
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 28...
...------- o0o -------...
Seharian penuh benar-benar menyebalkan. Aku seperti sosok baru yang terasing di rumah ini. Laki-laki itu, Om Bram, seperti enggan merespons hampir semua tanya dan sapa yang kuucapkan. Berubah dingin serta selalu berusaha menghindar. Ada apa dengannya? Gara-gara kejadian semalam? Ah, dia tak senaif itu. Lama bersama keluarga baru ini, sudah banyak mengenal karakter setiap penghuninya. Tapi untuk hal yang sedang terjadi sekarang, masih misterius.
“Del, Papahmu mana?” tanyaku iseng pada Della. Gadis itu tengah duduk di sofa, membuka-buka lembaran majalah langganannya. Dia menoleh, lalu menjawab, “Tadi ada di depan. Kenapa emang?”
Kupalingkan muka menghindari tatapan Della. “Ah, ndak. Cuma tanya saja.”
“Elu butuh duit, Cuy?”
“Endak! Bukan itu, Del.” Lekas kumenoleh ke arahnya.
“Lalu?” Della meletakkan majalah di atas meja. Serius memperhatikanku. “Sekadar ingin tahu saja. Seharian ini, tumben ndak kumpul sama kita, ya, Del? Kan, sama-sama lagi libur.”
“Gak tahu. Bete kali pengen hiburan. Cuma, gak tega aja ninggalin kita berdua di rumah,” jawab Della ganti meraih remote, lalu menyalakan pesawat televisi.
“Masa, sih?” Kugeser duduk mendekati gadis itu. “Apanya?” Della mengernyit heran. “Om Bram pengen hiburan ke luar rumah,” jawabku antusias.
Dia tersenyum kambing. “Kali aja, begitu,” jawabnya apatis.
“Masa sebagai anak kandung, kamu ndak paham kebiasaan Papah kamu sendiri, Del?”
__ADS_1
“Elu itu kenapa, sih? Kepo amat ama Papah gue?” Della menyelidik. “Gara-gara dicuekin Papah Bram, ya? Ngaku lu!”
“Sok tahu!” kilahku. Khawatir isi kepala ini terbaca olehnya.
“Tadi pagi elu curhat begitu ama gue. Gak inget?” goda Della. “Tahu, ah.” Aku bergegas bangkit dari duduk.
“Mau ke mana lu, Cuy?”
“Angkat jemuran!” jawabku tanpa menoleh sedikit pun. Mulut Della memang asam. Pikiran serta ucapannya selalu berbunyi sama. Paling menyebalkan, namun sekaligus memberi nilai lebih. Jujur, walaupun terkadang jarang mau memahami perasaan lawan bicara.
Sejenak kuintip area depan rumah dari lantai atas, sebelum keluar mengangkat jemuran. Kosong. Tak tampak ada seseorang di sana dari jendela dan pintu terbuka. Mungkin saja Om Bram ada di dalam kamarnya? Sedang apa dia? Ah, mengapa aku harus sibuk menerka. Apa pun itu, tak harus selalu tahu urusan orang. Tapi ... aduh, sikap laki-laki itu seharian ini sungguh menyiksa. Wajar saja timbul rasa penasaran, 'kan?
‘Eh, bener ndak, sih, Om Bram ada di depan sana? Apa perlu aku datangi langsung? Penasaran,’ kataku dalam hati.
Perlahan kuturuni anak tangga. Berusaha selembut mungkin menjejakkan kaki ini di lantai. Mengintai sebentar ruang tengah. Siapa tahu masih ada Della di sana. Benar saja ....
“Ngapain lu ngintip-ngintip begitu?” Suara gadis itu nyaring begitu kepalaku menyembul di balik tembok. Sialan! Ketahuan juga.
“Ngangkat jemuran? Di atas, Cuy! Bukan di depan,” sahut Della masih dengan tingkat suara sama.
“Iya, aku tahu, Del,” jawabku tiba-tiba merasa sebal.
“Masih mau nyari Papah Bram?” tanya Della diiringi tawa khasnya. “Apaan, sih, kamu itu, Del.” Aku jadi serba salah.
Tiba-tiba, gadis itu berteriak keras sekali, “Papaaahhh! Ada yang nyariin Papah, nih!”
Aku melotot. Kaget. “Della!”
Yang dipelototi malah tambah keras tertawanya. “Papaahh! Alya kangen sama Papah!”
__ADS_1
“Della! Kamu gila, ih!” Buru-buru aku lari ke atas. Menapaki anak tangga dengan cepat. Tak peduli walau jempol kaki terantuk ujung keramik dengan keras.
Sialan! Jangan sampai laki-laki itu menghampiri, lalu bertanya-tanya. Bingung. Jawaban apa yang hendak kuberikan kelak. Sementara suara tertawa Della masih terdengar membahana dari ruang bawah.
Aku menghambur ke luar ruangan lantai atas. Mengangkat jemuran yang sudah kering, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Berharap tak ada suara langkah kaki mendekati pintu, mengetuk, memanggil namaku dengan suara berat, dan ... ah, sekian lama hening. Hanya ada dengkus napas sendiri disertai detak jantung kencang. Kelakuan Della tadi benar-benar mengejutkan. Bikin malu saja.
Ya, Tuhan! Serba salah jadinya kini. Masih penasaran dengan sikap Om Bram, namun sekarang malah tak berani keluar kamar. Takut bertemu dengan laki-laki itu.
Masih terbayang dengan jelas. Malam tadi, Om Bram memelukku. Mencium. Membelai. Lengkap dengan aroma wewangian khas yang sudah kuhapal. Bahkan ... bau alkohol itu.
Alkohol? Om Bram semalam setengah mabuk. Mungkinkah dia melakukan semua itu di bawah kesadarannya. Jangan-jangan memang tak ingat. Makanya sejak pagi tadi tak menampakkan tanda-tanda apa pun. Cuek. Seakan tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Sayang sekali. Masih jauh perjalanan hidup ini untuk meraih impian menjadi Nyonya Bram yang penuh cinta membara.
Kuhempaskan pakaian kering ke atas kasur. Kesal. Pikiran ini buntu harus berbuat apa. Sikap dingin si Om Bram masih menggila di pelupuk mata. Menari-nari geli memancing penasaran untuk segera mengetahui jawaban.
‘Tenanglah, Alya. Kamu itu sedang dimabuk cinta. Apa pun yang kamu lihat tentang lelaki itu, semuanya terlihat indah dan terasa manis. Sadarlah! Kontrol emosimu. Jangan mau diperbudak cinta. Itu hanya akan menggelapkan semua angan normalmu, Alya,’ bisik cermin di hadapanku. Pantulan bayangan yang ada di sana seperti tengah mengejek.
“Kamu belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta! Apalagi orang yang kamu kehendaki ada di depan mata, Cermin! Kamu hanya bisa menasihatiku tanpa sedikit pun membantu mencarikan solusi!” sahutku seraya menudingkan telunjuk ke depan. “Sekarang apa jawabanmu? Ndak ada, 'kan? Kamu sendiri bingung, kan?”
Ah, kupalingkan wajah. Kemudian menghempaskan tubuh ini ke atas kasur. Berbaur dengan pakaian kusut di sana. Menatap langit-langit kamar. Di situ malah terlihat samar-samar ada seraut wajah berbrewok tipis, bola mata kecoklatan, serta perlahan tersenyum menggoda.
“Om Bram .... “ bisikku lirih. “Kaukah itu? Mengapa ada di atas internit? Eh .... “
Hanya halusinasi. Aku harus bertahan untuk mengontrol diri. Pejamkan mata serapat mungkin, hingga gelap menyelimuti pandangan. Tapi raut wajah itu kembali hadir dalam gulita. Masih tetap sama dengan senyuman menggoda.
“Ya, Tuhan! Siksaan apalagi ini? Di mana-mana selalu ada dia!” bisikku perlahan. Khawatir ada yang menguping di balik daun pintu luar sana. Della. Jangan sampai dia tahu bahwa seorang Alya tengah tergila-gila pada papahnya.
“Aku harus nyetrika! Gila rasanya jika ndak ada hal yang bisa mengalihkan ingatan ini!” sahutku seraya bangkit. Merapikan onggokan pakaian, lalu mengambil setrika listrik di atas lemari.
TING!
__ADS_1
Ponselku berbunyi. Suara pemberitahuan. Ada pesan masuk. Om Bramkah? Bukan. Ternyata dari Andre.
...BERSAMBUNG...