
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 75...
...------- o0o -------...
Pagi ini di hari tersebut, aku terpaksa menuruti ajakan Andre untuk berangkat kuliah bersama-sama. Hal itu kulakukan, demi menghindari perhatian Mbak Darmi terhadap kehadiran sosok lelaki yang baru dia kenal itu.
Tidak banyak percakapan yang kami lakukan, karena hampir setiap kali Andre mengajakku berbicara, jarang sekali dibalas atau direspons. Sampai tiba di kampus pun, aku tetap mendiamkannya.
"Alya, tunggu sebentar. Jangan dulu masuk kelas," tahan Andre begitu kami turun dari kendaraan bermotor. "Aku pengen ngomong sama kamu, Lya. Please, deh."
Aku tetap membisu.
Usai melepas helmet dan menaruhnya, menggantung di batang spion motor, lalu bergegas menuju ruangan kampus.
"Lya ... please, Lya!" panggil Andre mengejar-ngejar di belakang.
"Apaan lagi, sih?" kataku seraya menepiskan tangan laki-laki tersebut yang berusaha mencekal. "Gue gak lagi mood ngomong apa pun sama elu ya, Ndre!"
Timpal Andre tidak mau menyerah, "Iya, aku tahu itu, Lya. Tapi minimal, kamu ngasih aku alasan biar paham. Apa sih permasalahannya?" Dia berjalan memutariku, lantas berdiri berhadap-hadapan. "Please, Lya. Kamu pergi begitu saja dari rumah Om Bram. Seisi rumah nyariiin dan nanyain kamu. Sedangkan nomor HP-mu sendiri gak lagi aktif beberapa hari ini. Kamu ganti nope?"
Aku mendengkus kesal. "Kalo iya, kenapa? Masalah buat elu?" tanyaku galak.
Entahlah, semenjak kabur dari rumah Om Bram, tensiku bawaannya naik terus. Apakah ini gejala darah tinggi? Perasaan, aku jarang banyak-banyak makan yang asin dan gurih. Kalau yang lunyu-lunyu semacam goreng-gorengan, iya sih.
__ADS_1
Disikapi galak, jutek, cuek, sampai-sampai tidak lagi menggubris, Andre tetap tidak mau diambil hati. Dia pantang menyerah dan terus-terusan mengejar-ngejar aku hingga kini.
"Terserah, sih. Itu 'kan hak kamu juga, Lya," jawab Andre pelan. "Tapi, aku tetep kepengen tahu, alasan kamu berubah begini, kenapa sih? Apa aku berbuat salah sama kamu? Nyakitin? Ngecewain? Atau ...."
"Nah, elu sadar sendiri. Semua yang elu omongin itu bener semua! Yang paling gue gak suka, elu sudah banyak ngebohongin gue selama ini. Paham gak sih lu, Ndre? Hah?" Tiba-tiba ingin sekali aku membentak-bentaknya. Tidak lagi peduli dengan tatapan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar tempat tersebut. Menoleh ke arah kami dengan pandangan aneh. Pokoknya, perasaanku saat ini benar-benar kalut. Padahal jadwal PMS masih lama.
Andre melongo, tapi tidak sampai terlihat bego. Dia menatapku dalam-dalam, seraya menggapai jemari ini dan menggenggamnya dengan erat.
"Kita bicara di tempat lain aja, yuk. Jangan di sini," pintanya lembut. "Terserah, nanti kamu di sana mau ngapain juga. Ngata-ngatain aku, ngomel, mencak-mencak, atau ... kamu ingin menamparku juga, gak masalah. Asalkan, kamu bisa tenang, Lya. Semua unek-unek yang kamu pendam itu, bisa kamu lampiaskan sama aku. 'Gimana? Mau, 'kan?" tanya Andre membujuk. "Kalo perlu, hari ini kita bolos kuliah. Aku bakal nemenin kamu, kemanapun kamu pengen pergi."
Ih, kesal banget. Mengapa sih, laki-laki ini masih saja bersikeras mendekatiku? Secara logika, sikap menyebalkan aku sejak tadi, pasti akan membuatnya illfeel. Nyatanya dia tidak. Tetap saja menempel, mirip ulat keket minum lem powerglue.
Namun ... eh, jangan-jangan Andre ini benar-benar menaruh hati padaku, sebagaimana yang diucapkan oleh Mbak Darmi tadi. Bukankah ungkapan rasa cinta laki-laki itu memang pernah diutarakannya dulu? Sudah lama, sih. Aku menganggap hal tersebut hanya sebagai pengakuan biasa saja. Ibaratnya, mungkin faktor cinlok (cinta lokasi). Nyatanya sekarang, dia sungguh sabar dalam menghadapi dan menyikapi kegundahanku kini.
"Andre ...." Tiba-tiba aku menghambur ke dalam peluknya. Menjatuhkan wajah ini ke dalam dada laki-laki tersebut yang masih berlapis jaket kulit beraroma knalpot kendaraan.
"Eh, Alya," sahut Andre.
"T-tolong lepas dulu pelukannya, Alya," pinta Andre berharap. "Kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol."
Aku segera menuruti. Melepaskan dekapan ini dengan wajah tertunduk layu dan tidak berani menengadah, sebab linangan air mata ini pasti akan terlihat olehnya.
Aku benar-benar sudah tidak lagi peduli dengan tatapan-tatapan mata milik orang-orang di sekitar. Pasti mereka pikir kami tengah melakukan adegan mesum atau tidak senonoh. Padahal jelas sudah, saat ini aku hanya butuh sekali pelukan seseorang yang bisa menawarkan segala macam bentuk kegundahan di hati ini.
Andre menarik lengan ini, entah menuju kemana. Aku tidak peduli. Mengikuti ayunan langkah lelaki berparas ala-ala Eropa tersebut ke sebuah tempat. Sampai kemudian, aku sadar bahwa dia mengajakku ke sebuah ruangan luas dan besar. Aula umum. Tempat biasa kami mengadakan event tertentu. Sepi. Hanya ada kami berdua di sini sekarang.
Lantas, selanjutnya apa? Meneruskan pelukan seperti tadi? Tidak. Andre tidak memberi tanda-tanda itu. Dia malah menyilakanku duduk di sebuah kursi memanjang di sudut ruangan.
"Bicaralah sekarang, Lya," ucap Andre setelah kami sama-sama duduk berdampingan. "Ungkapkan permasalahan yang sedang kamu pendam itu. Aku akan bantu menjawab, kalo kamu nanya dan aku tahu jawabannya."
__ADS_1
Sialan! Sekarang justru aku bingung harus memulai dari mana. Semua kisi-kisi pertanyaan yang kerap menghantui tersebut, tiba-tiba serasa lenyap begitu saja. Sampai kemudian, lisan ini pun bertanya, "Apa benar, kalo kamu itu sebenarnya anak laki-laki dari Om Bram, Ndre?"
Aku tidak tahu bagaimana reaksi yang tergambar dari raut wajah lelaki berwajah bule tersebut. Aku bertanya pun dengan posisi kepala tertunduk dalam-dalam.
Terdengar dengkus napas Andre usai mendengar pertanyaanku barusan. Lantas tidak berapa lama, dia berkenan untuk menjawab, "Kamu tahu tentang hal ini ... pasti dari Bi Mamas, ya?"
Aku tidak ingin menjawab. Karena yang kumau adalah jawaban jujur dari dia.
"Sebenarnya ... ini memang sudah lama aku pendam, Lya," tutur Andre mengawali cerita. "Hubunganku dengan keluarga Om Bram, dulu gak seperti sekarang ini."
"Maksudmu?" tanyaku penasaran dan kali ini mulai berani menoleh ke samping, menatap wajah lelaki tersebut yang tampak keruh.
Andre lanjut berkata, "Dulu ... Mamaku dan istrinya Om Bram, Tante Widya, gak pernah akur." Dia menarik napas sesaat sebelum meneruskan penuturan. "Mereka selalu berselisih paham."
"Kenapa?" tanyaku lebih lanjut. "Ada hubungan apa antara Mamamu dengan Om Bram? Sehingga Tante Widya begitu ... aku pikir ... Tante Widya begitu membenci Mamamu. Om Bram selingkuh?"
Andre tersenyum getir. Jawabnya kemudian, "Jadi ... penilaian orang terhadap Mama dan Om Bram selama ini, seperti itu, ya?"
"Mana aku tahu," balasku seraya mengangkat bahu. "Lagian, aku hanya mendengar itu dari pihak orang lain."
"Bi Mamas?" tanya Andre diiringi raut wajah kecut.
"Siapa lagi?" kataku jujur. "Menurutmu, itu ndak bener, ya?"
Andre mengangguk perlahan. "Memang gak bener, Alya," jawabnya menggantung.
"Terus?" Aku semakin penasaran dengan penuturan Andre tersebut.
Laki-laki itu menarik napas panjang. Tatapannya tertuju ke depan. Ke arah tempat kosong, berupa hamparan lantai keramik putih mengilap diterpa cahaya dari deretan jendela aula.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...