
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 65...
...—---- o0o —----...
"Ih … ih … iiihhh!"
Plak! Pluk! Plak! Pluk!
Kupukul-pukul bantai ini sekuat tenaga. Biar hancur sekalian. Tapi yang ada, aku malah kecapekan sendiri. Tepar di atas kasur sambil terengah-engah menahan emosi di hati.
"Aku benci si Bram! Aku benci! Benci! Benciiii …." seruku tertahan. Tidak begitu keras. Takut terdengar Bi Mamas yang sedang melanjutkan pekerjaan mencucinya di bawah sana. "Tapi … aku juga masih tetep ngerinduin diaa … hiks hiks."
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi buat menyikapi rasa ini. Di satu sisi aku begitu marah dengan masa lalunya Om Bram, tapi di sisi lain malah berharap dia akan berubah. Jauh lebih baik setelah berjodoh denganku, tentunya. Hi-hi. Terus, bagaimana dengan Della? Andre?
"Aahhh … ih! Iiihhh!"
Plak! Pluk! Plak! Pluk!
Kali ini bagian guling yang menjadi sasaranku.
Tidak! Aku tidak boleh menyakiti sahabatku sendiri. Della itu sudah kuanggap layaknya saudari. Seorang Alya tidak boleh menjadi seorang pengkhianat. Menggunting dalam lipatan. Menjelma bagai tumbila di sela-sela kasur. Itu sudah pasti!
Lantas sekarang bagaimana? Pergi mengunjungi Della? Sekalian pamit pergi. Tapi bagaimana nanti kalau dia kutinggal kabur, ya? Khawatir bakal jatuh sakit lagi dan dirawat.
Ah, serba bingung kini.
Seandainya tetap bertahan demi Della, itu berarti aku harus tinggal terus bersama mereka. Seatap dengan si Bram dan tiap hari mesti bergelut dengan perasaan sendiri.
Tidak!
Lebih baik aku pergi saja! Kutinggalkan semuanya daripada terus-terusan digerogoti rasa yang menyiksa ini!
Pergi? Ya, pergi. Sekarang juga. Apalagi setelah mengetahui semuanya tentang si … eh, Om Bram.
Baiklah ….
Brak!
Aku turun dari ranjang dengan cara mengentakkan kaki ke lantai. Lumayan sedikit sakit sampai terasa ngilu ke tulang-tulang terdalam. Tidak peduli. Daripada terus-terusan makan hati.
Buru-buru aku mengemas pakaian ke dalam tas ransel seadanya, biar tidak menimbulkan kecurigaan jika sampai dipergoki Bi Mamas nanti. Jaga-jaga saja. Syukur-syukur tidak bertemu dengan kembaran 'Ceu Edoh' itu.
Untung saja masih ada tersisa saldo keuangan dari tabungan yang selama ini jarang kugunakan. Sekadar untuk keperluan ongkos transportasi, rasanya cukup.
Hups!
Tas ransel kugendong di punggung. Lumayan berat menekan punggung ini yang membongkok ke depan. Dengan setelan T-shirt berpadu dengan celana jin ketat dan topi menutupi kepala, aku berjinjit keluar kamar. Melongok sebentar ke luar, siapa tahu Bi Mamas habis menjemur pakaian di sana. Sepi, berarti aman. Kemudian lanjut mengintip ke lantai bawah. Terdengar deru mesin cuci dari arah ruang belakang.
__ADS_1
Perlahan-lahan aku menuruni satu demi satu anak tangga dengan penuh kehati-hatian, agar jangan sampai decit sepatu kets ini menjerit-jerit memanggil Bi Mamas. Belum ada tanda-tanda penampakan sosok asisten rumah tangga tersebut muncul dari arah yang kuhindari.
Hhmmm … dipikir-pikir kok, aku jadi mirip maling jemuran, ya? Hiks-hiks-hiks. Berdebar-debar jantung ini, karena takut ketahuan.
Aman ….
Aku hampir tiba di pintu depan. Lantas perlahan-lahan memutar knob pintu, menariknya sedikit demi sedikit, sampai tersisa ruang bebas untuk menyelipkan badan ini berpindah ke luar.
Tahan napas … tahan napas … tahan napas ….
"Alya?"
Duk!
"Aduh!"
Wajahku membentur bilah daun pintu dengan keras. Jangan ditanya rasanya seperti apa. Pastinya lebih sakit di-PHP-in oleh si ….
"Om Bram? Astaga!"
Wajah menyebalkan tapi teramat menggiurkan … eh, merindukan itu tiba-tiba hadir beberapa sentimeter di depan muka ini.
"Kamu ngapain?" tanya laki-laki brewok tersebut dengan bola mata kecoklatan menguliti sekujur badanku dari bawah hingga atas. "Kamu mau ke mana, Alya? Kok, bawa-bawa tas segala?"
Sejenak aku menatapnya, kemudian mendelik galak seraya bergegas kembali ke dalam rumah.
"Alya!" panggil Om Bram kembali, mengejar-ngejar dari belakang. "Hei, aku nanya sama kamu, Alya!"
Aku tidak peduli. Tetap cuek melangkah menuju ruang belakang, tempat dimana mesin cuci itu biasa mangkal. Di sana pula kemunculanku ditatap Bi Mamas dengan sorot mata aneh.
Di saat bersamaan, Om Bram pun hadir dari arah belakangku.
"Alya! Hei, Alya say—"
Laki-laki itu tidak meneruskan ucapannya begitu menyadari ada sosok Bi Mamas di ruangan tersebut.
"Say— apa?" tantangku judes karena penasaran dengan penggalan kalimat yang tidak tuntas dari mulut Om Bram.
Sejenak sosok tinggi berbulu itu tampak kebingungan dan aku tahu betul apa penyebabnya. Pasti kagok dan malu dengan keberadaan Bi Mamas, 'kan? Huh, pecundang! Coba kalau memang dia benar-benar menyukaiku, pasti bakal cuek dengan kondisi apapun. Iya, 'kan? Iyalah. Masa ya iya, dong?
"Say … saayy … ur yang pagi tadi masih ada, 'kan?" tanya Om Bram gelagapan. "A-aku mau sarapan, Alya. He-he."
Hhmmm … benar, 'kan? Dia memang seorang pengecut sejati. Jujur saja susah, apalagi berterus terang mencintaku, misalkan.
"Huh!" Aku mengangkat dagu seraya melengos dari tatapan mata berbulu lentik itu. Kemudian menyerahkan tas ransel ini pada Bi Mamas. "Bi, udah belum nyucinya? Saya juga mau nyuci, nih," kataku seraya mengeluarkan pakaian hasil mengemas tadi.
"Loh, ini 'kan masih bersih, Non," ujar Bi Mamas terheran-heran. "Kayaknya baru di—"
"Sudah kotor, Bi!" tukasku seraya mengedip-ngedipkan mata pada Bi Mamas. "Cepetan, dong! Masa nyuci dari tadi ndak kelar-kelar, sih?"
"I-iya, Non, iya. I-ini tinggal ngebilas sebentar, kok," balas Bi Mamas tergagap-gagap. "Biar saya cuciin aja deh, Non. Sekalian …." Mata wanita tua itu tampak melirik-lirik ke arah belakangku. Siapa lagi kalau bukan pada si Brewok menyeb … eh, menggairahkan itu.
"Biar sama saya aja! Lagian sudah terbiasa kok, saya ngurus diri sendiri! Buat apa juga ngarep-ngarep orang buat ngertiin saiah!" kataku ketus menyindir sosok di belakang itu. "Memang sih, seharusnya saya sadar diri juga. Siapaaa … 'gitu saiah? Cuma wong ndeso yang gampang dibohongi, di-PHP-i. Harapan palsuuu … sepalsu perasaannya!"
__ADS_1
"Non …."
"Diam, Bi!" seruku pura-pura galak. "Saya lagi latihan ngasih presentasi. Yaaa … buat jaga-jaga saja, siapa tahu nanti kepake buat ngadepin orang yang suka bohong!"
"Tapi, Non—"
"Sudaahhh. Bibi diam saja. Biar semua saya yang kerjain. Bibi ndak perlu ikut campur pekerjaan saiah!"
"Non … Pak Bram-nya udah gak ada di belakang Non Alya," bisik Bi Mamas.
"Haahhh?"
Seketika aku menghentikan aktivitas mengeluarkan pakaian dari dalam tas ransel. Kemudian buru-buru memasukkan kembali sekenanya alias awut-awutan.
"Loh, kok dimasukan lagi, Non? Katanya mau nyuci?" tanya Bi Mamas seraya memerhatikan kelakuanku, terheran-heran sendiri.
"Pura-pura, Bi," bisikku. "Biar Om Bram ndak curiga."
"Curiga? Emang Non Alya mau ke mana?"
Aku menatap sejenak wajah Ceu Èdoh … eh, Bi Mamas. Kemudian berkata, "Saya mau pergi, Bi."
"Ya, Allah … Non?" Wanita tua itu tampak terkejut. "Non Alya mau pergi ke mana?"
Sesaat aku menengok ke belakang untuk memastikan kalau Om Bram tidak ada di tempatnya tadi. Lantas lanjut berucap, "Saya mau pulang kampung saja, Bi. Saya sudah ndak betah di sini."
"Ya, Allah!" Mata tua Bi Mamas membelalak besar.
Hhmmm, aku jadi tidak tega melihat ekspresinya. Kasihan sekali. Mungkin Bi Mamas merasa syok begitu mendengar penuturanku barusan.
"Lagian … saya sudah ndak punya harapan apa-apa lagi di sini, Bi."
"Ya, Allah! Non?"
Aku tidak ingin melihat wajah Bi Mamas.
"Bibi ndak usah khawatir. Saya bisa jaga diri, kok. Perjalan dari sini ke Jawa paling cuman sehari-semalam. Saya udah hapal harus naik bis apa, jurusan apa, dan turun di mana."
"B-bukan itu m-maksud s-saya, Non. T-tapi—"
"Tenanglah, Bi. Masalah ongkos, saya punya sedikit tabungan, kok. Cukup buat perjalanan ke sana. Kalau nanti sudah sampai, saya pasti akan kabari Bibi."
"Non!" seru Bi Mamas sambil menepuk lenganku dan menunjuk-nunjuk.
"Ada apa lagi, Bi?"
"P-pak B-berang … eh, Bram!" jawab Bi Mamas masih juga menunjuk-nunjuk ke arah belakangku.
"Haahhh?!"
Aku segera berbalik badan.
"Astagaaa!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...