
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 41...
...------- o0o -------...
"Aku memang tergila-gila padanya! Puas kamu sekarang, Ndre? Aku mencintai Om Bram sepenuh hatiku. Tak ada laki-laki lain yang sanggup menggetarkan seluruh isi tubuh ini, kecuali dia! Bramanditya!" seruku dengan napas tersengal.
BRANG! GOMBENGBRANG!
Ya, Tuhan! Suara apa itu?
"Bi Mamas! Suara apa itu?" teriakku.
"Maaf, Non. Panci jatuh!" jawab Bi Mamas dari lantai atas.
Panci? Buat apa Bi Mamas membawa-bawa panci ke atas? Dapur, kan, ada di lantai bawah. Jangan-jangan perempuan itu turut mendengarkan pembicaraan kami? Waduh, gawat!
"Lya!" panggil Andre. Wajah anak muda itu terlihat serius sekarang.
"Apalagi, Ndre?" Tatapku padanya. "Aku sudah jujur mengakui. Mau kamu apalagi sekarang?"
"Aku tahu alasan kamu tak ingin mengungkapkan perasaan kamu pada Pak Bram .... "
"Ndre, aku ini perempuan. Ndak mungkin aku—"
"Bukan itu kendala utamanya," ucap Andre memotong. Tatap matanya semakin tajam. "Karena Della, 'kan?"
"Ndre, aku sudah—"
"Jawab saja, Lya. Della yang menjadi penghalangmu?"
"Ndre, aku .... "
"Jawab, Lya!"
"Iya! Karena Della juga sahabatku! Sekaligus papah dari laki-laki yang kucintai!" Tangisku kembali meledak. Kali ini lebih keras. Seakan setengah dari beban yang kutahan, kini telah membuncah. Lega.
Andre menarik bahuku. Menjatuhkan kepala ini di dadanya. Kemudian menumpahkan sisa isak yang masih ada. "Kasihan sekali kau, Lya. Aku sendiri tak tahu seberapa besar cinta yang kumiliki padamu. Tapi melihat kondisimu, aku bisa merasakan ... begitu besar arti seorang laki-laki yang kamu harapkan itu. Beruntung sekali Pak Bram jika sampai memilikimu, Lya."
'Ah, kamu ini, Ndre. Bisa saja, deh, membuat hatiku semakin melayang,' gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Aku sangat mencintainya, Ndre. Sangat berharap dia menjadi pasangan hidupku. Tapi aku tak ingin melukai Della .... " kataku seraya terisak di dada Andre.
"Aku bisa membantu mewujudkan impianmu," bisik Andre sangat perlahan. Seakan khawatir didengar oleh sosok lain, terkecuali aku.
"Apa, Ndre?" Aku melepas diri dari rangkulan anak muda itu.
"Aku akan membantumu mendapatkan Pak Bram," bisik Andre kembali.
"Betulkah itu?"
"Iya, Lya. Aku serius."
"Bagaimana caranya? Sedangkan sebentar lagi dia akan segera menikah dengan Tante Cassandra," kataku sambil mengendus-endus, lalu menahan napas sejenak.
Andre tersenyum kecut. "Tak masalah. Pokoknya, aku ingin melihat kamu bahagia, Lya. Apa pun caranya."
"Sungguh? Bagaimana dengan kamu sendiri, Andre?" Tatapku pada bola mata kebiruan itu. Kembali dia tersenyum, lalu menjawab, "Tak usah dipikirkan. Aku akan mencari bahagia melalui jalanku sendiri. Salah satunya, melihat kamu meraih impianmu, Alya."
"Oh, Andre. Aku masih belum bisa percaya."
"Terserah kamu, Lya. Aku ingin melihatmu menjadi Alya yang dulu."
"Ooohhh, Ndre."
"Ndre."
"Apa?"
"Kamu jadi makan jengkol, 'kan?"
"Mungkin. Aku tak tahu."
"Napasmu bau jengkol, Ndre." Aku segera menjauh dan melepas napas yang sedari tadi ditahan.
"Masa, sih? Haaaahhh!" Andre membaui napasnya sendiri. Tak lama dia menyeringai, dengan bola mata terangkat ke atas. Mulut menganga dan duduk dengan tubuh melemah.
...------- o0o -------...
Sudah memasuki pekan kedua, rencana pernikahan Om Bram tinggal menunggu hari. Selama itu pula, aku masih bergelut dengan kecamuk di hati. Della dan Papahnya sibuk mempersiapkan acara. Jarang berada di rumah. Sementara aku sendiri, sama sekali tak diperkenankan ikut membantu. Entahlah, mereka berdua tak pernah memberikan alasan yang jelas.
"Alya fokus saja sama kuliah. Biar Della yang mengurus rencana pernikahan itu," ucap Om Bram suatu ketika saat kutanya. "Lagipula, gak akan dirayakan secara besar-besaran, kok. Om sudah gak muda lagi. Duda pula. Sementara, Cassandra pun seorang janda. Jadi, kami bersepakat untuk tidak muluk-muluk. Malu, sudah pada tua."
"Tapi Alya, kan, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga ini, Om," ujarku ngotot, "Alya ingin ikut membantu persiapan pernikahan Om."
Jujur saja, sebenarnya aku merasa marah pada diri sendiri. Berpura-pura tabah, padahal hati ini makin rapuh. Masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Laki-laki tercinta akan menjadi milik orang lain.
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatianmu, Alya. Om sangat menghargai niat Alya itu," balas Om Bram diiringi senyum tawarnya. "Tapi mohon maaf, untuk sementara, biar Om dan Della yang ngurus."
Ah, percuma saja meminta. Ini bukan kali pertama Om Bram menolak. Terlebih Della. Jawaban mereka selalu mengambang.
"Om .... " kupanggil laki-laki perlente itu, setelah beberapa saat kami terdiam. Om Bram menoleh, lalu menyahut, "Ya, Alya. Ada apalagi?"
Tiba-tiba aku berpikir untuk mengungkapkan ganjalan yang selama ini tersimpan. Mumpung tak ada Della. Gadis itu sedang ke luar bersama Tante Cassandra. Entah untuk keperluan apa. Namun yang pasti, ini waktu yang tepat menginterogasi laki-laki super misterius ini.
"Alya ingin bertanya sama Om," kataku berhati-hati. Diiringi debar jantung kian menguat.
"Tanya apa, Lya? Bicaralah .... " Om Bram menatapku lekat. Dia mengubah posisi duduknya di sofa. Bertumpang kaki, menyender, dan setengah badannya menghadapku. "Sepertinya serius?"
Duh, harus memulai dari mana, ya? Bingung. Aku tak berani berlama-lama beradu pandang dengannya. Sorot mata kecoklatan itu laksana garam yang ditabur di permukaan bekuan es. Perlahan menciutkan nyali serta kontrol benak ini. Khawatir melakukan kekonyolan-kekonyolan seperti yang telah terjadi sebelumnya.
"Sebenarnya .... " Terbata-bata berucap. Lidahku mendadak kelu dan kering. Sementara Om Bram sudah bersiap mendengarkan. "Sebenarnya ... eemmhh .... "
Om Bram mengangkat alisnya. Menunggu dan penasaran, pastinya.
Duh, Om! Jangan sok cute begitu, dong! Aku makin tak tahan, nih. Mudah-mudahan saja tak sampai kesurupan, akibat mabuk pesonamu lagi. Aamiiin!
"Sebenarnya apa, Alya?" tanya Om Bram dengan suara berat tapi lembut. "Bicaralah. Akan Om dengarkan."
Hhmmm, sudah mulai kumat. Tubuhku mulai bergetar. "Sebenarnya .... "
"Iya, sebenarnya apa?"
Sambil memejamkan mata, kulanjut bicara, "Sebenarnya ... Alya ingin bertanya sama Om."
Eh, mengapa balik lagi ke pertanyaan awal tadi, ya? Ya, Tuhan! Beri aku kekuatan, dong! Please!
"Iya, tentang apa?" Kudengar suara gesekan bokong Om Bram di permukaan sofa. Laki-laki itu pasti bergeser mendekatiku. Gawat! Semoga terjadi sesuatu di antara kami. Eh? Doa macam apa itu? Kurang berakhlak!
"Tentang ... sebenarnya yang ingin ... Alya tanyakan itu, Om," kataku kembali masih terpejam. Berusaha menguatkan diri. Namun hasilnya malah berputar-putar di tempat. Sialan! Susah amat, sih, mau bicara jujur!
"Alya," sebut Om Bram. Kali ini tiba-tiba jemariku diraih tangan berbulu itu. O, my God! What's going on here? "Tenangkan dirimu. Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan melalui mulut. Lakukan secara kontinu, sampai Alya merasa rileks."
Aku menuruti sarannya. Namun genggaman jemari itu bagai mengandung setrum. Darah di dalam tubuh ini mendadak mengalir kencang. Khawatir sekali jantungku bakal tersetrum, lalu meledak. Ah, lebay!
"Sudah agak tenang?" tanyanya setelah beberapa saat. Om Bram ingin meyakinkan.
Aku mengangguk perlahan. Masih dengan mata tertutup rapat. Takut begitu terbuka akan kembali ke suasana semula. Artinya, harus mengulang tarik-hembus napas.
"Sudah, Om," jawabku, fokus dengan pertanyaan yang masih menggumpal.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1