
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 55...
...------- o0o -------...
"Seingat saya, sejak almarhumah Bu Widya masih bersama Pak Bram, sudah ada pembantu, Non." Kali ini responsnya tak banyak makan waktu. Mungkin otak wanita ini sudah mulai lancar. Syukurlah.
"Terus, semenjak Bu Widya meninggal, bagaimana?"
"Saya waktu itu belum kerja di sana, Non. Soalnya mulai diminta bantu-bantu keluarga Om Bram, sejak setengah usia Non Della."
PLAK!
"Kenapa, Non? Ada nyamuk?" tanya Bi Mamas begitu melihatku menepuk jidat untuk kali kedua. Aku menyeringai. Antara rasa sakit di dahi dan kesal pada wanita itu. Bicaranya berputar-putar terus, seperti mesin adukan semen.
"Maksudku, sebagai tetangga terdekat, setidaknya Bibi tahu. Sebelum Bibi diminta bantu-bantu, seperti yang Bibi bilang tadi, mungkin Bibi pernah tahu atau melihat ada pembantu lain. Begitu, Bi. Paham?" Kurasa mulut ini sudah mulai berbusa.
"Memangnya kenapa? Non Alya pengen tahu?" Dia melongok memperhatikanku.
"Jawab saja. Ndak usah nanya balik, Bi!" Tenggorokan ini rasanya sudah kering.
"Harus, ya, Non?" Bi Mamas berpikir.
"Ya, yang namanya ditanya, pasti harus dijawab, dong, Bi!" Aku semakin gusar. "Bibi lapar?" tanyaku akhirnya. Mungkin setelah diisi perut, konektivitas obrolan bisa jadi lebih lancar.
"Sudah makan tadi, Non. Risol sama lemper. Non Alya lapar? Dari tadi nanyain makanan terus? Biar saya beliin di depan."
'Ya, Tuhan! Kuatkanlah kesabaran hamba-Mu ini, Tuhan!' jeritku dalam hati. 'Aku masih ingin hidup lebih lama. Apalagi cita-cita, cinta, dan kuliahku belum usai.'
"Aku lapar informasi, Bi. Bukan ingin makan," kataku lirih. Rasanya ingin menangis kejer.
"Impormasi?"
"Informasi. Pake 'N' dan 'F', Bi."
"Baik. Impormasi, ya?"
"Terserah Bibi sajalah. Aku mendengarkan."
Bi Mamas menarik napas panjang. "Dulu .... " katanya mengawali cerita. Aku mulai semangat menyerap ucapannya. "Setahu saya, memang ada beberapa pembantu yang sempat bekerja di sana. Salah satunya ... saya, Non."
"Iya, aku sudah pasti tahu itu. Teruskan saja ceritanya, Bi," kataku membuka kuping lebar-lebar. "Bila perlu, ndak usah pakai titik, koma, dan bernapas."
Bi Mamas mendelik.
"Setahu saya, pernah ada beberapa pembantu yang sempat bekerja di sana. Salah satunya itu ... ya, saya inilah, Non."
"Hhmmm!"
"Tapi gak pernah lama. Ganti-ganti terus," tutur Bi Mamas. Itu pasti ulah Della, pikirku. "Malah ada salah seorang yang pernah pinjem duit sama saya, sampai sekarang belum dibayar. Orangnya kabur, Non."
__ADS_1
"Pinjam berapa?" Kasihan juga Bi Mamas.
"Ceban, Non."
"Ceban itu berapa, sih, Bi?"
"Sepuluh ribu, Non."
"Oohh .... "
"Namanya Herliana. Janda berusia tiga puluh tahun. Belum punya anak. Dulu tinggalnya di—"
"Ceritakan yang bagian keluarga Om Bram saja, Bi," kataku memotong. "Uang sepuluh ribu itu, nanti aku yang bayar."
"Oh, terima kasih, Non." Bi Mamas tersenyum semringah. Kemudian lanjut bercerita, "Saya gak tahu, kenapa Pak Bram gonti-ganti pembantu. Menurut saya, sih .... " Aku bersiap-siap merekam ucapan Bi Mamas dalam kepala. " ... saya sendiri gak tahu alasannya."
PLAK!
"Ada nyamuk lagi, Non?"
Aku menggeleng sambil memejamkan mata. Gemeretak gigi dan tangan terkepal.
Lanjut Bi Mamas, "Barulah setelah itu, saya dipinta kerja di sana. Sampai sekarang. Itu pun gak sampai menginap seperti pembantu-pembantu lain."
"Kenapa, Bi?" tanyaku pura-pura tak tahu. Pasti karena takut Bi Mamas tergoda Om Bram, 'kan?
"Saya punya suami dan anak, Non. Saat Pak Bram meminta dulu, saya kasih syarat. Gak bisa sepenuhnya berada di rumah Pak Bram," jawab Bi Mamas.
Oh, kali ini tebakanku keliru total.
Ada satu hal yang masih mengganjal. Mengenai sosok Andre. Sepertinya Bi Mamas mengenal sekali anak muda bule itu.
Mendadak Bi Mamas salah tingkah. Seperti bingung untuk menjawab.
"Saya ... s-saya .... " Bi Mamas terbata-bata.
Di saat itulah, tiba-tiba Om Bram muncul. "Hai, Alya. Bi Mamas," sapa laki-laki dengan tangan penuh menjinjing bungkusan.
Om Bram? Huh!
Aku merengut sebal.
"Alya sudah makan?" tanyanya seraya memberikan bungkusan tadi pada Bi Mamas. Aku tak menjawab apalagi menoleh. Mendadak tak nyaman ruangan ini. Padahal AC dalam kondisi hidup.
"Bi Mamas kalau mau makan, itu saya bawakan buat makan malam," kata Om Bram seraya menepi ke pinggiran ranjang, memperhatikan Della. "Della masih tidur, Lya?"
Huh! Pertanyaan yang tak perlu dijawab! Lihat sendiri, kan, bisa? Della sedang tidur.
Aku makin cemberut. Kata-kata Andre tentang Om Bram itu, kembali terngiang. Laki-laki pembohong!
Dia melirik-lirik padaku. Kemudian bertanya pada Bi Mamas melalui kode matanya. Entah, apa jawaban kembaran Ceu Èdoh itu. Wanita itu tengah berada di belakang punggung.
"Bi Mamas bisa minta tolong?" Tiba-tiba Om Bram berkata.
"Ya, Pak. Ada yang bisa saya kerjakan?"
__ADS_1
Om Bram merogoh kantong, lalu memberikan selembar uang pada Bi Mamas. "Tolong beliin rokok, ya. Saya tadi lupa beli di bawah."
Rokok? Sejak kapan dia merokok? Lagipula ini rumah sakit. Mana boleh merokok.
"I-iya, P-pak," jawab Bi Mamas gagap. Entah kenapa? Mungkin diberi kode tertentu. Bisa jadi.
"Aku ikut ke bawah, Bi," kataku bergegas mengikuti langkah Bi Mamas.
"Jangan, Non," cegah wanita itu. Bingung. Sesaat dia menatap majikannya. "Biar saya saja sendiri."
"Aku juga ada perlu, Bi."
"Jangan, Non. Nanti kalo Non Della kenapa-kenapa, gimana?"
Aku merengut tanpa mau menoleh ke belakang. "Ada yang nungguin ini. Yuk, ah. Aku butuh udara segar, nih."
"Alya," panggil Om Bram.
"Tuh, dipanggil Bapak, Non," kata Bi Mamas.
Aku berdecak. "Biarin, deh. Yuk, ah. Kita ke bawah."
"Alya Sayang .... " panggil kembali Om Bram.
Bi Mamas melongo. Mulutnya sampai menganga lebar. "Sayang?" gumam wanita tersebut. Menatapku dan Om Bram.
Laki-laki itu mendekat. Sebentar kemudian, dia meraih lenganku. "Kamu di sini saja, Sayang. Temani Della."
"Aaahhh ... !!!" Kutepis tangan itu, disertai cemberut yang makin menjadi-jadi.
"Sssttt! Sssttt!" Om Bram memberi kode agar Bi Mamas segera keluar ruangan. Wanita itu menurut.
"Saya pergi dulu, ya, Pak."
"Bi Mamas, tunggu!"
"Alya!"
Langkahku tertahan cekalan Om Bram. "Aaahh!" Kembali kutepis dia.
"Kamu ini kenapa, sih, Sayang?" tanya lelaki itu memutar langkah ke depanku.
"Huh!" Aku melengos.
"Duduklah, Sayang."
Aku masih tetap berdiri, sambil melihat-lihat Della. Khawatir kalau tiba-tiba dia terbangun.
"Duduk dulu, yuk. Ayolah .... " Dia mendekapku dari samping.
Kali ini tak kuasa kutolak. Sentuhan lengan kekar itu langsung berefek pada aliran darah dan detak jantung. Sepersekian tenaga dalam tubuh ini mendadak hilang.
Perlahan kumengalah, menuruti Om Bram duduk berdampingan di kursi.
"Nah, sekarang kita sudah duduk nyaman. Bicaralah! Ada apa?" Lembut suaranya menyuntik kalbu. Bagai sebuah hipnotis yang meluluhlantakkan kontrol penuh atas kesadaranku.
__ADS_1
Aku duduk menyamping. Tak ingin berhadapan dengannya. Apalagi beradu mata. Namun tiba-tiba, rambut ini terasa seperti dipermainkan. Dibelai lembut dari belakang.
...BERSAMBUNG...