BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 78


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 78...


...------- o0o -------...


"Mau ke mana lagi, Alya?" tanya Mbak Darmi saat melihatku tengah bersolek di depan cermin. "Kamu mau pergi lagi dengan teman laki-lakimu itu?"


O, iya ... sekalian aku ingat untuk berpamitan dengan Mbak Darmi.


"Alya ada keperluan dulu, Mbak," jawabku sembari menatapnya. "Mbak bisa Alya tinggal sendiri di sini, 'kan? Kalo ada apa-apa, Mbak tinggal bilang saja sama yang punya rumah."


Mbak Darmi mengernyit. "Memangnya kamu mau ke mana, Ndok? Pergi berdua-duaan karo lanang, mau apa?" tanyanya mulai cerewet.


Jawabku kembali disertai senyuman, "Ndak jauh kok, Mbak. Cuma ke rumah temen Alya yang lain."


"Tapi kamu pulang, 'kan?" Lagi-lagi Mbak Darmi bertanya-tanya.


Duh, ini nih yang bisa bikin aku bingung untuk menjawab. Masalahnya, dipastikan Della juga bakal menahanku pulang ke sini, terus aku pun dipinta bermalam di sana. Hhmmm, alamat bertemu lagi dengan Om Bram, dong? Gawat!


"Alya usahain pulang kok, Mbak," kataku akhirnya.


"Loh, kok diusahakan? Piye Iki, Ndok?" Mulut Mbak Darmi sampai termonyong-monyong menggerutu. "Kamu ini wong wedok, Ndak baik kelayapan malam-malam Karo wong lanang koyok ngono toh, Ndok. Apalagi sampai ndak mulih. Mau apa coba?"


"Ndak ngapa-ngapain kok, Mbak. Alya cuma mau ngunjungin temen kampus Alya. Itu saja, kok," kataku berusaha menjelaskan dan meyakinkan Mbak Darmi.


"Tilik kok wengi-wengi koyok ngono, Ndok?" Mbak Darmi tiba-tiba mendekat. "Apa kamu sudah terbiasa pergi-pergi begini sejak tinggal di Jakarta? Tanpa pengawasan aku."


Aku mendelik kaget.


"Dih, Mbak Darmi apaan, sih? Orang Alya ndak berbuat apa-apa, kok. Beneran," tandasku jadi mendadak tidak enak dicurigai Mbak Darmi seperti itu.


"Lah, makanya kalo aku nanya itu, jawab yang jelas, Ndok. Ojo ngalor-ngidul koyok ngono. Piye, toh?" Mbak Darmi mengomel kembali sehingga membuatku tidak tahan lagi untuk mengulum tawa sejak tadi. "Dibilangin karo aku kok, cengangas-cengenges koyok ngono. Wong gemblung!"


"Ha-ha-ha, lagian Mbak Darmi terus-terusan ngomel-ngomel melulu dari tadi," kataku seraya kembali tergelak-gelak.


"Aku ngomel-ngomel juga ngelingi kamu, Ndok!" seru Mbak Darmi tampak mulai kesal.


"Iya ... iyaaa, maafin Alya, Mbak," tandasku akhirnya, buru-buru menghentikan tawa ini. "Begini, Mbak-ku yang cantik ...." Aku mencoba merayu dan menenangkan satu-satunya keluargaku tersebut. "Alya mau ke rumah temen Alya, namanya Della."


"Della? Perempuan juga, toh?" tanya Mbak Darmi seperti tengah menyelidikku.


Jawabku, "Ya, iyalah, Mbak. Mana ada nama Della itu cowok? Ha-ha-ha. Mbak ini bisa saja deh, ah. Ha-ha-ha!"

__ADS_1


"Terus?" Belum selesai rupanya acara interogasi ini.


"Della itu baru pulang dari rumah sakit, Mbak. Sekarang lagi ada di rumahnya. Nah, sejak keluar dari rumah sakit itu, Alya belum sempet ngejenguk. Makanya sekarang mau ke sana bareng sama Andre."


"Andre yang anak lanang di luar itu?"


"Iya, Mbak. Siapa lagi? Tadi lagi 'kan, Mbak sudah ketemu sama orangnya. Jelas, 'kan?"


Mbak Darmi menyipitkan kelopak mata, lantas bertanya, "Tapi kamu ndak bohong 'kan, Ndok?"


"Ya, ampun! Masa Alya bohong sih, Mbak? Buat apa?" kataku kesal juga dicurigai terus dari tadi. "Kalo Mbak ndak percaya, tanya saja sama Andre. Tuh, orangnya masih ada di luar."


Syukurlah, kali ini Mbak Darmi mau melunak. Mudah-mudahan langsung percaya juga. Memang kenyataannya aku akan ke rumah Della, 'kan? Sekaligus, bertemu kembali dengan ....


Ah, laki-laki berbulu dada lebat itu lagi yang hadir secara tiba-tiba. Mengapa, sih? Tidak bisakah, sehari saja bayangan wajah Om Bram libur dari benak ini? Aku ingin ketenangan.


"Ya, ampun!" seru Mbak Darmi terkejut. "Jadi sejak tadi, kami ndak nyuruh temen kamu itu masuk, Ndok?" tanyanya berlanjut.


"Ndak usah, Mbak. Sebentar lagi juga Alya mau berangkat, kok," jawabku santai.


Kulihat Mbak Darmi mendelik galak, lalu menggerutu sendiri. "Kamu ini piye toh, Ndok? Temen sendiri ndak disuruh masuk, malah dibiarkan di luar kepanasan. Nanti kalo jadi Ireng, piye?"


Aku kembali tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha! Biarin saja, Mbak. Sekali-kali ganti warna kulit, kek. Jangan bule terus. Ha-ha!"


"Huuss! Dasar kamu ini, Ndok!" gerutu Mbak Darmi seraya bergegas keluar dari kamar. Pasti bakal menemui Andre dan menyuruh laki-laki itu masuk.


Hhmmm, sebenarnya aku ini tidak jelek-jelek amat, sih. Tidak juga cantik seperti Della. Kulit pun tidak seputih Andre. Namun mengapa, kadang-kadang aku merasa jika Om Bram menaruh perhatian padaku. Apakah dia menyukaiku, ya? Kalau si Andre sih, sudah jelas. Dia memang naksir berat ---sepertinya---.


Lantas, apa yang menjadi daya tarikku sebenarnya? Bentuk tubuh ini? Ah, biasa saja. Berukuran proporsional sebagaimana umumnya gadis-gadis seusiaku. Namun seingatku, dulu Om Bram seringkali mengingatkan agar aku bisa menjaga berat badan ini. Katanya sih, aku ramping dengan warna kulit yang eksotis. Hi-hi-hi.


Hhmmm, Om Bram juga gak putih-putih amat. Agak kecoklatan. Bulu-bulu di tubuhnya itulah yang kerap membuatku tergila-gila. Nyaman sekali sepertinya, jika aku menyandarkan diri ....


"Ya, Tuhan!" Aku lekas tersadar Kembali.


Lagi-lagi kegilaan itu yang datang. Mencoba merayu niat hati ini yang hendak menjauh dari sosok lelaki berstatus duda tersebut.


Aku harus fokus dan konsentrasi, juga mengontrol diri agar jangan sampai melakukan hal yang konyol kembali. Rencana kedatanganku ke sana hanyalah untuk Della seorang, bukan si Bramanditya!


Fokus! Fokus! Fokus!


"Huuuhhh!" Aku kembali menghembuskan napas melalui mulut. Lantas berdiri, sejenak memandangi diri di cermin.


Hhmmm, make up ini sudah merata dan tampak alami. Tidak menor seperti penyanyi organ tunggal di hajatan kampung terdalam. Rasanya begini saja sudah cukup dan pastinya akan menarik perhatian Om Bram di sana.


Haduh, kenapa harus Om Bram lagi, sih?


Hapus! Hapus! Hapus!

__ADS_1


Lupakan sosok lelaki itu sekarang juga, Alya! Ingat kembali pada niat awal bahwa hari ini aku hanya akan menemui Della. Titik!


Kemudian bergegas keluar kamar.


"Sudah siap, Lya?" tanya Andre begitu menoleh ke arahku. Dia tengah duduk bersama Mbak Darmi. "Wah, cantik banget kamu," puji laki-laki tersebut dengan mata berbinar-binar.


"Apaan, sih?" kataku tiba-tiba jadi merasa tidak enak peranakan ... eh, perasaan. "Biasa aja, kok."


"Emang kamu cantik kok, Lya. Tumben pake make up?"


"Emang kenapa kalo dandan?" tanyaku ketus.


Andre nyengir kuda. Jawabnya, "Yaaa ... gak apa-apa, sih? Cuma ngerasa aneh aja. Emang mau ketemu siapa? Om Bram, ya?"


"Om Bram? Siapa itu Om Bram?" Mbak Darmi tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menatapku dalam-dalam. "Siapa itu Om Bram, Alya?"


Aku melirik pada Andre dan merasa sebal juga dengan mulut laki-laki itu. Tidak bisa menjaga omongan, apa? Ngomong-ngomong Om Bram kok, di depan Mbak Darmi, sih? Haduh!


"Om Bram itu ... Om Bram itu ...." Mendadak aku merasa kesulitan untuk berbicara.


"Siapa Om Bram, Alya?" tanya Mbak Darmi kembali dengan nada suara mulai meninggi. "Kamu menjual diri pada Om-om kesepian?"


"Haaahhh? Apa?!" Aku melongo kaget. Kok, urusannya jadi begini, sih? "Idih, siapa yang jual diri, Mbak? Amit-amit banget, ih!"


"Terus siapa Om Bram yang tadi kalian maksud?" Berkali-kali Mbak Darmi bertanya hal yang sama sembari menatap aku dan Andre secara bergantian. "Kalian berdua ndak lagi menyembunyikan rahasia dari aku, 'kan?"


Aku dan Andre kompak menggeleng-geleng.


"Terus, siapa itu Om Bram tadi?"


Haduh, pertanyaan itu lagi yang diajukan Mbak Darmi.


Andre yang sejak tadi hanya bisa menganga, kini ikut bersuara. Jawabnya, "Om Bram itu ... Papanya Della, Mbak."


"Papanya Della temen kamu yang baru pulang dari rumah sakit itu, Alya?" Mbak Darmi menatapku lekat.


"I-iya, Mbak. Om Bram itu bapaknya Della," jawabku tergagap-gagap.


"Kok, kamu kenal dengan bapaknya Della, Alya? Kamu 'kan cuma berteman dengan Della-nya, 'kan? Kenapa harus berteman juga dengan bapaknya Della?" cecar Mbak Darmi semakin membuatku bingung.


"Memangnya kenapa kalo Alya berteman sama bapaknya temen Alya, Mbak?"


Haduh, malah jadi ajang tanya-jawab begini, gara-gara si Andre menyebut nama laki-laki yang sedang ingin kujauhi tersebut.


Tanya Mbak Darmi masih bernada tinggi, "Ndak apa-apa juga sih sebenarnya. Aku cuma ngerasa aneh saja, kok bisa kamu bertemen dengan bapaknya temen kamu itu, Lya? Apa bapaknya Della itu satu kelas kuliah juga dengan kamu?"


Hah? Apa? Dih, ngaco banget, sih! Haduh!

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2