BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 15


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 15...


...------- o0o -------...


Aku menjauh sedikit. Suara cempreng gadis itu benar-benar membuat sakit gendang telinga. "Oh, begitu, ya? Maaf."


Della tertawa keras. Aku sampai menutup kuping rapat-rapat dengan jemari. Benar-benar tak bisa mengontrol volume, nih, anak. Apa tidak bisa bicara lemah lembut, atau setidaknya bersikaplah sebagaimana umumnya perempuan biasa. Pantas saja selama ini tak ada yang bertahan lama dekat dengan dia. Bahkan termasuk Andre sekalipun.


"Yakin bukan karena omonganku tadi, kan, Del?" Aku masih penasaran. "Kagaklah! Emang tadi elu ngomong apaan, sih?" tanya Della kemudian.


"Ya, ampun ... Della. Jadi kamu ndak dengerin aku ngomong apa dari tadi?"


Gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Ditanya malah ketawa lagi kamu, ah." Aku merengut. "Ya, udah. Kenapa masih belum jalan juga? Kita bakal kesiangan, Della."


Della menoleh. Menatapku aneh. "Jalan? Jalan ke mana?"


"Ke kampuslah, Del. Emang ke mana lagi?"


"Eh, kita udah nyampe parkiran kampus! Kalo gue injak gas, malah nabrak tembok parkiran. Hahaha!"


"Apa?" Aku melihat-lihat sekeliling. "Ya, ampun. Kok, aku sampe ndak nyadar, ya?" Kulit wajah ini mendadak terasa panas.


"Gila! Jadi selama elu ngomong tadi, elu gak fokus juga?" Della menggeleng-geleng. "Lya ... Lya ... elu kenapa, sih?"


Aku tak menjawab. Segera melepas lilitan seatbelt dan bergegas membuka pintu kendaraan, namun tertahan oleh seruan Della, "Eh, jangan dulu ke luar, Cuy!"


"Memangnya kenapa?" tanyaku heran.


"Diem dulu sebentar. Di depan sana ada si Andre."


"Mana?"


"Itu .... " tunjuk Della ke arah salah satu sudut parkiran. Aku melihat sosok yang dimaksud gadis itu.


"Memangnya kenapa, Del? Kok, kamu jadi menghindar dari dia, sih?"


Della mendelik. "Males ketemu ama cowok itu!"


"Kenapa memangnya?"


Dia mendengkus. "Kenapa ... kenapa ... dari tadi pertanyaan elu 'kenapa' terus."

__ADS_1


"Lah, kan, wajar aku nanya. Ingin tahu alasannya, apa? Memangnya .... "


"Memangnya lagi! Haduh, Lya ... Lya .... " Della menepuk keningnya sendiri. "Bisa gak, sih, kamu sebentar aja gak usah nanya."


Aku berpikir sejenak. "Bisa. Memangnya kalau ndak bisa bagaimana?"


"Aaarrggghhh!" Della menggeram. Buru-buru keluar dari dalam kendaraan sebelum kepalanya memanas.


"Kamu itu kenapa, sih, Del?"


"Au, ah!"


"Lho, tadi kata kamu ... aku ndak boleh keluar duluan. Sekarang malah kamu yang keluar. Memangnya kalau keluarnya bareng-bareng, kenapa?"


"Diam!"


"Kamu marah, Del?"


"Diam, Lya!"


"Oke!"


Della menggandeng tanganku. Berjalan beriringan menuju ruang kelas. Tapi tak ada jalan lain, kecuali harus melewati tempat di mana sosok Andre saat itu masih berada.


"Hai .... " sapa laki-laki itu begitu melihat kedatangan kami.


Della cemberut. Mempercepat jalannya seraya menarik lenganku.


"Diam!" ujarnya terus menarik lenganku dan semakin mempercepat langkah.


Andre mengikuti dari belakang. "Lya! Tunggu! Aku .... "


"Entar aja! Kita lagi buru-buru!" seru Della galak.


"Gue ada perlu sama Lya, bukannya sama elu, Del," jawab Andre berusaha memepet langkah kami.


"Gue bilang juga 'kita', Ndre. Berarti gue ama Lya," sungut Della seraya menoleh sesaat pada Andre. "Udah, jangan ngikutin."


"Elu kenapa, sih, Del? Gue cuma ada perlu sama Lya. Sebentar aja," kata Andre tak mau mengalah.


"Gue bilang juga lagi buru-buru. Elu mau telat masuk kelas?"


"Dosennya gak bisa datang. Ngapain buru-buru ke kelas?" Andre memotong langkah kami. Mau tak mau aku dan Della berhenti.


"Apa elu bilang?" tanya Della sambil mengasongkan daun telinganya ke arah Andre.


"Dosennya gak datang, Del," jawabku tiba-tiba.


"Iya, gue denger," sahut Della. "Elu pikir gue budek?"

__ADS_1


"Kalau dengar, kenapa tanya lagi?" sambungku kembali. Della mendelik. "Diem dulu. Gak usah nanya atau ikut bantu jawab. Oke?" balasnya kemudian.


Andre tersenyum karena merasa menang. "Sekarang, gak ada alasan buat buru-buru ke kelas, kan, Del? Gue ada perlu ama Lya. Gak lama, kok. Paling ... tiga jam."


"Tiga jam? Elu pikir durasi film India? Haduh!" Della menepuk kening dilanjutkan gelengan kepala. "Gue bilang juga ... lagi buru-buru. Elu jangan gangguin kita, deh."


"Buru-buru ke mana? Ke kelas? Ngapain? Dosennya kagak ada, Del," kata Andre tetap tak mau membiarkan buruannya lepas.


Della melirik sebentar padaku, lalu beralih memandang Andre dengan sedikit seringainya. "Mau ke kantin. Gue ama Lya belum sempat sarapan. Minggir lu, Ndre!"


"Perfectly!" seru laki-laki itu girang. "Gue juga belum makan. Boleh, dong, gue ikut gabung?"


Della berpikir sejenak. "Gak jadi, deh. Mendingan kita balik lagi ke rumah, yuk, Cuy." Dia menarik kembali lenganku. "Kita pulang."


"Eh, kok ... malah pulang? Kenapa--" Belum sempat kutuntaskan tanya ini, Della memberi kode melalui kedipan mata. "Diam, Cuy. Ayo, kita balik aja lagi," katanya siap-siap memutar badan.


Andre menahan laju langkah kami. "Oke, gue pending dulu keperluan gue ama Lya. Tapi elu, Del, jangan dulu pulang. Sebentar lagi asdosnya datang ngasih tugas."


"Serius?" tanya Della menatap tajam Andre. Laki-laki itu mengacungkan dua jarinya. "Oke, kalo gitu kita mau ke kantin saja sambil nunggu. Tapi elu jangan ngikut!"


"Fine! I won't!" jawab Andre akhirnya. Dia segera memberi jalan. Membiarkan kami bergegas menuju ruang kantin.


"Kamu ini kenapa, sih, Del? Tadi Andre--"


"Diam dulu, Lya!" potong Della sebelum aku selesai bicara. "Gue lagi gak pengen deket-deket sama cowok itu."


"Kenapa?"


"Gak usah nanya dulu," jawab Della tegas. "Kita ke kantin saja, yuk."


"Tapi aku masih kenyang, Del," balasku. "Lagian kata Om Bram ... aku harus bisa merawat tubuh agar .... " Aku tak meneruskan kata-kata. Merapatkan bibir sekuat mungkin agar tak kembali keceplosan. Sial, apa harus kugigit saja lidah ini supaya bisa mengontrol penuh. Hhmmm ... semua gara-gara Om Bram. Laki-laki itu benar-benar mampu menghilangkan setengah kewarasan ini. Eh, kok ... jadi nyalahin dia?


Della melepaskan cekalannya pada tanganku. Perlahan langkah gadis itu melambat. "Papah ngomong gitu sama kamu? Kapan?"


Duh, gara-gara tak bisa mengatur otak. Jadi begini urusannya. Dijawab ragu, tapi kalau diam malah khawatir menimbulkan pikiran lain di benak gadis itu. "Maksud Om Bram ... bercanda, Del."


"Gue nanyanya kapan?"


Tiba-tiba aku seperti ingin menggaruk-garuk kepala ini. Tak gatal tapi mendadak tergelitik melakukannya. "Eh, enggak. Maksudku .... "


"Kapan, Lya?" Della mengulangi pertanyaannya.


"Waktu kita makan di resto beberapa pekan yang lalu."


"Waktu gue gak bersama kalian, kan?"


"Kamu lagi ke toilet, Del."


Della tak menyahut. Dia berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Entah apa yang sedang dipikirkannya? Yang pasti untuk saat ini, aku hanya ingin diam dan terdiam. Sebagaimana keinginan gadis itu, tadi.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2