarik napas panjang. Membuang rasa kesal.
Dari ponsel terdengar suara jawaban, "Gak ada apa-apa, Bu. Saya hanya bertanya. Dikira ini Alya Rohali. Hehehe. Eh, tapi ... jangan panggil saya 'Mas', ya. Malu. Saya udah gak muda lagi. Hehehe."
"Tadi aku bicara sama Mas sopir, dok. Bukan dengan Anda!"
"Oh, salah, ya? Maaf," ujar dokter Boyke. "Ini dengan Bu Alya mana, ya?"
Sekali lagi kutarik napas dalam-dalam. Ini hari yang menyebalkan. Terantuk pintu kantor, ditertawakan Tante Cassandra dan Om Bram, Bi Mamas, dan sekarang dokter Boyke tanpa tambahan Dian Nugraha.
"Aku keluarganya Om eh ... Pak Bram."
Dokter Boyke langsung membalas, "Oh, Pak Bramanditya. Ada apalagi dengan Della, Bu?"
"Dokter sudah tahu?" tanyaku heran.
"Della memang salah satu pasien saya, Bu. Dia sedang menjalani berobat jalan. Sakitnya kambuh, Bu?" Terdengar suara dokter itu terkejut.
"Della pingsan di rumah, dok!"
"Ya, Tuhan!" seru dokter Boyke dengan suara dengkusan napas menusuk-nusuk lubang speker ponsel. "Ya, sudah. Saya akan segera ke sana secepatnya."
"Iya, cepetan, dok!"
"Baik, Bu. Tunggu di rumah," ujar dokter Boyke. "Tapi mohon maaf, hubungan Bu Alya dengan Pak Bram, apa, ya? Ibu ini ... istrinya Pak Bram?"
'Aamiin,' ucapku dalam hati sambil tersenyum semringah.
"Ya, aku ... istrinya. Nyonya Bram!" jawabku berbinar-binar. "Ibu Alya Bramanditya."
"Baik, Bu Bram. Saya segera ke sana secepatnya," balas dokter Boyke lalu menutup teleponnya.
Aku tersenyum-senyum sendiri. 'Ibu Bram? Ya, Tuhan! Panggilan yang indah sekali terdengar .... " Mataku menatap ke depan. Membayangkan yang duduk di belakang kemudi itu Om Bram. Sementara di sampingnya adalah aku. Bercengkerama, bersenda gurau, mengobrol romantis, berdua menuju puncak ....
"Maaf, Mbak," kata sopir tiba-tiba, seraya mengintipku melalui mirror tengah. "Saya sudah berumah tangga. Istri juga lagi hamil besar di rumah."
Aku mengerutkan kening. "Maksud Mas, apa?"
Berusaha menghindari tatapanku melalui cermin, sopir tersebut menjawab, "Saya lihat, dari tadi Mbak ini senyum-senyum terus sama saya. Jadi gak enak hati sayanya, Mbak. Maaf .... "
__ADS_1
Dih, 'geer' dia!
...BERSAMBUNG...