BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 7


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 7...


...------- o0o -------...


Entahlah, aku lebih menyukai pria matang, jauh lebih tua namun berpenampilan modis, kharismatik, bersuara berat, postur semampai, dan 'berumput' hitam. Kriteria itu benar-benar nyata ada dalam tubuh Bram, papahnya Della. Laki-laki yang katanya memilih jomlo hampir sepuluh tahunan semenjak ditinggal mati sang istri. Ah, agak sangsi sekali, jika dalam kurun waktu selama itu, dia sanggup menahan diri dari gemerlap wanita-wanita dunia yang penuh pesona. Di luar sana mungkin dia mempunyai simpanan. Meragukan bila ada dari kaumku yang tak ikut luluh melihat kesempurnaan fisik seorang Bram. Perempuan itu salah satunya aku.


Mungkinkah karena sedari usia sepuluh tahun dulu, aku tak pernah lagi merasakan sentuhan kasih sayang seorang bapak? Lalu kini terobsesi untuk menambal kekuranganku itu pada sosok laki-laki yang sudah benar-benar matang. Empat puluh tahun, adalah saat di mana hampir semua kaum pejantan memuncaki masa-masa sebenarnya sebagai seorang lelaki. Dewasa dan mampu mengayomi sepenuh hati. Memahami apa yang sebenarnya diperlukan oleh pasangannya. Wanita.


Salahkah jika karena hal-hal demikian itu, yang mendasari aku sampai ingin bertekuk lutut menyerahkan diri sepenuhnya pada sosok seperti Bram? Fakta yang harus kuhadapi saat ini adalah laki-laki itu bapak kandung sahabatku sendiri. Seorang anak perempuan pencemburu dan tak segan-segan mendepak siapa pun yang berani mendekati papahnya. Sama sekali tak ingin ada wanita lain ikut menjadi kompetitor untuk mendapatkan kasih sayang dari Bram seorang. Lalu bagaimana denganku? Akankah rasa ini hanya akan menjadi penghias, sekaligus penyiksa batin seumur hidup selama aku berada di tengah-tengah mereka? Persahabatan yang abadi atau melabuhkan kesempatan impian yang hanya sekali?


Mungkinkah mampu membiaskan rasa ini dengan menerima ungkapan hati Andre beberapa waktu yang lalu? Ya, laki-laki berwajah oriental itu pernah menyatakan ketertarikannya padaku.


"Aku menyukai kamu, Lya," ucap Andre kala itu di saat aku duduk sendiri di taman kampus, menunggu Della yang tengah menghadap dosen. "Semula aku mencoba berpikir dan menelaah, mungkin rasaku ini bersifat semu. Sebatas cinta yang tiba-tiba mampir sejenak karena kita sering bertemu. Tapi semakin lama, aku tidak ingin menahannya. Aku yakin bahwa perasaanku ini murni karena aku ... menyukai kamu, Lya."


Aku terdiam. Sama sekali tak ingin memberikan respon maupun jawaban saat itu. Membiarkan Andre duduk di sebelah sambil berceloteh mengurai semua isi hati, demi mendapatkan apa yang dia harapkan.


"Gimana, Lya? Kamu mau, kan, menerima kehadiranku?" tanya Andre meminta kepastian. Aku tak ingin menoleh, menatap mata laki-laki itu. Tidak. Khawatir timbul rasa lain yang tak ingin mengecewakannya.


Aku tahu, ada sosok perempuan lain yang berharap dia menjadi kekasihnya. Tak lain adalah Della. Di balik ke-apatis-an gadis itu terhadap Andre, aku yakin dia menyimpan rasa suka. Sorot mata serta sikap berbeda yang dibalut gelak tawa maupun celoteh ganjil, itu tak bisa disembunyikan dari radar batinku. Della menyukai Andre.


"Terima kasih atas kejujuranmu, Ndre. Tapi .... " Aku berhenti sejenak untuk berpikir, khawatir kalimat berikutnya akan melukai dia. "Aku sedang tak ingin berpikir ke arah itu dulu. Aku ingin fokus pada pendidikan, Ndre."


"Emang apa salahnya kalo sambil dijalani bersama-sama, Lya? Belajar dalam kuliah dan belajar memahami karakter serta perasaan kita satu sama lain." Andre mencoba berdiplomasi.


"Justru sekarang kamu juga sedang mempelajari prinsipku, Ndre. Aku orangnya keras kepala," jawabku bertahan. "Lagipula, kenapa harus aku? Masih banyak perempuan cantik lainnya yang bisa kamu dapatkan. Della, misalnya."

__ADS_1


Andre tersenyum kecut. "Lya ... Lya .... Ini masalah hati. Bukan tentang selera yang bisa setiap saat berubah-ubah."


Ya, aku paham itu. Sama halnya dengan rasa ini yang belum juga mau luntur dari sosok Bram. Aku tak yakin dengan kehadiran Andre kelak, akan mampu mengikis sedemikian rupa hasrat yang kerap menggelora. Tapi ... apa salahnya dicoba? Lalu bagaimana dengan Della? Haruskah kukandaskan harapan gadis itu untuk dekat dengan Andre?


"Gimana, Lya? Kamu mau, kan, menerima aku?" Lagi-lagi Andre menekanku.


"Beri aku waktu berpikir, Ndre. Tak semudah dan tak harus secepat itu mengambil keputusan. Aku ini perempuan, Ndre," jawabku sambil melihat-lihat sekitar. Khawatir sosok Della tiba-tiba muncul di antara kami.


Andre mengangguk-angguk beberapa kali. "Ya, aku paham itu. Berapa lama?"


"Aku tak bisa memastikannya, Ndre."


"Kenapa?"


"Ya, Tuhan. Kamu masih harus banyak mempelajari sifat-sifat kaum perempuan, Ndre. Aku bilang juga tak semudah itu." Aku menggeser bokong menjauhi Andre yang semakin mepet.


Laki-laki baru menyadari kekonyolannya. Dia turut bergeser agak menjauh dari tempat dudukku. "O, iya. Maaf."


"Lya .... "


Aku masih tetap diam.


"Lya!"


"Andre! Kamu .... " Aku terperangah. Mana pemuda itu? Lho ... kok, menghilang? Dia ... dia ....


"Lya .... "


"Om Bram," gumamku setelah tersadar sepenuhnya dari lamunan. Laki-laki setengah baya itu tersenyum di antara dahi yang mengerut. "Siapa itu Andre? Pacarmu?" tanyanya tanpa jeda.


Aku kelimpungan. "Bukan, Om. Cuma teman biasa. Teman kuliah."

__ADS_1


"Beneran?" Mata Bram menyelidik. Aku mengangguk. "Oke, mau pesan makanan apa?"


Aku terkesiap. "Makan? Bukankah kita .... " Kutepuk jidat dengan keras. Ini sudah berada di dalam restoran. Kapan tibanya?


"Kamu sampai tak sadar jalan dari depan ke dalam sini, Lya? Kamu jalan sendiri, lho. Bukan Om gendong," ujar Bram bermaksud berkelakar.


Aku menarik napas panjang. Benar-benar lamunanku tadi membutakan semua. "Della mana, Om?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Bram tersenyum. "Dia ke toilet," jawabnya sambil mengambil daftar menu di atas meja. "Mau makan apa?"


"Idem sama Om aja, deh."


"Beneran?"


"Iya, Om."


Bram mulai memilih satu per satu. "Kamu jangan makan makanan yang mengandung lemak, ya?"


Aku menoleh sejenak ke arah laki-laki itu dari pandangan atas layar ponsel. "Memangnya kenapa, Om? Aku .... "


Mata Bram menatap lekat tubuhku yang tengah duduk berhadapan. "Kamu masih muda. Tubuhmu bagus dengan kulit eksotis. Wajahmu juga cantik."


"Aih, Om Bram." Mendadak wajahku membara panas. Diikuti detak jantung yang semula normal, kini mulai bergemuruh kembali.


"Kamu harus pandai merawat diri, Lya," ujar Bram menambahkan.


Jejak kakiku terasa tak menapak. Terayun hingga membumbung tinggi. Apalagi ... apalagi ... Tuhanku! Sekilas aku seperti melihat mata kiri laki-laki itu mengedip diiringi senyum manisnya. Nyatakah itu? Atau sekedar halusinasi atas rasa yang tengah membakar seisi dada ini?


Ah, semakin tak menentu rasanya dalam kondisi seperti ini. Bingung harus berkata apa, namun berharap agar Della tak secepatnya kembali bergabung di antara kami. Lho?


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2