BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 72


__ADS_3

BUCIN


(Butuh Cinta)


Penulis : David Khanz


Bagian 72


—---- o0o —----


"Ada apa sebenarnya denganmu, Ndok?" tanya Mbak Darmi usai kami menghabiskan santap malam. Perempuan itu menatapku lekat. "Yen ono opo-opo, yo bicara karo Mbak-mu iki loh, Ndok. Ojo diem bae. Terus terang. Siapa tahu aku iso bantu kamu."


(Kalau ada apa-apa, bicaralah pada Kakak-mu ini, Dik. Jangan diam saja. Terus terang. Siapa tahu aku bisa membantumu)


Aku hanya tersenyum. Berusaha untuk tidak menunjukkan kegelisahan yang tengah kuhadapi. Malu rasanya jika harus berterus terang. Hanya urusan hati, kok mengambek? Apalagi tentang keluarga Om Bram, Mbak Darmi sama sekali belum mengetahui apa-apa. Urusannya bisa panjang kalau sampai terendus beliau.


"Ndak ada apa-apa, Mbak. Alya baik-baik saja, kok," jawabku datar seraya pura-pura menghabiskan sisa makanan sedikit demi sedikit. Padahal jika dilahap pun, paling hanya butuh satu-dua suapan, bisa langsung ludes. "Kemarin 'kan sudah Alya jelasin di telepon. Kok, Mbak iki takon maning. Hi-hi." Kutambahkan cekikik di akhir ucapan, agar gundah ini bisa tersamarkan. Setidaknya dari ruang dengar Mbak Darmi.


(Kok, Kakak ini bertanya-tanya lagi)


"Halah, pake telpon ndak jelas, Ndok," ujar Mbak Darmi bersikukuh. "Itu pula, kamar kontrakanmu yang dulu kok malah ditempati sama orang lain. Memangnya selama ini kamu tinggal di mana? Kamu kekurangan uang? Kenapa ndak minta karo aku, Ndok? Aku pikir selama ini kamu apik-apik bae."


Untuk urusan kamar kontrakan yang sebelumnya pernah kutinggali itu, sore kemarin, terpaksa aku meminta bantuan pada pemilik kontrakan lama. Menyewa satu kamar di rumahnya untuk menerima kedatangan Mbak Darmi. "... Bilang saja, saya mau pindahan kamar, tapi kamar yang baru masih direnovasi," kataku mewanti-wanti jika Mbak Darmi bertanya-tanya. "Terus buat sementara, saya pake dulu kamar yang di rumah ini. Bilangnya begitu, ya?"


"Lah, memangnya pemilik kontrakan ndak bilang-bilang alasannya tadi, Mbak? 'Kan, sudah dibilangin, Alya mau pindah kamar," kataku —terpaksa— berbohong. "Pokoknya Mbake tenang saja. Alya di sini baik-baik saja, kok. He-he."


Mbak Darmi merengut. Sepertinya masih belum mempercayai ucapanku barusan.


"Kalo ndak ada apa-apa, terus kenapa kemarin mau mulih? Hayo … pasti ono opo-opo kowe, 'kan?" tuding Mbak Darmi terus mendesak. "Mbak-mu ini ndak bakal ngelarang, kalo kamu mau pulang. Silakan saja. Mau berhenti kuliah. Sakarepmu juga, Ndok. Tapi sing inget, apapun keputusanmu, itu tanggungjawabmu sendiri. Yang bakal ngejalanin juga kamu. Tugas Mbak-mu ini cuma ngelingi. Sayang kalo sampe kuliahmu berhenti di tengah jalan. 'Gitu loh, Ndok."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Mbak Darmi itu. Aku tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena gara-gara masalah sepele. Pendidikan adalah yang terpenting. Urusan hati bisa diurus kemudian. Buat apa aku menghancurkan hidup sendiri cuma karena seorang laki-laki. Mungkin ini hanya cinta sesaat, sepertinya halnya artis-artis yang suka terlibat cilok … eh, cinlok (cinta lokasi). Bisa jadi apa yang selama ini timbul adalah akibat sering bertemu dengan Om Bram hampir setiap hari.

__ADS_1


Mulai hari ini, aku harus kembali ke awal. Hard reset atau jika perlu factory reset. Memupus semua angan-angan gila dan hidup mandiri seperti dulu, tanpa harus diganggu mimpi-mimpi indah tapi penuh dusta.


Sudah jelas, lelaki yang hampir membuatku gila itu adalah sosok yang tidak bisa dipercaya. Apalagi dengan masa lalunya yang … cukup menjijikkan. Aku tidak ingin bernasib seperti Tante Widya dulu. Menjadi korban perasaan selama bertahun-tahun karena perilaku Om Bram. Tidak! Itu tidak boleh terjadi lagi.


"Rencananya Embak mau sampai kapan tinggal di Jakarta, Mbak?" tanyaku tiba-tiba, sekaligus mengalihkan pembicaraan agar Mbak Darmi tidak melulu berbicara tentang perihal tadi.


Jawab Mbak Darmi dengan mimik setengah malas berbicara, "Paling dua harian, Ndok. Di kampung 'kan aku punya banyak kerjaan. Salah satunya ya ngurusin tanah warisan kamu itu, Ndok."


"Ooohhh," gumamku seraya mengiakan.


"Kalo ndak 'gitu, dari mana aku bisa bantu kamu nyari duit buat biaya kuliah kamu, Ndok?" imbuh Mbak Darmi menjelaskan.


Benar juga. Aku menetap sementara di kota ini bukan untuk bersenang-senang. Namun sedang mempersiapkan masa depanku sendiri kelak. Kalau saja tidak ada Mbak Darmi, siapa lagi yang akan membantu?


"Apa ndak dijual saja, Mbak? Biar Mbak ndak gak terlalu capek," kataku memberi saran. "Kasihan saja denger Mbak ngurus tanah itu sendirian."


Mbak Darmi mendelik. Timpalnya menggerutu, "Kamu ini kalo ngomong kok asbun." Aku hanya tersenyum. "Terus buat kamu nanti piye toh, Ndok? Makanya biar aku ndak capek, kamu belajar yang bener. Jadi wong pinter. Beresin sampai lulus nanti. Biar kita sama-sama ngurus itu tanah."


Kami berpelukan sejenak. Sampai-sampai tidak terasa, air mata ini perlahan menetes dan menyusuri pipi.


"Kamu ndak usah mikir apa-apa, Ndok," kata Mbak Darmi usai melepaskan pelukan. "Cukup penuhi saja harapan orangtua. Mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi orang berguna nantinya."


"Aamiin, Mbak," balasku. "Alya janji, Alya ndak bakal bikin Mbak kecewa. Alya bakal sama-sama berjuang buat kita bersama nanti."


Kali ini barulah Mbak Darmi terlihat tersenyum semringah. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Jutek habis. Itu salah satu hal yang membuatku turut bahagia dan kembali bersemangat.


Baiklah, mulai saat ini aku harus melupakan bayang-bayang keluarga Om Bram. Fokus menatap masa depan dan mengenyampingkan hal-hal yang membuat pikiran dan energi ini terkuras percuma. Aku mesti kuat, tidak lagi berada di dalam lingkungan mereka. Pembohong semua!


Setidaknya prinsip itu mulai bisa berjalan dan bertahan sampai dengan ….


"Mbak Alya …." panggil pemilik rumah tiba-tiba di pagi-pagi buta. "Ada tamu di depan nyariin Mbak Alya."

__ADS_1


Hah? Ya, Tuhan! Pasti mereka! Aku lupa mengingatkan pemilik rumah untuk tidak memberitahukan keberadaanku di sini.


"S-siapa?" tanyaku dengan debar-debar kencang di dada. Mbak Darmi yang tengah berbenah kamar, menoleh ke arah kami.


Jawab pemilik rumah, "Laki-laki. Bule. Kayak artis sinetron."


Oh, aku langsung bisa menduga. Itu pasti Andre. Aduh, bagaimana ini? Apakah kutemui atau membiarkan saja, ya? Malas rasanya bertemu dengan muka-muka pembohong seperti dia dan komplotannya.


"Siapa, Ndok?" tanya Mbak Darmi begitu pemilik kontrakan pergi. Aku menoleh sekejap, lantas mendengkus dan menjawab, "Temen kuliah, Mbak."


"Terus … kenapa belum ditemuin?" tanya kembali Mbak Darmi, melihatku masih berdiri di ambang pintu kamar.


"Males, Mbak," kataku seraya memasang muka masam. "Mbak aja yang temuin aja, deh. Tolong bilangin, kalo Alya masih tidur 'gitu."


Mbak Darmi melongo. "Looohhh … kok ngono, Ndok? Ndak boleh begitu, dong. Bohong itu Ndak baik loh, Ndok," ujarnya menasihati. "Dosa!"


Ah, aku makin malas lagi mendengarkan wejangan anak perempuan Pak Le-ku itu. Yang bohong 'kan bukan cuma aku. Tuh, keluarga laki-laki brewok saja sering melakukannya.


"Ono opo maning, Ndok?" tanya Mbak Darmi kembali. "Kamu punya masalah sama dia? Atau … jangan-jangan itu pacarmu ya, Ndok? Aku denger, katanya bule? Hi-hi. Adikku pacaran karo wong kulon."


(Ada apa lagi, Dik?)


Adikku pacaran dengan orang barat)


"Dih, Mbak ini … apaan, sih? Orang Alya bilang juga wong konco," gerutuku makin jengah mendengar ucapan Mbak Darmi itu. "Sudah, ah! Biar Alya saja yang nemuin!"


(Orang Alya bilang juga teman)


"Hi-hi-hi!" Terdengar Mbak Darmi cekikikan begitu kutinggalkan dia sendiri di kamar, bergegas ke depan untuk menemui sosok yang kusangka Andre.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2