BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 47


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 47...


...------- o0o -------...


"Tadi, sih, saya lihat ... pake mobil Pak Bram. Ya, mungkin saja sama Pak Bram sendiri."


DUG!


Jantungku seperti terpukul. Jadi benar, mereka memang akan menikah.


"Maaf, Mbak. Kami gak lihat jelas. Soalnya tadi lagi sarapan di pojokan sana," kata Arya kemudian.


Aku pikir Della dan Om Bram cuma main-main belaka. Sudah semakin jelas, aku akan tersingkir dari kancah persaingan ini. Kalah tanpa perlawanan sama sekali.


Tiba-tiba saja tubuhku terasa melemah. Ingin sekali bersenandung lagu dari Olga Syahputra yang liriknya berbunyi ... 


🎸 Hancur hancur hatiku ....


Hancur hancur hatiku .... 🎸


Rasanya aku akan kehilangan kesadaran. Perlahan pandangan ini meredup, lalu ....


"Eh, tapi .... " Budi melihat-lihat ke satu arah area parkir kantor. "Itu mobil Pak Bram!"


"Mana?" tanya Arya sambil melongok ke arah yang dilihat Budi. Aku ikut melakukan hal sama. Batal pingsan rasanya, gara-gara kaget.


"Itu!" tunjuk Budi.


"Iya, juga. Berarti mereka sudah balik lagi, dong?"


"Elu gimana, sih? Tugas jaga, kok, gak tahu?" semprot Budi sembari menepuk bahu Arya.


"Ya ... 'kan, gue salat tadi. Bareng elu juga," tangkis Arya.


"Eh, iya juga, ya. Berarti yang tahu si Ghofar, dong?" Budi menggaruk kepalanya yang licin.

__ADS_1


SREK! SREK! SREK!


"Ya, sudah. Kalau begitu, saya izin masuk ke dalam. Boleh?" Aku berpamitan. Arya buru-buru menjawab, "Iya, silakan, Mbak. Silakan." Dia dan Budi tampak berdiskusi sambil sesekali memperhatikanku yang kian jauh.


Seperti biasa, melewati sebuah koridor serta beberapa ruangan lain. Kemudian tiba di tempat tujuan. Tepat sebelum memasuki akses ke ruangan kantor Om Bram. Aku tak langsung masuk. Mengintip sebentar satu meja khusus  dan terpencil, untuk memastikan target berada tepat di sasaran.


Sialan! Meja itu kosong. Ke mana dia? Mungkinkah kelayapan? Ke toilet, misalkan. Bisa jadi juga, dia sedang ... ah, tidak! Aku tak ingin menghadirkan imajinasi kotor itu. Itu terlalu busuk dan amis. Tidak! Jangan! I'm still virgin and never known 'bout that! Only a **** thing, isn't it?


Awas, ya! Kalau bertemu akan kulabrak dia. Ku-smack down hingga wajah cantiknya tak berbentuk. Biar Om Bram tak lagi mengenalimu. Huh, tunggu saja!


Aku mengepalkan tinju, bersiap menghajar perempuan itu kalau muncul. Gigi gemeretak menahan amarah. Lengkap dengan dengkus napas layaknya banteng ketaton. "Wussshhh ... !!! Wussshh ... !!!"


"Mbak," panggil satu suara di belakangku.


Astaga! Siapa, ya? Lembut sekali suaranya. Mirip petugas jaga telepon yang suka terima keluhan pelanggan, gara-gara pulsa sering raib.


Segera kubalikkan badan. Ah, dia itu ....


"Bu Cassandra? Hai ... apa kabar? Muah! Muah!" Aku menyapanya. Mencium pipi kiri-kanan. "Kok, makin cantik?"


"Mbak Alya, 'kan?" Cassandra berusaha mengingat. Aku mengangguk. "Yang waktu itu pernah ke sini sama Mbak Della, 'kan?" Kembali mengangguk. "Keluarga Pak Bram. Iya, 'kan?" Ketiga kalinya aku angguk mengangguk. Sampai pegal leher ini.


TREK! TREK!


"Apa kabar, Mbak?" sambung sapa Cassandra seraya menggenggan jemariku. "Eh, baik. Eh, hehehe," jawabku bingung.


"Kenapa di sini? Yuk, kita ke ruangan," ajak Cassandra ramah. "Atau mau di ruangan Pak Bram. Kebetulan Bapak sedang ada meeting. Jadi, ruangannya kosong."


"Eh, boleh juga," sahutku mengikuti tarikan tangannya. Masuk ke dalam ruang kerja Om Bram.


"Tak apa-apa, 'kan, kita di sini?" tanya Cassandra begitu menghempaskan bokong di kursi empuk. "Lagipula, Mbak Alya ini masih keluarga Pak Bram. Hehehe."


"Eh, iya. Ndak apa-apa, toh. Hehehe," balasku gugup.


Aku melihat-lihat seisi ruangan kerja Om Bram. Memastikan ada penambahan foto menghiasi. Nyatanya tidak. Masih seperti sebelumnya. Foto mantan istri Om Bram, Della, dan aku sendiri. Syukurlah, belum terpajang foto perempuan menyebalkan, yang ada di hadapanku saat ini.


"Eh, mau minum apa, Mbak? Aku pesenin sekarang," kata Cassandra kemudian. Dia beranjak menuju meja Om Bram. Mengangkat telepon, lalu berbicara dengan petugas pantri.


Sepertinya Cassandra sudah terbiasa di dalam ruangan ini. Itu kulihat dari cara dan sikapnya. Eh, dia itu sekretarisnya Om Bram, 'kan? Wajar saja seperti itu. Duh, otakku mulai buntu. Pasti akibat dilanda rasa cemburu berlebihan.


"Mbak Alya, mau minum apa?" tanya Cassandra dengan gagang telepon masih menempel di telinga.

__ADS_1


"Bu Cassandra nanya aku?" Aku bingung. Tadi masih fokus memikirkan hal-hal tak penting, sih. Perempuan itu mengangguk. "Kopi saja, Bu. Tapi ndak pake sitrun, ya?"


Cassandra mengernyitkan dahi. Ada garis tawa yang hampir pecah di pipi itu, tapi berusaha dia tahan.


Hhmmm, dia tertawa. Berarti benar, kasus sitrun dan vetsin itu memang nyata. Bukan bualan laki-laki menyebalkan itu!


"Kopi dengan gula rendah kalori, ya. Sehat dan tak menyebabkan penumpukan lemak di dalam tubuh. Apalagi bagi kita, sebagai kaum wanita," tutur Cassandra usai meletakkan kembali telepon. Terdengar cerdas untuk ukuran seorang perempuan yang buta perihal bumbu dapur.


"Sebenarnya, aku ndak terlalu sering minum kopi. Cuma hari ini ingin minum yang manis," balasku. Lidah ini memang mendadak terasa kering dan pahit. Mungkin ketagihan, gara-gara tadi pagi minum kopi bekas Om Bram.


"Ya, sekali-sekali tak apa, kok, Mbak. Asal jangan terlalu sering mengonsumsi kafein dan zat gula." Cassandra melempar senyum. Kemudian duduk kembali berhadapan denganku.


Kutatap perempuan itu. Cantik, bersih, segar, terawat, dan masih kelihatan muda. Mungkin hanya terpaut beberapa tahun dengan Om Bram. Wajar saja jika laki-laki itu menyukainya.


"Ada apa?" tanya Cassandra begitu mendapatiku tengah memperhatikannya. Aku tersenyum hambar. Jujurnya, sih, cemburu. "Selamat, ya, Bu," kataku lirih.


Cassandra mengangkat alis. "Selamat untuk apa?"


Hhmmm, kini senyumku berubah kecut. Pura-pura tak paham dia!


"Selamat atas rencana pernikahan Bu Cassandra. Aku dengar dalam waktu dekat ini, 'kan?" Kucoba menyelidiki. Cassandra tersenyum.


"Oh, itu? Hehe. Terima kasih, Mbak," jawab perempuan itu semringah. "Ya, kalau tak ada halangan, tinggal dua pekan lagi. Semoga saja lancar."


Ya, sebentar lagi. Dia akan bersanding dengan Om Bram. Menyisakan luka yang teramat dalam buatku. Selamanya.


"Ibu bahagia?"


Cassandra menatapku dalam-dalam. "Tentu saja bahagia, Mbak. Sudah lama hal ini kuimpi-impikan. Mengikat janji dengan lelaki yang kucintai."


Bahagia buatmu, tapi derita buatku!


"Bu Cassandra yakin dengan pilihan Ibu itu?" Aku masih belum puas mendengar penuturannya tadi. "Lelaki itu?" dia bertanya untuk memperjelas.


"Ya, laki-laki yang akan segera menikahi Ibu." Suaraku tercekat. Sakit sekali rasanya kerongkongan ini.


Cassandra mengangkat kepala. Pandangannya menyapu seisi langit-langit ruangan. "Bram memang bukan laki-laki pertama yang kukenal," ujarnya setelah menarik napas panjang.


Bram? Dia menyebut nama itu. Jadi memang benar adanya, dia dan Om Bram memang menjalin hubungan.


"Dulu aku pernah menikah, tapi gagal. Sekian tahun berusaha mengobati kekecewaan. Bahkan tak terhitung, berapa kali kutolak permintaan Bram untuk menikahiku. Namun, aku masih belum percaya laki-laki mana pun. Termasuk Bram, pada saat itu .... "

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2